Di Milad Aisyiyah, Machnun Uzni Serukan Dakwah Lingkungan untuk Masa Depan Hijau

KABARMUH.ID, Balikpapan – Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, dakwah lingkungan dinilai menjadi bagian penting dari ikhtiar menjaga keberlanjutan kehidupan. Pesan tersebut disampaikan oleh Machnun Uzni, S.I.Kom., dalam rangkaian Milad ke-109 Aisyiyah yang digelar melalui peluncuran program “1.000 Cahaya Aisyiyah” dan dukungan terhadap gerakan Sekolah ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) di SMAN 8 Balikpapan, Jumat (5/6/2026).
Kegiatan tersebut ditandai dengan penanaman mangrove sebagai simbol komitmen menjaga ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu perubahan iklim. Dalam momentum tersebut, Machnun menekankan bahwa persoalan lingkungan bukan semata isu ekologis, melainkan juga berkaitan erat dengan nilai keagamaan dan tanggung jawab kemanusiaan.
Dalam tausiahnya, Machnun mengajak peserta memahami hubungan antara kisah spiritual dalam sejarah Islam dengan tanggung jawab manusia menjaga bumi.
“Nabi Ibrahim Alaihissalam meninggalkan istrinya, Siti Hajar, dan putranya di padang yang gersang atas perintah Allah. Di tengah keterbatasan itu, lahirlah mata air zamzam dari hentakan kaki Nabi Ismail—sebuah sumber kehidupan yang membangun peradaban baru. Hari ini, di tengah ujian bencana alam dan bumi yang sedang menangis, ibu-ibu Aisyiyah hadir membawa mata air kemanfaatan itu lewat gerakan menanam,” ujarnya.
Menurut Machnun, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu, aktivitas menanam pohon tidak hanya memiliki dimensi sosial, tetapi juga nilai ibadah yang berdampak jangka panjang.
Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, setiap pohon yang ditanam dan memberikan manfaat kepada manusia maupun makhluk hidup lainnya dapat menjadi amal yang terus mengalir pahalanya.
“Dalam hadis disebutkan, jika hari kiamat akan datang besok sedangkan di tanganmu masih ada bibit pohon yang bisa ditanam, maka tanamlah. Ini adalah perintah konkret tentang bagaimana kita harus terus melanjutkan peradaban dan menjaga masa depan hijau Indonesia,” tambahnya.
Machnun juga menilai gerakan “1.000 Cahaya Aisyiyah” menunjukkan peran strategis perempuan dalam membangun budaya yang lebih ramah lingkungan. Menurutnya, kontribusi tersebut tidak hanya hadir dalam lingkup keluarga, tetapi juga melalui pendidikan, komunitas, dan ruang sosial yang lebih luas.
Penanaman mangrove di kawasan pesisir Balikpapan menjadi simbol bahwa upaya menjaga bumi perlu dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Melalui semangat tersebut, peringatan Milad ke-109 Aisyiyah tidak sekadar menjadi perayaan usia organisasi, tetapi juga momentum menguatkan dakwah lingkungan untuk membangun peradaban hijau yang berkemajuan, berkeadilan, dan berkelanjutan.



