Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Postmodernisme: Echo Chambers dan Ilusi Kebenaran Digital

Postmodernisme: Echo Chambers dan Ilusi Kebenaran Digital

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 30
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Adram Qaisullah Tihurua

Jean-François Lyotard mendefinisikan postmodernisme sebagai “incredulity toward metanarratives“, yaitu ketidakpercayaan terhadap narasi-narasi besar yang selama berabad-abad menjadi fondasi peradaban manusia. Narasi tentang agama, kemajuan, sains, ideologi maupun sejarah tidak lagi diterima sebagai sumber kebenaran yang memiliki legitimasi universal. Postmodernisme dengan demikian tidak sekadar menghadirkan kritik terhadap modernitas, melainkan juga membongkar keyakinan bahwa manusia dapat mencapai suatu kebenaran yang bersifat objektif dan berlaku untuk semua orang.

Pada titik tertentu, skeptisisme tersebut memang membebaskan manusia dari berbagai bentuk dogmatisme. Namun, dalam perkembangan masyarakat digital, warisan postmodernisme justru melahirkan persoalan baru yang lebih kompleks. Ketika semua narasi dicurigai dan seluruh klaim kebenaran dianggap relatif, manusia kehilangan pijakan epistemologis yang dapat dijadikan standar kolektif. Akibatnya, kebenaran tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang harus ditemukan melalui proses pencarian yang rasional, melainkan sebagai sesuatu yang dapat diproduksi, dikonstruksi bahkan diperdagangkan.

Fenomena ini semakin terlihat dalam dunia digital yang didominasi oleh algoritma media sosial. Internet yang pada awalnya dipandang sebagai medium paling demokratis yang memungkinkan setiap orang mengakses informasi secara bebas. Akan tetapi, kebebasan tersebut secara perlahan berubah menjadi ruang gema yang dikenal sebagai echo chambers. Echo chambers adalah kondisi ketika seseorang hanya terpapar oleh informasi, opini dan pandangan yang sesuai dengan keyakinannya sendiri. Algoritma bekerja dengan menyajikan konten-konten yang disukai pengguna, sehingga seseorang semakin jarang berhadapan dengan pandangan yang berbeda.

Di dalam ruang gema tersebut, kebenaran tidak lagi diuji melalui perdebatan argumentatif. Sebaliknya, suatu gagasan dianggap benar karena terus-menerus diulang oleh kelompok yang memiliki keyakinan serupa. Semakin banyak orang yang mempercayainya, semakin besar pula kesan bahwa gagasan tersebut merupakan kenyataan yang tidak terbantahkan. Dalam kondisi seperti ini, popularitas perlahan menggantikan validitas. Jumlah pengikut lebih dihargai daripada kualitas argumen. Viralitas menjadi sebuah ukuran kebenaran yang baru.

Situasi ini mengingatkan pada kritik para filsuf yunani terhadap kaum sofis. Bagi Socrates dan Plato, kaum sofis adalah kelompok yang lebih mementingkan kemampuan meyakinkan orang lain daripada menemukan kebenaran itu sendiri. Kebenaran tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang objektif, melainkan sebagai hasil dari keterampilan retorika dan persuasi. Ironisnya, dunia digital hari ini justru menghidupkan kembali semangat sofisme tersebut dalam bentuk yang jauh lebih masif. Perbedaannya hanya terletak pada medium. Jika dahulu sofis berbicara di alun-alun kota, kini mereka berbicara melalui layar handphone, algoritma dan platform media sosial.

Akibat dari fenomena ini adalah munculnya ilusi kebenaran digital. Sebuah informasi dianggap benar bukan karena sesuai dengan fakta, melainkan karena sering muncul di lini masa. Psikologi modern menyebut gejala ini sebagai illusory truth effect, yaitu kecenderungan manusia untuk mempercayai suatu informasi hanya karena informasi tersebut terus diulang. Dengan kata lain, pengulangan menciptakan kesan kebenaran. Kebohongan yang disebarkan berkali-kali dapat tampak lebih meyakinkan daripada fakta yang jarang terdengar.

Dalam konteks sosial dan politik, kondisi ini sangat berbahaya. Masyarakat tidak lagi terbelah berdasarkan fakta yang berbeda, melainkan berdasarkan realitas yang berbeda. Setiap kelompok hidup dalam dunianya masing-masing, lengkap dengan narasi, tokoh, musuh dan kebenarannya sendiri. Dialog menjadi semakin sulit karena setiap pihak merasa telah memiliki legitimasi yang cukup untuk mempertahankan keyakinannya. Tidak ada lagi ruang bersama tempat fakta dapat diuji secara objektif.

Lebih jauh lagi, situasi tersebut membuka jalan bagi lahirnya totalitarianisme mayoritas. Ketika kebenaran ditentukan oleh jumlah orang yang mempercayainya, maka mayoritas memperoleh posisi yang sangat dominan. Mereka tidak hanya menentukan apa yang dianggap benar tetapi juga menentukan apa yang boleh dikatakan dan apa yang harus disingkirkan. Kebenaran akhirnya berubah menjadi produk konsensus sosial semata. Mereka yang berbeda pandangan tidak lagi dibantah melalui argumen, melainkan dibungkam melalui tekanan massa, persekusi digital atau bahkan pengucilan sosial.

Pada akhirnya, tantangan terbesar masyarakat digital bukanlah kekurangan informasi, melainkan hilangnya kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan popularitas. Postmodernisme mengajarkan manusia untuk mencurigai narasi besar tetapi era digital telah membawa kecurigaan tersebut ke titik yang lebih ekstrim: kecurigaan terhadap kemungkinan adanya kebenaran itu sendiri. Ketika semua hal dianggap relatif, manusia tidak menjadi lebih bebas, melainkan semakin mudah terombang-ambing oleh arus informasi yang terus berubah.

Oleh karena itu, persoalan utama di zaman ini bukan lagi bagaimana memperoleh informasi sebanyak mungkin, melainkan bagaimana membangun kembali standar kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebab tanpa pondasi epistemologis yang kokoh, masyarakat akan terus hidup dalam ruang gema yang memproduksi ilusi demi ilusi. Dan ketika ilusi telah diterima sebagai kenyataan, maka yang tersisa bukanlah kebijaksanaan, melainkan sekadar keramaian yang mengaku sebagai kebenaran.

Editor: Muhammad Farhan

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPD IMM SUMUT gelar forum group Discussion bertema feminist Emergency Response

    DPD IMM SUMUT gelar forum group Discussion bertema feminist Emergency Response

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 28
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID SUMUT – dewan pimpinan Daerah ikatan mahasiswa Muhammadiyah Sumatera Utara periode 2024 – 2026 resmi membuka rangkaian kegiatan forum group Discussion dengan tema “feminist Emergency Response: perlindungan perempuan dalam situasi bencana di Sumatera Utara”. Kegiatan ini diselenggarakan para Rabu, 10 December 2025, bertempat di gedung pimpinan wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara pada pukul 14:15 WIB […]

  • BAZNAS RI Dukung Pembinaan Mualaf LDK Muhammadiyah di Kulon Progo

    BAZNAS RI Dukung Pembinaan Mualaf LDK Muhammadiyah di Kulon Progo

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 28
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Kulon Progo – Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah kembali menguatkan komitmennya dalam pendampingan mualaf melalui kegiatan pembinaan rutin yang dilaksanakan di wilayah Kulon Progo. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari BAZNAS RI melalui Program Kemitraan Dakwah untuk Mualaf. Pembinaan mualaf tersebut dilaksanakan secara rutin sepekan sekali, dengan pelaksanaan perdana terdokumentasi pada pekan pertama […]

  • Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah Khutbah Jum’at di Asia University, Bakar Semangat Mahasiswa Diaspora

    Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah Khutbah Jum’at di Asia University, Bakar Semangat Mahasiswa Diaspora

    • calendar_month Sabtu, 1 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, TAICHUNG – Bachtiar Dwi Kurniawan, Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mendapat kehormatan khusus untuk menyampaikan Khutbah Jumat pada 31 Oktober 2025 Kampus Asia University, Taichung, Taiwan. Dalam suasana penuh khidmat, ia menyampaikan pesan-pesan mendalam kepada mahasiswa muslim dari berbagai belahan dunia. Bachtiar menyampaikan bahwa salah satu kewajiban […]

  • 135 Siswa SMA Muhammadiyah 2 Al-Mujahidin Ikuti Seminar Wirausaha Muda

    135 Siswa SMA Muhammadiyah 2 Al-Mujahidin Ikuti Seminar Wirausaha Muda

    • calendar_month Sabtu, 23 Sep 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 264
    • 0Komentar

    KABARMUH, Balikpapan – Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Kalimantan Timur menggelar Seminar Wirausaha Muda di Aula Pondok Pesantren Al-Mujahidin Balikpapan pada sabtu (23/09/2023). Seminar dengan tema “Membangun Jiwa Wirausaha Muda Menuju Pemuda Kaltim yang Berdaulat” tersebut diikuti oleh 135 Siswa kelas 12 SMA Muhammadiyah 2 Al-Mujahidin. Ketua Panitia, Rusmulyadi dalam laporannya menyampaikan bahwa […]

  • A Verde Casino platform Minden Nap Kedvezményezi Magyarország Minden Játékosát

    A Verde Casino platform Minden Nap Kedvezményezi Magyarország Minden Játékosát

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 35
    • 0Komentar

    A verde casino regisztráció platform nem csupán egy élvezetes online platform, hanem egy olyan közösség, ahol a lojalitás és a folyamatos játék minden nap gyümölcsözik. Törekszünk amellett, hogy a magyar játékosok minden belépésük során értékes élményt kapjanak. Napi ajándékaink, akcióink és átgondolt ajánlataink ezt a szemléletet mutatják, garantálva, hogy minden nap új alkalmat fedezzenek fel […]

  • PC IMM Pekalongan Bersama Cipayung Pekalongan Raya, Gelar Aksi Damai

    PC IMM Pekalongan Bersama Cipayung Pekalongan Raya, Gelar Aksi Damai

    • calendar_month Kamis, 11 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 39
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Pekalongan –  Senin siang (8/9/2024), suasana di depan Kantor DPRD Kab. Pekalongan berubah dari biasanya. Jalanan yang biasanya ramai dengan lalu lalang kendaraan, mendadak dipenuhi puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Pekalongan Raya. Dengan langkah tegap, spanduk, bendera dan poster di tangan, serta semangat yang menyala di dada, mereka hadir bukan untuk gaduh, melainkan […]

expand_less