Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Setelah Hujan Abu Vulkanik, Dosen UMS Ingatkan Risikonya bagi Kesehatan

Setelah Hujan Abu Vulkanik, Dosen UMS Ingatkan Risikonya bagi Kesehatan

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month 6 jam yang lalu
  • visibility 17
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID; SURAKARTA – Hujan abu vulkanik akibat erupsi gunung api tidak serta-merta mengakhiri ancaman kesehatan bagi masyarakat. Abu vulkanik yang mengendap di jalan, rumah, sekolah, maupun tempat kerja dapat kembali beterbangan akibat angin, kendaraan, aktivitas manusia, hingga proses pembersihan yang tidak tepat.

Dosen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dwi Astuti, S.KM., M.Kes., menjelaskan bahwa fase setelah hujan abu justru menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan paparan abu vulkanik di lingkungan masyarakat.

“Abu yang menutup atap, halaman, jalan, ruang kelas, dan lahan pertanian bisa terangkat kembali oleh angin, kendaraan, langkah kaki, atau sapu yang digerakkan terlalu keras,” jelasnya, Senin, (14/9/2026).

Abu vulkanik berbeda dengan abu hasil pembakaran biasa. Material tersebut merupakan fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran kurang dari dua milimeter. Sebagian partikelnya cukup kecil untuk terhirup dan dapat masuk ke saluran pernapasan, sementara partikel yang lebih halus berpotensi mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam.

Selain mengganggu sistem pernapasan, permukaan abu vulkanik yang abrasif juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Namun, Dwi menekankan bahwa tingkat bahayanya tidak dapat disamaratakan karena dipengaruhi ukuran, bentuk, kandungan mineral, reaktivitas, konsentrasi, serta lama paparan.

“Bahayanya tidak dapat dinilai hanya dari tebal-tipis endapan yang terlihat. Tingkat bahayanya ditentukan oleh ukuran dan komposisi abu, banyaknya partikel yang terhirup, lama paparan, dan kerentanan orang yang terpapar,” terangnya.

Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah keluhan, seperti batuk, tenggorokan perih, dahak, mengi (bunyi napas), sesak, mata merah atau berair, serta kulit terasa gatal. Pada masyarakat yang sehat, keluhan tersebut dapat bersifat ringan dan sementara.

Kondisi berbeda dapat terjadi pada kelompok rentan, terutama penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit jantung, maupun gangguan mata. Paparan tambahan dapat memicu kekambuhan penyakit dan meningkatkan kebutuhan terhadap layanan kesehatan.

Dwi menyebut anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang penyakit kronis, petugas kebersihan, serta pekerja luar ruang sebagai kelompok yang memerlukan perhatian lebih. Kondisi lingkungan dan sosial juga dapat memperbesar risiko, seperti rumah dengan banyak celah, keterbatasan air bersih, dan sulitnya akses terhadap layanan kesehatan.

Ia juga menyoroti bahwa dampak erupsi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Pengungsian, kehilangan penghasilan, serta kecemasan menghadapi kemungkinan erupsi berulang dapat turut memengaruhi kesehatan mental masyarakat.

Dwi menilai penanganan pascaerupsi tidak cukup hanya berdasarkan kondisi lingkungan yang terlihat bersih. Jalan dan halaman yang telah disapu belum tentu menunjukkan bahwa paparan partikulat di udara telah berkurang.

“Jalan disapu, halaman tampak bersih, lalu keadaan dianggap terkendali. Padahal, mata manusia tidak dapat menilai berapa banyak partikel halus yang masih terhirup,” ujarnya.

Karena itu, proses pembersihan perlu dilakukan dengan cara yang tidak kembali menerbangkan abu ke udara. Masyarakat dianjurkan untuk melembapkan abu secukupnya sebelum dikumpulkan dan menghindari penyapuan kering maupun penggunaan blower. Penggunaan air juga perlu dikendalikan agar tidak menambah beban atap, membentuk lumpur berat, maupun menyumbat saluran drainase.

Untuk masyarakat yang harus berada di luar ruangan atau terlibat dalam proses pembersihan, perlindungan pernapasan juga menjadi penting. Respirator partikulat seperti masker N95 dapat membantu mengurangi partikel yang terhirup apabila digunakan dengan pemasangan yang rapat.

“Pelindung diri tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban ketika sumber paparan sebenarnya masih dapat dikendalikan,” tegas Dwi.

Lebih lanjut, Dwi menekankan pentingnya komunikasi risiko yang seimbang. Menurutnya, masyarakat tidak perlu diberikan informasi yang meremehkan bahaya abu vulkanik, tetapi juga tidak perlu ditakut-takuti secara berlebihan.

“Yang kita perlukan bukan kalimat paling keras, melainkan informasi yang paling jernih, jenis abu berbeda, tingkat paparan berbeda, dan kondisi setiap warga juga berbeda,” ungkapnya.

Masyarakat perlu memperoleh informasi yang konkret, singkat, berulang, dan mudah dipraktikkan. Informasi tersebut dapat disampaikan melalui Puskesmas, sekolah, tempat ibadah, kelompok masyarakat, radio lokal, hingga kanal digital resmi.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat antara lain memantau pengumuman resmi mengenai erupsi dan kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruang ketika abu kembali beterbangan, menutup pintu dan jendela, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika harus keluar, serta melindungi sumber air dan pangan.

Masyarakat juga perlu segera mencari pertolongan apabila mengalami gejala serius seperti sesak berat, nyeri dada, bibir kebiruan, penurunan kesadaran, atau gangguan penglihatan.

Dwi menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung penanganan dampak abu vulkanik. Kampus dapat berkontribusi melalui karakterisasi abu, pemantauan kualitas udara, penyusunan surveilans kesehatan, pengujian efektivitas komunikasi kesehatan, hingga evaluasi kebijakan pengendalian paparan.

“Peran yang paling penting adalah menerjemahkan pengetahuan laboratorium menjadi pilihan yang dipahami masyarakat. Pengalaman warga juga layak diperlakukan sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar cerita pelengkap dalam laporan penelitian,” katanya.

Menurut Dwi, keberhasilan penanganan pascaerupsi juga perlu diukur secara lebih komprehensif. Tidak hanya berdasarkan jumlah abu yang telah diangkut atau jumlah masker yang dibagikan, tetapi juga berdasarkan penurunan partikulat di udara, kepatuhan penggunaan alat pelindung, serta pemahaman masyarakat mengenai langkah perlindungan dan tanda bahaya.

“Abu yang mengendap bukan otomatis racun mematikan, tetapi juga bukan debu biasa yang boleh diabaikan,” pungkasnya.

Kontributor: Fika/Humas

Editor: Nurul Fahri

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jejak Si Kembar Nova-Novi: Jadi Kader Ortom, Hingga Berpasangan Suami Kader Muhammadiyah

    Jejak Si Kembar Nova-Novi: Jadi Kader Ortom, Hingga Berpasangan Suami Kader Muhammadiyah

    • calendar_month Senin, 12 Apr 2021
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 1.831
    • 0Komentar

    KABARMUH.COM, Samarinda -Tak menunggu waktu lama lagi. Beberapa jam kedepan, 1 Ramadhan akan segera tiba. Seperti biasanya, setiap anak organisasi dari Muhammadiyah, organisasi otonom (ortom), bersiap dalam mempersiapkan kegiatan pada bulan Ramadan. Dari Ikatan Pelajar Muhammiyah hingga Pemuda Muhammadiyah kesemuanya saling berlomba dalam mencari berkah di bulan yang suci. Namun, berbeda dengan ortom Angkatan Muda […]

  • Casino en línea Rolldorado en España – guía completa sobre juegos, pagos y atención al cliente

    Casino en línea Rolldorado en España – guía completa sobre juegos, pagos y atención al cliente

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Casino en línea Rolldorado en España – guía completa sobre juegos, pagos y atención al cliente ▶️ JUGAR Содержимое Casino en línea Rolldorado en España Selección de juegos y categorías destacadas en Rolldorado ¿Buscas un casino en línea con variedad de juegos y retiro inmediato? Rolldorado es la respuesta. Desde tragamonedas con jackpots progresivos hasta […]

  • PWM Kaltim Bekali Delegasi Muktamar Nasyiatul Aisyiyah dan Tapak Suci, Tegaskan Jaga Marwah Persyarikatan dan Tolak Politik Transaksional

    PWM Kaltim Bekali Delegasi Muktamar Nasyiatul Aisyiyah dan Tapak Suci, Tegaskan Jaga Marwah Persyarikatan dan Tolak Politik Transaksional

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Samarinda – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur memberikan pembekalan kepada para utusan yang akan mengikuti Muktamar XV Nasyiatul Aisyiyah di Surakarta (Solo) dan Muktamar Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Semarang, yang akan berlangsung secara bersamaan pada 6–9 Agustus 2026. Pembekalan tersebut dilaksanakan di Kantor PWM Kalimantan Timur, Samarinda, pada Senin (3/8/2026) sebagai bagian dari […]

  • Pondok Pesantren Terpadu Al-Mujahidin, The school Of Future Leaders

    Pondok Pesantren Terpadu Al-Mujahidin, The school Of Future Leaders

    • calendar_month Rabu, 14 Apr 2021
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 3.196
    • 0Komentar

    Sejarah Pada tahun 1979, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Balikpapan dan Pasir membentuk sebuah panitia pembangunan Panti Asuhan dan Pondok Pesantren yang diketuai oleh Bapak Muhammad Adnan. Panti Asuhan dan Pondok Pesantren tersebut diberi nama “Pondok Pesantren Al-Mujahidin Balikpapan” yang berlokasi di Jl Soekarno-Hatta Km. 10 Kelurahan Karang Joang Kecamatan Balikpapan Utara Kota Balikpapan Kalimantan Timur. […]

  • IMM Sukoharjo-HW UMS Kolaborasi Galang Dana untuk Masyarakat Terdampak Bencana NTT

    IMM Sukoharjo-HW UMS Kolaborasi Galang Dana untuk Masyarakat Terdampak Bencana NTT

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 40
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo, 28 Agustus 2026 — Sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap masyarakat yang terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukoharjo berkolaborasi dengan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Kafilah Penuntun Moh. Djazman Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan aksi penggalangan dana pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kegiatan penggalangan dana dilaksanakan di […]

  • LKSA Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah Kukuhkan Pengurus dan Susun Program Kerja

    LKSA Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah Kukuhkan Pengurus dan Susun Program Kerja

    • calendar_month 14 jam yang lalu
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 41
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Grogol — Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah menggelar kegiatan Pengukuhan dan Rapat Kerja (Raker) Pengurus sebagai bagian dari upaya memperkuat kepengurusan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menyusun program kerja Panti Asuhan untuk periode 2026 – 2031. Kegiatan yang dilaksanakan pada Ahad, 13 September 2026 di Aula LKSA Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah Grogol  tersebut dihadiri […]

expand_less