Jajaki Riset Berbasis Nilai, DPD IMM Jawa Tengah Kunjungi SETARA Institute
- account_circle Adi Kurnia
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jawa Tengah melakukan kunjungan ke SETARA Institute sebagai bagian dari upaya penguatan wawasan riset, produksi pengetahuan, dan pengembangan gerakan intelektual mahasiswa. Kunjungan ini diikuti langsung oleh Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah Nia Nur Pratiwi, S.Pd., M.M, bersama Jundi Abdulloh, S.Sos dan Abdul Malik Anwar H, S.Pd., yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi strategis mengenai isu-isu kebangsaan dan riset berbasis nilai.
Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah, Nia Nur Pratiwi, menyampaikan bahwa kunjungan ke SETARA Institute menjadi pengalaman penting bagi IMM dalam memperluas perspektif riset dan gerakan intelektual.
“IMM harus mengambil peran strategis sebagai produsen pengetahuan yang progresif dan berkelanjutan, tidak hanya aktif dalam aktivitas organisasi, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menjawab persoalan sosial di masyarakat,” tegasnya saat diwawancarai Kamis, (8/1).
Kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen DPD IMM Jawa Tengah untuk terus memperkuat tradisi intelektual, riset kritis, dan pengabdian berbasis ilmu pengetahuan sebagai fondasi gerakan mahasiswa yang berkemajuan.
Ia menjelaskan bahwa setiap produk pengetahuan perlu dikelola secara terbuka dengan memetakan respons publik, baik yang mendukung maupun yang mengkritisi.
Menurutnya, dialektika dan perbedaan pandangan merupakan bagian penting dari proses pendewasaan pengetahuan.
Setara Institute sebuah lembaga riset dan advokasi di Indonesia yang fokus pada promosi demokrasi, pluralisme, hak asasi manusia (HAM), dan kebebasan sipil, terutama dalam isu intoleransi dan diskriminasi, melalui penelitian, pendidikan publik, dan advokasi kebijakan berbasis sekuler dan konstitusional.
Dalam pertemuan tersebut, narasumber dari SETARA Institute, Halili Hasan, M.A., menekankan pentingnya kemandirian organisasi masyarakat sipil, termasuk organisasi mahasiswa, dalam memproduksi pengetahuan tanpa ketergantungan penuh pada donor atau dukungan finansial besar.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah praktik Responsible Business Conduct (RBC) atau perilaku bisnis yang bertanggung jawab. Melalui pengembangan RBC Benchmark, SETARA Institute melakukan penilaian terhadap entitas bisnis terkait penerapan prinsip hak asasi manusia dan tanggung jawab sosial. Riset ini merujuk pada standar internasional seperti United Nations Guiding Principles on Business and Human Rights yang meskipun bersifat sukarela, dinilai penting untuk terus didorong agar lebih akuntabel di tingkat nasional.
Diskusi tersebut menyoroti pentingnya knowledge management dalam pengelolaan hasil riset. Selain itu, pertemuan yang digelar pada Kamis, (11/12) itu turut membahas pengembangan indeks dan pemetaan sosial, termasuk wacana Indeks Kota Islami. Indeks tersebut dinilai perlu disusun dengan metodologi yang kuat, kontekstual, serta sensitif terhadap keragaman demografi, sosial, dan keagamaan di setiap daerah. Jawa Tengah disebut memiliki potensi besar sebagai laboratorium riset karena karakter wilayahnya yang beragam, mulai dari kawasan pantai utara hingga selatan.
Editor: Muhammad Farhan
- Penulis: Adi Kurnia
Saat ini belum ada komentar