Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Setelah Hujan Abu Vulkanik, Dosen UMS Ingatkan Risikonya bagi Kesehatan

Setelah Hujan Abu Vulkanik, Dosen UMS Ingatkan Risikonya bagi Kesehatan

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
  • visibility 74
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID; SURAKARTA – Hujan abu vulkanik akibat erupsi gunung api tidak serta-merta mengakhiri ancaman kesehatan bagi masyarakat. Abu vulkanik yang mengendap di jalan, rumah, sekolah, maupun tempat kerja dapat kembali beterbangan akibat angin, kendaraan, aktivitas manusia, hingga proses pembersihan yang tidak tepat.

Dosen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dwi Astuti, S.KM., M.Kes., menjelaskan bahwa fase setelah hujan abu justru menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan paparan abu vulkanik di lingkungan masyarakat.

“Abu yang menutup atap, halaman, jalan, ruang kelas, dan lahan pertanian bisa terangkat kembali oleh angin, kendaraan, langkah kaki, atau sapu yang digerakkan terlalu keras,” jelasnya, Senin, (14/9/2026).

Abu vulkanik berbeda dengan abu hasil pembakaran biasa. Material tersebut merupakan fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran kurang dari dua milimeter. Sebagian partikelnya cukup kecil untuk terhirup dan dapat masuk ke saluran pernapasan, sementara partikel yang lebih halus berpotensi mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam.

Selain mengganggu sistem pernapasan, permukaan abu vulkanik yang abrasif juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Namun, Dwi menekankan bahwa tingkat bahayanya tidak dapat disamaratakan karena dipengaruhi ukuran, bentuk, kandungan mineral, reaktivitas, konsentrasi, serta lama paparan.

“Bahayanya tidak dapat dinilai hanya dari tebal-tipis endapan yang terlihat. Tingkat bahayanya ditentukan oleh ukuran dan komposisi abu, banyaknya partikel yang terhirup, lama paparan, dan kerentanan orang yang terpapar,” terangnya.

Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah keluhan, seperti batuk, tenggorokan perih, dahak, mengi (bunyi napas), sesak, mata merah atau berair, serta kulit terasa gatal. Pada masyarakat yang sehat, keluhan tersebut dapat bersifat ringan dan sementara.

Kondisi berbeda dapat terjadi pada kelompok rentan, terutama penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit jantung, maupun gangguan mata. Paparan tambahan dapat memicu kekambuhan penyakit dan meningkatkan kebutuhan terhadap layanan kesehatan.

Dwi menyebut anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang penyakit kronis, petugas kebersihan, serta pekerja luar ruang sebagai kelompok yang memerlukan perhatian lebih. Kondisi lingkungan dan sosial juga dapat memperbesar risiko, seperti rumah dengan banyak celah, keterbatasan air bersih, dan sulitnya akses terhadap layanan kesehatan.

Ia juga menyoroti bahwa dampak erupsi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Pengungsian, kehilangan penghasilan, serta kecemasan menghadapi kemungkinan erupsi berulang dapat turut memengaruhi kesehatan mental masyarakat.

Dwi menilai penanganan pascaerupsi tidak cukup hanya berdasarkan kondisi lingkungan yang terlihat bersih. Jalan dan halaman yang telah disapu belum tentu menunjukkan bahwa paparan partikulat di udara telah berkurang.

“Jalan disapu, halaman tampak bersih, lalu keadaan dianggap terkendali. Padahal, mata manusia tidak dapat menilai berapa banyak partikel halus yang masih terhirup,” ujarnya.

Karena itu, proses pembersihan perlu dilakukan dengan cara yang tidak kembali menerbangkan abu ke udara. Masyarakat dianjurkan untuk melembapkan abu secukupnya sebelum dikumpulkan dan menghindari penyapuan kering maupun penggunaan blower. Penggunaan air juga perlu dikendalikan agar tidak menambah beban atap, membentuk lumpur berat, maupun menyumbat saluran drainase.

Untuk masyarakat yang harus berada di luar ruangan atau terlibat dalam proses pembersihan, perlindungan pernapasan juga menjadi penting. Respirator partikulat seperti masker N95 dapat membantu mengurangi partikel yang terhirup apabila digunakan dengan pemasangan yang rapat.

“Pelindung diri tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban ketika sumber paparan sebenarnya masih dapat dikendalikan,” tegas Dwi.

Lebih lanjut, Dwi menekankan pentingnya komunikasi risiko yang seimbang. Menurutnya, masyarakat tidak perlu diberikan informasi yang meremehkan bahaya abu vulkanik, tetapi juga tidak perlu ditakut-takuti secara berlebihan.

“Yang kita perlukan bukan kalimat paling keras, melainkan informasi yang paling jernih, jenis abu berbeda, tingkat paparan berbeda, dan kondisi setiap warga juga berbeda,” ungkapnya.

Masyarakat perlu memperoleh informasi yang konkret, singkat, berulang, dan mudah dipraktikkan. Informasi tersebut dapat disampaikan melalui Puskesmas, sekolah, tempat ibadah, kelompok masyarakat, radio lokal, hingga kanal digital resmi.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat antara lain memantau pengumuman resmi mengenai erupsi dan kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruang ketika abu kembali beterbangan, menutup pintu dan jendela, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika harus keluar, serta melindungi sumber air dan pangan.

Masyarakat juga perlu segera mencari pertolongan apabila mengalami gejala serius seperti sesak berat, nyeri dada, bibir kebiruan, penurunan kesadaran, atau gangguan penglihatan.

Dwi menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung penanganan dampak abu vulkanik. Kampus dapat berkontribusi melalui karakterisasi abu, pemantauan kualitas udara, penyusunan surveilans kesehatan, pengujian efektivitas komunikasi kesehatan, hingga evaluasi kebijakan pengendalian paparan.

“Peran yang paling penting adalah menerjemahkan pengetahuan laboratorium menjadi pilihan yang dipahami masyarakat. Pengalaman warga juga layak diperlakukan sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar cerita pelengkap dalam laporan penelitian,” katanya.

Menurut Dwi, keberhasilan penanganan pascaerupsi juga perlu diukur secara lebih komprehensif. Tidak hanya berdasarkan jumlah abu yang telah diangkut atau jumlah masker yang dibagikan, tetapi juga berdasarkan penurunan partikulat di udara, kepatuhan penggunaan alat pelindung, serta pemahaman masyarakat mengenai langkah perlindungan dan tanda bahaya.

“Abu yang mengendap bukan otomatis racun mematikan, tetapi juga bukan debu biasa yang boleh diabaikan,” pungkasnya.

Kontributor: Fika/Humas

Editor: Nurul Fahri

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Retajdid IMM Sukoharjo yang Mencerahkan

    Retajdid IMM Sukoharjo yang Mencerahkan

    • calendar_month Sabtu, 24 Feb 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 545
    • 0Komentar

    Oleh: Izzul Khaq MPKSDI PDM Sukoharjo Peradaban manusia selalu dinakhodai oleh ide-ide brilian yang lahir dari pemikir-pemikir besar. Gagasan gagasan itulah yang menjadi rel bagi kereta peradaban umat manusia. Tanpa gagasan, peradaban akan berjalan tidak tentu arah. Sebuah bangsa, jika tidak ditopang oleh filosofi yang matang, seketika akan ambruk. Harus ada sebuah basis filosofi yang […]

  • Rangkaian Rapmafest #12 Resmi Dimulai, Akan Hadirkan Kompetisi dan Gigs Musik

    Rangkaian Rapmafest #12 Resmi Dimulai, Akan Hadirkan Kompetisi dan Gigs Musik

    • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
    • account_circle Andi Rezti Maharani
    • visibility 67
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Komunitas radio Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Rapma FM menghadirkan perayaan milad ke-28 dengan mengusung Rapmafest #12. Acara ini menjadi ajang kreativitas dan hiburan serta kolaborasi yang menjadi wadah untuk mengekspresikan bakat sekaligus kemampuan. Rapmafest #12 mengangkat tema “Tune The Vibes” menggambarkan keselarasan frekuensi, menghubungkan rasa dan semangat, dengan menghadirkan energi baru yang […]

  • Ingatkan Bahaya Krisis Kepercayaan di Tengah Rupiah Melemah

    Ingatkan Bahaya Krisis Kepercayaan di Tengah Rupiah Melemah

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 67
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID; SURAKARTA – Pelemahan rupiah yang terus menembus level psikologis terhadap dolar Amerika Serikat dinilai bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga ujian besar terhadap komunikasi publik pemerintah. Di tengah tekanan global dan meningkatnya biaya hidup masyarakat, akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menilai negara perlu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menjaga kepercayaan publik agar situasi tidak berkembang […]

  • Halal Bihalal 1447 H ITBM-BIM Bali Perkuat Solidaritas dan Budaya Kerja Profesional Berbasis Keikhlasan

    Halal Bihalal 1447 H ITBM-BIM Bali Perkuat Solidaritas dan Budaya Kerja Profesional Berbasis Keikhlasan

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 58
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Edutrend.id – Denpasar, 1 April 2026 – Dalam nuansa hangat pasca-Idulfitri 1447 H, Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Bali (ITBM–BIM Bali) menggelar kegiatan Halal Bihalal yang melibatkan pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, serta perwakilan mahasiswa. Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di lingkungan kampus. Selain sebagai tradisi saling memaafkan, […]

  • Safari Qurban AMM Pekalongan: Berbagi Kebahagiaan Pasca Kebencanaan

    Safari Qurban AMM Pekalongan: Berbagi Kebahagiaan Pasca Kebencanaan

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 46
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Pekalongan – Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kabupaten Pekalongan sukses menggelar Safari Qurban bertema “Menebar Kebahagiaan untuk Semesta” di Dukuh Dranan, Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriono, Kabupaten Pekalongan, pada Sabtu dan Ahad, 7-8 Juni 2025. Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen AMM, termasuk Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM), Pimpinan Daerah Nasiyatul Aisyiyah (PDNA), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), […]

  • Izzul Muslimin Ajak Umat Jadikan Iduladha Momentum Mengasah Kepedulian Sosial

    Izzul Muslimin Ajak Umat Jadikan Iduladha Momentum Mengasah Kepedulian Sosial

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 55
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lebong – Semangat pengorbanan dan kepedulian sosial menjadi pesan utama yang mengemuka dalam pelaksanaan Salat Iduladha 1447 Hijriah yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Muara Aman, Kabupaten Lebong, Bengkulu. Ratusan jamaah memadati Lapangan Perguruan Muhammadiyah Muara Aman untuk menunaikan ibadah yang berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan. Diperkirakan lebih dari 500 jamaah hadir dalam pelaksanaan […]

expand_less