Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Setelah Hujan Abu Vulkanik, Dosen UMS Ingatkan Risikonya bagi Kesehatan

Setelah Hujan Abu Vulkanik, Dosen UMS Ingatkan Risikonya bagi Kesehatan

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
  • visibility 110
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID; SURAKARTA – Hujan abu vulkanik akibat erupsi gunung api tidak serta-merta mengakhiri ancaman kesehatan bagi masyarakat. Abu vulkanik yang mengendap di jalan, rumah, sekolah, maupun tempat kerja dapat kembali beterbangan akibat angin, kendaraan, aktivitas manusia, hingga proses pembersihan yang tidak tepat.

Dosen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dwi Astuti, S.KM., M.Kes., menjelaskan bahwa fase setelah hujan abu justru menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan paparan abu vulkanik di lingkungan masyarakat.

“Abu yang menutup atap, halaman, jalan, ruang kelas, dan lahan pertanian bisa terangkat kembali oleh angin, kendaraan, langkah kaki, atau sapu yang digerakkan terlalu keras,” jelasnya, Senin, (14/9/2026).

Abu vulkanik berbeda dengan abu hasil pembakaran biasa. Material tersebut merupakan fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran kurang dari dua milimeter. Sebagian partikelnya cukup kecil untuk terhirup dan dapat masuk ke saluran pernapasan, sementara partikel yang lebih halus berpotensi mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam.

Selain mengganggu sistem pernapasan, permukaan abu vulkanik yang abrasif juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Namun, Dwi menekankan bahwa tingkat bahayanya tidak dapat disamaratakan karena dipengaruhi ukuran, bentuk, kandungan mineral, reaktivitas, konsentrasi, serta lama paparan.

“Bahayanya tidak dapat dinilai hanya dari tebal-tipis endapan yang terlihat. Tingkat bahayanya ditentukan oleh ukuran dan komposisi abu, banyaknya partikel yang terhirup, lama paparan, dan kerentanan orang yang terpapar,” terangnya.

Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah keluhan, seperti batuk, tenggorokan perih, dahak, mengi (bunyi napas), sesak, mata merah atau berair, serta kulit terasa gatal. Pada masyarakat yang sehat, keluhan tersebut dapat bersifat ringan dan sementara.

Kondisi berbeda dapat terjadi pada kelompok rentan, terutama penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit jantung, maupun gangguan mata. Paparan tambahan dapat memicu kekambuhan penyakit dan meningkatkan kebutuhan terhadap layanan kesehatan.

Dwi menyebut anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang penyakit kronis, petugas kebersihan, serta pekerja luar ruang sebagai kelompok yang memerlukan perhatian lebih. Kondisi lingkungan dan sosial juga dapat memperbesar risiko, seperti rumah dengan banyak celah, keterbatasan air bersih, dan sulitnya akses terhadap layanan kesehatan.

Ia juga menyoroti bahwa dampak erupsi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Pengungsian, kehilangan penghasilan, serta kecemasan menghadapi kemungkinan erupsi berulang dapat turut memengaruhi kesehatan mental masyarakat.

Dwi menilai penanganan pascaerupsi tidak cukup hanya berdasarkan kondisi lingkungan yang terlihat bersih. Jalan dan halaman yang telah disapu belum tentu menunjukkan bahwa paparan partikulat di udara telah berkurang.

“Jalan disapu, halaman tampak bersih, lalu keadaan dianggap terkendali. Padahal, mata manusia tidak dapat menilai berapa banyak partikel halus yang masih terhirup,” ujarnya.

Karena itu, proses pembersihan perlu dilakukan dengan cara yang tidak kembali menerbangkan abu ke udara. Masyarakat dianjurkan untuk melembapkan abu secukupnya sebelum dikumpulkan dan menghindari penyapuan kering maupun penggunaan blower. Penggunaan air juga perlu dikendalikan agar tidak menambah beban atap, membentuk lumpur berat, maupun menyumbat saluran drainase.

Untuk masyarakat yang harus berada di luar ruangan atau terlibat dalam proses pembersihan, perlindungan pernapasan juga menjadi penting. Respirator partikulat seperti masker N95 dapat membantu mengurangi partikel yang terhirup apabila digunakan dengan pemasangan yang rapat.

“Pelindung diri tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban ketika sumber paparan sebenarnya masih dapat dikendalikan,” tegas Dwi.

Lebih lanjut, Dwi menekankan pentingnya komunikasi risiko yang seimbang. Menurutnya, masyarakat tidak perlu diberikan informasi yang meremehkan bahaya abu vulkanik, tetapi juga tidak perlu ditakut-takuti secara berlebihan.

“Yang kita perlukan bukan kalimat paling keras, melainkan informasi yang paling jernih, jenis abu berbeda, tingkat paparan berbeda, dan kondisi setiap warga juga berbeda,” ungkapnya.

Masyarakat perlu memperoleh informasi yang konkret, singkat, berulang, dan mudah dipraktikkan. Informasi tersebut dapat disampaikan melalui Puskesmas, sekolah, tempat ibadah, kelompok masyarakat, radio lokal, hingga kanal digital resmi.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat antara lain memantau pengumuman resmi mengenai erupsi dan kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruang ketika abu kembali beterbangan, menutup pintu dan jendela, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika harus keluar, serta melindungi sumber air dan pangan.

Masyarakat juga perlu segera mencari pertolongan apabila mengalami gejala serius seperti sesak berat, nyeri dada, bibir kebiruan, penurunan kesadaran, atau gangguan penglihatan.

Dwi menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung penanganan dampak abu vulkanik. Kampus dapat berkontribusi melalui karakterisasi abu, pemantauan kualitas udara, penyusunan surveilans kesehatan, pengujian efektivitas komunikasi kesehatan, hingga evaluasi kebijakan pengendalian paparan.

“Peran yang paling penting adalah menerjemahkan pengetahuan laboratorium menjadi pilihan yang dipahami masyarakat. Pengalaman warga juga layak diperlakukan sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar cerita pelengkap dalam laporan penelitian,” katanya.

Menurut Dwi, keberhasilan penanganan pascaerupsi juga perlu diukur secara lebih komprehensif. Tidak hanya berdasarkan jumlah abu yang telah diangkut atau jumlah masker yang dibagikan, tetapi juga berdasarkan penurunan partikulat di udara, kepatuhan penggunaan alat pelindung, serta pemahaman masyarakat mengenai langkah perlindungan dan tanda bahaya.

“Abu yang mengendap bukan otomatis racun mematikan, tetapi juga bukan debu biasa yang boleh diabaikan,” pungkasnya.

Kontributor: Fika/Humas

Editor: Nurul Fahri

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Musypimcab PCA Sumbang: Inovasi dan Kolaborasi untuk Aisyiyah Masa Depan

    Musypimcab PCA Sumbang: Inovasi dan Kolaborasi untuk Aisyiyah Masa Depan

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 120
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, BANYUMAS – Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Sumbang menggelar Musyawarah Pimpinan Cabang (Musypimcab) di SMP Muhammadiyah Sumbang, Ahad (10 Rajab 1447 H/30 Desember 2025). Kegiatan ini mengusung tema “Dinamisasi Perempuan Berkemajuan Mewujudkan Aisyiyah Cabang Sumbang yang Tercerahkan” dan dihadiri sekitar 105 peserta yang terdiri dari 37 PCA, dan 68 utusan dari 14 Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah […]

  • LP3AIK Universitas Muhammadiyah Pringsewu Gelar Kegiatan Baitul Arqom Purna Studi untuk Mahasiswa Fakultas Kesehatan

    LP3AIK Universitas Muhammadiyah Pringsewu Gelar Kegiatan Baitul Arqom Purna Studi untuk Mahasiswa Fakultas Kesehatan

    • calendar_month Rabu, 17 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 100
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Pringsewu – 13 September 2025 – Lembaga Pendidikan, Pembinaan, dan Pengembangan Al Islam Ke Muhammadiyah (LP3AIK) Universitas Muhammadiyah Pringsewu (UMPRI) menyelenggarakan kegiatan Baitul Arqom Purna Studi (BAPUS) bagi mahasiswa Fakultas Kesehatan. Kegiatan ini diikuti oleh total 263 peserta yang terdiri dari mahasiswa reguler sebanyak 131 dan mahasiswa konversi sebanyak 199. Ketua pelaksana kegiatan, Dr. […]

  • BHP UMS Gelar Rapat Kerja, Bahas Program Strategis 2024/2025

    BHP UMS Gelar Rapat Kerja, Bahas Program Strategis 2024/2025

    • calendar_month Jumat, 13 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 157
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Biro Humas dan Pemeringkatan (BHP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Rapat Kerja di Sekuro Village Beach and Resort, Jepara selama dua hari, 13-14 September 2024. Wakil Rektor V UMS, Prof. Supriyono, MT., Ph.D., mengungkapkan rapat kerja ini akan kembali memfokuskan dalam hal transformasi digital, akademik, dan infrastruktur. “Ini kesempatan kita untuk merumuskan […]

  • Tim Pengabdian UMS Dorong Digitalisasi Tata Kelola dan Kewirausahaan Majelis Dikdasmen PCM Kartasura

    Tim Pengabdian UMS Dorong Digitalisasi Tata Kelola dan Kewirausahaan Majelis Dikdasmen PCM Kartasura

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle Choiril Amirah Farida
    • visibility 63
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat tata kelola kelembagaan dan kapasitas kewirausahaan digital Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kartasura melalui program Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah (P2M). Program ini berfokus pada penerapan administrasi digital, pengelolaan keuangan berbasis teknologi, dan promosi digital untuk mendukung […]

  • UMS dan BCA Kolaborasi Cetak Generasi Emas Menuju Indonesia 2045

    UMS dan BCA Kolaborasi Cetak Generasi Emas Menuju Indonesia 2045

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 56
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Demi mewujudkan generasi emas menuju Indonesia Emas 2045, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dipercaya Bank Central Asia (BCA) untuk berkolaborasi dalam menyelenggarakan Kuliah Umum BCA Berbagi Ilmu (BBI), yang bertajuk “Sharpening Your Edge: Skills and Attitude for the Next Chapter”. Kegiatan ini diselenggarakan di Gedung Edutorium K.H Ahmad Dahlan, Rabu (26/11). Wakil Rektor […]

  • Kiai Fathurrahman Kamal: Thaif, Potret Cinta Kasih Sang Nabi Agung Terhadap Umatnya

    Kiai Fathurrahman Kamal: Thaif, Potret Cinta Kasih Sang Nabi Agung Terhadap Umatnya

    • calendar_month Rabu, 31 Jan 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 258
    • 1Komentar

    Oleh: Fathurrahman Kamal Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kalaulah tidak bersebab rahmat Allah Ta’āla, dan cinta kasih Nabiyullah ‘alaihissalam terhadap umatnya; rasa-rasanya tak ada yang memantaskan kita bersua dengan Manusia Agung ini. Betapa tidak, memasuki wilayah Thaif yang sejuk, untuk menyeru manusia kepada tauhidullah demi kebahagiaan dunia dan keselamatan akherat, justeru beliau disambut sumpah […]

expand_less