Kolaborasi Perguruan Tinggi, Rumah Sakit dan BPJS Kesehatan dalam Penguatan Sistem Kesehatan Nasional Berbasis Mutu dan Evidence-Basic Practice
- account_circle Kabar Muhammadiyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID; SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat komitmen dalam mendukung perlindungan dan layanan kesehatan sivitas akademika melalui sinergi dengan BPJS Kesehatan. Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional dan Kuliah Tamu yang menghadirkan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Prihati Pujowaskito, Sp.JP (K)., FIHA., MMRS., di Gedung Induk Siti Walidah UMS, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-68 UMS sekaligus Milad ke-1 Rumah Sakit A.R. Fachrudin sebagai rumah sakit pendidikan UMS. Seminar nasional diikuti oleh mahasiswa dan sivitas akademika, khususnya dari rumpun kesehatan, serta dihadiri jajaran pengelola rumah sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah dan sejumlah perwakilan Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU).
Direktur Rumah Sakit A.R. Fachrudin Prof. dr. Dr. EM Sutrisna, M.Kes., FISQua dalam laporannya menyampaikan, seminar nasional tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi UMS dengan BPJS Kesehatan sekaligus memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai sistem pembiayaan dan pelayanan kesehatan nasional.
Ia menjelaskan, UMS memiliki komitmen untuk memastikan seluruh mahasiswa memperoleh perlindungan kesehatan melalui kepesertaan BPJS Kesehatan. Komitmen tersebut diperkuat melalui kebijakan Rektor UMS yang mencakup kepastian mahasiswa memiliki BPJS Kesehatan, memastikan status kepesertaannya aktif, serta memfasilitasi pendaftaran bagi mahasiswa yang belum memiliki BPJS Kesehatan.
“Pak Rektor telah mengeluarkan SK yang tadi menjamin tiga tadi, memastikan mahasiswa itu punya BPJS, BPJS-nya aktif, dan sekaligus mahasiswa yang belum punya BPJS didaftarkan oleh UMS,” jelasnya.
Setiap tahun, UMS juga menyetorkan data mahasiswa baru kepada BPJS Kesehatan Cabang Surakarta untuk dilakukan pengecekan kepesertaan. Mahasiswa yang belum memiliki BPJS Kesehatan selanjutnya difasilitasi untuk melakukan pendaftaran secara kolektif oleh UMS.
Selain itu, UMS mengimbau mahasiswa yang memiliki fasilitas kesehatan tingkat pertama di luar wilayah Jawa Tengah atau Pulau Jawa untuk mempertimbangkan pemindahan fasilitas kesehatan ke wilayah Surakarta. Hal tersebut dilakukan agar mahasiswa lebih mudah memperoleh akses layanan kesehatan selama menjalani studi di UMS.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan bahwa Muhammadiyah melalui Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah memberikan perhatian serius terhadap dua bidang utama, yakni kesehatan dan pendidikan.
“Keduanya dipandang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan, dan itulah keduanya yang menjadi roh dakwah Muhammadiyah dan ’Aisyiyah,” ungkapnya.
Ia berharap kehadiran Direktur Utama BPJS Kesehatan dapat memberikan wawasan baru bagi sivitas akademika UMS mengenai perkembangan sistem jaminan kesehatan nasional.
“Mohon berkenan memberikan insight baru, penyegaran baru. Prinsip UMS tadi sudah dilaporkan komit, sangat komit terhadap peran serta kontribusi dari lebih dari 40.000 mahasiswa UMS itu untuk menjadi bagian dari warga BPJS di wilayahnya,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Utama BPJS Kesehatan Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Prihati Pujowaskito, Sp.JP (K)., FIHA., MMRS., dalam pemaparannya menjelaskan mengenai perkembangan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) serta tantangan keberlanjutan pembiayaan kesehatan di Indonesia.
Ia menyampaikan bahwa ekosistem JKN melibatkan berbagai unsur dalam konsep pentahelix, yakni pemerintah, peserta, pelaku usaha, akademisi atau pakar, serta media massa. Kolaborasi antarpihak dinilai penting untuk memperkuat pelaksanaan program JKN.
“Di hadapan saya ini kita adalah komponen pentahelix ekosistem JKN: pemerintah, peserta, pelaku usaha, akademisi para pakar, termasuk media massa yang secara bersama-sama berkolaborasi melaksanakan program JKN ini,” jelasnya.
Menurutnya, BPJS Kesehatan saat ini telah memiliki sekitar 285 juta peserta dengan tingkat kepesertaan mencapai sekitar 98 persen. Namun, ia menekankan bahwa tantangan berikutnya adalah memastikan peserta tersebut memiliki status kepesertaan yang aktif.
Dalam konteks UMS, Prihati mengapresiasi komitmen universitas dalam memastikan mahasiswa memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan yang aktif. Ia mendorong agar mahasiswa baru UMS yang belum memiliki kepesertaan BPJS dapat segera didaftarkan dan diaktifkan.
“Saya setuju, Pak Direktur Rumah Sakit, Pak Rektor. Setiap mahasiswa yang mendaftar UMS, tolong BPJS-nya aktifkan,” ungkapnya.
Menurutnya, mahasiswa sebagai kelompok usia produktif juga perlu mendapatkan perlindungan kesehatan secara berkelanjutan. Kepesertaan yang aktif dinilai penting agar mahasiswa dapat mengakses layanan kesehatan ketika membutuhkan.
Seminar nasional tersebut sekaligus menjadi ruang diskusi bagi sivitas akademika UMS dan pengelola rumah sakit Muhammadiyah dan ’Aisyiyah untuk memperoleh pemahaman mengenai regulasi, pembiayaan, pelayanan, serta arah pengembangan JKN di Indonesia.
Kontributor: Sidiq Pramudito / RS UMS A.R. Fachrudin
Editor: Nurul Fahri
- Penulis: Kabar Muhammadiyah
Saat ini belum ada komentar