Arsitektur UMS Perkuat Pembelajaran Digital melalui SPADA dan Siklus PDCA
- account_circle Hammam Alghazy
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terus memperkuat transformasi pembelajaran digital melalui optimalisasi Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) dan penerapan siklus Closed-Loop Plan-Do-Check-Act (PDCA). Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Pemanfaatan SPADA dan Penerapan Siklus Closed-Loop PDCA, Rabu (30/9/2026), di Ruang Siti Badilah, Perpustakaan UMS Kampus 2.
Workshop yang diikuti sekitar 22 dosen tersebut menjadi bagian dari penguatan kapasitas pengajar dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih terintegrasi, interaktif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi pendidikan. Workshop mencakup pengelolaan kelas digital, penyusunan materi, penugasan, hingga evaluasi capaian pembelajaran mahasiswa.
Ketua Program Studi Arsitektur UMS, Dr. Ir. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T., GP., menjelaskan bahwa optimalisasi SPADA menjadi langkah strategis dalam mendukung kualitas pembelajaran sekaligus memenuhi kebutuhan pengelolaan akademik yang semakin terintegrasi.
“Harapannya dengan workshop ini, Bapak-Ibu dosen minimal sudah memiliki course dan memahami proses mulai dari memasukkan materi hingga penilaian terhadap CPMK dan CPL,” ujar Nur Rahmawati.
Melalui workshop tersebut, dosen juga mendapatkan pendampingan dalam mengintegrasikan mata kuliah yang diampu secara tim. Penggabungan kelas digital memungkinkan materi dan penilaian dikelola secara bersama sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung lebih terstruktur dan selaras dengan capaian akademik yang ditetapkan.
Nur Rahmawati menambahkan, pemanfaatan SPADA juga menjadi bagian dari penguatan sistem penjaminan mutu pembelajaran. Melalui platform tersebut, dosen dapat merancang materi, memberikan penugasan, memantau proses belajar, hingga mengevaluasi capaian mahasiswa secara berkelanjutan.
Sementara itu, Ar. Dody Irnawan, S.T., M.T., IAI., menyampaikan bahwa penggunaan Learning Management System (LMS) memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa dalam mengakses materi perkuliahan. Pembelajaran tidak lagi terbatas pada ruang kelas, tetapi dapat diakses melalui berbagai perangkat, termasuk telepon genggam.
“Pembelajaran berbasis website ini sebenarnya sangat efektif. Mahasiswa tidak harus membawa buku ke mana-mana, tetapi cukup menggunakan satu alat yang bisa dibuka di mana pun. Apalagi dengan materi interaktif, mereka akan lebih mudah mengikuti pembelajaran,” jelasnya.
Penguatan pembelajaran digital tersebut juga diarahkan pada penerapan siklus Closed-Loop PDCA, yakni perencanaan (planning), pelaksanaan (doing), evaluasi (checking), dan tindak lanjut (acting). Melalui pendekatan ini, proses pembelajaran dievaluasi setiap semester agar materi dan metode pengajaran dapat terus disesuaikan dengan perkembangan serta kebutuhan mahasiswa.
Dalam konteks pendidikan arsitektur yang menitikberatkan pada desain dan visualisasi, pemanfaatan teknologi juga membuka peluang pengembangan metode pembelajaran yang lebih kreatif. Sejumlah dosen mulai mengembangkan aplikasi pendukung berbantuan kecerdasan buatan (AI) untuk menunjang proses pembelajaran desain yang lebih interaktif dan komunikatif.
Dody menilai, pemanfaatan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kreativitas dosen dalam menghadirkan pengalaman belajar yang relevan bagi mahasiswa. “Harapannya Bapak-Ibu dosen harus kreatif dan interaktif, karena itu menjadi bagian dari keinginan dan kebutuhan mahasiswa dalam belajar. Tidak harus membuka buku ratusan lembar, tetapi apa yang mereka butuhkan bisa langsung diakses secara lebih mendalam,” tuturnya.
Melalui workshop ini, Program Studi Arsitektur UMS menargetkan peningkatan penggunaan SPADA hingga 80-90 persen di kalangan dosen. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen program studi dalam membangun ekosistem pembelajaran digital yang adaptif, memperkuat budaya evaluasi akademik, serta mendorong pengalaman belajar mahasiswa yang semakin interaktif dan berkelanjutan. (Alvian/Humas)
- Penulis: Hammam Alghazy
Saat ini belum ada komentar