Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Marginalisasi Pendidikan, Apakah Pendidikan Telah Mencapai Kebebasan di Indonesia?

Marginalisasi Pendidikan, Apakah Pendidikan Telah Mencapai Kebebasan di Indonesia?

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Jumat, 15 Apr 2022
  • visibility 1.080
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Kurnia Lisnadatul Anggraini (202110230311042)

Kehadiran setiap manusia ke dunia tak terlepas dari bagaimana suatu pengetahuan di pertanyakan eksistensinya. Pengetahuan hadir membawa ilmu yang di mana setiap isi dari ilmu tersebut di tuangkan dalam sebuah wadah yang dinamakan Pendidikan. Dalam situasi Pendidikan terutama di negara kita ini, yaitu Indonesia tidak jauh dari benda yang dinamakan buku. Selain itu, sistem dalam Pendidikan pun sering kali menjadi topik perbincangan utama dalam berbagai kondisi yang sedang terjadi. Pendidikan ialah salah satu sumber dari proses berlangsungnya suatu interaksi antara manusia yang satu dengan manusia lainnya.

Kehidupan pendidikan di Indonesia sangatlah berwarna-warni, tak hanya jenis sekolahnya namun juga proses pembelajarannya. Selain itu, kondisi pendidikan juga kerap kali dipengaruhi berbagai faktor eksternal. Hal itulah yang membawa berbagai macam orientasi pada masyarakat mengenai tahapan kehidupan baik dalam hal sosial, pekerjaan, maupun politik. Dimulai dari pendidikan di sekolah, menurut penjelasan Paulo Freire dalam menjalani perjalanan hidupnya terdapat kaum penindas juga kaum tertindas. Hal itu dapat di cerminkan pada sistem yang ada di berbagai sekolah yang ada di Indonesia, di mana pihak sekolah kebanyakan mengutamakan siswa atau murid yang orang tua mereka merupakan orang-orang berkedudukan tinggi atau memiliki kewenangan besar entah di bidang pendidikan, masyarakat, ataupun pemerintahan. Dari kondisi itu, dapat dikatakan bahwa pihak sekolah merupakan kaum penindas sedangkan kaum tertindas ialah mereka yang tidak memiliki orang tua dengan jabatan yang tinggi.

Masih seputar kisah di sekolah, setiap manusia memiliki kelebihan yang berbeda-beda yang berupa bakat dan minat terpendam dari diri mereka. Sekolah bisa dikatakan begitu lengkap dengan hadirnya sebuah prestasi. Pencapaian berharga yang menghadirkan rasa bangga bagi yang mendapatkannya juga bagi mereka yang ikut terlibat dalam langkah-langkah perjuangan besar. Dalam lingkup pendidikan terdiri atas bidang akademik dan bidang non-akademik, di mana akademik meliputi ilmu yang memiliki sifat ilmiah juga teori yang mempelajari ilmu pengetahuan sedangkan non-akademik ialah bidang yang bergerak pada kemampuan yang berlepasan dari hal yang bersifat teori-teori atau ilmiah.

Penindasan yang terjadi pada kaum tertindas meninggalkan perasaan sangat mengerikan yang hanya bisa diartikan oleh mereka sendiri karena pengalaman menanggung dan menerima beban penindasan. Proses akademik secara mayoritas di Indonesia yang terjadi diantara guru dan murid sangat erat kaitannya dengan teori Paulo Freire. Tak sedikit juga, lembaga pendidikan yang terkenal dengan segudang prestasinya bahkan seringkali mendapat kedudukan juara umum di berbagai perlombaan. Namun di balik prestasi yang begitu banyaknya terdapat kisah pilu yang terjadi hampir dialami sebagian besar murid di sekolah ini. Berhubungan dengan proses pembelajaran yang terjadi kerap kali ketika musim olimpiade tiba guru melakukan kewajibannya namun tidak sepenuhnya. Tak hanya guru, pihak sekolah pun lebih mengutamakan mereka yang memiliki kecerdasan lebih di bidang akademik dan memberikan pengajaran ekstra untuk mereka. Sementara di sisi lain murid yang dikatakan biasa saja ditinggalkan dengan tugas dengan sedikit bimbingan di kelas bahkan kerap kali hanya diberikan tugas pengganti.

Selain itu, murid yang bisa dikatakan cerdas di bidang non-akademik pun juga mengalami hal yang sama. Mereka hanya diambil prestasinya saja dan untuk sebelumnya mereka sulit mendapatkan izin untuk keluar mengikuti olimpiade di bidang mereka masing- masing. Dua keadaan di atas sangat relevan dengan teori yang ada. Baik dari segi kaum tertindas dan kaum penindas maupun sistem yang telah ada di dalam sekolah ini

Kaum tertindas disini dilihat dari bagaimana dan siapa yang mengalami kondisi terpinggirkan. Hal ini menimbulkan amunisi negatif pada mereka yang mengalami kondisi ini dan bahkan bisa saja mereka juga menginginkan kebebasan itu yang juga dapat menghadirkan adanya dehumanisasi di antara mereka. Situasi tersebut disebabkan oleh adanya proses internalisasi kaum tertindas menggambarkan diri sebagai kamu penindas. Manusia tidak lepas dari yang namanya komunikasi karena manusia memiliki kebutuhan akan interaksi dalam menjalani hidupnya. Oleh karena itu, dalam teori Freire ini diharapkan pembebasan yang ada tidak terbatas pada dua peran saja, yaitu kaum tertindas dan kaum penindas tetapi pembebasan yang dimaksud adalah pembebasan yang tidak menimbulkan pembalikan peran. Sehingga dapat timbul pemahaman baru mengenai relasi akan adanya kesadaran yang terdapat dalam diri yang tertindas dan penindas.

Berbicara mengenai sistem pembelajaran yang telah banyak terjadi di negara kita ini, dikatakan bahwa proses pembelajaran tidak menghadirkan adanya kesamaraatan akan pemahaman terhadap pelajaran yang diajarkan. Hal itu sesuai dengan “sistem bank” yakni Pendidikan merupakan alat yang digunakan oleh guru (subyek) yang memiliki suatu isi (pengetahuan) untuk diletakkan pada murid (wadah). Paulo Freire menerapkan sistem baru untuk mendapat konsientisasi. Maka dari itu, kondisi ini diperlukan adanya kerja sama yang kooperatif untuk menciptakan adanya tindakan dialogik seperti yang dipaparkan dalam teori Freire yang bertujuan untuk memacu adanya pembebasan.

Tidak hanya sistem pendidikan di Indonesia saja tetapi juga berbicara mengenai proses interaksi antara rakyat dengan pemerintah, apakah sudah menemukan demokrasi yang sebenarnya? Atau justru kata “demokrasi” hanya menjadi label semata. Hal ini berkaitan dengan humanisasi dan dehumanisasi yang merupakan bagian dari teori Freire. Humanisasi merupakan sebuah hal yang harus bisa dicapai sedangkan dehumanisasi sendiri ialah adanya penurunan suatu nilai-nilai yang ada di masyarakat. Menilik dari konteks tersebut bisa kita lihat bahwa dalam ajang pemilu yang ada di Indonesia diikuti oleh berbagai bahkan sangat banyak partai yang memperjuangkan posisi sebagai bagian dari politik pemerintah. Setelah mereka mencapai hasil yang telah mereka dapatkan maka mereka menjalankan program kerja yang telah disepakati sebelumnya. Akan tetapi keadaan yang ada menjadikan mereka bertindak secara otoriter tanpa melihat seluruh kondisi rakyat di Indonesia. Hal inilah yang membuat mereka terkesan menjadi kaum penindas dan rakyat sebagai kaum tertindasnya. Dari kondisi itu juga dapat memicu adanya dehumanisasi dari rakyat jika kelak mereka bisa berada di posisi tersebut. Oleh karena itu penting adanya komunikasi di antara rakyat juga pemerintah yang oleh Freire dikatakan sebagai kemampuan dialogik untuk mencapai kepentingan yang sama atau bisa dikatakan kebebasan.

Dari apa yang disampaikan oleh Freire diharapkan kita semua sebagai manusia dapat merasakan kebebasan yang sebenarnya dalam hal apapun. Tak hanya kebebasan, namun juga kita mampu memetik nilai moral yang juga diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya sebuah komunikasi tak hanya berlaku diantara dua orang saja namun juga bagi khalayak ramai yang saling berinteraksi dalam suatu wilayah hingga dapat mencapai kedamaian bersama. Meratanya suatu pendidikan memiliki arti yang begitu penting bagi setiap insan yang hidup agar mereka memiliki bekal yang kuat dalam menghadapi berbagai problema yang muncul tanpa diminta di kehidupa yang sangat keras ini.

Sumber Rujukan :

Freire, Paulo. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta : Pustaka LP3ES, 2008.

Robikhah, A. S. (2018). Paradigma Pendidikan Pembebasan Paulo Freire Dalam Konteks Pendidikan Agama Islam. IQ (Ilmu Al-qur’an): Jurnal Pendidikan Islam1(01), 1-16.

Sutri, S. (2014). Paradigma Pendidikan Kaum Marginal Andrea Hirata dalam Karya-Karyanya (Kajian Strukturalisme Genetik). Judika (Jurnal Pendidikan UNSIKA)2(1).

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 5 Srikandi Lulusan Doktor Pendidikan UMS Siap Warnai Dunia Akademik dengan Karya Bermutu

    5 Srikandi Lulusan Doktor Pendidikan UMS Siap Warnai Dunia Akademik dengan Karya Bermutu

    • calendar_month Kamis, 24 Jul 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 18
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Program Studi Pendidikan Program Doktor Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melahirkan para Lima Skrindani doktor pendidikan dalam Sidang Promosi Doktor yang digelar di Auditorium Moh Djazman, Selasa (22/7). Dalam sambutannya, Ketua Sidang Promosi Doktor, Prof. Dr. Anam Sutopo, S.Pd., M.Hum., menyampaikan bahwa pencapaian ini bukanlah […]

  • LDK PP Muhammadiyah dan FAI UMSU Perluas Dakwah hingga Wilayah 3T dan Luar Negeri

    LDK PP Muhammadiyah dan FAI UMSU Perluas Dakwah hingga Wilayah 3T dan Luar Negeri

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 10
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Medan – Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terus memperluas jangkauan gerakan dakwahnya melalui kerja sama strategis dengan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FAI UMSU) dalam program pengiriman dai Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta penguatan dakwah ke luar negeri. Pertemuan kerja sama tersebut […]

  • Menyusuri Jejak Sejarah dan Dakwah Islam di Museum Wayang Banyumas

    Menyusuri Jejak Sejarah dan Dakwah Islam di Museum Wayang Banyumas

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 13
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, – Ahad, 10 Mei 2026, Divisi Pemberdayaan Kebudayaan dan Olahraga (PKO) HMPS PAI UMP berkolaborasi dengan Bidang Seni Budaya dan Olahraga IMM Buya HAMKA UMP melaksanakan program kerja Karya Wisata Budaya melalui kunjungan ke Museum Wayang Banyumas. Kegiatan ini diikuti oleh delegasi pengurus HMPS PAI serta delegasi dari IMM Buya HAMKA UMP sebagai upaya […]

  • UMS Gelar Pendampingan Mahasiswa Penerima Beasiswa Kader, Siapkan Kader Unggul Muhammadiyah

    UMS Gelar Pendampingan Mahasiswa Penerima Beasiswa Kader, Siapkan Kader Unggul Muhammadiyah

    • calendar_month Minggu, 19 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 10
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID., SURAKARTA – Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan, dan Alumni (LP3A) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kegiatan Pendampingan dan Koordinasi Penerima Beasiswa Kader UMS pada Jumat (18/10) di Masjid Pesantren Mahasiswa (Pesma) Internasional KH Mas Mansur, Kampus IV UMS. Kegiatan ini bertujuan untuk mengarahkan sekaligus mengkoordinasi mahasiswa penerima beasiswa yang berada di bawah naungan LP3A, serta […]

  • Siap Mengabdi ke Daerah 3T, LDK PP Muhammadiyah Bekali Wisudawan Pondok Shabran UMS

    Siap Mengabdi ke Daerah 3T, LDK PP Muhammadiyah Bekali Wisudawan Pondok Shabran UMS

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 7
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Dalam suasana penuh semangat dan haru, Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar agenda Pembekalan Purnastudi Angkatan 2021 pada Jumat (25/4) di Gedung Kampus 2 UMS. Kegiatan ini menjadi momen penting yang menandai dimulainya fase pengabdian para wisudawan pondok di medan dakwah, terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) […]

  • PD IPM Kota Kediri Kawal Pelaksanaan Fortasi di Seluruh Sekolah Muhammadiyah

    PD IPM Kota Kediri Kawal Pelaksanaan Fortasi di Seluruh Sekolah Muhammadiyah

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 12
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Kediri – Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kota Kediri turut berperan aktif dalam menyukseskan pelaksanaan Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) di seluruh sekolah Muhammadiyah se-Kota Kediri pada 17 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang menjadi sarana penyambutan dan pembinaan peserta didik baru di lingkungan sekolah Muhammadiyah. Fortasi memiliki tujuan […]

expand_less