Dosen Penjas UMS Antarkan Atlet Indonesia Raih Emas dan Perak di Asian Para Games 2026
- account_circle Choiril Amirah Farida
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Dosen Pendidikan Jasmani Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Azlan Khoirur Rozikin, S.Pd., M.Or., turut mengantarkan atlet Indonesia meraih medali emas dan perak pada ajang Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang. Prestasi tersebut menegaskan kontribusi akademisi UMS dalam pembinaan atlet nasional hingga tingkat internasional.
Dua medali tersebut diraih pada nomor lari 100 meter putri kelas T63 dan lari 100 meter putra kelas T37, Rabu (21/10/2026). Karisma Evi Tiarani menyumbangkan medali emas pada nomor lari 100 meter putri kelas T63 dengan catatan waktu 14,59 detik. Sementara itu, Saptoyogo Purnomo meraih medali perak pada nomor lari 100 meter putra kelas T37 dengan waktu 11,35 detik.
Dalam ajang tersebut, Azlan dipercaya menjadi pelatih Tim Nasional Indonesia cabang olahraga para atletik. Keterlibatannya menunjukkan bahwa kompetensi akademik dan ilmu kepelatihan yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat berkontribusi langsung terhadap peningkatan prestasi olahraga nasional.
Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 berlangsung pada 18-24 Oktober 2026 di Jepang. Ajang olahraga disabilitas tingkat Asia ini menjadi wadah bagi atlet dari berbagai negara untuk menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus memperkuat nilai kesetaraan dan inklusivitas dalam olahraga.
“Dalam cabang olahraga para atletik, klasifikasi nomor lintasan menggunakan huruf T yang merupakan singkatan dari track. Klasifikasi tersebut ditentukan berdasarkan jenis gangguan dan dampaknya terhadap kemampuan fungsional atlet dalam melakukan aktivitas olahraga,” ujar Azlan, Senin (25/10/2026).
Kelas T63 diperuntukkan bagi atlet dengan amputasi tungkai di atas lutut pada satu sisi tubuh yang memenuhi kriteria klasifikasi. Atlet pada kelas ini menggunakan prostesis untuk berlari sesuai ketentuan yang berlaku. Kemampuan beradaptasi dengan prostesis, menjaga keseimbangan, menghasilkan akselerasi, dan mempertahankan efisiensi gerak menjadi aspek penting dalam mencapai performa optimal.
Sementara itu, kelas T37 diperuntukkan bagi atlet dengan gangguan koordinasi gerak yang memengaruhi kemampuan mengendalikan gerakan tubuh, termasuk atlet dengan cerebral palsy yang memenuhi kriteria klasifikasi. Pada nomor lari 100 meter, atlet dituntut mengoptimalkan koordinasi langkah, akselerasi, dan kecepatan hingga mencapai garis finis.
“Perbedaan karakteristik kedua kelas tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan latihan yang disesuaikan dengan kebutuhan fungsional setiap atlet. Perencanaan program latihan, evaluasi teknik, pengembangan kekuatan, serta pengelolaan performa menjadi bagian penting dalam mempersiapkan atlet menghadapi kompetisi internasional,” tambahnya.
Selain menjalankan tugas sebagai dosen Pendidikan Jasmani UMS, Azlan juga tercatat sebagai mahasiswa program doktor (S3) penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk tahun akademik 2026/2027.
Menurutnya, peran sebagai akademisi sekaligus pelatih nasional membuka peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik kepelatihan secara berkelanjutan.
“Pengalaman mendampingi atlet di tingkat internasional dapat memperkaya perspektif mengenai penerapan ilmu olahraga, pengembangan performa atlet, serta pembinaan olahraga adaptif yang berorientasi pada kebutuhan individual,” ungkapnya.
Bagi Azlan, pengalaman yang didapatkan juga diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa Pendidikan Jasmani UMS untuk terus mengembangkan kompetensi profesional dan kapasitas keilmuan. Keterlibatan dosen dalam pembinaan tim nasional memperlihatkan peran strategis perguruan tinggi dalam ekosistem olahraga Indonesia, baik melalui pendidikan, penelitian, maupun praktik kepelatihan.
Raihan medali emas dan perak di Asian Para Games 2026 menjadi bagian dari perjuangan atlet Indonesia di panggung Asia. Prestasi ini sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi antara atlet, pelatih, organisasi olahraga, dan institusi pendidikan dalam membangun prestasi olahraga yang berkelanjutan. (Fika/Humas)
Editor: Choiril Amirah Farida
- Penulis: Choiril Amirah Farida
