UMS Health Innovation Hackathon 2026 Seleksi 15 Tim, Ini Bobot Penilaian dan Agenda Berikutnya
- account_circle Choiril Amirah Farida
- calendar_month 53 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memasuki tahap seleksi peserta UMS Health Innovation Hackathon 2026 untuk menentukan 15 tim yang akan melanjutkan pengembangan inovasi teknologi kesehatan. Seleksi administrasi dan substansi berlangsung pada 21–25 Oktober 2026, sebelum peserta terpilih mengikuti pembekalan dan pendampingan bersama mitra rumah sakit serta industri.
Program yang diselenggarakan oleh Taskforce Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra KI (DRPPS) UMS dengan dukungan Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan Ditjen Risbang Kemendiktisaintek serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini menjaring 50 tim dengan total 233 inovator dari 30 perguruan tinggi dan institusi profesional di delapan provinsi di Indonesia.
Dalam proses seleksi, proposal peserta dinilai berdasarkan lima aspek utama dengan bobot yang telah ditetapkan. Aspek inovasi dan kelayakan rancangan memperoleh bobot terbesar, yakni 28 persen, disusul kedalaman teknologi sebesar 22 persen.
Selanjutnya, kesesuaian masalah dan solusi memiliki bobot 20 persen, sama dengan rencana hilirisasi sebesar 20 persen. Sementara itu, komponen lokal dan peluang kekayaan intelektual (HKI) menyumbang 10 persen dari total penilaian.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa penilaian tidak hanya mempertimbangkan kebaruan gagasan atau kecanggihan teknologi, tetapi juga kesesuaian solusi dengan persoalan yang dihadapi mitra, kelayakan rancangan, serta potensi pengembangan inovasi menuju pemanfaatan lebih lanjut.
Ketua Pelaksana Program sekaligus Ketua Taskforce UMS Health Innovation Hackathon 2026, Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si., IPU., menjelaskan bahwa program ini menggunakan pendekatan inovasi berbasis kebutuhan pengguna (demand-driven innovation).
“Hackathon ini dirancang bukan sekadar kompetisi ide di atas kertas, melainkan implementasi nyata dari pendekatan inovasi berbasis kebutuhan pengguna (demand-driven innovation). Seluruh proposal yang masuk merespons langsung tantangan operasional riil yang diajukan oleh mitra strategis rumah sakit dan industri manufaktur kesehatan. Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi kunci agar inovasi kampus benar-benar terhilirisasi dan memberi dampak sosial-ekonomi nyata,” ungkapnya, Senin (26/10/2026).
Setelah proses seleksi selesai, sebanyak 15 tim terbaik yang memenuhi kriteria kelayakan akan diumumkan melalui laman resmi program dan kontak ketua tim yang terdaftar. Tim terpilih selanjutnya mengikuti pembekalan dan pendampingan awal pada 29 Oktober hingga 4 November 2026.
Dalam tahap pembekalan dan Problem-Owner Clinic, para inovator akan berdiskusi langsung dengan mitra untuk mendalami persoalan teknis yang perlu diselesaikan. Pembahasan juga mencakup studi kelayakan, perancangan model bisnis, serta regulasi dan standar yang berkaitan dengan pengembangan produk kesehatan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kompetisi intensif selama tiga hari pada awal hingga pertengahan November 2026. Peserta akan melalui tahapan perumusan solusi (Explore & Define), pengembangan purwarupa bersama mentor (Build & Improve), serta presentasi dan demonstrasi uji fungsi dalam Demo Day.
“Pada akhir rangkaian tersebut, lima tim terbaik akan ditetapkan sebagai pemenang berdasarkan penilaian panel juri dari kalangan akademisi dan praktisi industri nasional,” tambahnya.
Untuk mendukung pengembangan inovasi, UMS Health Innovation Hackathon 2026 menyediakan total pendanaan dan apresiasi sebesar Rp125 juta. Seluruh 15 finalis memperoleh bantuan pembuatan purwarupa sebesar Rp5 juta per tim, sedangkan lima tim pemenang juga mendapatkan hadiah tunai sesuai peringkat.
Juara pertama memperoleh hadiah tunai sebesar Rp22.500.000 serta dana purwarupa Rp5.000.000, sehingga total manfaat yang diterima mencapai Rp27.500.000. Juara kedua mendapatkan hadiah tunai Rp15.000.000 dan dana purwarupa Rp5.000.000, dengan total manfaat Rp20.000.000. Sementara itu, juara ketiga memperoleh hadiah tunai Rp7.500.000 ditambah dana purwarupa Rp5.000.000, sehingga total manfaatnya sebesar Rp12.500.000.
Adapun juara harapan pertama memperoleh hadiah tunai Rp3.000.000 dan dana purwarupa Rp5.000.000, dengan total manfaat Rp8.000.000. Juara harapan kedua mendapatkan hadiah tunai Rp2.000.000 serta dana purwarupa Rp5.000.000, sehingga total manfaat yang diterima sebesar Rp7.000.000.
Program ini tidak berhenti pada kompetisi. Setelah Hackathon dan Demo Day, inovasi terpilih akan memperoleh pendampingan lanjutan hingga April 2027. Agenda tersebut mencakup validasi purwarupa melalui pengujian klinis atau laboratorium di fasilitas mitra, pengurusan HKI, penjajakan kemitraan komersialisasi (business matching), serta penyusunan dokumen kerja sama adopsi teknologi.
“Melalui tahapan seleksi dan pendampingan tersebut, UMS berupaya memastikan inovasi yang dikembangkan memiliki dasar teknis dan peluang penerapan yang lebih terarah. Kolaborasi antara inovator, rumah sakit, dan industri diharapkan dapat membuka jalan bagi pemanfaatan hasil riset untuk menjawab kebutuhan nyata di sektor kesehatan,” tegasnya.
Informasi mengenai hasil seleksi dan agenda kegiatan selanjutnya dapat dipantau melalui laman resmi https://ihub.ums.ac.id/hackathon. (Maysali/Humas)
Editor: Choiril Amirah Farida
- Penulis: Choiril Amirah Farida
