Bukan Sekadar Presentasi: Optimalisasi Canva Sebagai Media Proyeksi Visual dalam Murojaah Al-Qur’an
- account_circle Annisa' Yasfa Azzahra
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, Di era pendidikan digital saat ini, integrasi teknologi dalam ruang kelas sering kali terjebak pada tren aplikasi kuis berbasis permainan yang riuh dan penuh dengan elemen animasi (Herlina, Hum dan Pd, 2025). Namun, untuk aktivitas yang menuntut tingkat kekhusyukan dan konsentrasi tinggi seperti murojaah atau mengulang hafalan Al-Qur’an, pendekatan yang terlalu berlebihan tersebut justru berisiko memecah fokus siswa (Ahmad Nurrohim, Ihsan Nursidik, 2026). Oleh karena itu, diperlukan sebuah pendekatan alternatif yang memanfaatkan teknologi seperlunya tanpa menghilangkan esensi dari tradisi hafalan itu sendiri. Salah satu solusi yang paling efektif adalah menggunakan Canva bukan sebagai arena permainan kompetitif, melainkan sebagai instrumen presentasi visual yang terstruktur.
Proses pembelajaran dengan metode sambung ayat menggunakan platform Canva ini dirancang dengan alur yang sangat taktis dan berpusat pada interaksi lisan secara langsung. Guru akan menampilkan sebuah slide presentasi di layar proyektor kelas yang hanya berisi potongan awal dari sebuah ayat Al-Qur’an. Siswa kemudian diinstruksikan untuk membaca penggalan ayat tersebut dan melanjutkannya secara lisan, baik secara komunal maupun ditunjuk secara individu sesuai dengan instruksi guru. Setelah siswa selesai melafalkan sambungan ayatnya, guru akan berpindah ke slide berikutnya yang menampilkan teks ayat secara utuh sebagai bentuk konfirmasi dan koreksi, menciptakan proses evaluasi yang dinamis.
Dalam kajian desain instruksional, penggunaan platform Canva pada aktivitas ini sangat tepat diidentifikasi sebagai sebuah entitas media pembelajaran (Nisa, Ainia dan Nur, 2025). Secara teoretis, media adalah saluran komunikasi atau perantara fisik yang membawa pesan informasi dari sumber (guru) kepada penerima (siswa) (Baharun, 2016). Dalam skenario murojaah ini, perpaduan Canva dan proyektor difungsikan secara spesifik sebagai media proyeksi visual diam (still projected media). Layar besar di depan kelas berperan sebagai perantara utama yang menyajikan stimulus visual untuk memancing respons kognitif siswa, menjadikan lafaz ayat yang tadinya abstrak di dalam pikiran menjadi wujud visual yang dapat diamati bersama.
Kelebihan utama Canva saat diposisikan sebagai media proyeksi dalam konteks ini terletak pada letak pusat kendali. Berbeda dengan kuis di gawai pintar masing-masing yang dikendalikan oleh siswa, pada metode presentasi ini kendali komunikasi sepenuhnya berada di tangan guru. Guru memegang otoritas mutlak atas ritme perpindahan slide. Hal ini terbukti efektif dalam meminimalisasi distraksi fisik maupun antarmuka, sehingga perhatian kolektif siswa tetap terkunci pada satu titik fokus utama. Kondisi yang terpusat ini memungkinkan pendidik untuk mendengarkan pelafalan siswa secara seksama dan langsung memberikan umpan balik yang sangat presisi jika terjadi kesalahan bacaan.
Meskipun demikian, penggunaan Canva sebagai media proyeksi visual juga tidak terlepas dari kekurangan dasar teknologi yang perlu diantisipasi oleh para guru. Sebagai medium penyalur pesan yang sangat bergantung pada kelengkapan infrastruktur, metode ini menuntut tingkat kelaikan teknis yang mutlak. Proses transmisi pesan akan langsung terhenti apabila terjadi gangguan, seperti pemadaman listrik secara mendadak, kualitas lensa proyektor yang buram, atau koneksi jaringan internet yang tidak stabil saat aplikasi sedang memuat slide. Ketergantungan pada perangkat keras ini membuat kelancaran interaksi belajar menjadi rentan terhadap hambatan lingkungan eksternal.
Beralih dari fungsinya sebagai sebuah saluran perantara, konten potongan ayat Al-Qur’an yang disematkan dan diketik di dalam slide presentasi Canva itu sendiri diklasifikasikan sebagai bahan ajar. Bahan ajar merupakan wujud fisik atau pengemasan informasi tempat materi pengetahuan disusun secara sistematis demi mencapai tujuan instruksional tertentu (Sahidi dan Nurrohim, 2026). Dalam metode murojaah ini, kumpulan slide Canva bertindak sebagai bahan ajar presentasi yang diimplementasikan secara khusus sebagai instrumen evaluasi formatif. Konten tersebut disusun bukan untuk menjelaskan konsep baru, melainkan untuk menguji pemahaman, tajwid, dan ingatan siswa terhadap materi hafalan yang sudah pernah diinstruksikan sebelumnya.
Secara karakteristik teoretis, bahan ajar presentasi ini dirancang dengan desain yang secara sengaja dibuat tidak lengkap, yakni hanya menampilkan awalan sebuah ayat. Oleh sebab itu, bahan ajar ini masuk ke dalam klasifikasi suplemen dan bersifat tidak dapat berdiri sendiri. Artinya, sekumpulan presentasi ini hanyalah alat bantu pemicu pikiran belaka. Desain pesannya sama sekali tidak ditujukan untuk berfungsi sebagai pedoman pembelajaran mandiri bagi siswa yang baru pertama kali ingin menyetorkan hafalan, karena tidak memuat kaidah ilmu tajwid secara utuh.
Keunggulan utama dari pengemasan bahan ajar yang terpotong ini adalah efektivitas kognitifnya dalam memaksa otak siswa untuk bekerja lebih mandiri. Saat menatap potongan ayat di layar, siswa secara mental dituntut untuk melakukan proses penarikan kembali secara penuh dari pusat retensi memori jangka panjang mereka. Proses pengungkapan lisan dari ruang hampa ini jauh lebih efektif dan bermutu dalam mengunci kualitas hafalan jika dibandingkan dengan sekadar metode pengenalan pada format kuis pilihan ganda digital (Nurrohim, 2019). Ditambah lagi, format digital Canva ini sangat adaptif, memungkinkan guru memodifikasi susunan ayat dengan cepat.
Di sisi lain, kelemahan mendasar dari bahan ajar berformat suplemen ini adalah ketiadaan makna instruksional jika dilepaskan dari kehadiran pendidik. Karena sifat presentasinya yang tidak berdiri sendiri, bahan ajar ini tidak akan efektif jika sekadar dibagikan atau diunduh siswa untuk dipelajari sendiri di rumah. Tanpa adanya guru sebagai sumber utama yang memberikan percontohan makhraj serta memberikan validasi hukum bacaan, potongan teks di dalam slide Canva tersebut justru berpotensi menimbulkan salah baca bagi siswa-siswa yang pemahaman dasarnya belum sempurna.
Kesimpulannya, optimalisasi platform Canva dalam kegiatan murojaah sambung ayat membuktikan bahwa inovasi pedagogi yang baik tidak selalu bermakna penggunaan teknologi yang paling canggih. Dengan mendudukkan fungsi secara presisi yakni sebagai media penyaji visual yang memusatkan kendali kelas dan sebagai bahan ajar suplemen penarik daya ingat pendidik mampu menyatukan kemurnian tradisi hafalan lisan dengan nilai praktis teknologi. Strategi terstruktur inilah yang pada akhirnya berhasil menciptakan ekosistem kelas yang khusyuk, bebas dari ketegangan kompetisi semu, dan tetap menjaga tujuan luhur dari penjagaan ayat suci Al-Qur’an.
- Penulis: Annisa' Yasfa Azzahra
