UANG SAKU TERBATAS, GAYA HIDUP TAK TERBATAS: TANTANGAN KEUANGAN MAHASISWA BARU
- account_circle Viola Trisca Amalia
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto Pribadi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Baru tanggal 20-an saja uang saku sebagian mahasiswa baru sudah mulai menipis, padahal masih sisa 10 hari lagi untuk mencapai tanggal mudanya. Hidup di kota yang katanya 1001 coffe shop, banyak mahasiswa baru yang suka sekali nongkrong bersama teman, hunting cafe berkedok kerja kelompok, dan belanja online dalam keadaan dompet kosong. Kebanyakan mahasiswa baru dan mahasiswa rantau yang merupakan anak kost, dipaksa oleh keadaan untuk mengelola uang saku mereka sendiri. Bukan sekadar jumlah uang saku mereka, tetapi bagaimana cara pikir dan kebiasaan yang baik untuk diterapkan sajak awal.
Perubahan dari masa SMA ke bangku kuliah memiliki pengaruh besar terhadap keuangan. Saat SMA uang saku kita masih dikelola oleh orang tua, kebutuhan sehari-hari terpenuhi dan hampir tidak ada pengeluaran besar yang diputuskan diri sendiri. Duduk dibangku kuliah sebagai mahasiswa terutama yang tinggal jauh dari rumah, seluruh pengaturan seperti uang makan sehari-hari, tempat tinggal (kost), transportasi dan biaya perkuliahan mulai di kelola sendiri. Jatah uang sebulan mau tidak mau harus cukup sampai akhir bulan. Kita juga harus memikirkan dana darurat dari uang saku kita satu bulan, karena akan merasa sungkan tidak memungkinkan jika meminta uang tambahan dipertengahan bulan kepada orang tua.
Sayangnya mahasiswa baru masih banyak yang belum berpengalaman mengelola keuangan secara mandiri dan belum siap untuk mengelolanya. Masalah ini diperparah oleh kondisi lingkungan yang merasa takut ketinggalan tren (FOMO), sehingga membuat mahasiswa banyak bergaya atau ikut-ikut membeli barang-barang yang kurang berguna. Adanya kemudahan dari E-wallet, pinjaman online dan promo-promo yang ada di marketplace yang terasa ringan, namun nyatanya berdampak besar di akhir bulan. Mereka cenderung kalap dan lapar mata sehingga tidak memprioritaskan kebutuhan. Hal inilah yang nantinya akan menyusahkan mereka kedepannya, gaya hidup hedonisme, dan konsumtif juga turut andil dalam masalah ini.
Kemudahan transaksi digital seperti paylater dan dompet digital sering kali membuat pengeluaran terasa tidak nyata, karena tidak ada uang tunai yang berpindah dari tangan. Kita cukup menekan tombol bayar, lalu saldo berkurang tanpa terasa. Padahal, cicilan kecil yang menumpuk setiap bulan justru mengurangi uang saku yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan pokok. Mahasiswa perlu menyadari bahwa setiap transaksi, sekecil apa pun, tetap mengurangi jatah uang bulanan dan sebaiknya dipertimbangkan sebelum dilakukan.
Biasanya gaya hidup hedonisme dan konsumtif ini sudah tertanam dalam diri mereka, sejak mereka kecil berdasarkan didikan orang tua, pergaulan, dan pengaruh media sosial. Mereka sduah terbiasa hanya memikirkan kesenangan mereka tanpa memikirkan dampak kedepannya. Tanpa adanya kesadaran dalam diri sendiri mereka akan tetap memiliki perilaku konsumtif, tidak bisa menabung dan berhemat. Mereka akan terus menerus mengikuti gengsi. Bahkan saat ini banyak korban pinjaman online yang nilainya sampai puluhan juta. Mereka nekat berhutang hanya demi memenuhi gengsinya dan uang saku mereka tidak mencukupi. Selain itu tidak ada penyusunan skala prioritas yang baik dari individu juga berpengaruh.
Dampak dari masalah ini tidak bisa dianggap remeh begitu saja, karena uang yang sudah habis sebelum waktunya bisa membuat mahasiswa mengorbankan kebutuhan lainnya seperti uang makan atau uang untuk perlengkapan kuliah. Sehingga akan menyulitkan mereka selanjutnya. Memang pertemanan, relasi dan menikmati hidup bukan suatu kesalahan tetapi akan muncul suatu masalah ketika pengeluaran tidak memiliki batas dan perencanaan. Jadi Solusi dari masalah ini bukan untuk memutus pertemanan dan pergaulan tetapi bagaimana kemampuan kita mengelola, meyusun skala prioritas dan menyesuaikan gaya hidup sesuai dengan keuangan kita. Kita juga harus pandai dalam mencari teman dan membatasi diri kita sehingga kita tidak terpengaruh gaya hidup mereka yang hedonism dan konsumtif. Sekarang marak orang orang belanja dengan dalih self reward, hal itu diperbolehkan sesekali namun pikirkan juga budget dan sisa uangmu setelah kamu melakukan selfreward.
Peran lingkungan sekitar juga tidak kalah penting. Orang tua sebaiknya tidak hanya memberikan uang saku, tetapi juga membekali anaknya dengan pemahaman tentang cara mengelolanya sebelum memasuki dunia perkuliahan. Kampus dan organisasi mahasiswa dapat mengadakan kegiatan edukasi literasi keuangan agar mahasiswa baru tidak perlu belajar dari kesalahan yang merugikan. Adanya dukungan tersebut, mahasiswa akan lebih siap menghadapi kebebasan finansial yang baru mereka dapatkan, dan tidak mudah terbawa arus gaya hidup di sekitarnya.
Langkah yang bisa kita terapkan yaitu yang pertama, mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kedua, membuat anggaran bulanan atau membagi uang kedalam beberapa kelompok seperti kebutuhan pokok, keperluan perkuliahan, tabungan dan hiburan. Ketiga, mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran bisa secara manual dibuku ataupun digital dengan menggunakan aplikasi google spreadsheet atau aplikasi catatan keuangan. Dari ketiga langkah tersebut perlu ditanamkan juga keberanian untk mengatakan “tidak” ketika ada ajakan dari teman yang tidak sesuai dengan kemampuan kita. Tantangan keuangan mahasiswa baru bukan hanya sekedar keterbatasan uang tetapi ujian proses kedewasaan mahasiswa tersebut. Tidak ada namanya uang saku terbatas jika gaya hidup kita disesuaikan berdasarkan prioritas dan kebutuhan. Kebiasaan kecil yang kita bangun sejak awal akan menjadi bekal dimasa depan nanti. Jadi mulailah belajar mengatur keuangan sendiri dari sekarang, karena dompet yang sehat lahir dari keputusan yang bijak dan keputusan bijak lahir dari pengalaman.
Penulis: Viola Trisca Amalia Mahasiswa Fakultas Ekonomi Program Studi S1 Manajemen Semester 3, Universitas Muhammadiyah Ponorogo
- Penulis: Viola Trisca Amalia
- Editor: M. Nur Isholattudin
