Mahasiswa Berbisnis, Apakah Sudah Pandai Mengelola Usahanya?
- account_circle Reva Anjarwati
- calendar_month 45 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto Pribadi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Belakangan ini semakin banyak mahasiswa yang berjualan. Beberapa orang mulai meninggalkan makanan di kelas, memulai toko online, menjadi reseller pakaian, bahkan menawarkan jasa desain. Ini adalah hal yang positif karena mereka sudah mencobanya sebelum lulus. Saya penasaran, apakah mereka benar-benar memiliki kemampuan untuk mengelola bisnis mereka sekarang, ataukah mereka hanya bersemangat pada awalnya?
Dari pengamatan saya, jawabannya belum bisa dibilang pasti. Memulai usaha itu mudah, asal ada barang dan akun media sosial. Tantangan sebenarnya adalah membuat usaha itu terus berjalan. Persoalan yang paling sering muncul adalah soal uang. Banyak teman-teman yang mencampur uang usaha dengan uang jajan. Saat sedang untung, uangnya langsung habis untuk nongkrong, sehingga ketika harus belanja stok lagi, modalnya tidak cukup. Mencatat pemasukan dan pengeluaran pun sering dianggap merepotkan, jadi mereka tidak tahu apakah usahanya benar-benar menghasilkan atau hanya terlihat ramai.
Persoalan berikutnya adalah pembagian waktu. Bagaimanapun, kewajiban utama mahasiswa adalah kuliah. Ketika pesanan sedang banyak, tugas kuliah jadi terlambat. Sebaliknya, ketika tugas menumpuk, pelanggan terabaikan dan akhirnya pindah ke tempat lain. Tanpa jadwal yang teratur, keduanya bisa sama-sama terbengkalai.
Saya tidak ingin menyamaratakan semua mahasiswa. Ada teman yang ternyata jauh lebih tertata daripada dugaan saya. Ia mencatat setiap transaksi di buku kecil, memisahkan uang usaha dan uang pribadi, serta bersedia mendengarkan keluhan pembeli. Ia juga pernah keliru menetapkan harga dan pernah menanggung stok yang tidak laku, tetapi justru dari kesalahan itu ia mendapat pelajaran yang tidak diajarkan di perkuliahan.
Pihak kampus bisa ikut membantu, misalnya dengan mengadakan pelatihan dasar pencatatan keuangan. Di sisi lain, mahasiswa juga perlu mau belajar dan tidak hanya mengandalkan perasaan. Usaha yang kecil sekalipun tetap membutuhkan target dan evaluasi setiap bulan.
Mahasiswa yang berbisnis itu patut didukung, tetapi keberanian saja belum cukup. Usaha bisa bertahan jika pemiliknya rajin mencatat, disiplin mengatur waktu, dan jujur mengakui kesalahan. Jika bisnis dipandang sebagai sarana belajar, bukan jalan pintas mencari uang, saya percaya banyak mahasiswa yang pada akhirnya mampu mengelola usahanya dengan baik.
Selain soal uang dan waktu, ada hal lain yang jarang dibicarakan, yaitu cara mahasiswa memahami pelanggannya. Banyak penjual muda merasa cukup mengunggah foto produk yang menarik, lalu menunggu pesanan datang. Padahal, pembeli tidak hanya membeli barang, tetapi juga membeli rasa percaya. Balasan pesan yang lambat, keterangan produk yang kurang jelas, atau barang yang berbeda dari foto dapat membuat pembeli kecewa dan enggan kembali. Di lingkungan kampus yang saling mengenal, kabar buruk menyebar jauh lebih cepat daripada promosi. Karena itu, pelayanan yang ramah dan jujur sebenarnya adalah modal usaha yang tidak kalah penting daripada uang. Mahasiswa yang menyadari hal ini biasanya lebih mudah mendapatkan pelanggan tetap, sebab orang merasa dihargai dan tidak sekadar dijadikan sasaran jualan. Hubungan yang baik seperti itu juga membuat mereka lebih terbuka memberi masukan yang berguna bagi penjual.
Masalah berikutnya muncul pada cara menetapkan harga. Tidak sedikit mahasiswa menentukan harga hanya dengan menaikkan sedikit dari harga modal, tanpa menghitung ongkos kirim, kemasan, biaya promosi, apalagi waktu yang mereka curahkan. Ada pula yang menurunkan harga terlalu rendah demi bersaing dengan penjual lain, sehingga keuntungannya nyaris tidak ada. Ketika pesanan sedang ramai, mereka merasa usahanya berhasil, padahal setelah dihitung ulang hasilnya hampir nol. Cara menghitung harga pokok sebenarnya tidak rumit. Cukup mendaftar semua biaya yang keluar, menentukan keuntungan yang diinginkan, lalu membandingkannya dengan harga di pasaran. Sayangnya, langkah sederhana ini sering dilewati karena dianggap terlalu membuang waktu, padahal kesalahan harga bisa menggerogoti usaha secara perlahan tanpa disadari.
Di sisi lain, perkembangan teknologi sebenarnya sangat membantu mahasiswa yang ingin berbisnis dengan rapi. Aplikasi pencatatan keuangan yang gratis, dompet digital yang memisahkan saldo, dan fitur balasan otomatis di media sosial dapat meringankan pekerjaan yang dulu harus dilakukan secara manual. Namun, teknologi hanyalah alat. Aplikasi sebaik apa pun tidak akan berguna jika penggunanya malas mengisi data atau tidak mau membaca hasilnya. Saya pernah melihat teman yang memiliki aplikasi pencatatan di ponselnya, tetapi tidak pernah membukanya lebih dari seminggu. Artinya, masalah utamanya bukan pada ketersediaan alat, melainkan pada kebiasaan dan kemauan untuk disiplin. Kebiasaan itulah yang perlu dilatih sejak sekarang, selagi taruhannya masih kecil.
Lingkungan sekitar juga memegang peran yang tidak kecil. Keluarga, dosen, dan komunitas wirausaha di kampus dapat menjadi tempat bertanya ketika usaha mulai menemui jalan buntu. Sayangnya, banyak mahasiswa merasa malu mengakui bahwa usahanya sedang bermasalah, sehingga memilih menyelesaikannya sendiri dengan cara coba-coba. Padahal, pengalaman orang yang lebih dulu berjalan dapat menghemat banyak biaya dan tenaga. Mengikuti bazar kampus, bergabung dengan kelompok usaha mahasiswa, atau sekadar berdiskusi dengan senior yang sudah berjualan lebih lama bisa membuka sudut pandang baru. Dalam percakapan seperti itu, mahasiswa tidak hanya mendapat saran, tetapi juga sadar bahwa kesulitan yang dialaminya ternyata dialami banyak orang dan ada jalan keluarnya.
Hal lain yang perlu disadari adalah bahwa kegagalan merupakan bagian wajar dari proses belajar berbisnis. Stok yang tidak laku, pelanggan yang kecewa, atau modal yang berkurang bukanlah akhir dari segalanya, selama pemiliknya mau mengevaluasi apa yang terjadi. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi siapa yang salah, melainkan bagian mana yang bisa diperbaiki. Mahasiswa juga perlu belajar menyisihkan sebagian keuntungan sebagai dana cadangan, supaya usaha tidak langsung goyah ketika penjualan sedang sepi. Selain itu, mereka perlu berani mengambil keputusan sulit, misalnya menghentikan sementara usahanya ketika masa ujian tiba. Berhenti sejenak bukan tanda menyerah, melainkan bentuk tanggung jawab agar kuliah dan usaha tidak saling merugikan.
Persoalan lain yang sering terlewat adalah ketergantungan pada satu jenis produk atau satu cara berjualan. Mahasiswa yang awalnya laris karena mengikuti tren biasanya kebingungan ketika tren itu berlalu. Mereka tidak sempat mempelajari apa yang diinginkan pelanggan, sehingga sulit menyesuaikan diri. Membaca minat pembeli, menanyakan pendapat mereka, dan mencoba variasi kecil sebenarnya dapat dilakukan dengan biaya murah. Usaha yang mau mendengar biasanya lebih tahan terhadap perubahan selera.
Terakhir, mahasiswa perlu menjaga nama baik dan etika dalam berbisnis. Menjual barang tiruan sebagai barang asli, melebih-lebihkan khasiat produk, atau menunda pengiriman tanpa kabar mungkin terlihat sepele, tetapi dapat merusak kepercayaan yang dibangun dengan susah payah. Kejujuran sejak awal justru menjadi pembeda di tengah banyaknya penjual yang mengejar keuntungan cepat. Reputasi yang baik tidak bisa dibeli, dan seluruhnya dibentuk dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Mahasiswa yang sejak dini terbiasa bersikap jujur kepada pembeli, pemasok, dan teman seusahanya akan lebih mudah dipercaya orang lain ketika kelak membutuhkan kerja sama atau modal tambahan.
Pada akhirnya, pertanyaan apakah mahasiswa sudah pandai mengelola usahanya tidak bisa dijawab dengan satu kata. Sebagian sudah mampu, sebagian lagi masih belajar, dan keduanya sama-sama pantas mendapat dukungan. Yang terpenting, kemampuan mengelola usaha bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang tumbuh dari kebiasaan mencatat, menghitung, melayani, dan mengevaluasi. Jika kebiasaan itu dibangun sejak masa kuliah, mahasiswa tidak hanya memperoleh keuntungan dari usahanya, tetapi juga bekal berharga untuk dunia kerja maupun usaha yang lebih besar kelak. Dengan dukungan kampus, lingkungan, dan kemauan belajar dari diri sendiri, semangat berjualan yang kini terlihat ramai dapat berkembang menjadi usaha yang benar-benar kokoh.
Penulis: Reva Anjarwati Mahasiswa Fakultas Ekonomi Program Studi S1 Manajemen Semester 3, Universitas Muhammadiyah Ponorogo
- Penulis: Reva Anjarwati
- Editor: M. Nur Isholattudin
