Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Featured » Maaf: Satu Kata yang Sulit Terucap oleh Manusia

Maaf: Satu Kata yang Sulit Terucap oleh Manusia

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Sabtu, 13 Jan 2024
  • visibility 371
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Rahmat Balaroa
(Direktur Lingkar Studi Syahwat Intelektual)

Manusia adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan sedikit kelebihan dibanding makhluk yang lain. Diantaranya diciptakanya akal untuk berfikir.. Manusia juga sering disebut sebagai makhluk sosial yang berarti adanya hubungan timbal balik anatara satu dengan yang lain (saling membutuhkan). Berbicara tentang manusia, pasti yang terbesit di benak kita adalah perbuatan baik dan buruk. Ada pepatah mengatakan “sepandai-pandai Tupai melompat, pasti akan jatuh juga”, mungkin pepatah tersebut bisa kita kaitkan dengan sifat manusia yangmana sebaik apapun manusia pasti pernah berbuat sebuah kesalahan.

Hal itu sejalan dengan pandangan Martin Buber seorang Filsuf jerman, ia mengatakan bahwa “Manusia adalah sebuah eksistensi atau Keberadaan yang memiliki potensi namun dibatasi oleh kesemestaan alam. Namun keterbatasan ini hanya bersifat faktual bukan esensial sehingga apa yang ingin dilakukannya tidak dapat diprediksi”. Dalam pandangan ini manusia punya kecendrungan untuk menjadi baik dan jahat, tergantung kecendrungan mana yang lebih besar dalam diri manusia tersebut. melihat situasi yang seperti ini, dibutuhkan kebijaksanaan dalam menghadapi kenyataan hidup, maksudnya kita selaku makhluk sosial harus bisa menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat, saling memafkan misalnya. Apa jadinya ketika semua orang di muka bumi ini saling menyakiti tanpa mengucap sedikitpun kata maaf dari lisannya, bukankah saling memafkan adalah perintah agama. Allah Swt berfirman dalam Q.S Al-A’raf;

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf :199)

Maaf dalam Al-Qur’an

Kata Al-‘afw terulang dalam Al-Qu’an sebanyak 34 kali. Kata ini mulanya berarti berlebihan seperti firman Allah SWT.  “Mereka bertanya kepadamu tentang hal yang mereka nafkahkan (kepada orang). Katakanlah, ‘’al-‘afw (yang berlebihan dari keperluan) (Q.S Al Baqarah [2]: 218).

Yang berlebihan harusnya diberikan agar keluar, maksudnya jika kita memiliki kelebihan maka berikanlah dan tidak menampung kelebihan tersebut. akhirnya kata al- ‘afw berkembang maknanya menjadi keterhapusan. Memafkan berarti manghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati. Lalu bagaimana jika yang bersangkutan tidak meminta maaf, apakah kita harus memaafkan?

Di dalam Al-Qur’an kita dianjurkan untuk memberi maaf bahkan sebelum maaf itu diminta. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakekatnya enggan memperoleh ampunan dari Allah SWT. tidak ada alasan untuk berkata “Tidak ada maaf bagimu” karena segalanya telah dijamin dan ditanggung oleh Allah SWT. Memang tidak enak jika seseorang telah melakukan suatu kesalahan, terlebih tidak meminta maaf kepada korban. Namun seringkali banyak orang yang sudah meminta maaf, tapi tidak bisa dimaafkan. Bahkan terkadang orang yang dimintai maaf telah memaafkan, namun orang tersebut dalam hati tidak ikhlas, akibatnya tentu maaf itu akan terasa hampa bagai tak terucap.

Namun demikian, proses pemaafan sulit dilakukan oleh satu pihak. Karena individu tidak mungkin mengharapkan hanya salah satu pihak saja yang aktif meminta maaf ataupun memberi maaf. Proses maaf- memaafkan juga tidak dapat dilakukan tanpa intensi, di satu pihak yang bersalah secara mudah memohon maaf. di lain pihak, yang tersakiti sekedar mengiyakan saja lalu komunikasi terhenti sampai di situ. Kondisi ini menimbulkan kesan seolah-olah peristiwa itu berlalu tanpa makna. Namun terkadang masih terdapat api dalam sekam yang pada suatu saat tertentu akan menimbulkan letupan kekecewaan dan sakit hati ketika interaksi mereka menghadapi masalah lain. Sering kali kekecewaan ini berujung pada dendam yang mengharuskan diri seseorang untuk membalaskannya.

Rasa ingin membalas perlakuan orang lain terhadap kita adalah hal yang wajar. Kita menginginkan agar orang yang menyakiti kita harus merasakan seperti apa yang kita rasakan. Akan tetapi memafkan lebih baik daripada harus melakukan hal yang bisa dikatakan untuk memuaskan nafsu semata. Sebab karena dorongan nafsulah rasa dendam itu muncul dalam diri manusia. Islam menjunjung tinggi keluhuran akhlak bagi para pemeluknya. Akhlak yang luhur tersebut ditunjukan dengan menghindari segala sesuatu yang dapat menyebabkan perselisihan. Lalu bagaimana dengan Firman  Allah SWT. dalam Q.S An-Nahl ayat 126, yang berbunyi;

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ َ (126)

“Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (An-Nahl: 126)

Secara jelas Allah menyampaikan tentang kebolehan untuk membalas dengan perbuatan yang setimpal.  Dalam artian tidak ada larangan untuk membalas suatu perbuatan selama kita membalas dengan perbuatan yang setimpal. Akan tetapi pada dasarnya ayat ini turun bukan sebagai perintah untuk balas dendam melainkan Allah Swt. memerintahkan untuk berbuat adil dalam qisas (pembalasan) dan seimbang dalam menunaikan hak, seperti yang disebutkan dalam riwayat Abdur Razzaq, dari As-Sauri, dari Khalid, dari Ibnu Sirin yang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

{فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ}

maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. (An-Nahl: 126)

Bahwa jika seseorang mengambil sesuatu dari kalian, maka ambillah darinya yang semisal. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ibrahim, Al-Hasan Al-Basri, dan lain-lainnya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Pembalasan setimpal ini sering disebut sebagai qisas. pada ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman;

وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

“Tetapi jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (An-Nahl: 126)

Dalam ayat ini Allah Swt.  menawarkan solusi dari gejolak rasa yang membara yaitu sabar. Sebagian orang untuk memilih jalan sabar adalah sebuah keniscayaan, apalagi perbuatan yang ditujukan padanya begitu menyakitkan. Tapi ingat janji Allah untuk orang-orang yang mampu menahan amarahnya. Allah meletakan kedudukan yang tinggi bagi orang yang mampu untuk bersabar. Maka benarlah perkataan khalifah Abu Bakar “Memang sulit Untuk Bersabar, tapi menyia-nyiakan pahala dari kesabaran itulah yang paling buruk”. Sabar adalah sikap yang mulia, sebab itulah Allah Swt. pada ayat berikutnya memrintahkan Nabi Muhammad untuk senantiasa bersabar.

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلا بِاللَّهِ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (An-Nahl: 127)

Hal ini mengukuhkan perintah bersabar, sekaligus sebagai pemberitaan bahwa kesabaran itu tidak dapat diraih melainkan berkat kehendak Allah dan pertolongan-Nya, serta berkat upaya dan kekuatan-Nya.

Sebagai penutup dari tulisan ini, penulis mengutip perkataan Ali bin Abi thalib: “Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik”.

Catatan: Tulisan ini adalah tulisan yang telah lama hilang, ditulis tahun 2020, dan baru ditemukan tahun 2024.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (1)

  • 注册以获取100 USDT

    Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.

    19 October 2026 5:52 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penutupan DA UMS, Haedar Nashir Berpesan Agar Jadikan Tauhid Prilaku Sehari-hari

    Penutupan DA UMS, Haedar Nashir Berpesan Agar Jadikan Tauhid Prilaku Sehari-hari

    • calendar_month Kamis, 18 Jan 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 193
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersama Majelis Pembinaan Kader Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MPKSDI PPM) tutup kegiatan Darul Arqam Pimpinan UMS pada Kamis, (18/01/2024). Darul Arqam Pimpinan yang dilaksanakan selama tiga hari 16-18 Januari 2024 ini ditutup langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar […]

  • Dinas Pendidikan Lampung Lakukan Monitoring dan Evaluasi di SMA Utama 2 dan 3 Bandar Lampung

    Dinas Pendidikan Lampung Lakukan Monitoring dan Evaluasi di SMA Utama 2 dan 3 Bandar Lampung

    • calendar_month Rabu, 25 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 199
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Bandar Lampung – Dinas Pendidikan Provinsi Lampung melalui tim Monitoring dan Evaluasi (MONEVA) melakukan kunjungan ke SMA Utama 2 dan SMA Utama 3 Bandar Lampung untuk memberikan pengarahan serta penilaian terhadap guru-guru dan pimpinan sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan di Lantai 2 Gedung Primaguna Bandar Lampung Selasa (24/09/2024) Kholina, salah satu anggota tim MONEVA, menyampaikan […]

  • Kader IMM FEB UMPP Raih Juara di GenBI Creative Competition III

    Kader IMM FEB UMPP Raih Juara di GenBI Creative Competition III

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 91
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, PEKALONGAN, 31 Januari 2026 – Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan. Kader PK IMM Al-Khawarizmi FEB UMPP berhasil meraih Juara 2 Lomba Poster Infografis dalam ajang GenBI Creative Competition III. Prestasi tersebut diraih oleh Muhammad Najib, mahasiswa Ekonomi Syariah semester 5 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Kompetisi […]

  • Bangun Resiliensi Emosi, Magister Dikdas UMS Hadirkan Aisah Dahlan

    Bangun Resiliensi Emosi, Magister Dikdas UMS Hadirkan Aisah Dahlan

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 74
    • 0Komentar

    KABARMUH. ID, SURAKARTA – Program Studi Magister Pendidikan Dasar (Dikdas) bersama alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar seminar nasional bertema self-healing dengan menghadirkan narasumber dr. Aisah Dahlan, CM.NLP., CCHt., CI. Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium Mohammad Djazman, Senin (30/3). Ketua Program Studi Magister Dikdas UMS, Prof. Dr. Minsih, S.Ag, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan […]

  • Konkret Gerakan, IMM Sukoharjo Lakukan Penanaman Pohon

    Konkret Gerakan, IMM Sukoharjo Lakukan Penanaman Pohon

    • calendar_month Senin, 5 Agt 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 213
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sukoharjo berkolaborasi dan bersinergi dengan LH DPD IMM Jateng untuk melakukan penanaman 100 bibit pohon. Agenda penghijauan itu dilakukan dalam upaya pelestarian lingkungan (4/8/2024). Izzul Khaq selaku Ketua Umum IMM Cabang Sukoharjo menuturkan bahwa fenomena climate change kian terasa dan semakin mengerikan jika kita mengetahui dampaknya. Ia […]

  • Mahasiswa FEB UMS Jadi Fasilitator Duta Inspirasi Indonesia, Raih Best Program Nasional

    Mahasiswa FEB UMS Jadi Fasilitator Duta Inspirasi Indonesia, Raih Best Program Nasional

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 106
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Syaban Al Musyaffa Ibnu Ahmad, mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional melalui keterlibatannya dalam ajang Duta Inspirasi Indonesia pada Jumat, (9/12). Syaban terpilih sebagai salah satu fasilitator terbaik setelah melalui proses seleksi ketat yang diikuti ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Duta Inspirasi […]

expand_less