Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Featured » Maaf: Satu Kata yang Sulit Terucap oleh Manusia

Maaf: Satu Kata yang Sulit Terucap oleh Manusia

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Sabtu, 13 Jan 2024
  • visibility 304
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Rahmat Balaroa
(Direktur Lingkar Studi Syahwat Intelektual)

Manusia adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan sedikit kelebihan dibanding makhluk yang lain. Diantaranya diciptakanya akal untuk berfikir.. Manusia juga sering disebut sebagai makhluk sosial yang berarti adanya hubungan timbal balik anatara satu dengan yang lain (saling membutuhkan). Berbicara tentang manusia, pasti yang terbesit di benak kita adalah perbuatan baik dan buruk. Ada pepatah mengatakan “sepandai-pandai Tupai melompat, pasti akan jatuh juga”, mungkin pepatah tersebut bisa kita kaitkan dengan sifat manusia yangmana sebaik apapun manusia pasti pernah berbuat sebuah kesalahan.

Hal itu sejalan dengan pandangan Martin Buber seorang Filsuf jerman, ia mengatakan bahwa “Manusia adalah sebuah eksistensi atau Keberadaan yang memiliki potensi namun dibatasi oleh kesemestaan alam. Namun keterbatasan ini hanya bersifat faktual bukan esensial sehingga apa yang ingin dilakukannya tidak dapat diprediksi”. Dalam pandangan ini manusia punya kecendrungan untuk menjadi baik dan jahat, tergantung kecendrungan mana yang lebih besar dalam diri manusia tersebut. melihat situasi yang seperti ini, dibutuhkan kebijaksanaan dalam menghadapi kenyataan hidup, maksudnya kita selaku makhluk sosial harus bisa menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat, saling memafkan misalnya. Apa jadinya ketika semua orang di muka bumi ini saling menyakiti tanpa mengucap sedikitpun kata maaf dari lisannya, bukankah saling memafkan adalah perintah agama. Allah Swt berfirman dalam Q.S Al-A’raf;

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf :199)

Maaf dalam Al-Qur’an

Kata Al-‘afw terulang dalam Al-Qu’an sebanyak 34 kali. Kata ini mulanya berarti berlebihan seperti firman Allah SWT.  “Mereka bertanya kepadamu tentang hal yang mereka nafkahkan (kepada orang). Katakanlah, ‘’al-‘afw (yang berlebihan dari keperluan) (Q.S Al Baqarah [2]: 218).

Yang berlebihan harusnya diberikan agar keluar, maksudnya jika kita memiliki kelebihan maka berikanlah dan tidak menampung kelebihan tersebut. akhirnya kata al- ‘afw berkembang maknanya menjadi keterhapusan. Memafkan berarti manghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati. Lalu bagaimana jika yang bersangkutan tidak meminta maaf, apakah kita harus memaafkan?

Di dalam Al-Qur’an kita dianjurkan untuk memberi maaf bahkan sebelum maaf itu diminta. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakekatnya enggan memperoleh ampunan dari Allah SWT. tidak ada alasan untuk berkata “Tidak ada maaf bagimu” karena segalanya telah dijamin dan ditanggung oleh Allah SWT. Memang tidak enak jika seseorang telah melakukan suatu kesalahan, terlebih tidak meminta maaf kepada korban. Namun seringkali banyak orang yang sudah meminta maaf, tapi tidak bisa dimaafkan. Bahkan terkadang orang yang dimintai maaf telah memaafkan, namun orang tersebut dalam hati tidak ikhlas, akibatnya tentu maaf itu akan terasa hampa bagai tak terucap.

Namun demikian, proses pemaafan sulit dilakukan oleh satu pihak. Karena individu tidak mungkin mengharapkan hanya salah satu pihak saja yang aktif meminta maaf ataupun memberi maaf. Proses maaf- memaafkan juga tidak dapat dilakukan tanpa intensi, di satu pihak yang bersalah secara mudah memohon maaf. di lain pihak, yang tersakiti sekedar mengiyakan saja lalu komunikasi terhenti sampai di situ. Kondisi ini menimbulkan kesan seolah-olah peristiwa itu berlalu tanpa makna. Namun terkadang masih terdapat api dalam sekam yang pada suatu saat tertentu akan menimbulkan letupan kekecewaan dan sakit hati ketika interaksi mereka menghadapi masalah lain. Sering kali kekecewaan ini berujung pada dendam yang mengharuskan diri seseorang untuk membalaskannya.

Rasa ingin membalas perlakuan orang lain terhadap kita adalah hal yang wajar. Kita menginginkan agar orang yang menyakiti kita harus merasakan seperti apa yang kita rasakan. Akan tetapi memafkan lebih baik daripada harus melakukan hal yang bisa dikatakan untuk memuaskan nafsu semata. Sebab karena dorongan nafsulah rasa dendam itu muncul dalam diri manusia. Islam menjunjung tinggi keluhuran akhlak bagi para pemeluknya. Akhlak yang luhur tersebut ditunjukan dengan menghindari segala sesuatu yang dapat menyebabkan perselisihan. Lalu bagaimana dengan Firman  Allah SWT. dalam Q.S An-Nahl ayat 126, yang berbunyi;

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ َ (126)

“Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (An-Nahl: 126)

Secara jelas Allah menyampaikan tentang kebolehan untuk membalas dengan perbuatan yang setimpal.  Dalam artian tidak ada larangan untuk membalas suatu perbuatan selama kita membalas dengan perbuatan yang setimpal. Akan tetapi pada dasarnya ayat ini turun bukan sebagai perintah untuk balas dendam melainkan Allah Swt. memerintahkan untuk berbuat adil dalam qisas (pembalasan) dan seimbang dalam menunaikan hak, seperti yang disebutkan dalam riwayat Abdur Razzaq, dari As-Sauri, dari Khalid, dari Ibnu Sirin yang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

{فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ}

maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. (An-Nahl: 126)

Bahwa jika seseorang mengambil sesuatu dari kalian, maka ambillah darinya yang semisal. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ibrahim, Al-Hasan Al-Basri, dan lain-lainnya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Pembalasan setimpal ini sering disebut sebagai qisas. pada ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman;

وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

“Tetapi jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (An-Nahl: 126)

Dalam ayat ini Allah Swt.  menawarkan solusi dari gejolak rasa yang membara yaitu sabar. Sebagian orang untuk memilih jalan sabar adalah sebuah keniscayaan, apalagi perbuatan yang ditujukan padanya begitu menyakitkan. Tapi ingat janji Allah untuk orang-orang yang mampu menahan amarahnya. Allah meletakan kedudukan yang tinggi bagi orang yang mampu untuk bersabar. Maka benarlah perkataan khalifah Abu Bakar “Memang sulit Untuk Bersabar, tapi menyia-nyiakan pahala dari kesabaran itulah yang paling buruk”. Sabar adalah sikap yang mulia, sebab itulah Allah Swt. pada ayat berikutnya memrintahkan Nabi Muhammad untuk senantiasa bersabar.

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلا بِاللَّهِ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (An-Nahl: 127)

Hal ini mengukuhkan perintah bersabar, sekaligus sebagai pemberitaan bahwa kesabaran itu tidak dapat diraih melainkan berkat kehendak Allah dan pertolongan-Nya, serta berkat upaya dan kekuatan-Nya.

Sebagai penutup dari tulisan ini, penulis mengutip perkataan Ali bin Abi thalib: “Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik”.

Catatan: Tulisan ini adalah tulisan yang telah lama hilang, ditulis tahun 2020, dan baru ditemukan tahun 2024.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SISTEM BANK DAN SOLUSINYA DALAM BUKU PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS

    SISTEM BANK DAN SOLUSINYA DALAM BUKU PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS

    • calendar_month Jumat, 1 Apr 2022
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 640
    • 0Komentar

    Oleh : Salsabila Rahmadhani Utami (202110230311006) Pendidikan adalah salah satu hal yang penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Pendidikan harusnya menghasilkan individu yang memiliki rasa kemanusiaan, produktif, bertanggung jawab, dan membawa perubahan dalam masyarakat. Pendidikan juga harus membebaskan manusia dari segala ketidaktahuan dan membebaskan diri memberi pendapat. Maka pendidikan yang baik sejatinya membebaskan dari segala rintangan, […]

  • Raih Akreditasi Unggul, IQT UMS Siap Jadi Solusi Kehidupan Umat di Era Modern

    Raih Akreditasi Unggul, IQT UMS Siap Jadi Solusi Kehidupan Umat di Era Modern

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 16
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) S1 Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS) resmi meraih akreditasi unggul berdasarkan keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang berlaku sejak 8 April 2026 hingga 8 April 2031. Capaian ini menjadi tonggak penting setelah sebelumnya prodi tersebut berada pada peringkat akreditasi B. Kepala Prodi IQT […]

  • Pawai Tarhib Ramadhan PCM Muara Aman, Tradisi Meriah Sambut Ramadhan

    Pawai Tarhib Ramadhan PCM Muara Aman, Tradisi Meriah Sambut Ramadhan

    • calendar_month Kamis, 27 Feb 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 121
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lebong – Sebanyak 800 peserta meramaikan Pawai Tarhib Ramadhan 1446 H yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Muara Aman, Kabupaten Lebong. Mengusung tema “Sejuta Cinta Sambut Ramadhan Penuh Ceria” pada Kamis (27/2/2025). Kegiatan ini menjadi wujud antusiasme masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Pawai tahunan ini dimulai dari Masjid Al Jihad Muhammadiyah Muara […]

  • FMIPA UNMUL dan PW ‘Aisyiyah Kaltim Perkuat Kemitraan Bersama SMAN 8 Balikpapan, Dukung Pendidikan Berkualitas dan Pelestarian Mangrove

    FMIPA UNMUL dan PW ‘Aisyiyah Kaltim Perkuat Kemitraan Bersama SMAN 8 Balikpapan, Dukung Pendidikan Berkualitas dan Pelestarian Mangrove

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 11
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID; BALIKPAPAN – Sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan organisasi masyarakat kembali diperkuat untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman (Unmul) bersama Pimpinan Wilayah (PW) ‘Aisyiyah Kalimantan Timur sepakat memperluas kemitraan dalam bidang pendidikan dan pelestarian lingkungan melalui program penguatan literasi lingkungan serta penanaman mangrove di […]

  • SUMU dan eGrad.id Dorong Generasi Muda Raih Karier Global lewat Program Resmi Pemerintah Jerman

    SUMU dan eGrad.id Dorong Generasi Muda Raih Karier Global lewat Program Resmi Pemerintah Jerman

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 17
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, JERMAN – Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) melalui program SUMU Catalyst bekerja sama dengan eGrad.id sukses menyelenggarakan webinar nasional bertajuk “Ambil Kesempatan Emas: Mulai Karir di Eropa Lewat Program Resmi Pemerintah Jerman” pada Jumat (22/5) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi dan perluasan akses informasi bagi generasi muda Indonesia […]

  • Tanggapi Tingginya Kasus DBD dan Chikungunya, Mahasiswa KKN FIK UMS Hadirkan Inovasi Puding Labu Kuning melalui SAPA Waspada

    Tanggapi Tingginya Kasus DBD dan Chikungunya, Mahasiswa KKN FIK UMS Hadirkan Inovasi Puding Labu Kuning melalui SAPA Waspada

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 11
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Tingginya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan chikungunya di Dukuh Jetis dan Bancakan, Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, mendorong Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 37 Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan program SAPA Waspada sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap kedua penyakit tersebut. Program ini […]

expand_less