Opini

Antara Idealisme dan Kejumudan, IMM Surakarta dan Tantangan Arah Gerak Perjuangan

Oleh: Jody, Kader IMM Kota Surakarta 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah, hadir bukan sekadar pelengkap gerakan, tetapi sebagai jawaban atas tantangan zaman. IMM digembleng dalam proses kaderisasi yang menekankan dimensi ideologis dan intelektual, dengan fondasi kuat untuk merawat akal sehat umat serta menjawab tantangan keumatan dan kebangsaan yang kian kompleks dari waktu ke waktu. IMM seharusnya menjadi motor penggerak perubahan — agent of change — dan garda terdepan dalam menghadirkan kemaslahatan umat.

Namun, realitas yang tampak di tubuh Pimpinan Cabang IMM (PC IMM) Kota Surakarta hari ini justru mencerminkan hal yang sebaliknya. Ada gejala stagnasi nalar dan kejumudan sikap dalam membaca dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat kota. IMM Solo terkesan absen dari pusaran isu-isu strategis yang menyangkut hajat hidup rakyat, terutama mereka yang terpinggirkan dan membutuhkan suara advokasi.

Absen dalam Isu Rakyat, Kasus Limbah PLTSa Putri Cempa

Salah satu contoh nyata adalah minimnya respons PC IMM Kota Surakarta terhadap kasus pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PLTSa Putri Cempa, dikelola oleh PT. SCMPP, yang berdampak langsung terhadap masyarakat sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempa. Ketika masyarakat menjerit, IMM Surakarta justru terdiam. Saat dihubungi melalui Bidang Hikmah dan Kebijakan Publik, tak ada respons memadai. Ketiadaan sikap ini menandai kealpaan IMM dari panggilan nurani gerakan kemanusiaan yang menjadi salah satu pilar trilogi IMM.

Ironisnya, inisiatif pendampingan dan advokasi justru datang dari elemen lain seperti BEM FH UNS, WALHI Jateng, Yayasan Gita Pertiwi, AJI Solo, komunitas-komunitas kolektif, hingga PD IPM Surakarta. Ketidakterlibatan IMM dalam kasus ini mencoreng citra gerakan mahasiswa Islam yang selama ini dikenal vokal membela yang lemah. IMM Solo seolah kehilangan arah gerak dan kepekaan sosialnya.

Kebingungan Sikap dalam Arena Politik Kepemudaan

Ketidakjelasan sikap PC IMM Kota Surakarta juga tampak dalam menyikapi Musyawarah Daerah DPD KNPI Kota Surakarta. Alih-alih menyampaikan sikap tegas dan konstruktif, PC IMM memilih posisi abstain dengan alasan “prosedural dan administratif”. Padahal, proses pencalonan ketua DPD KNPI tersebut telah melalui mekanisme yang terbuka, demokratis, dan telah mendapatkan restu dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta.

Yang mengejutkan, dalam narasi internalnya, PC IMM justru melontarkan kritik bahwa AMM, yang terdiri dari IPM, NA, dan Pemuda Muhammadiyah, dianggap bersikap pragmatis dan mendukung figur yang tidak melalui jenjang perkaderan formal. Istilah “MUDA” atau Muhammadiyah Dadakan pun digunakan secara peyoratif, seolah menjadi penanda superioritas kaderisasi prosedural di atas kaderisasi kultural.

Namun, di saat yang sama, PC IMM juga terlibat kompromi politik dengan figur yang justru dikategorikan sebagai kader “MUDA”. Salah satu pengurus IMM bahkan diketahui pernah meminta difasilitasi untuk beraudiensi dengan Walikota Surakarta — yang notabene merupakan figur “MUDA” tersebut. Ambiguitas ini mengundang pertanyaan serius: apakah sikap PC IMM benar-benar idealis, atau justru cerminan dari kemacetan berpikir yang berujung pada inkonsistensi politik gerakan?

Saatnya Kembali ke Khittah Gerakan

Ketidakkonsistenan, ambiguitas sikap, dan kejumudan dalam membaca realitas telah menciptakan jarak antara IMM dan denyut nadi masyarakat. Polarisasi antara kaderisasi formal dan kultural justru melanggengkan eksklusivisme ideologis yang tidak sehat. IMM seolah terjebak dalam logika “aku kader, kamu bukan”, yang secara diametral bertentangan dengan prinsip inklusivitas dan wasathiyah Muhammadiyah itu sendiri.

Kini saatnya PC IMM Kota Surakarta melakukan evaluasi mendalam terhadap arah geraknya. IMM harus kembali pada ruh perjuangan trilogi: intelektualitas, humanitas, dan religiusitas. Tiga nilai inilah yang seharusnya menjadi kompas gerakan, bukan hanya sebagai slogan dalam forum perkaderan, tetapi dihayati dalam tindakan nyata yang membela yang lemah, menyuarakan keadilan, dan menjaga marwah IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam yang tercerahkan.

Akhirnya, besar harapan agar IMM Surakarta dapat kembali menemukan arah perjuangannya secara substansial, membangun sinergi dengan elemen AMM lainnya, dan tampil sebagai kekuatan moral yang berpihak pada rakyat. Bukan menjadi gerakan yang hanya sibuk bergandengan tangan dengan para pejabat, tetapi juga siap duduk bersimpuh bersama masyarakat yang terpinggirkan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button