Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Dari Desa ke Kota, Haruskah Anak Muda Selalu Merantau?

Dari Desa ke Kota, Haruskah Anak Muda Selalu Merantau?

  • account_circle Dwi Kurniadi
  • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
  • visibility 38
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Muhammad Rofiqul Anam, Ketua Bidang Perkaderan PW IPM Lampung dan Penggerak Bumiloka Indonesia

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), mulai dari tahun 2010, 49,8 persen masyarakat Indonesia pergi dari desa untuk merantau ke kota, persentase tersebut meningkat hingga 56,7 persen di tahun 2020 dan diprediksi akan terus meningkat menjadi 66,6 persen pada tahun 2035, tren perantauan di Indonesia meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 5 persen setiap lima tahun. Meski terlihat mengesankan, fenomena ini justru menyiratkan ironi yang cukup mendalam, mengingat desa yang dulu menjadi pusat pertumbuhan perlahan merasakan mulai kehilangan sumber daya ekonomi, budaya, juga manusia. Stereotip masyarakat Indonesia yang meyakini sepenuhnya bahwa perkotaan memiliki peluang dan kesempatan yang lebih menjanjikan menjadi alasan utama dibalik perantauan, terutama terhadap pendidikan dan pekerjaan.

Data menunjukkan bahwa banyak perantau yang justru terjebak dalam kemiskinan akibat tingginya biaya hidup dan ketidakmampuan untuk bersaing di dunia yang semakin dinamis dan kompetitif. Selain itu, populasi yang meningkat akibat banyaknya perantau menjadikan perkotaan harus menyediakan infrastruktur dan layanan yang memadai.Jika tidak, kemacetan, kurangnya fasilitas, dan ketimpangan sosial akan semakin meningkatkan kualitas hidup para perantau diperkotaan. Oleh karena itu, meskipun kehidupan di kota menawarkan banyak peluang, kota acapkali menjadi tempat pertemuan antara impian dan realita yang kurang mengenakan. Lalu, bagaimana dengan anak muda, kenapa kita lebih memilih pergi daripada membangun desa sendiri?.

Mengapa Anak Muda Lebih Memilih Merantau ke Kota?

Ketimpangan antara desa dan kota jadi penyebab utama anak muda lebih memilih merantau ke kota. Dalam segmen pendidikan misalnya, data BPS tahun 2023 menunjukkan 5,11 persen anak muda di desa tidak sekolah dan 12,39 persen diantaranya putus sekolah (SD), sementara di kota, hanya 1,93 persen anak muda yang tidak sekolah dan 6,62 persen yang putus sekolah. Selain itu, terdapat 49,16 persen pelajar di kota yang lulus SMA, sementara di desa hanya 27,98 persen. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk desa menyelesaikan pendidikan hanya pada jenjang SD, yaitu sebesar 31,13 persen.

Ketimpangan pendidikan dapat ditandai dengan adanya kesenjangan kualitas dan kuantitas pada sarana, fasilitas, guru, serta akses transportasi dan komunikasi antara pendidikan di desa dan kota. Tentu saja hal ini memiliki efek domino yang cukup berpengaruh pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di desa, karena peluang dan kesempatan kerja semakin besar seiring tingginya tingkat pendidikan. Diversifikasi ekonomi membuat pedesaan sulit berkembang sehingga tidak mengherankan jika anak muda lebih memilih pergi ke kota. Stigma bahwa “Sukses Itu di Kota” seakan semakin dapat diterima, anggapan bahwa bekerja di kota lebih prestisius daripada di desa menjadi satu keyakinan bagi mayoritas anak muda desa. Kurangnya sosok inspiratif yang sukses dengan tetap tinggal di desa menjadi satu penyebab hal ini dapat terjadi. Selain itu, tekanan sosial membuat anak muda merasa harus meninggalkan desa agar bisa berkembang.

Perkembangan arus modernisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap, perilaku serta struktur sosial dimasyarakat, hal ini menjadikan kebanyakan anak muda mulai meninggalkan nilai-nilai kedaerahanya. Anak muda saat ini atau yang lebih familiar dengan istilah Gen Z cenderung menilai bahwa segala sesuatu yang berbau kedaerahan adalah sesuatu yang terkesan terbelakang atau sebut saja ”ndeso”, terutama terhadap masalah budaya. Tidak jarang kita menemukan anak muda yang enggan bahkan malu untuk menggunakan bahasa daerahnya masing-masing hanya karna agar tidak dianggap ndeso sehingga perlahan tutur bahasa daerah ini mulai ditinggalkan, padahal bahasa daerah adalah warisan budaya dari bangsa Indonesia yang harus tetap terjaga. Hal ini mengakibatkan desa kehilangan sumber daya, anak-anak muda yang seharusnya menciptakan perubahan di desa lebih memilih pergi ke kota untuk memenuhi gaya hidup dan kebebasanya.

Peluang dan Tantangan Generasi Muda Dalam Membangun Desa

Jika hal ini terus terjadi, lambat laun desa akan mengalami “missing generation”, dimana ia akan kehilangan generasi produktif sebagai sumber daya yang seharusnya dapat menciptakan perubahan di desa, dalam hal ini generasi muda. Sejalan dengan Sofyan Sjaf sosiolog IPB, 70 persen generasi muda yang hadir dalam bingkai bonus demografi kedepan diprediksi akan mengalami kemiskinan ekstrem, terutama yang tinggal dipedesaan. Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia akan mengalami keadaan dimana desa sebagai sumber kehidupan bangsa akan ditinggalkan oleh kebanyakan anak muda, tentu ini menjadi tantangan yang besar.

Selain itu, desa ini memiliki banyak sekali potensi yang sebenarnya bisa dikembangkan. Namun, acapkali pembangunan desa cenderung hanya berfokus pada aspek fisik seperti jalan tol, waduk, bandara, hingga mega proyek yang memiliki investasi asing besar-besaran. Saya pikir hal ini hanya akan memaksa desa seolah harus menjadi kota yang justru berakibat pada corak sosial-budaya anak muda desa yang menjadi ciri khas akan memudar.

Selain sektor pertanian, peternakan, atau budaya, bagi saya satu hal yang dapat dikembangkan untuk dapat meningkatkan kualitas desa adalah perihal sumber daya manusia, dalam hal ini anak-anak muda. Anak muda harus membangun narasi baru tentang desa, bagaimana menciptakan ruang dan kesempatan untuk sukses di desa dan memberikan dampak yang besar untuk mendobrak stigma yang ada.

Saat ini, banyak sekali program dari pemerintah yang dapat mendorong anak-anak muda desa agar dapat memiliki daya saing dan tidak kalah dengan anak-anak muda yang ada di kota. Kementrian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal meluncurkan beberapa program yang masuk dalam dua belas Rencana Aksi Kemendes tahun 2025. Mulai dari program pembangunan ekonomi, budaya hingga wisata, hampir semuanya melibatkan peran anak-anak muda. Oleh karena itu, perihal pembangunan desa memerlukan kolaborasi dan sinergi antara pemerintah bersama masyarakat muda untuk dapat mewujudkan astacita keenam yang menjadi misi bangsa indonesia lima tahun ke depan.

Redaksi : Al Fadhlil Raihan Yunan

  • Penulis: Dwi Kurniadi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UMS Terima Penghargaan Satria Education Award 2024 Kategori Kampus Moderasi Beragama

    UMS Terima Penghargaan Satria Education Award 2024 Kategori Kampus Moderasi Beragama

    • calendar_month Sabtu, 7 Des 2024
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 86
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SEMARANG – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sebagai kampus ‘Mencerahkan, Unggul, Mendunia” mendapatkan penghargaan Satria Education Award 2024 kategori Kampus Moderasi Beragama yang diterima secara langsung oleh Rektor UMS, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., Jumat malam (6/10) di Hotel Tentrem Semarang. Penghargaan ini diberikan oleh Suara Merdeka sebagai bentuk apresiasi terhadap komitmen UMS dalam menerapkan […]

  • Dorong Dakwah Guru Era Digital, IGABA Lamongan Gelar Pelatihan Jurnalistik

    Dorong Dakwah Guru Era Digital, IGABA Lamongan Gelar Pelatihan Jurnalistik

    • calendar_month Jumat, 16 Agt 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 179
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lamongan – Menyongsong lomba menulis tingkat wilayah, Ikatan Guru ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Lamongan menggelar pelatihan jurnalistik di ruang rapat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan pada Kamis (15/8/2024). Pelatihan ini menghadirkan pemateri dari Kwartir Daerah Hizbul Wathan (HW) Lamongan, Fathan Faris Saputro, M.Pd., yang memberikan wawasan mendalam tentang jurnalistik dan literasi digital. Dalam paparannya, […]

  • Mengawali Safari Ramadhan, PCM Muara Aman Tebarkan Cahaya Dakwah di Mushola Al Faruq

    Mengawali Safari Ramadhan, PCM Muara Aman Tebarkan Cahaya Dakwah di Mushola Al Faruq

    • calendar_month Kamis, 6 Mar 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 61
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lebong – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Muara Aman secara resmi mengawali rangkaian Safari Ramadhan 1446 H dengan kunjungan pertamanya ke Mushola Al Faruq, Muara Aman, Kabupaten Lebong, Bengkulu pada Ahad, 2 Maret 2025. Kegiatan ini berlangsung penuh khidmat dengan kehadiran berbagai elemen Muhammadiyah setempat. Safari Ramadhan ini dihadiri oleh Ketua PCM Muara Aman, Jefriyanto, […]

  • FEB UMS Lepas 625 Wisudawan, Begini Cerita Lulusan Terbaik Mahasiswi Asal Madagaskar

    FEB UMS Lepas 625 Wisudawan, Begini Cerita Lulusan Terbaik Mahasiswi Asal Madagaskar

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 18
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Upacara Pembekalan dan Pelepasan Calon Alumni di Ruang Seminar Dr. H. Syamsudin, Lantai 8 Gedung Ahmad Syafii Maarif Kamis, (2/4). Sebanyak 625 mahasiswa resmi dilepas sebagai calon wisudawan dalam suasana penuh haru dan kebanggaan. Salah satu yang mencuri perhatian dalam prosesi tersebut […]

  • Bangun PAUD Ramah Anak, Tim UMS Perkuat Media Digital Storybook Anti-Perundungan

    Bangun PAUD Ramah Anak, Tim UMS Perkuat Media Digital Storybook Anti-Perundungan

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 14
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Upaya pencegahan perundungan perlu dimulai sejak usia dini melalui pembelajaran yang ramah anak dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Berangkat dari kepedulian terhadap fenomena tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menyelenggarakan program penguatan karakter anti-perundungan berbasis digital storybook bagi guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten […]

  • UMS Terima 4 Unit Mobil dari Bank Jateng Syariah untuk Dukung Operasional UMS

    UMS Terima 4 Unit Mobil dari Bank Jateng Syariah untuk Dukung Operasional UMS

    • calendar_month Minggu, 2 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Bank Jateng Syariah memberikan empat unit mobil Toyota Innova Zenix kepada Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Penyerahan tersebut dilakukan dalam rangkaian acara jalan sehat yang digelar untuk menyemarakkan Hari Jadi ke-67 UMS, Minggu (2/11). Direktur Utama Bank Jateng, Irianto Harko Saputro, turut mengucapkan selamat hari jadi ke-67 untuk UMS. Ia menilai sinergi antara […]

expand_less