Kaltim

Haedar Nashir Tekankan Transformasi Gerakan dalam Konsolidasi Nasional PP Muhammadiyah

Konsolidasi Nasional Muhammadiyah menjadi ajang silaturahim dan penyegaran gerakan untuk merespons dinamika kebangsaan.

Pidato iftitah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, membuka Konsolidasi Nasional 2025 dengan pesan tentang transformasi dan kehati-hatian menghadapi tantangan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Konsolidasi Nasional pada Senin, 17 November 2025, di Universitas Muhammadiyah Bandung. Acara ini diikuti seluruh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) se-Indonesia sebagai bagian dari silaturahim sekaligus amanah untuk menyatukan langkah gerakan dalam menghadapi tantangan bangsa yang terus berubah cepat .

Kegiatan ini dihadiri jajaran PWM se-Indonesia, termasuk PWM Kalimantan Timur yang mengutus KH. Siswanto (Ketua PWM Kaltim) dan Ir. H. Amir Hady (Sekretaris PWM Kaltim) sebagai delegasi resmi. Kehadiran keduanya sekaligus mewakili komitmen PWM Kaltim untuk terus memperkuat koordinasi wilayah dan kontribusi nasional.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, membuka kegiatan dengan pidato iftitah yang sarat pesan. Dalam sambutannya, Haedar mengajak seluruh pimpinan wilayah bersyukur atas capaian-capaian persyarikatan, namun tetap menjadikannya sebagai bahan muhasabah. “Bersyukur atas capaian semua ini, tapi sekaligus sebagai bahan muhasabah dan mauduah,” ujarnya dalam pidato pembuka.

Lebih lanjut, Haedar menyampaikan apresiasi atas kerja kolektif semua pihak yang membuat Muhammadiyah tetap mendapat kepercayaan publik. Namun ia mengingatkan agar keberhasilan itu tidak membuat lengah. “Atas nama PP Muhammadiyah, kami mengucapkan terima kasih atas kerja kolektif sehingga kepercayaan publik tinggi. Tapi harus hati-hati dengan keberhasilan yang maya, karena tantangan semakin besar,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Haedar mengingatkan bahwa dinamika kebangsaan tidak sesederhana yang tampak. Ia menyebut berbagai isu strategis seperti sekolah Garuda, MBG, hingga Koperasi Merah Putih sebagai bagian dari tantangan kebangsaan yang perlu dicermati dengan bijak. Menurutnya, Muhammadiyah tetap harus hadir sebagai kekuatan moral yang mencerahkan .

 

Haedar juga menekankan pentingnya transformasi gerakan, baik di bidang organisasi, birokrasi, maupun kepemimpinan. Ia menyerukan agar pimpinan di semua tingkatan bekerja dengan nilai-nilai profesional, modern, dan berorientasi tujuan. “Muhammadiyah tidak bisa semau-maunya, ada valuenya, ada nilainya, dan itu adalah nilai Islam,” tegasnya.

 

Pimpinan wilayah juga diingatkan mengenai pentingnya menggerakkan struktur secara berjenjang: “PWM menggerakkan PDM, PDM menggerakkan PCM, PCM menggerakkan PRM, PRM menggerakkan anggota, anggota menggerakkan jamaah.” Skema ini, menurutnya, merupakan ruh gerakan yang harus terus dijaga agar persyarikatan hadir hingga akar rumput .

 

Haedar mengatakan bahwa kepemimpinan Muhammadiyah adalah kepemimpinan pergerakan yang tidak mengenal waktu. Ia menyebut tiga prinsip kepemimpinan transformasi: memaksimalkan potensi sekecil apa pun, mengagendakan kemudahan, dan memproyeksikan masa depan. Transformasi ini diharapkan melahirkan inovasi, meningkatkan etos, dan membangun program unggulan baru.

 

Dalam konteks kebangsaan, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak boleh terjebak pada sikap apologetik kepada negara, melainkan tetap berada dalam bingkai ideologis Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah. Di saat yang sama, Muhammadiyah harus memperkuat peran keumatan melalui pengajian yang mencerahkan dan pembelaan terhadap kepentingan umat.

 

Salah satu visi besar yang disampaikan Haedar adalah perluasan peran global. Muhammadiyah didorong untuk membangun amal usaha unggulan di luar negeri sebagai bagian dari internalisasi nilai dan ekspansi jejaring internasional. Transformasi global ini dianggap penting untuk merespons era baru yang penuh kompetisi.

 

Konsolidasi Nasional 2025 di Bandung ini akhirnya menjadi forum penting bagi persyarikatan untuk menyamakan langkah, menguatkan struktur, dan meneguhkan kembali peran strategis Muhammadiyah dalam kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan universal.(Ay.1)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button