Kaltim

Hj. Lasiah dan Muhammad Sudiono Dianugerahi Penghargaan pada Milad ke-113 Muhammadiyah Kaltim

PWM Kaltim menganugerahkan penghargaan khusus kepada Hj. Lasiah dan Muhammad Sudiono—dua figur yang jejak perjuangannya telah menegakkan fondasi dakwah persyarikatan sejak awal abad ke-20.

PWM Kaltim memanfaatkan peringatan Milad ke-113 sebagai ruang muhasabah, konsolidasi, dan penegasan komitmen membangun peradaban berkemajuan untuk masyarakat luas.

Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113 di Gedung Olah Bebaya, Kompleks Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Ahad 23 November 2025, menjadi saksi penghormatan mendalam bagi dua tokoh yang telah mengabdikan hidupnya untuk dakwah, pendidikan, dan gerakan pembaruan. PWM Kaltim memberikan Anugerah Kehormatan kepada Hj. Lasiah binti H. Imbran Saleh dan Muhammad Sudiono, dua figur bersejarah yang kontribusinya menjadi pondasi penting perkembangan Muhammadiyah di Kalimantan Timur.

Momen penyerahan penghargaan kepada keluarga tokoh, dilakukan setelah sambutan Ketua PWM Kaltim, KH. Siswanto. Beliau menegaskan pentingnya meneladani kerja-kerja senyap para tokoh. “Kita bersyukur atas capaian semua ini, tapi sekaligus menjadikannya muhasabah untuk kemajuan ke depannya,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa kepercayaan publik tidak lepas dari dedikasi para pendahulu. “Kami berterima kasih atas kerja kolektif, namun tetap harus waspada karena tantangan semakin besar,” tambahnya.

Hj. Lasiah: Kader Mu’allimat yang Menjadi Pilar ‘Aisyiyah Kaltim

Hj. Lasiah, lahir di Samarinda pada 23 Juni 1933, merupakan tokoh perempuan Muhammadiyah yang kiprahnya melintasi lintas generasi. Sejak muda, ia dikirim ayahnya ke Yogyakarta untuk bersekolah di Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah, sekolah kader putri yang dikelola PP Muhammadiyah. Setelah lulus tahun 1954, ia kembali ke Kalimantan Timur dan mengajar di berbagai lembaga pendidikan Islam, termasuk Normal Islam dan Madrasah Mu’allimat Tenggarong.

Penyerahan anugerah penghargaan kepada keluarga Hj. Lasiah Binti H.Ibran Saleh

Dedikasinya tidak hanya di dunia pendidikan. Ia aktif berdakwah, membina majelis taklim, serta terlibat dalam pendirian Madrasah Mu’allimat Tenggarong. Setelah menikah dengan H. Muhammad Adnan Sabirin—tokoh Muhammadiyah yang kemudian menjadi Ketua PWM Kaltim periode 1980–1985—Hj. Lasiah tetap istiqamah mengurus dakwah perempuan dan pendidikan. Ia memimpin Klinik Bersalin ‘Aisyiyah (kini RSIA Aisyiyah Samarinda) mulai 1973 hingga 1983, dan menjabat Ketua PWA Kaltim 1974–1985. Ia dikenal sebagai sosok sederhana, teguh, dan penuh kasih dalam membina keluarga dan organisasi.

Muhammad Sudiono: Perintis Dakwah Muhammadiyah di Samarinda Tahun 1925

Tokoh kedua yang menerima penghargaan adalah Muhammad Sudiono, seorang kader Muhammadiyah kelahiran Imogiri, Bantul, yang memiliki peran monumental dalam sejarah dakwah Muhammadiyah di Samarinda. Ia adalah orang pertama yang secara resmi diutus Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah pada tahun 1925 untuk menyebarkan dakwah dan mengajar di madrasah yang didirikan pedagang dari Kalimantan Selatan, Pak Jasri.

Penyerahan anugerah penghargaan kepada keluarga Muhammad Sudiono

Kehadirannya bukan hanya sebagai guru, tetapi sebagai pembawa misi dakwah Muhammadiyah di tanah Borneo. Untuk memastikan beliau betah dan tetap mengajar, Muhammad Sudiono kemudian dinikahkan dengan putri Pak Jasri, Siti Fatimah. Selama hidupnya, ia aktif menjadi penggerak komunitas, mengajar, dan memimpin umat, termasuk menjadi tokoh GAPERDA dalam masa-masa perjuangan kemerdekaan.

Tragisnya, perjuangannya harus berakhir ketika ia diculik dan diduga dibunuh mata-mata Belanda pada 17 Januari 1946, usai salat berjamaah di Masjid Jami’ Samarinda. Peristiwa penculikan itu terjadi di perempatan Jalan Wilhelminah (kini Imam Bonjol), lalu jasadnya dibawa melalui Sungai Karangmumus menuju wilayah Air Hitam—lokasi yang kini menjadi lingkungan kampus UMKT. Hingga kini, jejak keberadaannya diyakini berakhir di sekitar bukit Air Hitam.

Apresiasi Pemerintah Daerah

Dalam sambutan Gubernur Kaltim yang dibacakan Staf Ahli Drh. Arief Murdiyatno, pemerintah menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kiprah kedua tokoh. “Muhammadiyah selalu melahirkan perubahan nyata melalui karya, bukan hanya kata,” demikian sambutan Gubernur Dr. H. Rudy Mas’ud. Ia menyebut bahwa tokoh-tokoh seperti Hj. Lasiah dan Muhammad Sudiono adalah pilar penting pembentukan karakter Muhammadiyah di Kaltim.

Suasana Resepsi yang Hangat

Acara Milad juga diwarnai hiburan, termasuk tari Saman, Jepen, kaleidoskop perjalanan PWM Kaltim, serta atraksi Tapak Suci yang menutup resepsi dengan gaya energik. Para hadirin memberikan penghormatan dengan penuh keharuan kepada keluarga dua tokoh penerima penghargaan yang menjadi simbol keteladanan bagi keluarga besar Muhammadiyah Kaltim.

Momentum Milad ke-113 ini menegaskan bahwa perjalanan Muhammadiyah di Kaltim tidak terlepas dari pondasi yang dibangun para perintis dan kader teguh seperti Hj. Lasiah dan Muhammad Sudiono. Spirit keteladanan dan pengabdian mereka kini menjadi inspirasi generasi penerus dalam melanjutkan dakwah pencerahan di Bumi Etam.(Ay.1)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button