BeritaInspirasiJateng

Kartini Masa Kini di Dunia STEM, Guru Besar UMS Dorong Perempuan Berani Berprestasi

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Semangat Raden Ajeng Kartini terus hidup dalam berbagai bidang, termasuk di dunia sains dan teknologi. Hal itu tercermin dari perjalanan Guru Besar dalam bidang Ilmu Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Dra. Kun Harismah, M.Si., Ph.D., yang melihat perempuan bukan hanya mampu, tetapi juga memiliki peluang besar untuk unggul di bidang STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika).

Menurutnya, tantangan perempuan di dunia STEM justru harus dimaknai sebagai peluang. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perempuan dituntut tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga kontributor yang mampu menghadirkan inovasi.

“Ini adalah peluang untuk berkarir dan berprestasi, sekaligus menyumbangkan kemampuan kita agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” ungkapnya, Selasa (21/4).

Kun menyoroti bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, khususnya di wilayah Solo Raya. Potensi tersebut dapat diolah melalui pendekatan teknologi berbasis STEM. Salah satu contohnya adalah pengembangan minyak atsiri dari tanaman lokal di daerah Boyolali, Karanganyar, dan Wonogiri. Minyak atsiri dari cengkeh, adas, hingga kayu putih memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat dimanfaatkan dalam industri parfum, makanan, hingga obat-obatan.

Salah satu Produk Karya Guru Besar UMS, Prof. Dra. Kun Harismah, M.Si., Ph.D., yaitu Prototipe Aromaterapi Kombinasi Minyak Astiri dan VCO

Tak hanya itu, inovasi teknologi juga berkembang melalui pemanfaatan limbah industri, seperti molases dari pabrik gula di Bekonang yang diolah menjadi etanol melalui proses destilasi. Etanol dengan kadar tinggi ini tidak hanya berguna sebagai antiseptik di rumah sakit, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi bioetanol sebagai sumber energi alternatif. Upaya ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar.

“Dengan teknologi yang kita miliki, sumber daya alam di sekitar kita bisa memberikan nilai tambah. Ini menjadi langkah strategis agar kita tidak terus bergantung pada produk luar negeri,” jelasnya.

Dalam perspektif kesetaraan gender, Kun menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk menduduki posisi strategis di berbagai sektor. Di lingkungan UMS sendiri, kesempatan bagi laki-laki dan perempuan diberikan secara setara, baik dalam bidang akademik, organisasi, maupun kompetisi penelitian.

Data terbaru di UMS menunjukkan bahwa kiprah perempuan dalam dunia akademik dan pengabdian terus menguat. Pada tahun 2026, penerima pendanaan pengabdian dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (FPPM) mencapai 17 orang, dengan dominasi perempuan sebanyak 11 orang, sementara laki-laki 6 orang. Namun, pada sektor penelitian, dari total 74 penerima pendanaan, perempuan masih berjumlah 24 orang, sedangkan laki-laki mencapai 50 orang.

Sementara itu, pada program dorongan teknologi dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan (DHK) tahun 2025, komposisi penerima menunjukkan keseimbangan yang setara antara perempuan dan laki-laki, masing-masing sebanyak lima orang. Data ini memperlihatkan bahwa meskipun perempuan unggul dalam pengabdian, masih terdapat ruang untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam bidang penelitian.

Ia bahkan melihat bahwa banyak perempuan yang menunjukkan ketekunan tinggi dalam mengikuti kompetisi riset, termasuk yang diselenggarakan oleh kementerian. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa perempuan mampu bersaing dan meraih prestasi di tingkat nasional.

Mengabdi di UMS sejak tahun 1988, Kun merasakan langsung bagaimana kampus memberikan ruang yang inklusif bagi seluruh civitas academica. Berbagai fasilitas dan dukungan diberikan tanpa membedakan gender, sehingga setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Sebagai penutup, ia berpesan kepada generasi muda, khususnya perempuan, untuk tidak ragu mengambil peran. Keberanian dan semangat menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan.

“Harus berani, jangan mudah putus asa, dan terus berprestasi,” pesannya.

Dalam memaknai semangat Kartini, Kun melihatnya sebagai momentum untuk menunjukkan bahwa perempuan Indonesia mampu berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa. Dengan kemampuan, ketekunan, dan semangat juang, perempuan dapat menjadi motor penggerak inovasi di berbagai bidang.

Kartini hari ini bukan hanya simbol perjuangan, tetapi juga representasi perempuan hebat yang terus melangkah maju, membawa perubahan, dan menginspirasi generasi berikutnya. (Fika/Humas)

Editor: Choiril Amirah Farida

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button