Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Kebaikan Alat Manipulasi: Permainan Moral dalam Sudut Pandanng Eksploitasi Marxis

Kebaikan Alat Manipulasi: Permainan Moral dalam Sudut Pandanng Eksploitasi Marxis

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
  • visibility 71
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Penulis: M. Nur Isholattudin

Pernahkah anda ketika sesorang meminta bantuan kepada kita, kita menghambat tidak bisa menolaknya padahal ingin menolak? Ya, itu perasaan sungkan atau sering kita sebut tidak enakan (orang pleser) yang mungkin tanpa sadar kita sudah termasuk golongan orang senang. Sering terjadi dalam kehidupan kita, mungkin sesorang akan menganggap kita orang yang jahat atau tidak bisa diandalkan. Ketika kita menolak ajakannya, padahal tidak semua itu harus diterima, terkadang hal itu dilakukan agar memuaskan orang lain tanpa memperdulikan kenyamanan, waktu, bahkan energi prbadi dan sebenarnya kita merasa terbebani juga. Hal tersebut sangat rawan dan dapat menjadi sasaran empuk bagi manipulator yang mengatasnamakan kebaikan tanpa memperdulikan si korban.

Dalam wacana etika populer, kebaikan dan sifat “tidak enakan” sering kali dimaknai sebagai puncak keutamaan emosional. Seseorang yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya demi membantu orang lain kerap mendapat penghargaan moral dari lingkungan sosialnya. Namun, jika dibedah melalui kacamata kritis sosiologis Karl Marx, dinamika ini bukan sekedar isu kompromi kepribadian atau kelemahan karakter pribadi. Fenomena ini merupakan bentuk nyata dari hubungan kekuasaan yang eksploitatif. Ketika empati seseorang dimanfaatkan oleh pihak lain demi keuntungan sepihak secara terus-menerus, interaksi moral tersebut pada hakikatnya telah bergeser menjadi miniatur dari struktur kelas.

Landasan pemikiran utama Karl Marx dalam karya monumentalnya, Das Kapital (1867), berpusat pada konsep eksploitasi nilai lebih (nilai lebih). Dalam sistem produksi kapitalis, pemilik modal (borjuis) mengeruk nilai tambah dari tenaga kerja buruh (proletar) melebihi batas kompensasi yang seharusnya diberikan. Dalam hubungan sosial sehari-hari, logika akumulasi modal ini bekerja secara bertahap dan berkelanjutan. Pihak yang manipulatif bertindak layaknya “kapital emosional” yang mengekstraksi nilai lebih berupa waktu, energi, dan empati dari si “orang baik” tanpa memberikan ketidakseimbangan relasional yang setara. Kebaikan korban dieksploitasi secara cuma-cuma demi kenyamanan, efisiensi, dan menyampaikan kepentingan pribadi si pemanfaat. Relasi yang pada mulanya tampak sebagai pertolongan tulus perlahan terdistorsi menjadi hubungan produksi yang timpang, di mana satu pihak bertindak sebagai pengeruk keuntungan dan pihak lainnya sebagai sumber daya yang terus diperas.

Eksploitasi emosional ini bekerja melalui pola bertahap yang dalam psikologi sosial sejajar dengan Foot-in-the-Door Technique (Freedman & Fraser, 1966). Proses pemanfaatan dimulai dari permintaan bantuan yang terkesan kecil, wajar, dan mendesak. Namun, begitu pintu akses terbuka, skala dan frekuensi tuntutan mulai ditingkatkan secara sistematis. Dampak langsung dari ekstraksi empati yang berlangsung tanpa batas ini adalah terjadinya fenomena *alienasi* atau keterasingan diri (Entfremdung), sebuah konsep kunci yang dirumuskan Marx dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844.

Sama halnya seperti buruh yang terasing dari hasil kerjanya karena kontrol proses produksi dipegang oleh pemilik modal, seorang people-pleaser perlahan terasing dari kebutuhan mendasar, ruang pribadi, dan otonomi dirinya sendiri. Mereka bertindak dan berkorban bukan lagi atas dasar kehendak bebas yang menentramkan, melainkan karena tekanan emosional luar yang mendikte pilihan hidup mereka. Otonomi diri korban akhirnya teralienasi dan berpindah tangan menjadi komoditas yang dikendalikan penuh oleh pelaku. Korban tidak lagi mengenali batas kapasitas dirinya sendiri karena seluruh ruang emosionalnya telah diokupasi oleh tuntutan pihak pemanfaat.

Agar struktur penindasan ini tetap bertahan tanpa memicu perlawanan atau perlawanan balik dari korban, kelas penindas membutuhkan apa yang disebut Marx sebagai kesadaran palsu (false consciousness). Dalam konteks relasi moral, kesadaran palsu ini ditanamkan melalui doktrinasi dan manipulasi emosional (guilt-tripping). Korban diindoktrinasi untuk mempercayai bahwa mengorbankan diri tanpa batas adalah satu-satunya indikator untuk menjadi “orang baik”, sementara menolak atau membatasi bantuan adalah sebuah “kejahatan moral”.

Sebagaimana dipaparkan oleh sosiolog kritis Louis Althusser melalui konsep Ideological State Apparatuses (1970)—yang memutakhirkan teori struktur ideologi Marx—ideologi bekerja untuk membuat seseorang secara sukarela menerima penindasan atas dirinya sendiri tanpa merasa sedang ditindas. Korban terjebak dalam norma buatan, merasa wajib melayani demi mempertahankan citra diri positif, dan secara tidak sadar ikut melanggengkan struktur perbudakan emosional atas dirinya sendiri. Rasa bersalah buatan ini bertindak sebagai rantai tak kasat mata yang mengikat korban dalam posisi yang selalu inferior.

Memutus rantai eksploitasi berkedok moral yang terstruktur ini membutuhkan penyadaran kritis atau lahirnya “kesadaran kelas” baru melalui tindakan yang selektif dan solutif.

Sikap memilih berfungsi sebagai instrumen utama untuk melakukan pemahaman atas kesadaran palsu (demistifikasi). Mengambil garis-garis filsafat pemikiran kritis, pencahayaan berarti menggunakan nalar rasional untuk membedah hubungan kekuasaan di balik setiap permintaan bantuan. Seseorang harus mampu memilah secara obyektif mana bentuk solidaritas yang tulus dan mana manuver eksploitatif yang ditujukan untuk mengambil keuntungan. Menolak permintaan yang tidak wajar bukanlah tanda kejahatan atau hilangnya kepedulian sosial, melainkan suatu bentuk resistensi politik untuk memulihkan kembali alat produksi emosional dan otonomi diri yang selama ini terekstraksi. Penetapan batasan (boundaries) yang tegas adalah pagar yang memisahkan antara kewajiban moral yang wajar dan eksploitasi parasitik.

Sementara itu, sikap solutif merupakan penerjemah nyata dari tesis terkenal Marx dalam Theses on Feuerbach (1845): “Para filsuf hanya menafsirkannya dengan cara berbeda, padahal yang terpenting adalah mereduksi.” Menolong secara solutif berarti memberikan bantuan yang berorientasi pada pemberdayaan (empowerment centric help)—sebagaimana dirumuskan oleh psikolog sosial Arie Nadler (2002)—yang mendidik kemandirian. Ini berbeda secara mendasar dari bantuan yang berorientasi pada ketergantungan yang justru mengambil alih seluruh beban orang lain hingga memelihara sifat parasitnya. Pendekatan solutif meruntuhkan pola ketergantungan parasitik dan memaksa pihak yang biasa memanipulasi untuk mengambil alih tanggung jawab atas kapasitas dan keinginan hidupnya sendiri.

Pada akhirnya, kebaikan yang pasif dan tanpa batasan tegas hanyalah bentuk kompromi yang melanggengkan pasti. Tanpa keberanian untuk memancarkan dan membatasi diri, moral yang baik akan selalu menjadi komoditas yang disetir dan diperalat oleh moral yang buruk. Melindungi diri dengan berani berkata “tidak” secara rasional bukanlah wujud egoisme, melainkan sebuah langkah emansipatoris untuk menghentikan eksploitasi emosional dan mengembalikan hakikat kebaikan sebagai tindakan yang memerdekakan manusia, bukan memperbudaknya.

 

Tags
  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SD Muhammadiyah Jogokariyan Yogyakarta Gelar Aksi Berbagi Takjil di Beberapa Titik Kota

    SD Muhammadiyah Jogokariyan Yogyakarta Gelar Aksi Berbagi Takjil di Beberapa Titik Kota

    • calendar_month Senin, 17 Mar 2025
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 62
    • 0Komentar

      KABARMUH.ID, Yogyakarta – SD Muhammadiyah Jogokariyan Yogyakarta (Mujonta) mengadakan kegiatan berbagi takjil setiap hari Jum’at selama bulan Ramadhan 1446 H/Maret 2025 M. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 7, 14, dan 21 Maret 2025 di lima lokasi berbeda, yakni Perempatan Dongkelan, Perempatan SPBU Jalan Parangtritis, Titik Nol Malioboro, Plengkung Gading, dan Perempatan Madukismo. Kegiatan yang […]

  • Kursi Gigi Klinik Muhammadiyah Lamongan untuk PCM Modo Wujud Ta’awun Antar Amal Usaha Muhammadiyah dalam Penguatan Layanan Kesehatan

    Kursi Gigi Klinik Muhammadiyah Lamongan untuk PCM Modo Wujud Ta’awun Antar Amal Usaha Muhammadiyah dalam Penguatan Layanan Kesehatan

    • calendar_month Rabu, 15 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 46
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, LAMONGAN, 14 Oktober 2025 — Dalam semangat saling membantu dan memperkuat jaringan amal usaha di bidang kesehatan, Klinik Muhammadiyah Lamongan memberikan hibah alat kesehatan berupa kursi gigi kepada Klinik Muhammadiyah Modo. Penyerahan hibah ini dilakukan dalam kegiatan Silaturahim PCM Lamongan dan PCM Modo yang berlangsung di Aula Klinik Muhammadiyah Lamongan, Selasa (14/10). Kegiatan yang […]

  • Fisioterapis UMS Latih Lansia Sukoharjo Atasi Nyeri Punggung Bawah

    Fisioterapis UMS Latih Lansia Sukoharjo Atasi Nyeri Punggung Bawah

    • calendar_month Sabtu, 4 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 63
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Sebanyak 12 mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) angkatan X yang bertugas di Puskesmas Baki menggelar penyuluhan kesehatan bertajuk “Kenali dan Cegah Nyeri Punggung Bawah”. Kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Lansia di Balai Desa Duwet, Kecamatan Baki, Sukoharjo. Kegiatan yang dihadiri sekitar 60 warga lansia ini […]

  • DPD IMM Jawa Tengah Gandeng BRIDA Kota Surakarta Untuk Perkuat Jejaring Riset

    DPD IMM Jawa Tengah Gandeng BRIDA Kota Surakarta Untuk Perkuat Jejaring Riset

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 53
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jawa Tengah melakukan audiensi dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surakarta pada Selasa (6/1). Pertemuan yang berlangsung di Ruang Meeting BRIDA Surakarta tersebut berjalan dalam suasana hangat dan dialogis. Audiensi ini diterima langsung oleh jajaran pimpinan BRIDA Surakarta, yakni Sekretaris BRIDA Surakarta […]

  • Nilai Kebangsaan Terkikis, PK IMM Pondok Shabran UMS Ajak Mahasiswa Melek Politik Hukum

    Nilai Kebangsaan Terkikis, PK IMM Pondok Shabran UMS Ajak Mahasiswa Melek Politik Hukum

    • calendar_month Rabu, 22 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 48
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID SURAKARTA – Ditengah hiruk-pikuk dinamika politik di Indonesia dan nilai-nilai hukum yang semakin mengikis. Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Pondok Hajjah Nuriyah Shabran menawarkan solusi, dengan menggelar Seminar Kebangsaan bertemakan “Revitalisasi Nilai Kebangsaan: Telaah Kritis Politik Hukum di Indonesia” di Ruang Pascasarjana UMS. Kegiatan ini sebagai ajang edukasi kepada mahasiswa agar melek […]

  • FK UMS Resmi Ajukan Pendirian Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer

    FK UMS Resmi Ajukan Pendirian Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer

    • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 50
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) resmi mengajukan pendirian Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (PPDS Sp.KKLP) pada Selasa (30/9), melalui Sistem Informasi Kelembagaan (SIAGA) Kementerian Pendidikan Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung program akselerasi pemenuhan dan distribusi dokter spesialis-subspesialis yang digagas pemerintah sesuai […]

expand_less