H. Darlis Pattalongi, Dakwah Muhammadiyah Harus Teguhkan Wawasan Kebangsaan
Wawasan kebangsaan dan keislaman harus berjalan seiring. Itulah pesan utama H. Darlis Pattalongi di hadapan para muballigh dan penggiat pengajian Muhammadiyah dari PPU dan Paser.

:
Babulu, PPU – “Indonesia bukan milik kelompok, tapi hasil perjuangan seluruh anak bangsa. Maka jangan biarkan semangat kebangsaan pudar,” ucap H. Darlis Pattalongi, Ketua LHKP PWM Kaltim, membuka paparannya dalam kegiatan Silaturahim Temu Muballigh dan Penggiat Pengajian Muhammadiyah Regional Paser–PPU, Ahad (26/10/2025).
Dalam materi bertajuk “Meneguhkan Wawasan Kebangsaan dalam Gerakan Islam Berkemajuan,” Darlis mengingatkan para muballigh agar tidak memisahkan dakwah dengan cinta tanah air. “Gerakan Islam berkemajuan bukan hanya mengajak orang beribadah, tapi juga menjaga negara agar tetap utuh dan damai,” ujarnya.
Di hadapan para peserta, Darlis menekankan pentingnya memahami empat konsensus dasar berbangsa dan bernegara — Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempatnya, kata dia, merupakan fondasi yang tidak bisa ditawar bagi setiap warga negara, termasuk para muballigh Muhammadiyah.
“Pancasila bukan lawan agama. Ia adalah payung besar yang justru lahir dari nilai-nilai tauhid dan kemanusiaan,” jelasnya. Ia menegaskan, pemahaman yang keliru terhadap dasar negara sering menimbulkan konflik identitas dan kesalahpahaman terhadap Islam. “Kalau muballigh Muhammadiyah tidak menegaskan ini di mimbar, maka siapa lagi yang meluruskan?” tanyanya retoris.
Darlis mengutip keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar bahwa Indonesia adalah Darul Ahdi wa Syahadah, yakni negeri perjanjian dan kesaksian. “Artinya, Indonesia adalah hasil kesepakatan para pendiri bangsa, termasuk ulama-ulama Islam. Maka menjaga NKRI adalah bagian dari ibadah,” tegasnya.
Darlis juga memaparkan sejumlah ancaman yang kini dihadapi bangsa Indonesia, mulai dari menurunnya rasa nasionalisme, derasnya arus globalisasi, hingga merebaknya paham-paham ekstrem. “Kita kehilangan banyak hal: keteladanan pemimpin, rasa bangga sebagai bangsa, dan penghargaan terhadap keberagaman,” ujarnya dengan nada prihatin.
Ia menambahkan, di tengah arus digital dan globalisasi yang kian deras, muballigh memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi penjaga nilai-nilai kebangsaan. “Dakwah bukan hanya tentang akidah dan ibadah, tapi juga menjaga harmoni sosial dan persatuan nasional,” katanya.
Menurutnya, wawasan kebangsaan adalah benteng moral dari ancaman disintegrasi. “Kalau cinta tanah air hilang, yang tersisa hanya egoisme kelompok,” tegasnya. Ia pun mengingatkan agar setiap muballigh mampu menyampaikan pesan kebangsaan dengan cara yang santun, mencerahkan, dan membangun optimisme.
Dalam konteks Muhammadiyah, Darlis menyebut bahwa gerakan Islam berkemajuan menempatkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi seluruh alam. Ia menjelaskan, semangat ini diwujudkan dalam tiga bentuk ukhuwah: ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air), serta ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).
“Kalau tiga ukhuwah ini dijaga, maka tidak akan ada ruang bagi perpecahan. Di situlah dakwah Muhammadiyah punya peran besar,” ucapnya. Darlis juga menegaskan bahwa dakwah harus menampilkan wajah Islam yang ramah, bukan marah. “Muhammadiyah tidak mengajarkan kebencian. Kita berdakwah dengan hikmah dan keteladanan,” tambahnya.
Sebagai penutup, Darlis mengingatkan pentingnya keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menegaskan bahwa sejarah bangsa ini lahir dari pengorbanan dan perjuangan panjang para pendahulu. “Mereka menumpahkan darah, air mata, dan waktu untuk kemerdekaan. Maka kita harus menghargainya dengan menjaga persatuan,” katanya.
Pesan moral itu disambut hangat oleh para peserta. Salah satu penggiat pengajian dari Paser mengaku terinspirasi. “Kami jadi sadar bahwa cinta tanah air itu bagian dari dakwah. Kita harus menyampaikan Islam yang membangun, bukan memecah,” ujarnya.
Moderator acara, Ust. Agus Suarto Edy, menutup sesi dengan refleksi singkat: “Pak Darlis mengingatkan kita bahwa tabligh bukan hanya soal ayat dan hadits, tapi juga soal menjaga negeri.”
Dengan suara mantap, H. Darlis menutup paparannya dengan kalimat yang menggugah:
“Indonesia ini titipan, bukan warisan. Maka jangan biarkan titipan ini hancur di tangan kita.”(ay.1)



