Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Lazismu dan Madani Berkelanjutan Ajak Masyarakat Kelola Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim

Lazismu dan Madani Berkelanjutan Ajak Masyarakat Kelola Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Jumat, 9 Agt 2024
  • visibility 240
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, Jakarta – Workshop Dampak Perubahan Iklim di Indonesia dan Peran Lazismu, Lazismu dan Madani ajak masyarakat kelola mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang berangkat dari potensi lokal yang ada.

Manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki tugas untuk memakmurkan bumi. Kewajiban untuk mengurus dan mengelola bumi merupakan sebuah kontribusi untuk keberlansungan hidup generasi selanjutnya. Perubahan iklim sebagai sunatullah adalah bagian takdir yang bisa dibuah melalui langkah mitigasi.

Sopa sebagai Wakil Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menyampaikan, dampak perubahan iklim harus disadari dengan sikap bahwa dalam ajaran Islam, takdir perlu dipahami sebagai ikhtiar penuh.

“Takdir bisa dalam arti suatu hal yang bisa diterima dengan ikhlas dan takdir yang bisa dimaknai dengan ikhtiar untuk bisa mengubah agar manusia tidak kehilangan kreatifitasnya,” jelasnya dalam sesi pengantar workshop di Jakarta pada (3/7/24).

Mengenai perubahan iklim, Sopa mengatakan hubungan manusia dengan manusia tidak sekedar manusia dalam makna utuh. Tapi di dalam hubungan manusia dengan manusia juga juga bermakna bagaimana hubungan manusia dengan alam.

“Alam semesta itu untuk manusia. Kerusakan alam yang terjadi juga disebabkan oleh manusia yang berdampak kepada anak cucu kita dan berdampak juga pada pelakunya,” pungkasnya.

Sopa menjelaskan, kesadaran umat Islam tentang perubahan iklim yang dipahami masyarakat sebagai takdir harus dilihat lagi maknanya sebagai sesuatu yang bisa diubah dalam arti bisa dimitigasi.

“Ada proses pencegahan jika sudah diketahui dampaknya,” imbuhnya.

Sebelum Musyawarah Nasional Majelis Tarjih Tahun 2020, sebut Sopa, salah satu topik kajian pra munas adalah tentang salat istisqo dan dan perubahan iklim.

Dia mengatakan, curah hujan yang tidak pasti dan kemarau yang panjang memicu ikhtiar banyak orang untuk melakukan salat istisqo dan doa. Dalam diskusi inilah, sambung Sopa, istilah dosa ekologis itu muncul. Dosa ekologis adalah dosa yang berangkat dari kerusakan alam perbuatan ulah manusia.

“Memahami dosa dan maksiat itu tidak hanya seperti yang kita pahami. Jadi dikaji kembali maka ada istilah dosa ekologis,” papar Sopa.

Baginya, kemarau yang panjang itu sunatullah, maka ia bisa dipelajari dan bisa dihitung secara saintifik. “Dari topik itu berkembang dan menghasilkan produk kajian tarjih berupa Fikih Air dan Fikih Kebencanaan,” sebutnya.

Adapun rumusan dari dokumen produk tarjih tersebut, lanjut Sopa, pada intinya memberikan dasar teologis yang kuat bagi seorang muslim agar bersikap terhadap perubahan iklim. Dimana Fikih Kebencanaan menyajikan suatu sikap bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh dalam merespon perubahan iklim dan dampaknya melalui mitigasi bencana.

“Dari sini sebetulnya bisa menjadi panduan moral dan etik yang akan melahirkan kerangka dasar yuridis. Prinsip universal sebagai kaidah digunakan untuk tolak ukur menyusun regulasi dan membuat program yang konkrit misalnya dalam tata kelola air dan lainnya,” terangnya.

“Dalam hal itu, keterlibatan publik dan penyusunan skala prioritas dalam merespon dampak perubahan iklim sangat signifikan,” tandasnya.

Menanggapi paparan dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Giorgio Budi Indrarto selaku Deputy Director Madani Berkelanjutan mengatakan, dari cara pandang umat Islam terhadap perubahan iklim membuat dirinya optimis mitigasi dan adaptasi akan bisa dilakukan.

Kendati demikian, sebut Giorgio, dalam kajian dampak perubahan iklim untuk mengelola mitigasi dan adaptasi ternyata membutuhkan biaya yang sangat tinggi. “Butuh banyak bantuan, masyarakat Indonesia dikenal dermawan apalagi untuk membantu dirinya sendiri,” jelasnya.

Dalam Islam, seperti yang dikutip Giorgio dari Majelis Tarjih dan Tajdid, ada sebuah rambu-rambu yang harus dimaknai. “Misal ketika ingin bicara energi terbarukan, ini penting kita dalami dalam konteks perubahan iklim. Dari sisi halalnya sudah dikaji, tapi dari sisi kebaikannya itu yang perlu digali kembali,” paparnya.

Giorgio menjelaskan bahwa secara zat, sumber-sumber daya alam itu halal. Namun bagaimana cara ia memperolehnya itu yang perlu dikaji lebih dalam. “Saatnya sekarang umat Islam bisa menunjukkan bahwa ini cara kita bertransisi dalam suatu kondisi ke kondisi yang lain. Cara pandangnya harus berbeda dengan negara yang menyajikan suatu kebijakan. Ketika gagal menuju perubahan yang diinginkan maka akan jadi ujian yang besar,” imbuhnya.

“Dalam konteks perubahan iklim ada banyak potensi, seperti fikih air, ini yang kita jadikan sebagai sebuah tantangan dan kita tidak dikatakan sebagai kelompok orang yang menepak air tapi mengenai muka sendiri,”  lanjutnya.

Giorgio menerangkan bahwa Indonesia harus mengejar capaian itu dalam SDGs dan berangkat dari potensi lokal ini aka nada harapan bahwa Lazismu bisa berkolaborasi dengan jaringan Muhammadiyah. Ada Muhammadiyah Climate Changes (MCC) dan Majelis Lingkungan Hidup (MLH).

“Kita harus sering berdiskusi. Ada kesempatan untuk bertemu dan berkolaborasi tentang apa yang bis akita kerjakan dalam bentuk inovasi sosial,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nadia Hadad Directur Eksekutif Madani Berkelanjutan menyampaikan, Majelis Tarjih dan Tajdid dengan kajian dan teorinya secara nyata mengajak kita untuk memikirkan dampak dari apa yang kita kerjakan terhadap lingkungan.

“Ini bukan persoalan main-main, dampak perubahan iklim yang kita rasakan sudah sangat terasa. Dan takdir harus bisa diubah, tidak bisa membiarkan praktik yang mengabaikan kelestarian lingkungan yang dampaknya akan dirasakan anak cucu kita. Kita tidak boleh meninggalkan bumi dan lingkungan yang sulit dihuni oleh anak cucu kita karena dampak perubahan iklim,” paparnya.

Mitigasi perubahan iklim, sebut Nadia Hadad, sudah menjadi misi Madani Berkelanjutan dalam mendorong dan membantu pemerintah untuk melaksanakan kewajiban itu.

“Negara harus mengeluarkan kebijakan yang melestarikan lingkungan, Namun kebijakan itu belum mengarah ke sana dan belum maksimal,” tuturnya.

Nadia Hadad juga mengajak publik bersama masyarakat untuk menyadari dan melakukan upaya yang lebih jelas dan berdampak untuk menjaga kelestarian lingkungan.

“Kita sadar bahwa masih ada yang belum bisa melestarikan lingkungan seperti yang disampaikan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid,” tutupnya.

Kontributor : Tim Media Lazismu PP Muhammadiyah

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kajian dan Santunan Yatim dan Dhuafa Muhammadiyah Batuliman Indah Wujudkan Semangat Al-Ma’un

    Kajian dan Santunan Yatim dan Dhuafa Muhammadiyah Batuliman Indah Wujudkan Semangat Al-Ma’un

    • calendar_month Minggu, 13 Jul 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 82
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lampung Selatan — Dalam semangat kepedulian dan gerakan sosial Islam, Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PRM Batuliman Indah bekerja sama dengan Aisyiyah LAZISMU Batuliman Indah menggelar kegiatan Kajian Islam dan Santunan Anak Yatim dan Dhuafa di Masjid Muhammadiyah Nurul Muttaqin Gaya Indah Desa Batuliman Indah. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Surat Al-Ma’un, yang […]

  • Protes AS terhadap QRIS Dinilai sebagai Tanda Reaksi Terhadap Kebangkitan Ekonomi Digital Indonesia

    Protes AS terhadap QRIS Dinilai sebagai Tanda Reaksi Terhadap Kebangkitan Ekonomi Digital Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Zulfan Falakhi
    • visibility 95
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Sistem pembayaran digital nasional QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kembali menjadi sorotan internasional setelah Amerika Serikat mengkritik kebijakan Bank Indonesia yang mewajibkan seluruh penyedia layanan pembayaran di Indonesia, termasuk perusahaan asing, untuk mengadopsi sistem QRIS. Kritik tersebut disampaikan dalam laporan Special 301 Report oleh USTR (United States Trade Representative), yang menganggap […]

  • Antara Rasa Memiliki dan Beban: Mari kita merefleksikan Perjalanan Kita dalam Ber-IMM

    Antara Rasa Memiliki dan Beban: Mari kita merefleksikan Perjalanan Kita dalam Ber-IMM

    • calendar_month Selasa, 30 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Oleh Noval Sahnitri Pada umumnya, sebagian besar ataupun kecil mahasiswa di kampus dalam berorganisasi pasti ada yang malas dan bosan dalam menjalankan roda kepemimpinan. Sama halnya dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau dengan sapaan singkatannya yakni IMM, baik di perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah ataupun yang ada di dalam negeri itu juga terjadi dengan hal yang serupa. IMM […]

  • Jurnalisme Digital Kreatif, IMM Allende UM Surabaya Sukses adakah Pelatihan Jurnalistik

    Jurnalisme Digital Kreatif, IMM Allende UM Surabaya Sukses adakah Pelatihan Jurnalistik

    • calendar_month Minggu, 14 Jul 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 262
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surabaya – Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Allende Universitas Muhammadiyah Surabaya mengadakan acara Jurnallab Bidang RPK yang berkolaborasi dengan Bidang Medkom bertema “Jurnalisme Digital Kreatif” pada hari Sabtu (13/7/2024). Acara ini berlangsung di Gedung At-Tauhid Lt 9 UM Surabaya. Acara ini menghadirkan dua pemateri, salah satunya adalah Fathan Faris Saputro. Ia yang […]

  • PC IMM Balikpapan Gelar Mimbar Kebangsaan, Soroti Ketimpangan dalam Implementasi Pancasila

    PC IMM Balikpapan Gelar Mimbar Kebangsaan, Soroti Ketimpangan dalam Implementasi Pancasila

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 100
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Balikpapan – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Balikpapan menyelenggarakan kegiatan Mimbar Kebangsaan: Menafsir Ulang Pancasila secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat (5/6/2026). Mengusung tema “Pancasila di Persimpangan: Antara Cita Keadilan Sosial dan Realitas Ketimpangan”, forum ini menghadirkan sejumlah pimpinan IMM dari berbagai daerah untuk mendiskusikan relevansi Pancasila dalam menjawab berbagai persoalan […]

  • Menilik Religiusitas Organisasi Mahasiswa Islam

    Menilik Religiusitas Organisasi Mahasiswa Islam

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 85
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, – Organisasi mahasiswa seperti pisau bermata ganda, bisa membuat grow up iman, tapi juga bisa dengan atau tanpa sadar membuat down grade iman. Beberapa mahasiswa yang mungkin idealis saat menjadi maba pada kenyataannya jika pondasi tak kuat, akan terbawa arus dengan sendirinya. Bertemu segala bentuk manusia, campur baur terus menerus, berbagai perkaderan yang diikuti […]

expand_less