Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » LUNTURNYA TUGAS HUMANISTIK

LUNTURNYA TUGAS HUMANISTIK

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Jumat, 25 Mar 2022
  • visibility 584
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Cantik Maulida Nurul Fatihah (202110230311059)

Dunia pendidikan saat ini rupanya masih perlu banyak perbaikan. Hal penting mengenai komunikasi dan relasi yang seharusnya terjalin selama pembelajaran berlangsung kian hari makin terkikis. Pandangan Freire dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas”, mengusung istilah humanisasi dan dehumanisasi, di mana humanisasi adalah panggilan untuk manusia sejati dengan perilaku yang menerapkan nilai-nilai kemanusiaannya atas manusia lainnya dan dehumanisasi untuk mereka yang hak kemanusiaannya dirampas atau merampas. Kaitan antara humanisasi dan pendidikan tertuang dalam pendidikan humanis yang artinya pendidikan yang memanusiakan manusia (Setiawan, A. 2018). jika pendidikan humanis ini berjalan dengan baik, maka karakter siswa akan terbentuk.

Tugas humanistik dari pendidikan yang seharusnya ada pada setiap individu yang ditanam dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya, kini seakan luntur oleh terjadinya proses dehumanisasi. Contoh lunturnya tugas humanistik dari pendidikan, yaitu kekerasan siswa dengan siswa, kekerasan siswa terhadap guru, kekerasan guru terhadap siswa, kekerasan orang tua terhadap guru, bahkan kekerasan terhadap diri sendiri seperti penyalahgunaan pornografi dan obat terlarang di kalangan siswa yang sangat merusak jaringan otak jika dilihat dari perspektif psikologi dan medis.

Dalam kategori kekerasan siswa dengan siswa, maraknya kasus pembullyan/perundungan di bawah umur yang terjadi di beberapa tempat menjadi perhatian masyarakat belakangan ini. Kasus ini menjadi lebih banyak terjadi mengingat adanya unsur struktur dengan tingkatan yang menjadi faktor mengapa anak bisa menjadi korban, seperti usia, fisik, atau pun ekonomi. Chazizah (dalam Andre, J. 2022). Mendikbud Ristek, Sri Wahyuningsih (dalam Prastiwi, M. 2021) menyatakan bahwa hingga saat ini dunia pendidikan masih terbayang oleh beberapa hal secara negatif, yaitu intoleransi dan radikalisme, dan kekerasan seksual dan perundungan.

Lain kasus, dalam kategori kekerasan siswa terhadap guru menjadi potensi serta pertanyaan besar, mengapa hal tersebut dapat terjadi? Seperti pada kasus guru seni rupa di Sampang, Madura berinisial ABC (26) yang sampai harus merenggut nyawa akibat perbuatan bodoh siswanya sendiri. Menanggapi hal tersebut, masyarakat sangat menyesalkan perbuatan siswa yang seharusnya tidak melakukan tindakan sejauh itu.

Kaitan antara pandangan Freire yang menyatakan kaum tertindas harus memahami sifat dari kaum penindas yang memaksakan pilihannya, sedangkan kaum tertindas sendiri meragukan kebebasannya dengan pendidik dan siswa rupanya sejalan. Karena realitas pembelajaran yang terjadi di sekolah-sekolah dinilai kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas dan critical thinking mereka (Widodo, H. 2014). Tidak jarang siswa diperlakukan secara tidak manusiawi dan aspirasinya kurang didengar, terkecuali jika siswa memenuhi kehendak pendidik yang menganggap dirinya sebagai orang yang lebih dewasa. Siswa dengan pengalaman tersebut jika dilihat dari kacamata Freire, bisa saja menjadi pribadi yang terbelah, menerima gambaran kaum penindas, mengikuti perintah yang sudah digariskan kaum penindas, menjadi penonton dan bungkam. Pendidik seringkali menempatkan dirinya sebagai penguasa, orang yang “maha tahu”, dan pendikte. Sedangkan peserta didik dianggap hanya sebagai objek yang patuh, konsumtif, perekam,  pencatat, penghafal dengan terus diberi ilmu pengetahuan tanpa terjadi interaksi yang seharusnya bisa membangun chemistry agar membentuk ikatan yang harmonis. Sudah seharusnya dalam konsientisasi menurut Freire, pendidik dan murid sama-sama menjadi subjek dan disatukan oleh objek yang sama. Hal ini berakibat pendidikan kurang mengarah pada penanaman potensi kemanusiaan lainnya, terutama pada sisi emosional siswa. padahal berdasarkan pemaparan Freire bahwa salah satu faktor penting dalam gerakan pembebasan adalah perkembangan kesadaran dan perjuangan bagi pembebasan yang dilakukan oleh siswa di sini harus merupakan perjuangan yang sekaligus dapat membebaskan juga stigma yang tertanam oleh pendidik itu sendiri.

Pengertian dialog menurut Freire, pertemuan dengan manusia melalui kata dengan tujuan “memberi nama kepada dunia” membuat spekulasi bahwa segala hal yang melibatkan komunikasi antar manusia pasti memiliki tujuan. Komunikasi yang bagus menghasilkan tujuan yang bagus pula. Beberapa kasus kekerasan hampir sering terjadi karena kurangnya komunikasi yang membuat pihak pelaku kekerasan merasa bahwa adanya sesuatu yang membuat dirinya tersinggung atau merasa terancam. Sedikit hal yang harus diketahui oleh korban bahwa dirinya harus paham situasi dan berhati-hati dalam berbicara, karena Freire menyatakan dialog tidak mungkin timbul di antara manusia yang menyangkal hak untuk berbicara. Setiap manusia memilik hak berbicara, namun terdapat batasan-batasan tertentu di mana cukup diri seseorang itu saja yang tahu. Terdapat tuntutan dialog untuk bersikap mau mendengar, memahami diri sendiri, dan memiliki sense of humours, di mana seseorang tidak selalu harus berbicara, terkadang mereka harus belajar bagaimana menjadi pendengar yang baik bagi orang lain. Berdialog juga membutuhkan pemahaman terhadap diri sendiri untuk mengukur seberapa baiknya seseorang mengenal dirinya.

Kemudian teori yang dikemukakan oleh Freire bahwa dialog antar-manusia harus berdasarkan pada kepekaan terhadap kemampuan-kemampuan bawaan di dalam setiap diri manusia untuk menemukan diri sendiri, lalu juga dialog mengandaikan kerendahan hati, memperlakukan orang lain sederajat, keyakinan bahwa orang lain dapat mengajar kita harus selaras dengan kehidupan manusia di dalam keseharian. Hal ini justru dikesampingkan oleh orang tua yang melakukan kekerasan terhadap pendidik. Di mana seharusnya peran orang tua dalam menjalin relasi dengan pendidik berjalan dengan harmonis karena keduanya merupakan pengawas bagi anak dari orang tua tersebut ataupun anak didik dari pendidik tersebut. Dengan kata lain kedua peran ini sangat penting bagi anak maupun murid untuk menjadi media atau wadah mengembangkan emosi dan pikiran mereka serta panutan murid untuk bisa melakukan hal positif dan tidak melanggar norma. Orang tua dan pendidik juga harus mempunyai komunikasi yang bagus agar kesalahpahaman tidak akan terjadi di kemudian hari. Sesuai pernyataan Freire, diperlukan pemahaman mengenal relasi antara penindas dan yang tertindas agar memunculkan kesadaran akan manusia baru, yang artinya baik orang tua maupun pendidik harus paham satu sama lain mengenai tugas dan tanggung jawab serta hal dan kebutuhan masing-masing.

Beberapa orang tidak menyerapi pentingnya pendidikan yang diberikan kepada mereka. Beberapa kalangan remaja juga berani membuat suatu kerusakan atau bahkan kekerasan terhadap dirinya sendiri, seperti penyalahgunaan pornografi dan pemakaian obat terlarang. Tentu saja terdapat kaitan dengan rusaknya humanistik karena penyajiannya yang berupa tulisan dan gambar dapat mempermainkan selera rendah masyarakat dengan semata hanya menonjolkan permasalahan seks dan kemaksiatan. Kerusakan terhadap dirinya sendiripun dapat berupa kecanduan yang ekstrem untuk ingin selalu melihat hal-hal berbau seks atau pornografi. Sedangkan pemakian obat terlarang sudah jelas membuat pemakainya rusak baik fisik maupun psikis.

Dari pemaparan serta kasus-kasus di atas, kembali lagi pada pernyataan Freire mengenai orang-orang harus berani menatap keadaan nyata, tidak dilebih-lebihkan, tetapi juga tidak dikecilkan yang mana setiap orang memiliki kewajiban melihat hal-hal yang bahkan tidak mereka inginkan. Namun, mereka mempunyai hak untuk berbicara, merasakan kebebasan, serta mendapatkan kasih dari orang lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

Andre, J. (2022). Kasus Perundungan Terus Terjadi, Kriminolog: Jangan Langsung Salahkan Anak. https://megapolitan.kompas.com/read/2022/01/13/19062671/kasus-            perundungan-terus-terjadi-kriminolog-jangan-langsung-salahkan-anak

Freire, P. (2011). Pendidikan Kaum Tertindas, ix-9.

Prastiwi, M. (2021). Data KPAI: Kasus Perundungan Paling Banyak Terjadi         pada Siswa SD. https://www.kompas.com/edu/read/2021/10/25/112503471/data-kpai-   kasus-perundungan-paling-banyak-terjadi-pada-siswa-            sd?page=all#:~:text=Kasus%20perundungan%20paling%20banyak%20dia      lami,dialami%20oleh%20siswa%20Sekolah%20Dasar.

Setiawan, A. (2018). Hapus kekerasan di Sekolah Melalui Pendidikan Humanis.             https://mahasiswaindonesia.id/hapus-kekerasan-di-sekolah-melalui-      pendidikan-humanis/

Widodo, H. (2014). Pendidikan: Humanisasi atau Dehumanisasi.             https://pgsd.uad.ac.id/2014/01/23/pendidikan-humanisasi-atau-     dehumanisasi/#:~:text=Humanisasi%20dan%20dehumanisasi%20adalah          %20dua,pemberdayaan%20masyarakat%20melalui%20ilmu%20pengeta      huan.

 

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kebebasan Untuk Kaum Tertindas

    Kebebasan Untuk Kaum Tertindas

    • calendar_month Kamis, 14 Apr 2022
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 421
    • 0Komentar

    Oleh : Amanda Fathiya R (202110230311020) Negara kita, Indonesia, merupakan negara demokrasi yang saat ini sedang berada di titik tertinggi dalam menentukan entah keberhasilan ataupun kegagalan bangsa untuk menggapai cita-cita sesuai dengan yang tertera dalam pembukaan UUD 1945.  Indonesia juga menganut sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas […]

  • Pendidikan Rusak Rusakan, Perlunya Kesadaran Dalam Evaluasi Dunia Pendidikan

    Pendidikan Rusak Rusakan, Perlunya Kesadaran Dalam Evaluasi Dunia Pendidikan

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Andi Rezti Maharani
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Oleh : Naufal Febrian (PC IMM AR-Fachruddin DIY) Sepasang siswa laki-laki dan perempuan berseragam putih abu-abu bersandar di city car. Siswa, di sisi kiri mobil, dengan gaya macho, memakai kacamata hitam, tangan  kanan berkacak pinggang, tangan kiri menyangga kepala, seperti membenahi kacamatanya yang hitam legam. Sang siswi tengah membelakangi dan di sebelah kanan mobil kelihatan […]

  • Menjawab Tantangan Kebijakan Sampah Jakarta, Siswa SMP Muhammadiyah 8 Jakarta Hadirkan Buku Panduan Pengurangan Sampah

    Menjawab Tantangan Kebijakan Sampah Jakarta, Siswa SMP Muhammadiyah 8 Jakarta Hadirkan Buku Panduan Pengurangan Sampah

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 16
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, JAKARTA – Pasca diberlakukannya kebijakan bahwa TPST Bantargebang hanya akan menerima sampah residu mulai 1 Agustus 2026, siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 8 Jakarta meluncurkan buku panduan lingkungan berjudul “Jakarta Indah Tanpa Sampah: Buku Panduan Mengurangi Sampah dari Sumbernya”. Buku ini menjadi upaya edukasi publik untuk mendorong pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari rumah. […]

  • Dorong Semangat Menulis, Kolaborasi Antara IMM Shabran UMS dengan Kalimahsawa.id dan Kabarmuh.id

    Dorong Semangat Menulis, Kolaborasi Antara IMM Shabran UMS dengan Kalimahsawa.id dan Kabarmuh.id

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 17
    • 0Komentar

    KABARMUHD.ID, SURAKARTA – Kolaborasi antara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan media Kalimahsawa.id dan Kabarmuh.id menggelar kegiatan Capacity Building Workshop Kepenulisan Journalist di Ruang Seminar Pondok Shabran, Jumat (23/5). Kegiatan ini menjadi wadah penguatan kapasitas kader dalam bidang kepenulisan berita dan esai di era media digital yang semakin berkembang pesat. Mengusung […]

  • Cahaya untuk Tempat Sunyi di Pelosok: Pemasangan Solar Panel di Pondok Pesantren Madaarijul ‘Ulum Kulon Progo

    Cahaya untuk Tempat Sunyi di Pelosok: Pemasangan Solar Panel di Pondok Pesantren Madaarijul ‘Ulum Kulon Progo

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 10
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Kulon Progo – Di tengah kepungan hutan jati, berdiri sebuah pesantren sederhana seluas kurang lebih 5000 meter persegi. Sebagian besar luas lahan masih berwujud hutan. Hanya nampak beberapa bangunan semi permanen yang secara fungsi menyatu dengan berbagai kegiatan santri. Di bagian paling depan, bersebelahan dengan gerbang masuk pesantren, terdapat mushola, tempat pemenuhan spiritual bagi […]

  • Ustadz Fathurrahman Kamal: Kerennya IMM di Madinah!

    Ustadz Fathurrahman Kamal: Kerennya IMM di Madinah!

    • calendar_month Jumat, 19 Jan 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 331
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Madinah – Di antara kebahagiaan yang patut disyukuri selama rihlah di Haramain pada awal tahun 2024 ini ialah saat membersamai kader-kader genial/genzi Muhammadiyah yang sedang menimba ilmu di bumi wahyu, Al-Madìnah Al-Munawwarah. Sungguh tak terbayang saat kami nyantri di Kota Kenabian seperempat abad yang lalu (1995-1999), akan adanya kegiatan organisasi kemahasiswaan seperti yang terjadi […]

expand_less