Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Kebebasan Untuk Kaum Tertindas

Kebebasan Untuk Kaum Tertindas

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Kamis, 14 Apr 2022
  • visibility 455
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Amanda Fathiya R (202110230311020)

Negara kita, Indonesia, merupakan negara demokrasi yang saat ini sedang berada di titik tertinggi dalam menentukan entah keberhasilan ataupun kegagalan bangsa untuk menggapai cita-cita sesuai dengan yang tertera dalam pembukaan UUD 1945.  Indonesia juga menganut sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas menjelaskan tentang bagaimana menggapai cita – cita tersebut dan mewujudkannya.

Paulo Freire merupakan seorang tokoh pendidikan yang berasal dari Brasil pada tanggal 19 September 1921, memiliki pemikiran berpengaruh besar di bidang pendidikan. Bahkan salah satu koleganya mengatakan bahwa mereka yang tertarik dalam dunia pendidikan takkan pernah bisa melakukannya tanpa Paulo, baik melawan maupun membersamai. Dalam buku tersebut juga dijelaskan tentang bagaimana perjalanan hidup Freire dan mengambil pembelajaran dari dalamnya serta meringkasnya agar mudah dipahami.

Untuk menggapai cita – cita, Indonesia juga menggunakan berbagai sistem tata negara dengan tujuan untuk kesejahteraan serta kemakmuran rakyat. Salah satunya adalah sistem pendidikan. Namun sistem pendidikan di Indonesia membutuhkan banyak sekali perjuangan dan pengorbanan serta memerlukan kesadaran bagi tiap individunya yang hal tersebut sangat sulit untuk dilakukan. Seseorang yang memiliki kekuatan dalam hal pendidikan, kemungkinan besar akan mendapatkan kemudahan dalam menggapai status sosial dalam masyarakat dan akan selalu dihormati oleh masyarakat. Pemikiran itu juga sejalan dengan pemikiran pendidikan dehumanis, di mana masyarakat dalam suatu negara masih menganut sistem bahwa pelajar akan ditindas jika tidak sejalan dengan pengajarnya.

Paulo Freire mengatakan bahwa pendidikan itu sangat penting terutama agar manusia dapat mengenal eksistensinya. Beliau juga mengatakan, dalam sistem pendidikan alangkah baiknya jika menganut sistem humanis, di mana manusia akan memanusiakan manusia lainnya karena sistem pendidikan tersebut menempatkan manusia dalam objek, bukan subjek. Freire membuat sistem pendidikan dengan kebebasan tanpa adanya strata sosial dan menempatkan sistem humanis di dalamnya. Sedangkan sistem dehumanis harus segera dihilangkan dalam sistem pendidikan. Namun hal tersebut tidaklah mudah, karena tetap membutuhkan kesadaran bagi kedua belah pihak, baik dari pihak penindas, maupun pihak yang tertindas. Pihak tertindas harus mampu melindungi diri dengan berbicara dan melakukan sesuatu untuk menghentikan penindasan agar sistem pendidikan humanis tersebut dapat terjadi.

Sistem pendidikan dehumanis bisa juga disebut sebagai ‘sistem bank’, di mana guru seperti memiliki kekayaan dalam pengetahuan dan guru akan menilai murid sebagai seseorang yang membutuhkan pengetahuan tersebut. Hal ini juga dilakukan tanpa adanya komunikasi dua arah, karena guru akan cenderung memikirkan pendapatnya serta pengetahuannya sendiri tanpa mau mendengarkan pendapat murid – muridnya. Murid – murid pun akan merasa bahwa belajar hanya bisa dilakukan jika bersama guru, padahal seharusnya belajar bisa dilakukan di mana saja. Sistem ini juga akan menimbulkan perasaan hilang akal pada murid di mana murid akan kesusahan dalam menyadarkan diri sendiri. Murid juga akan menjadi tidak kreatif, tidak bertanggung jawab, sulit mengutarakan pendapat, ketakutan, dan lain sebagainya. Murid pun akan menuntut dirinya sendiri agar memenuhi ekspektasi dan kemauan dari gurunya. Hal inilah yang dianggap tidak manusiawi oleh Paulo Freire.

Contoh yang dapat diambil dari sistem pendidikan ini adalah di mana seorang siswa dipaksa mendengarkan, menyimak, mencatat, memahami semua materi, dan sebagainya tanpa diperbolehkan untuk berbagi pendapat maupun bertanya. Di sini guru akan memaksa murid untuk menghafalkan hasil tugas yang sudah diberikan, padahal sang murid belum tentu paham dengan isi di dalamnya, masih belum paham dengan makna apa yang ada dalam tugas tersebut. Seperti anak sekolah dasar (SD) yang ditugaskan untuk menghafalkan satu bait puisi, namun saat ingin menanyakan makna dari puisi tersebut, sang guru hanya akan menyuruhnya menghafal saja tanpa diberitahu makna yang terkandung dalam puisi tersebut. Dengan begitu sang murid menjadi tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus digunakan, gaya apa yang harus digunakan, dan itu akan membuat puisi tersebut menjadi hambar. Di situlah akan terlihat bahwa guru tidak berperan sebagaimana harusnya, di mana guru harus bisa menjalin interaksi dan komunikasi bersama murid dengan baik.

Interaksi dan komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting dan dibutuhkan dalam bersosialisasi. Interaksi dan komunikasi dibutuhkan agar tidak terjadi kesalahpahaman dan menyebabkan kejadian yang tidak menyenangkan. Jika tidak ada interaksi dan komunikasi, maka manusia akan susah menjalani perannya dalam hidup berdampingan. Begitu pun dalam dunia pendidikan, di mana murid masih membutuhkan bantuan guru, sehingga harus terjalin interaksi dan komunikasi agar sang murid semakin paham dan tidak terjadi kesalahpahaman. Tujuan belajar pun akan berjalan dengan lancar jika terjalin komunikasi dan berlaku sebaliknya, pembelajaran akan terasa sangat hambar dan tidak berjalan lancar jika tidak terjalin komunikasi yang baik.

Freire sangat ingin menghilangkan sistem tersebut. Dan Freire akhirnya menciptakan suatu sistem baru yang bernama ‘Problem Posing Education’ atau disebut ‘Pendidikan Hadap Masalah’ di mana memungkinkan adanya konsientisasi dalam keadaan nyata. Konsientisasi adalah suatu keadaan di mana guru dan murid menjadi satu subjek dan objek yang sama, di mana guru dapat belajar dari murid, dan murid akan belajar dari guru sehingga terjalinnya interaksi dan komunikasi yang seimbang, dan kedua belah pihak akan mampu mengembangkan potensi diri sendiri terutama dalam hal berpikir kritis.

Dalam buku ini, Freire juga tidak hanya membahas tentang sistem pendidikan dehumanis atau sistem bank, namun Freire juga membahas tentang dialog. Menurut Freire inti dari dialog adalah ‘kata’. Dialog adalah pertemuan antar manusia dengan suatu tujuan. Dialog yang terjadi antar manusia harus berdasar dengan kesadaran diri manusia sendiri. Dialog mengandaikan untuk kita memiliki kemauan untuk belajar meskipun dalam kebudayaan dipandang rendah. Dialog juga harus berasaskan pada pengharapan yang berakar pada kesadaran diri manusia, bahwa manusia itu belum sempurna.

Freire juga menambahkan pembahasan mengenai tindakan dialogik dan antidialogik, yang saling bertentangan. Menurut Freire tindakan dialogik selalu bersifat kooperatif di mana pemimpin dan masyarakat akan bersatu untuk memacu proses pembebasan melalui penggusuran struktur penindas. Sedangkan tindakan antidialogik ditandai dengan perlakuan menguasai manusia, membuat manusia tunduk, pasif, menyesuaikan diri dengan keadaan, dan pada akhirnya akan tertinggal dan tetap tertindas. Jika tindakan dialogik lebih seperti kerja sama, maka antidialogik bersifat sebaliknya, yang berarti pemecah belah dan memiliki tujuan untuk melestarikan status quo.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fastabiqul Khairat Ditengah Pandemi: Fungsi Ortom Dimaksimalkan

    Fastabiqul Khairat Ditengah Pandemi: Fungsi Ortom Dimaksimalkan

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2020
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 939
    • 1Komentar

    KABARMUH.COM – Sebagai salah satu organisasi otonom (Ortom) resmi Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah diberi hak dan kewajiban untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Urusan tersebut diantaranya adalah melakukan kegiatan pengumpulan dana sesama anggotanya, lalu disalurkan kepada warga yang terdampak pandemi virus Corona sebagai amal usaha berlomba dalam kebaikan (Fastabiqul Khairaat). Sejak pertama kali wabah viral tersebut menggerogoti […]

  • Kearifan dalam Beragama: Memahami Agama dengan Bijak di Era Modern

    Kearifan dalam Beragama: Memahami Agama dengan Bijak di Era Modern

    • calendar_month Minggu, 27 Okt 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 204
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Bandung – Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Hendar Riyadi MAg menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya kearifan dalam menjalankan agama—seraya mengutip pemikiran Nuruddin Muhammad Hasan Itr. Menurutnya, agama ibarat sebuah kendaraan yang hanya dapat dijalankan dengan baik oleh orang-orang yang ahli dan memiliki kebijaksanaan. Tanpa adanya kearifan, kata Hendar, perjalanan agama bisa terganggu […]

  • Prodi Pendidikan Geografi UMS Tuntaskan Hibah PKKB 2025, Perkuat Transformasi Pendidikan Berdampak

    Prodi Pendidikan Geografi UMS Tuntaskan Hibah PKKB 2025, Perkuat Transformasi Pendidikan Berdampak

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 74
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menuntaskan seluruh rangkaian kegiatan Program Kompetisi Kampus Berdampak (PKKB) Tahun 2025. Pelaksanaan program tersebut telah dilaporkan secara resmi kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia pada Desember 2025. Capaian ini merupakan kelanjutan […]

  • Manhaj tarjih Muhammadiyah dikaji dalam penguatan AIK bagi guru IMBS Samarinda

    Manhaj tarjih Muhammadiyah dikaji dalam penguatan AIK bagi guru IMBS Samarinda

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 55
    • 0Komentar

      Pendalaman manhaj tarjih Muhammadiyah menjadi sorotan utama dalam kegiatan Penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang digelar IMBS Samarinda di UMKT, 19–21 Februari 2026. Sebanyak 123 guru dari tiga sekolah Muhammadiyah mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias. Kepala SMA Istiqamah Muhammadiyah Samarinda, Arip Saripuddin, S.Pd.I., M.A., Ph.D., yang juga Sekretaris Majelis Tarjih PWM Kaltim, menjelaskan bahwa […]

  • Pererat Silaturahmi, IMM dan Rektor UMPP Bahas Penguatan Kaderisasi

    Pererat Silaturahmi, IMM dan Rektor UMPP Bahas Penguatan Kaderisasi

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 45
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Pekalongan — Suasana hangat penuh keakraban mewarnai pertemuan antara perwakilan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Pekalongan Raya bersama Koordinator Komisariat (Korkom) IMM Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP), kader IMM se-UMPP, serta perwakilan Organisasi Otonom (Ortom) UMPP dengan Rektor UMPP, Dr. Nur Izzah, S.Kep., M.Kep. pada Senin, 22 April 2025. Pertemuan yang berlangsung […]

  • Libur Natal dan Tahun Baru, UMS Tetap Buka Layanan Penerimaan Mahasiswa Baru

    Libur Natal dan Tahun Baru, UMS Tetap Buka Layanan Penerimaan Mahasiswa Baru

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 83
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tetap membuka layanan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) pada masa libur natal dan tahun baru, tepatnya pada Jumat, 26 Desember 2025 dan Jumat, 2 Januari 2026. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk komitmen UMS dalam memberikan pelayanan optimal bagi calon mahasiswa yang ingin mengikuti proses seleksi maupun memperoleh informasi langsung […]

expand_less