Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Menjaga Nalar, Merawat Nilai: Suara Baik di Tengah Riuh Demokrasi

Menjaga Nalar, Merawat Nilai: Suara Baik di Tengah Riuh Demokrasi

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Minggu, 1 Jun 2025
  • visibility 66
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Nur Sita, ST, Anggota Nasyiatul ‘Aisyiyah Kepulauan Sangihe

Di ruang publik hari ini, sering kali yang terdengar bukanlah yang paling benar, tapi yang paling nyaring. Suara kebaikan, yang berangkat dari niat tulus dan akal sehat, sering kalah oleh suara yang bising, sensasional, bahkan penuh provokasi. Bukan karena kebaikan itu salah arah, tapi karena ia tak cukup cerdas dalam menyusun kata dan langkah.

Kondisi ini memperlihatkan sebuah ironi. Saat orang-orang yang berpikir jernih dan waras memilih diam atau menjaga diri dari keramaian opini, justru yang paling lantang mendominasi ruang wacana. Dalam banyak kasus, mereka yang niatnya baik malah tak terdengar, tenggelam di antara suara keras tanpa dasar atau logika yang matang. Mengapa ini terjadi?

Ketika Niat Baik Tak Cukup

Menjadi pribadi yang bernilai dan punya komitmen terhadap kebaikan publik tidak cukup hanya bermodal semangat. Ia butuh kapasitas berpikir sistemik, memahami tata kerja negara, memahami proses pembuatan kebijakan, hingga mampu berbicara dalam bahasa yang relevan dengan realitas publik.

Kebaikan hati tanpa arah, tanpa logika, tanpa strategi—mudah menjadi emosi yang meledak-ledak, lalu padam karena kelelahan. Ia hanya menjadi teriakan di lorong-lorong digital atau mimbar-mimbar sesaat, tanpa meninggalkan dampak kebijakan nyata.

Dalam konteks negara demokratis, suara publik memang penting, tapi lebih penting lagi adalah suara yang membawa data, argumentasi, dan rasionalitas. Demokrasi bukan sekadar ajang berebut tepuk tangan atau adu sindiran di media sosial. Ia adalah ruang kolaborasi pikiran, nilai, dan solusi konkret.

Peran Ilmu dan Riset dalam Menjaga Nilai

Agar nilai-nilai luhur tetap hidup dalam kebijakan publik, kita butuh lebih dari sekadar opini moral. Kita butuh pendekatan berbasis ilmu. Riset dan data tidak boleh hanya menjadi pajangan akademik atau wacana seminar. Ia harus hadir sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan yang menyentuh hidup banyak orang.

Dalam bukunya The Fifth Risk (2018), Michael Lewis menjelaskan bahwa banyak kebijakan publik terbaik lahir bukan dari ide politisi yang populer, tapi dari birokrat dan ilmuwan yang bekerja dalam diam, menggunakan data, logika, dan empati. Hal serupa terjadi dalam konteks kita: jika ingin kebaikan menjadi nyata, maka pendekatan ilmiah harus menjadi panglima.

Dengan berpikir jernih dan bicara terbuka, menggunakan argumen yang logis dan bahasa yang merata, kita bisa membawa nilai kebaikan menembus sekat-sekat perbedaan. Karena kebaikan bukan milik satu golongan, satu agama, atau satu warna politik. Ia adalah milik bersama.

Kebijakan yang Baik Tak Lahir dari Teriakan

Sayangnya, dalam praktiknya, masih banyak ruang kebijakan publik yang diracuni oleh suara paling nyaring—bukan paling benar. Padahal, kebijakan publik yang adil dan berpihak kepada banyak orang sering kali lahir dari perdebatan yang kompleks dan mendalam, bukan dari siapa yang paling cepat menyerang atau paling keras berteriak.

Kita butuh orang-orang yang mau mendengar sebelum berbicara. Yang membawa logika dan data ke ruang keputusan, dan bukan hanya ego atau ambisi. Dibutuhkan keberanian untuk berpikir jernih, bahkan ketika dikepung badai opini atau tekanan kekuasaan.

Menurut riset dari World Bank (2021), kebijakan yang partisipatif dan berbasis data cenderung menghasilkan dampak sosial dan ekonomi yang lebih baik dibanding kebijakan populis yang dibentuk dari tekanan politik jangka pendek. Di sinilah pentingnya suara-suara waras untuk tetap bersuara, meski kadang terasa tidak populer.

Namun, kita tidak boleh pesimis. Saat ini, semakin banyak anak muda, akademisi, jurnalis, dan bahkan politisi yang mulai sadar pentingnya membawa nilai dalam kerja kekuasaan. Mereka hadir bukan hanya membawa retorika, tapi membawa substansi. Mereka tahu bahwa kekuasaan bukan soal “memaksakan iman”, tapi soal menyuntikkan nilai: keadilan, kasih, akal sehat, dan keberpihakan pada yang lemah.

Mereka menyadari bahwa kebijakan publik harus disusun bukan hanya dari sudut pandang hukum dan politik, tapi juga dari nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Ini adalah kabar baik. Karena perubahan besar tidak selalu dimulai dari gerakan massa, tapi dari keberanian segelintir orang untuk berpikir berbeda, dan bertindak berdasarkan nilai.

Demokrasi Bukan Hanya Tentang Kebebasan, Tapi Juga Tanggung Jawab

Akhirnya, kita harus ingat: demokrasi bukan hanya tentang kebebasan berpendapat, tapi juga tentang tanggung jawab menggunakan suara secara cerdas. Kita perlu memastikan bahwa ruang publik tidak hanya diisi oleh yang lantang, tapi juga oleh yang bernas.

Kebaikan harus mulai bicara. Ia tak boleh lagi diam. Tapi juga tak boleh bicara dengan emosi semata. Ia harus menyusun kalimat dengan data, menyampaikan gagasan dengan empati, dan mengajak berdiskusi dengan cara yang memanusiakan. Dengan cara itu, kita bisa memastikan bahwa ruang publik kita tidak hanya jadi ajang perebutan kekuasaan, tapi juga tempat bertumbuhnya nilai-nilai luhur.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prodi Profesi Fisioterapis UMS Apresiasi Mitra Terbaik, Perkuat Praktik Klinis Berbasis Komunitas dan Rumah Sakit

    Prodi Profesi Fisioterapis UMS Apresiasi Mitra Terbaik, Perkuat Praktik Klinis Berbasis Komunitas dan Rumah Sakit

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 101
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Program Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan penghargaan kepada mitra terbaik sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dalam pelaksanaan praktik profesi mahasiswa selama 13 bulan. Penghargaan ini menjadi yang pertama kali digelar dan diharapkan dapat menjadi agenda berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang. Apresiasi tersebut disampaikan saat Sumpah Profesi Fisioterapis angkatan IX Tahun Ajaran […]

  •  Kader Digital Muhammadiyah Harus Jadi Corong Persyarikatan

     Kader Digital Muhammadiyah Harus Jadi Corong Persyarikatan

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 95
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID Semarang – Pesantren Jurnalistik Muhammadiyah Jawa Tengah resmi digelar pada 6–7 Maret 2026 di Balai Pengembangan Manajemen Sumber Daya Manusia (BPMSD) Jawa Tengah, Semarang. Kegiatan ini mengusung tema “Akselerasi Dakwah Digital Muhammadiyah: Dari Penulisan AI hingga Videografi Mobile.” Acara tersebut diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah bekerja […]

  • Mengukir Semangat Dakwah: IGABA Grogol dan Baitul Arqom di Wonderpark

    Mengukir Semangat Dakwah: IGABA Grogol dan Baitul Arqom di Wonderpark

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 51
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SUKOHARJO – Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kecamatan Grogol sejumlah 31 peserta mengikuti kegiatan Baitul Arqom pada hari Sabtu -Ahad, 09-10 Agustus 2025. Acara ini di WonderPark Tawangmangu yang diselenggarakan oleh Majelis Pembinaan Kader (MPK) Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Grogol, dengan mengusung Tema “Baitul Arqom Sebagai Upaya Peneguhan Ideologi Kader ‘Aisyiyah dalam Mewujudkan […]

  • Iman dan Amal Saleh, Pilar Utama dalam Pemanfaatan Waktu

    Iman dan Amal Saleh, Pilar Utama dalam Pemanfaatan Waktu

    • calendar_month Selasa, 3 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 246
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surabaya – KH Ahmad Dahlan pernah mengajarkan surah Al-Ashr kepada murid-muridnya selama delapan bulan. Meskipun pada awalnya mendapat protes karena dianggap terlalu lama untuk mempelajari surat yang hanya terdiri atas tiga ayat, para murid akhirnya memahami kedalaman makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam acara Peresmian Gedung […]

  • Dari Retret Karakter hingga Fortasi MBS Bumiayu Brebes: Jalan Awal Menuju Santri Tarjih

    Dari Retret Karakter hingga Fortasi MBS Bumiayu Brebes: Jalan Awal Menuju Santri Tarjih

    • calendar_month Senin, 21 Jul 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 73
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Brebes – Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS) Bumiayu menyelenggarakan rangkaian program orientasi dan pembinaan intensif bagi santri baru tahun ajaran 2025/2026. Kegiatan ini berlangsung selama dua pekan, sejak 7 hingga 20 Juli 2025, dengan tujuan memperkuat pemahaman ideologi, membentuk karakter, serta mengasah keterampilan dasar santri., Senin, (21/7/2025). Kepala Bagian Tarbiyah MBS Bumiayu, […]

  • Menuju Islam Berkemajuan: Mahasiswa UMS Dorong Pendidikan Seksual Inklusif dengan Interactive Visual Cards

    Menuju Islam Berkemajuan: Mahasiswa UMS Dorong Pendidikan Seksual Inklusif dengan Interactive Visual Cards

    • calendar_month Selasa, 19 Agt 2025
    • account_circle Andi Rezti Maharani
    • visibility 83
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Pendidikan seksual masih sering dianggap tabu di Indonesia. Padahal, dalam perspektif Islam, menjaga diri (hifdz al-nafs) dan menjaga keturunan (hifdz al-nasl) merupakan bagian penting dari maqashid syariah. Menyadari hal itu, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berinisiatif menghadirkan program pendidikan seksual inklusif dan interaktif bagi penyandang disabilitas, khususnya tunagrahita. Program ini digagas oleh […]

expand_less