BeritaInspirasikabar muhammadiyah

Meneguhkan Praxis Politik Profetik: PK IMM Ki Bagus Hadikusumo Gelar Madrasah Siyasah untuk Diaspora Kader

KABARMUH.ID, Sukabumi, 2 Mei 2026 — Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Ki Bagus Hadikusumo Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sukabumi sukses menyelenggarakan Madrasah Siyasah Profetik pada 1–2 Mei 2026. Kegiatan berlangsung di Auditorium UMMI dan Villa Citra Sukabumi.

Kegiatan ini mengusung tema “Dialektika Kader IMM: Mengasah Jiwa Organisasi, Menanamkan Nalar Politik Berbasis Nilai Profetik”. Tema tersebut menjadi upaya strategis dalam membentuk kader yang taktis dalam kebijakan publik, tetapi tetap teguh secara ideologis.

Penyelenggaraan Madrasah Siyasah Profetik dilatarbelakangi dinamika sosial-politik nasional yang semakin kompleks. Kondisi tersebut ditandai dengan menurunnya kualitas demokrasi serta menguatnya praktik politik pragmatis yang berorientasi pada kepentingan kelompok tertentu.

Melalui kegiatan ini, IMM memandang penting adanya redefinisi praxis politik yang tidak sekadar berorientasi pada kekuasaan. Politik harus diarahkan sebagai instrumen transformasi sosial yang berlandaskan nilai profetik dan keberpihakan kepada masyarakat.

Madrasah ini menjadi instrumen pengaderan lanjutan untuk membekali kader dengan kompas moral kenabian. Nilai Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah diinternalisasikan agar kader mampu bergerak dalam ruang politik tanpa kehilangan identitas intelektualnya.

Fokus utama kegiatan adalah membumikan konsep Ilmu Sosial Profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo. Konsep tersebut dibangun atas tiga pilar utama, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi sebagai fondasi gerakan sosial yang berkeadilan.

Pilar humanisasi dimaknai sebagai upaya memanusiakan manusia di tengah arus dehumanisasi masyarakat modern. Liberasi dipahami sebagai komitmen membebaskan masyarakat dari ketidakadilan ekonomi, kemiskinan, dan praktik penindasan struktural.

Sementara itu, transendensi menempatkan nilai keimanan sebagai dasar tertinggi dalam setiap pengambilan keputusan sosial maupun politik. Nilai ilahiah diposisikan sebagai instrumen kritik terhadap praktik kekuasaan yang menyimpang dari kepentingan rakyat.

Selama dua hari kegiatan, peserta terlibat dalam diskusi intensif bersama sejumlah narasumber lintas disiplin. Forum dilaksanakan melalui ceramah ilmiah, focus group discussion (FGD), dan diskusi reflektif antarkader.

Dr. Yana Fajar FY Basori, M.S.I. membahas konsep siyasah profetik dan landasan gerakan IMM. Muhammad Fajri Nur Rizky menyampaikan materi mengenai analisis sosial sebagai basis pembangunan nalar politik kader.

Dr. Agus Rasyid Chandra Wijaya, S.H., M.H. memaparkan pentingnya kepemimpinan profetik dan manajemen organisasi yang autentik. Selain itu, Chikal Akmalul Fauzi, S.Sos. dan Harris Aufa Narodnaya Elnawam membahas Strategi Gerakan dan Aksi sosial Politik Kader serta dialektika gerakan mahasiswa dan politik kebangsaan.

Ketua pelaksana kegiatan, Mahesa Raihan Putra, menegaskan bahwa Madrasah Siyasah Profetik bukan sekadar agenda seremonial organisasi. Kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar kader IMM dalam menyiapkan generasi yang siap terlibat di berbagai sektor strategis.

“Kader IMM harus siap menjadi ikan kecil yang berani mengarungi samudra luas, bukan sekadar ikan besar di kolam sempit,” ujar Mahesa dalam sambutannya.

PK IMM Ki Bagus Hadikusumo berharap alumni Madrasah Siyasah Profetik mampu menunjukkan ketajaman analisis dalam mengkritisi kebijakan publik. Nilai-nilai profetik diharapkan menjadi dasar perjuangan dalam mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan refleksi ideologis yang menegaskan kembali Trilogi IMM, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Siyasah profetik dipahami sebagai jalan perjuangan agar politik tetap berada dalam bingkai ibadah dan kemaslahatan umat.

Editor: Muhammad Farhan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button