Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Muhammadiyah dan Kebutuhan Pemimpin Masa Depan

Muhammadiyah dan Kebutuhan Pemimpin Masa Depan

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
  • visibility 64
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Dr. Zulkipli Jemain, M.Pd.I (Dosen PAI Fakultas Agama Islam UM Palembang, Sekretaris Eksekutif PWM Sumsel)

Integrasi Kekuasaan Etis dan Kepemimpinan Visioner

Memasuki abad kedua keberadaannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan sosial, kemajuan teknologi, dinamika politik global, serta meningkatnya tuntutan transparansi dalam organisasi menuntut hadirnya model kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga kokoh secara moral dan visioner secara intelektual.

Sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan pada tahun 1912, Muhammadiyah telah menjadi salah satu kekuatan sosial keagamaan paling berpengaruh di Indonesia. Organisasi ini membangun ribuan lembaga pendidikan, rumah sakit, lembaga sosial, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) menjadi bukti nyata bahwa gerakan ini tidak hanya berdakwah secara verbal, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi kehidupan umat.

Namun keberhasilan organisasi besar seperti Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari kualitas kepemimpinan yang menggerakkannya. Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, Muhammadiyah membutuhkan figur pemimpin masa depan yang tidak hanya mampu mengelola organisasi, tetapi juga mampu menjaga integritas, melawan penyalahgunaan kekuasaan, serta menghadirkan visi besar bagi kemajuan umat dan bangsa.

Dalam konteks ini, penting untuk mengembangkan sebuah kerangka pemikiran baru tentang Model Kepemimpinan Etis Muhammadiyah, yaitu model kepemimpinan yang mengintegrasikan kekuasaan, pengaruh sosial, dan integritas moral dalam satu kesatuan yang utuh.

Kekuasaan dalam Perspektif Islam

Dalam tradisi Islam, kekuasaan tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, kekuasaan merupakan instrumen penting untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kemaslahatan masyarakat. Namun Islam menegaskan bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan etika yang kuat.

Teladan paling sempurna dalam kepemimpinan Islam dapat ditemukan pada sosok Prophet Muhammad. Sebagai pemimpin masyarakat Madinah, Nabi Muhammad tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Kekuasaan beliau digunakan untuk membangun masyarakat yang adil, damai, dan inklusif.

Piagam Madinah yang beliau rumuskan menunjukkan bahwa kekuasaan dapat digunakan untuk membangun tatanan sosial yang menjunjung tinggi keadilan dan kebersamaan antar kelompok masyarakat. Kepemimpinan beliau menegaskan bahwa kekuasaan sejati bukanlah dominasi, tetapi pelayanan kepada masyarakat.

Teladan tersebut kemudian dilanjutkan oleh para khalifah setelah beliau. Kepemimpinan Abu Bakr menunjukkan bahwa pemimpin harus memiliki kerendahan hati dan kesediaan untuk dikritik. Dalam pidato pertamanya sebagai khalifah, Abu Bakar mengatakan bahwa jika ia benar maka harus didukung, tetapi jika ia salah maka harus diluruskan.

Hal yang sama terlihat pada kepemimpinan Umar ibn al-Khattab, yang dikenal sebagai pemimpin yang sangat tegas dalam menegakkan keadilan. Umar tidak segan memberikan sanksi kepada pejabat yang menyalahgunakan jabatan.

Dari teladan sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam Islam, kekuasaan harus dijalankan dengan prinsip amanah, keadilan, dan tanggung jawab moral.

Bahaya Penyalahgunaan Kekuasaan

Meski kekuasaan dapat menjadi sarana untuk menciptakan kebaikan, sejarah manusia juga menunjukkan bahwa kekuasaan dapat menjadi sumber kerusakan jika tidak dikendalikan oleh moralitas.

Fenomena seperti korupsi, nepotisme, otoritarianisme, dan politik uang sering muncul akibat penyalahgunaan kekuasaan. Praktik-praktik ini tidak hanya merusak sistem organisasi, tetapi juga menghancurkan kepercayaan masyarakat.

Banyak organisasi besar di dunia mengalami kemunduran bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena krisis integritas dalam kepemimpinan. Ketika kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok sempit, organisasi akan kehilangan legitimasi moral di mata masyarakat.

Dalam konteks organisasi sosial keagamaan seperti Muhammadiyah, penyalahgunaan kekuasaan menjadi persoalan yang sangat serius. Muhammadiyah bukanlah perusahaan atau organisasi politik yang mengejar keuntungan material, tetapi gerakan dakwah yang membawa misi moral dan kemanusiaan. Oleh karena itu, integritas dalam kepemimpinan menjadi syarat mutlak.

Untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, organisasi harus membangun mekanisme kontrol yang kuat, seperti transparansi, akuntabilitas, serta budaya musyawarah yang sehat. Kritik yang konstruktif harus dipandang sebagai bagian dari proses menjaga integritas organisasi.

Model Kepemimpinan Etis Muhammadiyah

Dalam menghadapi tantangan tersebut, diperlukan sebuah model kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan moralitas. Model tersebut dapat disebut sebagai Model Kepemimpinan Etis Muhammadiyah.

Model ini dibangun atas tiga unsur utama: power, influence, dan integrity.

Pertama, power atau kekuasaan struktural. Dalam organisasi besar seperti Muhammadiyah, kekuasaan struktural diperlukan agar organisasi dapat berjalan secara efektif. Struktur kepemimpinan dari pusat hingga ranting memungkinkan koordinasi yang sistematis dalam menjalankan program organisasi.

Namun kekuasaan struktural saja tidak cukup. Kekuasaan harus disertai dengan unsur kedua, yaitu influence atau pengaruh sosial. Pengaruh sosial lahir dari keteladanan moral, kapasitas intelektual, serta komitmen terhadap perjuangan organisasi. Pemimpin yang memiliki pengaruh tidak hanya dihormati karena jabatannya, tetapi juga karena integritas dan kepribadiannya.

Unsur ketiga yang paling penting adalah integrity atau integritas moral. Integritas mencakup kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam. Tanpa integritas, kekuasaan dapat berubah menjadi alat dominasi yang merusak organisasi.

Integrasi antara kekuasaan, pengaruh sosial, dan integritas moral inilah yang membentuk kepemimpinan etis. Dalam model ini, kekuasaan tidak digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk melayani umat dan memajukan organisasi.

Kepemimpinan Visioner untuk Masa Depan Muhammadiyah

Selain integritas moral, pemimpin Muhammadiyah masa depan juga harus memiliki visi yang kuat. Dunia saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat akibat perkembangan teknologi digital, globalisasi ekonomi, serta dinamika sosial yang semakin kompleks.

Pemimpin masa depan harus memiliki kemampuan berpikir strategis untuk membaca perubahan zaman. Mereka harus mampu merumuskan arah organisasi dalam menghadapi tantangan global.

Selain itu, pemimpin juga harus mampu membangun kolaborasi. Dalam era modern, tidak ada organisasi yang dapat bekerja sendirian. Kerja sama dengan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan global.

Kemampuan memanfaatkan teknologi juga menjadi syarat penting bagi pemimpin masa depan. Transformasi digital telah mengubah cara organisasi bekerja, berkomunikasi, dan memberikan layanan kepada masyarakat. Muhammadiyah perlu memanfaatkan teknologi untuk memperkuat dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial.

Namun di tengah kemajuan teknologi, nilai-nilai moral tidak boleh ditinggalkan. Pemimpin Muhammadiyah harus mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan modern dan nilai-nilai spiritual Islam.

Membangun Figur Pemimpin Berintegritas

Pertanyaan penting yang kemudian muncul adalah bagaimana Muhammadiyah dapat melahirkan pemimpin masa depan yang berintegritas.

Jawabannya terletak pada sistem kaderisasi yang kuat. Muhammadiyah memiliki tradisi panjang dalam membangun kader melalui organisasi otonom, lembaga pendidikan, dan berbagai program pengkaderan.

Namun kaderisasi tidak cukup hanya menekankan aspek organisatoris. Kaderisasi harus juga menanamkan nilai integritas, kejujuran, dan tanggung jawab moral.

Budaya organisasi juga harus mendukung terciptanya kepemimpinan yang bersih. Transparansi dalam pengelolaan organisasi serta sistem pengawasan yang kuat menjadi faktor penting untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan.

Keteladanan pemimpin senior juga memiliki peran besar. Generasi muda akan belajar dari sikap dan perilaku pemimpin yang mereka lihat. Oleh karena itu, pemimpin Muhammadiyah harus menjadi contoh moral dalam kehidupan organisasi.

Teladan bagi Bangsa

Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan pemimpin untuk mengelola organisasi internal. Muhammadiyah juga membutuhkan pemimpin yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.

Jika Muhammadiyah berhasil melahirkan pemimpin yang berintegritas, visioner, dan berkomitmen pada keadilan, maka pemimpin tersebut dapat menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia.

Sejarah telah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh Muhammadiyah sering memainkan peran penting dalam kehidupan nasional, baik dalam bidang pendidikan, politik, maupun sosial kemasyarakatan.

Dengan model kepemimpinan etis yang kuat, Muhammadiyah dapat terus melahirkan tokoh-tokoh yang tidak hanya berpengaruh di lingkungan organisasi, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa.

Masa Depan Muhammadiyah

Pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan yang dimilikinya. Organisasi sebesar Muhammadiyah membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral yang tinggi.

Integrasi antara kekuasaan etis dan kepemimpinan visioner akan melahirkan pemimpin yang mampu menjaga organisasi dari penyalahgunaan kekuasaan serta menggerakkan perubahan sosial yang positif.

Pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan Muhammadiyah untuk menghadapi tantangan abad kedua. Pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai amanah, kepemimpinan sebagai pelayanan, dan integritas sebagai fondasi utama dalam setiap langkah perjuangan.

Jika model kepemimpinan etis ini dapat diwujudkan, Muhammadiyah tidak hanya akan tetap relevan di masa depan, tetapi juga akan terus menjadi kekuatan moral dan intelektual yang memberi pencerahan bagi umat, bangsa, dan dunia.

Editor: Choiril Amirah Farida

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilmu Hukum UMS Kenalkan Batik Indonesia melalui Cultural Exchange dan Pengabdian Internasional di Vietnam

    Ilmu Hukum UMS Kenalkan Batik Indonesia melalui Cultural Exchange dan Pengabdian Internasional di Vietnam

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 57
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID; SURAKARTA – Program Studi (Prodi) Ilmu Hukum Fakultas Ilmu Hukum dan Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan rangkaian kegiatan International Exposure dan International Community Service di Vietnam pada 9-14 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Prodi Ilmu Hukum UMS dalam memperluas jejaring akademik internasional sekaligus mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat global. […]

  • UMS Jadi Tuan Rumah Cabang Olahraga Pencak Silat POMNAS XIX 2025

    UMS Jadi Tuan Rumah Cabang Olahraga Pencak Silat POMNAS XIX 2025

    • calendar_month Kamis, 11 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 42
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dipercaya menjadi tuan rumah dipercaya menjadi tuan rumah cabang olahraga Pencak Silat pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) Jawa Tengah XIX Tahun 2025. Ajang bergengsi tingkat nasional ini akan digelar di Edutorium KH. Ahmad Dahlan UMS pada 19–27 September 2025. Wakil Rektor I UMS, Prof. Ihwan Susila, S.E., […]

  • Fisioterapis UMS Latih Lansia Sukoharjo Atasi Nyeri Punggung Bawah

    Fisioterapis UMS Latih Lansia Sukoharjo Atasi Nyeri Punggung Bawah

    • calendar_month Sabtu, 4 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 63
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Sebanyak 12 mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) angkatan X yang bertugas di Puskesmas Baki menggelar penyuluhan kesehatan bertajuk “Kenali dan Cegah Nyeri Punggung Bawah”. Kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Lansia di Balai Desa Duwet, Kecamatan Baki, Sukoharjo. Kegiatan yang dihadiri sekitar 60 warga lansia ini […]

  • UMS Dorong Dosen Raih Beasiswa LPDP: Jalan Menuju S3 Kian Terbuka

    UMS Dorong Dosen Raih Beasiswa LPDP: Jalan Menuju S3 Kian Terbuka

    • calendar_month Kamis, 26 Jun 2025
    • account_circle Zulfan Falakhi
    • visibility 51
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya melalui pendidikan lanjutan bagi para dosen. Salah satu langkah nyata yang diambil adalah mendorong dosen bergelar magister untuk segera melanjutkan studi doktoral dengan memanfaatkan program beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Wakil Rektor IV UMS, Prof. Dr. dr. Em […]

  • Pengukuhan BikersMu Chapter Lumajang sekalian dengan agenda Halal Bi Halal Warga Muhammadiyah se Kabupaten Lumajang Jatim

    Pengukuhan BikersMu Chapter Lumajang sekalian dengan agenda Halal Bi Halal Warga Muhammadiyah se Kabupaten Lumajang Jatim

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Najihus Salam
    • visibility 38
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lumajang – Perhelatan pengukuhan Pengurus BikersMu Chapter Lumajang masa bakti 2024 -2028 yang telah dilaksanakan pada hari Minggu, 27 April 2025 yg bertepatan dengan penghujung bulan Syawal 1446 H, tanggal 28 Syawal sungguh terasa istimewa. Betapa tidak? Acara pengukuhannya bersamaan dengan pelaksanaan pertemuan rutin 3 bulanan Pengurus Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang yang sekaligus […]

  • GERAKAN MAHASISWA SERUKAN DPR DAN PEMERINTAH PATUHI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TERKAIT SYARAT PENCALONAN KEPALA DAERAH

    GERAKAN MAHASISWA SERUKAN DPR DAN PEMERINTAH PATUHI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TERKAIT SYARAT PENCALONAN KEPALA DAERAH

    • calendar_month Senin, 26 Agt 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 216
    • 0Komentar

    OLEH : NASHRUL MU’MININ, MAHASISWA UNIVESITAS COKROAMINOTO YOGYAKARTA Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah didesak untuk mematuhi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat pencalonan kepala daerah, khususnya mengenai ambang batas pencalonan oleh partai politik dan titik penghitungan usia calon kepala daerah. Pasalnya, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menegaskan bahwa putusan MK bersifat final dan mengikat, tidak […]

expand_less