BeritaJatimPersyarikatan

Muzaki: Diaspora Kader IMM, Menyemai Peradaban Lewat Karir

KABARMUH.ID, Lamongan – Simposium Perkaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) menghadirkan aktivis muda Muhammadiyah, Moch. Muzaki, sebagai pembicara utama dalam forum bertajuk “Diaspora Kader IMM: Pendekatan Filosofis dan Paradigma Karir”. Acara ini digelar pada Sabtu (24/05/2025) di Gedung Pertemuan Prima Karya, Payaman, Solokuro, Lamongan.

Simposium ini menjadi ruang refleksi dan penguatan bagi para kader IMM untuk memahami peran mereka sebagai agen perubahan dalam berbagai sektor kehidupan. Dalam paparannya, Muzaki menekankan pentingnya paradigma baru dalam melihat kaderisasi, yakni sebagai proses menyiapkan agen peradaban yang siap berdiaspora ke berbagai bidang profesi.

“Karir itu bukan sekadar pekerjaan, tapi bagian dari ibadah tertinggi manusia kepada Allah. Lewat profesinya, manusia turut serta mengatur, menjaga, dan menyeimbangkan bumi,” tegas Muzaki dalam sesi pemaparannya yang berlangsung khidmat.

Ia membuka diskusi dengan pendekatan teologis-filosofis mengenai konsep manusia sebagai khalifah di muka bumi. Menurutnya, spirit kekhalifahan ini harus diwujudkan dalam bentuk karir profesional yang bermakna sebagai kontribusi nyata bagi peradaban.

Paradigma tersebut mengajak kader IMM untuk menjadikan karir sebagai ladang dakwah. Oleh karena itu, kader dituntut untuk tidak terjebak dalam zona nyaman, melainkan siap mengemban amanah di berbagai sektor: pendidikan, politik, ekonomi, kesehatan, seni budaya, dan lainnya.

“Semua sektor kehidupan adalah ladang perjuangan. Maka, diaspora kader IMM bukanlah pengkhianatan terhadap ikatan, melainkan justru pengejawantahan nilai-nilai perjuangan ke ruang-ruang yang lebih luas,” ujar Muzaki yang juga aktif di dunia pendidikan.

Acara yang dihadiri oleh puluhan kader dari empat komisariat IMM UMLA ini membedah secara mendalam makna “diaspora” dalam konteks IMM. Muzaki menjelaskan bahwa diaspora kader adalah penyebaran nilai, spirit, dan identitas kader ke berbagai lini kehidupan masyarakat. Hal ini sejalan dengan semangat gerakan Muhammadiyah yang telah lebih dahulu menggarap berbagai sektor melalui amal usahanya.

“Kader harus menyadari bahwa ia sedang menyiapkan diri untuk menjadi ahli dan profesional di bidang tertentu. Itulah bentuk pengabdian kita kepada umat, bangsa, dan Allah,” lanjut Muzaki.

Ia menegaskan bahwa proses kaderisasi harus mencakup berbagai aspek, mulai dari kepemimpinan, administrasi, pemahaman kebijakan, hingga penguatan moral dan spiritual. Menurutnya, untuk IMM menjadi organisasi besar yang berdampak, para kader harus dipersiapkan untuk mengisi ruang-ruang strategis.

Lebih lanjut, Muzaki menyoroti pentingnya kampus sebagai laboratorium pembelajaran sosial bagi kader IMM. Ia mendorong kader untuk aktif dalam berbagai organisasi intra kampus seperti BEM, legislatif mahasiswa, himpunan jurusan, dan unit kegiatan mahasiswa (UKM), sebagai bekal awal menuju keterlibatan lebih luas di masyarakat.

“Kalau kita bisa menguasai ruang-ruang itu, kita sedang belajar bertanggung jawab atas urusan publik dan membawa spirit IMM di tengah keragaman pergerakan,” jelasnya.

Selain mendorong diaspora eksternal, forum ini juga menegaskan pentingnya memperkuat jejaring internal antar kader. Menurut Muzaki, hubungan antara kader aktif, pengurus, alumni, hingga tokoh persyarikatan harus dijaga secara erat agar terbentuk kekuatan kolektif.

“Jejaring adalah kekuatan. Maka kader IMM harus cakap menjalin sinergi, baik di internal maupun eksternal. Kita perlu membangun relasi dengan lembaga, ormas, bahkan instansi pemerintah sebagai mitra dalam pembangunan masyarakat,” paparnya.

Penekanan terakhir Muzaki adalah pentingnya membangun peradaban melalui karir. Gerakan IMM sebagai gerakan keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan, kata dia, harus mampu melahirkan kader-kader unggul yang memiliki tiga kompetensi utama: intelektualitas, humanitas, dan religiusitas.

“Diaspora kader IMM harus menjadi karya nyata. Kita tidak hanya berdakwah lewat mimbar, tapi juga lewat profesi. Karir profesional kita adalah bagian dari dakwah dan ibadah kepada Allah,” pungkas Muzaki.

Dengan semangat diaspora, para peserta diharapkan mampu menyiapkan diri menjadi kader yang tidak hanya militan dalam organisasi, tetapi juga adaptif, profesional, dan relevan dalam membangun masyarakat. Spirit dakwah berkemajuan pun diharapkan terus menggema, tidak hanya di internal IMM, tetapi juga ke seluruh penjuru negeri.

Kontributor: Fillah Inzuly Vilthon
Editor: Najih

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button