
KABARMUH.ID, Surakarta — Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menegaskan pentingnya kolaborasi dan inovasi dalam menghidupkan ruang publik edukatif demi membangun generasi berkarakter. Hal tersebut disampaikan dalam diskusi Urun Rembug #4 bertajuk Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Rumah Baca, yang digelar di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Surakarta, Minggu (27/04/2025). Acara ini dihadiri oleh berbagai komunitas pendidikan di Surakarta dan diselenggarakan oleh forum Transid bekerja sama dengan Forthana Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Dalam diskusi tersebut, Astrid mengungkapkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 15 komunitas pendidikan aktif di Surakarta yang berperan dalam pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kualitas pendidikan. Namun, menurutnya, tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang menuntut adanya pembaruan.
“Komunitas pendidikan atau Taman Cerdas di Surakarta lebih dari 15, perlunya inovasi dan kolaborasi baru, serta membentuk ruang publik yang perlu kita revitalisasi,” ujar Astrid.
Ia menekankan revitalisasi Taman Cerdas (TC) sebagai ruang belajar dan interaksi sosial yang produktif bagi anak-anak dan generasi muda. Diharapkan, ruang ini mampu meningkatkan minat baca, membangun karakter, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan pendidikan.
“Untuk menghidupkan Taman Cerdas (TC), yang kita butuhkan adalah ikatan, komitmen, dan kolaborasi bersama,” ungkap Astrid.
Menurutnya, Taman Cerdas bukan sekadar ruang terbuka, tetapi wadah strategis untuk menumbuhkan kreativitas, literasi, dan interaksi sosial yang positif, khususnya bagi anak-anak dan generasi muda. Program ini juga sejalan dengan prioritas pembangunan Kota Surakarta dalam membentuk pusat pendidikan dan ruang ekspresi publik yang produktif.
“Ketika kita mau mulai maka harus ada tujuan akhir, target utamanya yaitu untuk meningkatkan kesadaran literasi dan minat baca masyarakat, kalau sudah nyemplung ya kita harus total dalam kontribusi kemasyarakatan,” kata Astrid.
Peran penting dalam penguatan literasi juga dipegang oleh komunitas Solo Mengajar. Direktur Solo Mengajar, Didik Kartika, menyampaikan bahwa pembelajaran yang diberikan tidak hanya terbatas di ruang kelas, tetapi juga diterapkan dalam lingkungan keluarga.
“Dari Solo Mengajar ini, anak-anak yang belajar membawa pelajaran tersebut ke dalam lingkungan keluarga, seperti budaya bersalaman dan berpamitan kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Didik.
Astrid menegaskan kembali komitmennya menjadikan Kota Surakarta sebagai kota layak anak. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan mengoptimalkan Taman Cerdas sebagai ruang publik edukatif yang bermanfaat bagi anak-anak untuk bermain, belajar, dan berinteraksi secara positif, sekaligus menjauhkan mereka dari dominasi permainan digital.
“Jadikan Kota Surakarta ini sebagai kota layak anak, bagaimana anak-anak muncul dan berinteraksi sosial tidak hanya main game tapi juga dapat memanfaatkan ruang publik dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Founder Transid, Mohammad T. Hassan, memastikan bahwa Transid akan terus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari organisasi mahasiswa hingga komunitas sosial dengan isu yang beragam. Ia menyebutkan bahwa kolaborasi yang sudah terjalin menjadi fondasi kuat untuk pengembangan ruang publik ramah anak dan edukatif. Tantangan ke depan adalah meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat agar fasilitas yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Untuk ikut menggembirakan Taman Cerdas di kota Solo dengan berbagai kegiatan yang menyasar pada berbagai sektor baik anak-anak, dewasa dan orang tua. Transid akan menjadi jembatan untuk berbagi stakeholder baik dari gerakan mahasiswa atau komunitas sosial lain. Semata-mata untuk mengarahkan pada prinsip Transid sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat berbasis rumah baca yang mendidik, menginspirasi dan menggerakkan,” pungkasnya.
Editor : Najih



