42 Dietisien Baru UMS Siap Mengabdi di Tengah Tantangan Masalah Gizi
- account_circle Arina Shofiyyata
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Sebanyak 42 dietisien baru Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id Angkatan II resmi mengikuti sumpah profesi di The Royal Heritage Solo, Selasa (6/10/2026). Para lulusan tersebut dinyatakan lulus setelah menempuh seluruh rotasi mata kuliah dengan total 38 SKS yang terdiri atas praktik gizi klinik, gizi masyarakat, dan gizi institusi, serta dinyatakan lulus Objective Structured Clinical Examination (OSCE).
Selain itu, seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien Angkatan II UMS berhasil lulus OSCE dan Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) berbasis Computer Based Test (CBT) dengan persentase kelulusan mencapai 100 persen.
Berdasarkan hasil rekapitulasi penilaian yang meliputi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), OSCE, dan Try Out Internal Uji Kompetensi Profesi Dietisien, Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien FIK UMS menetapkan tiga mahasiswa dengan capaian terbaik.
Terbaik pertama diraih Afiya Hasna Nabila, S.Gz., Dietisien. Terbaik kedua diraih Fila Rachmad Ramadan, S.Gz., Dietisien, sedangkan terbaik ketiga diraih Nabila Aliya Putri, S.Gz., Dietisien.
Kaprodi Pendidikan Profesi Dietisien FIK UMS Dr. Dwi Sarbini, SST., M.Kes., menyampaikan selamat dan apresiasi atas capaian yang diraih para lulusan.
“Prestasi ini tidak hanya mencerminkan capaian akademik, tetapi juga menunjukkan kesungguhan mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi professional sebagai calon Dietisien. Semoga capaian tersebut menjadi motivasi bagi seluruh lulusan untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, menjunjung tinggi profesionalisme, dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.
Dwi juga melaporkan bahwa pada 2026, Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien FIK UMS juga memperoleh akreditasi “Unggul berlaku 5 tahun hingga 27 Maret 2031” dari LAM-PTKes. Selain itu, program studi tersebut telah memperoleh akreditasi internasional selama lima tahun hingga 30 September 2031 dari Accreditation Agency for Study Programs in Health and Social Sciences (AHPGS) dari Jerman.
Capaian tersebut menjadi bentuk pengakuan atas komitmen program studi dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, pembelajaran, praktik profesi, serta penyelenggaraan pendidikan dietisien yang sesuai dengan standar nasional maupun internasional.
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam kesempatan tersebut menyampaikan pesan kepada para lulusan agar tidak melupakan peran dan pengorbanan orang tua setelah menyelesaikan pendidikan dan mengambil sumpah profesi.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan yang diraih para lulusan tidak terlepas dari doa, usaha, dan dukungan orang tua selama menjalani pendidikan. Rektor juga menekankan pentingnya kualitas pelayanan bagi dietisien, khususnya karena profesi tersebut berkaitan langsung dengan masyarakat.
“Karena usaha di sektor food, di sektor minuman itu berhubungan langsung dengan masyarakat, saya kira tanpa disurvei yang menentukan apa? Services. Jadi pelayanan menjadi penting, di dalam pelayanan itu ada kata-kata yang sopan, ada kata-kata yang baik. Jadi pelayanan menjadi penting,” tutur Harun.
Ia kemudian mendorong para lulusan untuk berani mengambil peran dan menjadi pelopor sesuai dengan visi UMS.
“Selamat dan sukses, mudah-mudahan Anda berani mengambil peran itu, jangan menunggu, jangan menjadi follower, tapi jadilah khotwah. Jadilah pelopor sebagai nama besar dan visi UMS sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ipteks yang islami, mencerahkan, unggul, mendunia, dan sebagai penggerak arah perubahan,” pesannya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPD PERSAGI Jawa Tengah, Florentinus Nurtitus, S.SiT., M.Gz., RD., berpesan agar para dietisien baru senantiasa mengedepankan etika, profesionalisme, serta keselamatan pasien dalam menjalankan tugas pelayanan gizi dan dietetik.

Wakil Ketua DPD PERSAGI Jawa Tengah, Florentinus Nurtitus, S.SiT., M.Gz., RD. saat memberikan pengarahan
“Janji kepada masyarakat bahwa dalam menjalankan tugas pelayanan gizi dan dietetik, saudara akan selalu mengedepankan etika, profesionalisme, serta keselamatan pasien di atas segalanya,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan kesehatan di Jawa Tengah maupun tingkat nasional saat ini semakin dinamis. Salah satunya ditandai dengan masih adanya beban ganda masalah gizi atau double burden of malnutrition, mulai dari stunting, obesitas, hingga meningkatnya penyakit tidak menular yang berkaitan erat dengan pola konsumsi dan diet masyarakat.
Ia menjelaskan, masalah gizi merupakan hasil interaksi kompleks yang melibatkan berbagai faktor, mulai dari tingkat molekuler dan mikrobiologi setiap individu hingga kondisi budaya, sosial, ekonomi, serta perkembangan masyarakat.
Penyebab langsung masalah gizi, khususnya gizi kurang dan gizi buruk, antara lain berkaitan dengan kurangnya asupan pangan dan penyakit infeksi yang saling berhubungan. Menurutnya, persoalan kesehatan seperti diabetes, penyakit jantung, dan stroke juga perlu dipahami melalui berbagai faktor yang saling berinteraksi.
“Maka teman-teman semuanya, sebagai dietitian, saudara adalah agen perubahan. Saya berharap rekan-rekan semua tidak berhenti belajar, terus tingkatkan kompetensi, lifelong learning,” pesannya.
Ia juga mengingatkan para lulusan untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi kesehatan serta memperkuat kolaborasi interprofesional dengan dokter, perawat, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya di tempat mereka mengabdi.
Selain itu, para dietisien baru diminta untuk menjaga nama baik profesi dan marwah PERSAGI di mana pun berada.
Perwakilan dietisien baru, Fila Rahmad Ramadhan, S.Gz., Dietisien., menyampaikan bahwa sumpah profesi yang diucapkan bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi awal dari tanggung jawab baru sebagai seorang dietisien.
“Di tempat ini, kami tidak hanya berdiri sebagai mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan profesi. Mulai hari ini, kami membawa sebuah identitas, tanggung jawab, amanah sebagai seorang dietitian,” ungkap Fila.
Ia menegaskan bahwa profesi dietisien tidak hanya berkaitan dengan gelar maupun penyelesaian pendidikan, tetapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap kompetensi seorang tenaga profesional dalam bidang gizi.
“Menjadi seorang dietitian bukanlah sekadar memperoleh sebuah gelar atau menyelesaikan pendidikan. Di balik profesi ini, terdapat manusia yang mempercayakan kondisi kesehatannya kepada kami,” kata dia.
Menurutnya, seorang dietisien akan berhadapan dengan berbagai kondisi dan kebutuhan masyarakat, mulai dari pasien yang tengah menjalani pemulihan, ibu yang membutuhkan pendampingan selama kehamilan, anak yang membutuhkan perhatian untuk tumbuh optimal, hingga keluarga yang membutuhkan edukasi terkait makanan dan kesehatan.
Ia menambahkan, sumpah profesi menjadi pengingat bahwa ilmu yang telah diperoleh memiliki konsekuensi berupa tanggung jawab. Tanggung jawab tersebut mencakup komitmen untuk terus belajar, menjaga etika profesi, memberikan pelayanan berdasarkan ilmu pengetahuan dan bukti ilmiah, menghargai setiap pasien dengan kebutuhan yang berbeda, serta menempatkan kepentingan dan keselamatan pasien sebagai bagian utama dalam setiap pelayanan.
Drs. Mudji Lasmono, ayahanda Fila Rahmad Ramadhan, S.Gz., Dietisien, turut menyampaikan pesan kepada para lulusan agar ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Karena itu, pesan kami kepada kalian sederhana: Jadilah dietitian yang berguna bagi masyarakat. Gunakan ilmu yang telah kalian dapat untuk memberikan manfaat. Jangan hanya bertanya, apa yang akan saya dapatkan dari profesi ini?, tetapi sesekali tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa saya berikan melalui profesi ini,” pesannya.
Ia mengingatkan bahwa para lulusan mungkin tidak dapat membantu seluruh masyarakat, tetapi setiap orang yang berada di hadapan mereka dapat dilayani dan dibantu dengan sebaik-baiknya.
“Mungkin kalian tidak dapat membantu semua orang, tetapi bantulah orang yang ada di hadapan kalian dengan sebaik-baiknya,” harapnya. (Maysali/Humas)
- Penulis: Arina Shofiyyata
- Editor: Arina Shofiyyata
- Sumber: https://kabarmuh.id/?p=24815&preview=true