Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Menyemai Semangat Literasi di Hari Buku Nasional

Menyemai Semangat Literasi di Hari Buku Nasional

  • account_circle Dwi Kurniadi
  • calendar_month Sabtu, 17 Mei 2025
  • visibility 16
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Di tengah era serba digital, Impian Nopitasari, Dosen Tidak Tetap (DTT) Lembaga Bahasa dan Ilmu Pengetahuan Umum (LBIPU) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), terus menyalakan semangat literasi melalui tulisan dan karya. Tak hanya mengajar di kelas, ia juga produktif menulis dan telah menerbitkan lima buku, yakni Kembang Pasren, Si Jlitheng, Payung Biru Jeta, Simbar Menjangan, dan Hidup di Zaman Konten.

Perempuan yang juga dikenal sebagai penulis ini menyampaikan bahwa Hari Buku Nasional menjadi momen penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa literasi masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa. “Sebenarnya banyak orang suka membaca, hanya saja akses terhadap buku masih menjadi kendala. Terlebih di daerah-daerah, ongkos distribusi buku itu mahal sekali,” ujarnya, Sabtu (17/5).

Menurut Impian, rendahnya angka literasi bukan semata-mata karena minat baca yang rendah. Ia menilai data statistik yang menempatkan Indonesia pada posisi bawah sering kali tidak mencerminkan kondisi lapangan secara utuh.

“Kalau pakai ukuran ranking, ya kita pasti kalah. Tapi faktanya, banyak kok yang ingin membaca. Hanya saja buku itu mahal. Orang-orang lebih memilih beli beras daripada buku,” tutur dosen yang memiliki perhatian besar terhadap literasi mahasiswa ini.

Sebagai akademisi, Impian melihat tantangan besar dalam menumbuhkan budaya baca di era digital, khususnya di kalangan generasi muda.

“Mahasiswa sekarang lebih suka nonton video pendek. Untuk menyuruh mereka baca artikel panjang saja susah, apalagi buku. Ini menjadi tantangan besar, apalagi dengan hadirnya teknologi seperti ChatGPT yang kadang disalahgunakan,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa generasi sekarang tumbuh tanpa mengalami masa transisi dari analog ke digital, sehingga paparan informasi instan dan cepat menjadi makanan sehari-hari.

“Zaman saya dan generasi X masih sempat merasakan transisi. Tapi generasi Alpha dan Z sekarang, sejak bayi sudah dicekeli HP. Itu membuat kemampuan analisis mereka tidak terasah karena informasi langsung ditelan mentah-mentah,” kata dia.

Sebagai bentuk kontribusi kecil, ia kini mulai menginisiasi diskusi rutin bersama beberapa mahasiswa yang tertarik membaca. “Mereka sering main ke rumah, dan saya punya banyak buku. Rencana diskusi pertama akan membedah buku saya dulu, untuk menarik minat awal.”

Ia berharap ke depan UMS bisa menjadi kampus yang lebih literatif. “Saya bermimpi UMS punya budaya diskusi rutin. Mahasiswa cinta buku, dan tidak malu untuk membaca. Karena dari membaca, cara berpikir, cara menulis, bahkan cara berbicara mereka akan terbentuk lebih dalam.”

Menurutnya, buku bukan hanya alat untuk memperluas pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter. Cara orang berpikir akan sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka baca. Terlebih buku-buku sastra itu bisa melembutkan hati dan mengasah empati.

Ia mencontohkan bahwa mahasiswa teknik yang terbiasa dengan logika dan perhitungan, jika juga membaca sastra, maka kemampuannya dalam menyampaikan ide akan lebih kuat dan menarik.

“Buku juga membuka wawasan. Kita bisa memahami dunia lain tanpa harus ke sana. Dari sastra Latin, Jepang, India, kita tahu bagaimana sejarah dan budaya mereka. Itu yang membuat pembaca buku sejati biasanya lebih rendah hati karena makin sadar bahwa banyak hal yang belum ia ketahui,” tambahnya.

Impian telah melahirkan lima buku yang masing-masing memiliki cerita dan perjuangannya sendiri. Dalam wawancara terbarunya, Impian mengungkapkan bahwa proses menjadi penulis tidak bisa dilepaskan dari budaya membaca yang ia tekuni sejak usia dini.

“Saya bisa membaca sejak umur tiga tahun, dan sejak kecil sudah terbiasa membaca buku dari perpustakaan SD tempat ayahku mengajar,” ujarnya.
Impian menekankan bahwa kemampuan menulis bukanlah sesuatu yang muncul secara instan, melainkan hasil dari pembiasaan membaca dalam jangka panjang.

Menurutnya, banyak orang ingin menjadi penulis, namun enggan membaca. “Kalau nggak ada yang masuk, ya nggak bisa keluar. Seperti tubuh kita, hanya bisa membuang kalau ada yang dimakan. Sama dengan tulisan,” ucapnya memberi analogi.

Impian juga menyatakan bahwa dirinya bukan produk dari kelas-kelas menulis, melainkan murni hasil dari kegemaran membaca dan berlatih menulis sejak kecil. Ia mulai mempublikasikan karya di media nasional saat masih SMA, tepatnya sekitar tahun 2006–2007.

Tentang buku-bukunya, Impian menyebut bahwa setiap karyanya memiliki karakter dan nilai emosional yang unik. Buku pertamanya, Kembang Pasren, adalah kumpulan cerpen berbahasa Jawa yang pernah dimuat di berbagai media seperti Solopos, Penyebar Semangat, (Jaya Baya), dan Djaka Lodang. Meskipun ia mengakui masih “cupu” dalam pengemasan, buku ini menjadi tonggak awalnya di dunia penulisan. (ada tambahan Jaya Baya dan revisi nama Djaka Lodang).

Namun dari kelima bukunya, Si Jlitheng menjadi yang paling berkesan. Buku dongeng anak berbahasa Jawa ini ia tulis dan kolaborasikan dengan ilustrator ternama Na’imatur Rofiqoh (Nai Rinaket). Terbit pada masa pandemi, buku ini justru mendapat sambutan luas.

“Niatnya cuma untuk hore-hore, tapi ternyata meledak di pasaran. Banyak guru dan orang tua yang beli, bahkan sampai dibedah di berbagai forum dan dibaca oleh KH. Mustofa Bisri (Gus Mus),” kenangnya.

Tak hanya itu, Si Jlitheng sempat mewakili Indonesia dalam pameran ilustrasi internasional di Bratislava, Eropa Timur (Slovakia), dan menjadi buku yang menghubungkan dunia anak-anak dengan budaya lokal Jawa.

Impian menutup pernyataannya dengan satu keyakinan kuat: “Saya percaya, orang yang dari kecil sudah suka membaca, jika dilanjutkan dan dilatih, pasti bisa menulis. Tinggal mau memulai atau tidak,” tegasnya.

Buku-buku Impian tidak hanya menyuarakan kreativitas, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya dan bahasa ibu yang jarang disentuh penulis generasi muda. Kini, meski ia masih aktif di Solo, karya-karyanya telah melanglang buana hingga ke Paris (Leiden) dan Bratislava membuktikan bahwa tulisan yang baik tak mengenal batas geografi. (Fika/Humas)

  • Penulis: Dwi Kurniadi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pertemuan Sinergis PRM dan PRA Pendoworejo: Penguatan Dakwah dan Persiapan Idul Adha

    Pertemuan Sinergis PRM dan PRA Pendoworejo: Penguatan Dakwah dan Persiapan Idul Adha

    • calendar_month Selasa, 4 Jun 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 162
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Kulon Progo – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Pendoworejo mengadakan pertemuan bersama yang bertempat di rumah pasangan aktivis Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Bapak Yayan dan Ibu Ernawati, di Dusun Kepek, Pendoworejo. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 12.30 hingga 14.30 WIB ini dihadiri oleh 20 orang anggota dan pengurus dari kedua organisasi […]

  • Seorang pria paruh baya mengenakan batik biru sedang berbicara di podium kayu berlogo Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ia mengangkat tangan kirinya dengan mengepal, di latar belakang terdapat layar proyektor yang menampilkan teks presentasi

    Atasi Depresi dengan Pendekatan Religius, UMS Perkenalkan BA-M dan Islamic Mindfulness Model

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 16
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus menunjukkan komitmennya dalam pengembangan keilmuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam isu kesehatan mental berbasis nilai keislaman. Hal ini tercermin dari pemaparan akademisi Fakultas Psikologi UMS yang menekankan pentingnya integrasi aspek spiritual dalam intervensi psikologis, terutama untuk menangani depresi di kalangan masyarakat Muslim. Setiyo Purwanto, S.Psi., […]

  • PCM Anggana Resmi Siapkan SMP Muhammadiyah 1, Sambut Tahun Ajaran Baru

    PCM Anggana Resmi Siapkan SMP Muhammadiyah 1, Sambut Tahun Ajaran Baru

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 13
    • 0Komentar

    KUTAI KARTANEGARA – Di tengah semarak pengajian bulanan Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Kutai Kartanegara di Masjid Mujahiddin Anggana, kabar menggembirakan datang dari PCM Anggana. Ketua PCM Anggana, Suhono, S.Pd., mengumumkan bahwa SMP Muhammadiyah 1 Anggana telah resmi memperoleh izin pendirian dan operasional. “Alhamdulillah, izin sudah terbit dan insyaAllah siap menerima murid baru tahun ajaran 2026/2027,” ujarnya […]

  • Iman dan Taqwa Jadi Tema Pengajian Anak Asuh LKSA Baitul Hijrah Surabaya

    Iman dan Taqwa Jadi Tema Pengajian Anak Asuh LKSA Baitul Hijrah Surabaya

    • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 12
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surabaya – Mawarno, SS., ST., S.Sos., M.Pd.I, anggota Divisi Dakwah Marginal Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menjadi pembicara utama dalam kegiatan pengajian, deklarasi anti kekerasan, dan santunan anak yatim yang digelar Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Baitul Hijrah Surabaya, Ahad (31/8). Dalam kajiannya yang bertema “Iman dan Taqwa Suatu Keharusan Bagi Hamba Allah”, […]

  • SMP Muhammadiyah 6 Samarinda Terus Bertumbuh, Siswa Baru Meningkat dan Torehkan Prestasi hingga Tingkat Nasional

    SMP Muhammadiyah 6 Samarinda Terus Bertumbuh, Siswa Baru Meningkat dan Torehkan Prestasi hingga Tingkat Nasional

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Kabarmuh
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Samarinda – SMP Muhammadiyah 6 Samarinda kembali menunjukkan perkembangan yang menggembirakan pada Tahun Ajaran 2026/2027. Sekolah yang berada di Komplek Perguruan Muhammadiyah Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang ini berhasil menerima 168 peserta didik baru, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 145 siswa. Peningkatan tersebut menjadi indikator semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan Muhammadiyah di Kota […]

  • Merajut Kisah yang Terlupakan: Ketika Para Penjaga Sejarah Muhammadiyah Jatim Berkumpul di Surabaya

    Merajut Kisah yang Terlupakan: Ketika Para Penjaga Sejarah Muhammadiyah Jatim Berkumpul di Surabaya

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 16
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID; SURABAYA – Sejarah sering kali hanya mencatat nama-nama besar di panggung utama, sementara mereka yang berjuang di sunyinya pelataran kerap kali luput dari ingatan. Berangkat dari kesadaran mendalam untuk merawat ingatan tersebut, sebuah momentum emosional dan penuh khidmat tersaji di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya pada Sabtu hingga Ahad (4-5/7/2026). Melalui kolaborasi apik antara Majelis […]

expand_less