Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Menyemai Semangat Literasi di Hari Buku Nasional

Menyemai Semangat Literasi di Hari Buku Nasional

  • account_circle Dwi Kurniadi
  • calendar_month Sabtu, 17 Mei 2025
  • visibility 60
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Di tengah era serba digital, Impian Nopitasari, Dosen Tidak Tetap (DTT) Lembaga Bahasa dan Ilmu Pengetahuan Umum (LBIPU) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), terus menyalakan semangat literasi melalui tulisan dan karya. Tak hanya mengajar di kelas, ia juga produktif menulis dan telah menerbitkan lima buku, yakni Kembang Pasren, Si Jlitheng, Payung Biru Jeta, Simbar Menjangan, dan Hidup di Zaman Konten.

Perempuan yang juga dikenal sebagai penulis ini menyampaikan bahwa Hari Buku Nasional menjadi momen penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa literasi masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa. “Sebenarnya banyak orang suka membaca, hanya saja akses terhadap buku masih menjadi kendala. Terlebih di daerah-daerah, ongkos distribusi buku itu mahal sekali,” ujarnya, Sabtu (17/5).

Menurut Impian, rendahnya angka literasi bukan semata-mata karena minat baca yang rendah. Ia menilai data statistik yang menempatkan Indonesia pada posisi bawah sering kali tidak mencerminkan kondisi lapangan secara utuh.

“Kalau pakai ukuran ranking, ya kita pasti kalah. Tapi faktanya, banyak kok yang ingin membaca. Hanya saja buku itu mahal. Orang-orang lebih memilih beli beras daripada buku,” tutur dosen yang memiliki perhatian besar terhadap literasi mahasiswa ini.

Sebagai akademisi, Impian melihat tantangan besar dalam menumbuhkan budaya baca di era digital, khususnya di kalangan generasi muda.

“Mahasiswa sekarang lebih suka nonton video pendek. Untuk menyuruh mereka baca artikel panjang saja susah, apalagi buku. Ini menjadi tantangan besar, apalagi dengan hadirnya teknologi seperti ChatGPT yang kadang disalahgunakan,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa generasi sekarang tumbuh tanpa mengalami masa transisi dari analog ke digital, sehingga paparan informasi instan dan cepat menjadi makanan sehari-hari.

“Zaman saya dan generasi X masih sempat merasakan transisi. Tapi generasi Alpha dan Z sekarang, sejak bayi sudah dicekeli HP. Itu membuat kemampuan analisis mereka tidak terasah karena informasi langsung ditelan mentah-mentah,” kata dia.

Sebagai bentuk kontribusi kecil, ia kini mulai menginisiasi diskusi rutin bersama beberapa mahasiswa yang tertarik membaca. “Mereka sering main ke rumah, dan saya punya banyak buku. Rencana diskusi pertama akan membedah buku saya dulu, untuk menarik minat awal.”

Ia berharap ke depan UMS bisa menjadi kampus yang lebih literatif. “Saya bermimpi UMS punya budaya diskusi rutin. Mahasiswa cinta buku, dan tidak malu untuk membaca. Karena dari membaca, cara berpikir, cara menulis, bahkan cara berbicara mereka akan terbentuk lebih dalam.”

Menurutnya, buku bukan hanya alat untuk memperluas pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter. Cara orang berpikir akan sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka baca. Terlebih buku-buku sastra itu bisa melembutkan hati dan mengasah empati.

Ia mencontohkan bahwa mahasiswa teknik yang terbiasa dengan logika dan perhitungan, jika juga membaca sastra, maka kemampuannya dalam menyampaikan ide akan lebih kuat dan menarik.

“Buku juga membuka wawasan. Kita bisa memahami dunia lain tanpa harus ke sana. Dari sastra Latin, Jepang, India, kita tahu bagaimana sejarah dan budaya mereka. Itu yang membuat pembaca buku sejati biasanya lebih rendah hati karena makin sadar bahwa banyak hal yang belum ia ketahui,” tambahnya.

Impian telah melahirkan lima buku yang masing-masing memiliki cerita dan perjuangannya sendiri. Dalam wawancara terbarunya, Impian mengungkapkan bahwa proses menjadi penulis tidak bisa dilepaskan dari budaya membaca yang ia tekuni sejak usia dini.

“Saya bisa membaca sejak umur tiga tahun, dan sejak kecil sudah terbiasa membaca buku dari perpustakaan SD tempat ayahku mengajar,” ujarnya.
Impian menekankan bahwa kemampuan menulis bukanlah sesuatu yang muncul secara instan, melainkan hasil dari pembiasaan membaca dalam jangka panjang.

Menurutnya, banyak orang ingin menjadi penulis, namun enggan membaca. “Kalau nggak ada yang masuk, ya nggak bisa keluar. Seperti tubuh kita, hanya bisa membuang kalau ada yang dimakan. Sama dengan tulisan,” ucapnya memberi analogi.

Impian juga menyatakan bahwa dirinya bukan produk dari kelas-kelas menulis, melainkan murni hasil dari kegemaran membaca dan berlatih menulis sejak kecil. Ia mulai mempublikasikan karya di media nasional saat masih SMA, tepatnya sekitar tahun 2006–2007.

Tentang buku-bukunya, Impian menyebut bahwa setiap karyanya memiliki karakter dan nilai emosional yang unik. Buku pertamanya, Kembang Pasren, adalah kumpulan cerpen berbahasa Jawa yang pernah dimuat di berbagai media seperti Solopos, Penyebar Semangat, (Jaya Baya), dan Djaka Lodang. Meskipun ia mengakui masih “cupu” dalam pengemasan, buku ini menjadi tonggak awalnya di dunia penulisan. (ada tambahan Jaya Baya dan revisi nama Djaka Lodang).

Namun dari kelima bukunya, Si Jlitheng menjadi yang paling berkesan. Buku dongeng anak berbahasa Jawa ini ia tulis dan kolaborasikan dengan ilustrator ternama Na’imatur Rofiqoh (Nai Rinaket). Terbit pada masa pandemi, buku ini justru mendapat sambutan luas.

“Niatnya cuma untuk hore-hore, tapi ternyata meledak di pasaran. Banyak guru dan orang tua yang beli, bahkan sampai dibedah di berbagai forum dan dibaca oleh KH. Mustofa Bisri (Gus Mus),” kenangnya.

Tak hanya itu, Si Jlitheng sempat mewakili Indonesia dalam pameran ilustrasi internasional di Bratislava, Eropa Timur (Slovakia), dan menjadi buku yang menghubungkan dunia anak-anak dengan budaya lokal Jawa.

Impian menutup pernyataannya dengan satu keyakinan kuat: “Saya percaya, orang yang dari kecil sudah suka membaca, jika dilanjutkan dan dilatih, pasti bisa menulis. Tinggal mau memulai atau tidak,” tegasnya.

Buku-buku Impian tidak hanya menyuarakan kreativitas, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya dan bahasa ibu yang jarang disentuh penulis generasi muda. Kini, meski ia masih aktif di Solo, karya-karyanya telah melanglang buana hingga ke Paris (Leiden) dan Bratislava membuktikan bahwa tulisan yang baik tak mengenal batas geografi. (Fika/Humas)

  • Penulis: Dwi Kurniadi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UMS Lahirkan Doktor Baru, Gagas Media IPAS Hybrid Profetik untuk Asah Daya Kritis Anak SD

    UMS Lahirkan Doktor Baru, Gagas Media IPAS Hybrid Profetik untuk Asah Daya Kritis Anak SD

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 94
    • 0Komentar

    KABARMUH. ID, SURAKARTA – Program Studi Pendidikan Program Doktor, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melahirkan Doktor baru. Promovenda Naumi Fahma, M.Pd., resmi menyandang gelar Doktor setelah dinyatakan lulus dalam Sidang Promosi Doktor dengan disertasi berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran IPAS Hybrid Berbasis Profetik untuk Menumbuhkembangkan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar”. […]

  • Gedung Dakwah Muhammadiyah Umar Hasyim Blimbingrejo Jadi Pusat Kemeriahan Lomba Senam dan Cipta APE se-Kabupaten Jepara

    Gedung Dakwah Muhammadiyah Umar Hasyim Blimbingrejo Jadi Pusat Kemeriahan Lomba Senam dan Cipta APE se-Kabupaten Jepara

    • calendar_month Minggu, 19 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 68
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jepara, (18 Oktober 2025) — Gedung Dakwah Muhammadiyah Umar Hasyim Blimbingrejo menjadi pusat kemeriahan kegiatan Lomba Senam Anak Bustanul Athfal dan Lomba Cipta Alat Permainan Edukatif (APE) yang digelar dalam rangka Milad TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) ke-106 dan Milad IGABA ke-28. Acara yang berlangsung pada Sabtu (18/10/2025) ini diikuti oleh 28 lembaga TK […]

  • Ketua Fraksi PAN DPRD DKI Jakarta Ajak IMM Perkuat Tiga Pilar Utama Gerakan.

    Ketua Fraksi PAN DPRD DKI Jakarta Ajak IMM Perkuat Tiga Pilar Utama Gerakan.

    • calendar_month Minggu, 4 Mei 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 66
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, JAKARTA – Ketua Fraksi PAN DPRD DKI Jakarta, Husen, memberikan pandangannya tentang tantangan yang dihadapi gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) saat ini. Dalam acara Pelatihan Instruktur Madya (PIM) DPD IMM DKI Jakarta pada 1 Mei 2025, Husen mengungkapkan bahwa gerakan IMM harus memperkuat tiga pilar utama, yaitu Gerakan Intelektual, Gerakan Ekonomi, dan Gerakan Politik. […]

  • ICIIP 2025 Jadi Komitmen UMS Kembangkan Psikologi Islam dan Indigenous

    ICIIP 2025 Jadi Komitmen UMS Kembangkan Psikologi Islam dan Indigenous

    • calendar_month Jumat, 10 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 69
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) senantiasa mengembangkan kajian psikologi berbasis nilai Islam dan indigenous. Salah satu strateginya adalah menggelar International Conference of Islamic and Indigenous Psychology (ICIIP) untuk ketiga kalinya tahun ini. Chair ICIIP sekaligus Ketua Pusat Studi Psikologi Islam UMS Fajar Ruddin, S.Psi., M.Sc., M.A., mengatakan konferensi ini kian meneguhkan […]

  • Di Hadapan 6.000 Warga Muhammadiyah Sukoharjo, Mendikdasmen RI Tegaskan Komitmen Penguatan SDM dan Umumkan Bantuan Guru Honorer

    Di Hadapan 6.000 Warga Muhammadiyah Sukoharjo, Mendikdasmen RI Tegaskan Komitmen Penguatan SDM dan Umumkan Bantuan Guru Honorer

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 57
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo sukses menggelar Silaturahmi Akbar di Gedung IPHI Kabupaten Sukoharjo. Acara besar ini dihadiri sekitar 6000 warga Muhammadiyah dari berbagai penjuru Sukoharjo pada sabtu, (3/4) dan diisi dengan tausiyah inspiratif dari Prof. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Dalam ceramahnya, Prof. Abdul Mu’ti menyampaikan pentingnya penguatan nilai-nilai sosial […]

  • Konsep Individuasi Jadi Kunci Kader IMM Sukoharjo Hadapi Era Disrupsi

    Konsep Individuasi Jadi Kunci Kader IMM Sukoharjo Hadapi Era Disrupsi

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 88
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Individuasi merupakan hal penting dalam pembentukan kader yang utuh, bukan sekedar aktif secara organisatoris tanpa makna. Hal ini disampaikan oleh Roviqul Islam Halawa, S.Ag alumni mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam Stadium General Pelantikan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Sukoharjo, bertempat di Auditorium Mohammad Djazman UMS. […]

expand_less