Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Menanti Al-Mahdi: Mengapa Umat Islam Tidak Boleh Menjadi Penonton Zaman?

Menanti Al-Mahdi: Mengapa Umat Islam Tidak Boleh Menjadi Penonton Zaman?

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
  • visibility 129
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Najib Maulana Alfikri

Dengan melihat rentetan berita akhir-akhir ini, banyak dari kita telah menyaksikan teater tragedi yang diputar berulang-ulang. Jet tempur serta rudal selalu ada di langit malam dan warga sipil serta anak-anak tak berdosa menangis di atas puing-puing peradaban mereka sendiri. Di sisi lain, para pemimpin negara berbalut jas rapi sedang menandatangani kesepakatan bernilai miliaran dolar untuk memproduksi lebih banyak senjata. Ketegangan yang terus memanas antara kekuatan besar Amerika Serikat, Israel, dan Iran, bagi banyak orang yang mencoba untuk memahami nya, rentetan konflik yang merupakan representasi nyata dari puncak rasa frustrasi global.

Kita tidak bisa menafikan perkembangan zaman yang selalu berubah. Hari ini, umat manusia berada di titik paling cemerlang. Dalam beberapa tahun terakhir ini, salah satu tokoh telah memproyeksikan dirinya untuk hidup dan mempunyai pabrik di Planet Mars serta kecerdasan buatan yang ingin dibuat menyerupai manusia. Di sisi lain, Institusi-institusi global yang dibangun pasca-Perang Dunia II dengan janji manis tentang hak asasi manusia dan perdamaian dunia—kini tampak seperti macan kertas yang lumpuh dan kehilangan wibawanya di hadapan hegemoni kekuasaan.

Kemajuan dan Keserakahan yang Membakar Dunia

Untuk memahami akar dari kekacauan Timur Tengah dan dunia saat ini, kita harus melihat analisis politik tentang batas negara atau aliansi militer. Apa yang kita saksikan hari ini sebagai bentuk kegagalan dari proyek modernitas yang terlalu mendewakan rasionalitas materialistik. Yang mengira bahwa dengan ilmu pengetahuan dan kapitalisme, mereka akan bisa menciptakan surga di bumi. Meminjam teori dari filsuf Thomas Hobbes yang pernah menggambarkan sisi gelap sifat dasar manusia: Homo homini lupus—manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Ketika kekuasaan dan kekayaan menjadi tujuan akhir, negara-negara yang rela memangsa bangsa lain demi mempertahankan kekuasaan dan mengamankan sumber daya alam.

Timur Tengah selalu menjadi pusaran konflik, karena kita tau bahwa ia adalah jantung geopolitik dunia, tempat di mana energi minyak dan gas besar berada. Perseteruan antara Amerika Serikat, Israel, dan proksi-proksi Iran pada dasarnya digerakkan oleh satu insting tentang keserakahan untuk menguasai.

Ribuan tahun yang lalu, Rasulullah telah memberikan peringatan tentang tabiat destruktif manusia di wilayah tersebut. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW memperingatkan:

“Kiamat tidak akan terjadi sampai Sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia saling berbunuh-bunuhan untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang yang berperang, sembilan puluh sembilan orang akan binasa. Dan setiap orang dari mereka berkata, ‘Mudah-mudahan akulah orang yang selamat’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Gunung emas yang tersingkap dari Sungai Efrat, sungai yang membelah Suriah dan Irak—pusat konflik hari ini bisa dimaknai secara harfiah sebagai kekayaan yang belum ditemukan, namun banyak pemikir kontemporer memaknainya sebagai kiasan untuk minyak bumi atau sumber daya tak ternilai yang memicu ambisi negara-negara adidaya.

Narasi dari hadist tersebut yang mengatakan 99 dari 100 orang akan mati menjadi peringatan. Yang oleh Hannah Arendt, sebagai filsuf politik Jerman dalam teorinya telah memberikan istilah Banalitas Kejahatan—suatu masa di mana hilangnya nyawa manusia direduksi hanya untuk menjadi statistik pelengkap berita, dan kekejaman peperangan dianggap sebagai kewajaran yang rutin.

Dalam logika perang modern, tidak ada lagi pihak yang benar-benar menang. Yang tersisa hanyalah kepastian akan kehancuran massal yang ditanggung bersama. Nabi Muhammad SAW pun secara eksplisit melarang siapa pun yang hidup di zaman itu untuk mengambil emas tersebut. Pesan moralnya, kekayaan yang diperebutkan melalui pertumpahan darah dan penindasan adalah kekayaan yang dikutuk. Bagi umat Islam dan umat manusia yang sadar, peringatan ini menjadi seruan untuk melepaskan diri dari sistem yang dibangun di atas keserakahan, karena ikut campur dalam perebutan yang zalim hanya akan membawa pada kebinasaan.

Menjemput Keadilan Tanpa Menjadi Fatalis

Semakin hari, ketidakadilan terasa semakin telanjang. Hukum internasional tampak tumpul ke kepada negara adidaya dan sekutunya dan tajam ke kepada negara-negara berkembang dan wilayah terjajah. Kondisi ini jelas memunculkan rasa frustrasi, di sisi lain, menumbuhkan kerinduan dan harapan akhir zaman di hati umat manusia. Yang secara naluriah, jiwa manusia merindukan sosok manusia adil, yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai Al-Mahdi, sang pembawa petunjuk, yang akan memimpin di akhir zaman bersama turunnya Nabi Isa AS untuk memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman.

Memang, kita pun sudah lama menyadari bahwa dunia sedang menuju fase-fase akhir perjalanannya sesuai dengan nubuatan Nabi Muhammad SAW tentang sikap fatalis. Banyak dari kita, ketika melihat kehancuran di Gaza, ketegangan nuklir Iran-Israel, dan kemunafikan Amerika, telah merasa bahwa semua ini sudah takdir akhir zaman. Dengan berdalih pada hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah bersabda: “Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian, melainkan zaman setelahnya akan lebih buruk dari sebelumnya, sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian.” (HR. Bukhari).

Jadi, jka zaman pasti akan semakin buruk dan perang besar pasti terjadi, lalu untuk apa kita berusaha? Bukankah lebih baik bersembunyi, beribadah sendiri, dan menunggu kedatangan Imam Mahdi?

Pandangan pasif dan fatalis semacam ini sangat bertentangan dengan ruh Islam dan esensi kemanusiaan itu sendiri. Meminjam teori dari Pemikir Islam, Muhammad Iqbal, dalam filsafat Khudi, menekankan bahwa manusia sebagai rekan kerja Tuhan di bumi. Menanti keadilan universal bukan berarti kita duduk diam dengan tangan terlipat dan membiarkan kezaliman merajalela di depan mata kita. Imam Mahdi yang bermakna yang diberi petunjuk tidak akan memimpin umat yang lumpuh, penakut, dan bodoh. Pemimpin yang adil hanya akan lahir dari rahim masyarakat yang juga memperjuangkan keadilan.

Korelasinya dengan kondisi saat ini adalah, solusi yang harus dilakukan oleh seluruh manusia, terutama kaum muslimin adalah dengan melakukan revolusi dari dalam. Kita harus membangun keadilan mulai dari lingkaran terkecil. Di saat dunia telah dikuasai oleh kebohongan dan narasi media yang menipu, maka perlawanan kita adalah dengan menjadi manusia yang tabayyun dan menolak pada narasi propaganda.

Jika peperangan global dipicu oleh sistem kapitalisme dan ekonomi yang rakus, maka perlawanan kita adalah dengan berhenti menjadi konsumen yang konsumtif, dengan mulai membangun kemandirian pangan, mencintai produk lokal, dan mendukung upaya pemboikotan terhadap institusi yang mendanai perang dan genosida.

Sikap apatis menjadi musuh terbesar kemanusiaan hari ini. Bahkan jika kita tahu besok kiamat akan terjadi, tugas manusia bukan hanya menghitung detik-detik kehancuran, tetapi harus tetap menanam benih kebaikan di tangannya hari ini. Jika melihat kembali penderitaan saudara-saudara kita di wilayah konflik adalah ujian bagi empati global. Menangisi mereka adalah tanda kemanusiaan kita masih hidup, namun bertindak nyata—melalui donasi, tekanan diplomatik, mengedukasi generasi muda tentang sejarah yang benar, dan doa yang tak terputus—adalah tanda bahwa keimanan kita masih bernyala.

Dunia mungkin sedang berada di senjakalanya, terbakar oleh ilusi kemajuan dan nafsu kuasa dari bangsa-bangsa yang lupa diri. Maka, tugas kita adalah untuk terus menjaga kewarasan, memelihara empati, dan merawat cahaya keadilan di hati kita masing-masing, sehingga ketika fajar keadilan yang dijanjikan itu tiba dan kita akan ditemukan dalam barisan orang-orang yang tetap teguh mempertahankan kemanusiaan dan keimanannya.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dosen Hukum UMS Soroti Regulasi Medsos Anak, Literasi Digital Jadi Kunci

    Dosen Hukum UMS Soroti Regulasi Medsos Anak, Literasi Digital Jadi Kunci

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 75
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menerbitkan Kebijakan yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun dinilai sebagai langkah preventif dalam melindungi generasi muda dari risiko ruang digital. Namun Dosen Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wardah Yuspin, S.H., M.Kn., Ph.D., mengingatkan bahwa […]

  • Safari Dakwah Dimulai di UMS, Dr. Zakir Naik Bahas Tantangan Mualaf dan Dakwah Keluarga

    Safari Dakwah Dimulai di UMS, Dr. Zakir Naik Bahas Tantangan Mualaf dan Dakwah Keluarga

    • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 69
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Safari dakwah ulama internasional asal India, Dr. Zakir Abdul Karim Naik, resmi dimulai di Indonesia dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi lokasi pertama. Tepatnya, rangkaian Dr Zakir Naik Tour Indonesia 2025, dimulai pada Selasa (8/7) malam di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS. Hadir dalam safari dakwah tersebut, Rektor UMS, Prof. Dr. Harun […]

  • UMS Hadirkan Presensi Digital 4.0 untuk Pengajian Muhammadiyah, Tata Kelola Dakwah Makin Efektif

    UMS Hadirkan Presensi Digital 4.0 untuk Pengajian Muhammadiyah, Tata Kelola Dakwah Makin Efektif

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 108
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Transformasi digital tidak hanya menyentuh dunia pendidikan dan industri, tetapi juga mulai diterapkan dalam tata kelola organisasi kemasyarakatan. Melihat pentingnya pengelolaan kegiatan dakwah yang lebih efektif dan berbasis data, tim dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan sistem presensi pintar berbasis Cloud untuk mendukung kegiatan Pengajian Ahad Pagi di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) […]

  • Pembukaan Pengajian Ramadan Online Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantah Timur

    Pembukaan Pengajian Ramadan Online Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantah Timur

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2020
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 1.216
    • 0Komentar

    KABARMUH.COM, Samarinda – Pandemi Covid -19 tidak menjadikan  surut semangat mengaji warga Muhammadiyah Kalimantan Timur.  Ramadan sebagai bulan tarbiyah harus terus dimanfaatkan terlebih dalam kondisi ujian menyeluruh saat ini dengan  menggunakan media online atau daring untuk mengganti pengajian tatap muka yang selama ini berlangsung merupakan ihtiyar paling aman dalam melakukan dakwah maupun pembinaan. Bertempat di […]

  • Gempa Flores, Muhammadiyah Gerak Cepat Kirim Tim Medis dan Buka Posko Kemanusiaan

    Gempa Flores, Muhammadiyah Gerak Cepat Kirim Tim Medis dan Buka Posko Kemanusiaan

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 98
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Ende – Respons kemanusiaan mulai diperkuat setelah gempa bumi mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah proses pendataan dampak dan kebutuhan warga, Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) mengaktifkan Pos Koordinasi Wilayah (Poskorwil) di Klinik PKU Muhammadiyah Ende pada Sabtu (15/8/2026). Langkah tersebut menjadi bagian dari respons Muhammadiyah untuk mempercepat asesmen […]

  • Khawatir

    Khawatir

    • calendar_month Sabtu, 30 Des 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 277
    • 0Komentar

    Oleh: Muhammad Syahidul Haqq “Nina… ayo sini itu udh mau difoto” derap langkah kaki mungil terdengar menghampiri panggilan tersebut, “semuanya lihat ke kamera… satu dua tiga…” cekrek. ~ Hai kenalin namaku Adit, aku adalah seorang remaja yang hidup sebagaimana remaja pada umumnya, saat ini aku sedang menempuh pendidikan perkuliahan di salah satu universitas yang ada di […]

expand_less