Ustadz Suwoko: Kemenangan Sejati Adalah Saat Iman Membuahkan Amal
- account_circle Redaksi Kabarmuh
- calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Anggana, Kutai Kartanegara, sukses menyelenggarakan Salat Idul Fitri 1447 H sesuai dengan maklumat pusat, menghadirkan pesan dakwah yang bernas dari Ustadz Dr. H. Suwoko, SE., MM.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Anggana, Kutai Kartanegara, sukses menyelenggarakan Salat Idul Fitri 1447 H sesuai dengan maklumat pusat, menghadirkan pesan dakwah yang bernas dari Ustadz Dr. H. Suwoko, SE., MM.
Menindaklanjuti Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025, PCM Anggana menggelar Salat Idul Fitri di Halaman Perguruan Muhammadiyah, Desa Sidomulyo, pada Jumat (20/3). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh unsur pimpinan cabang hingga ranting, serta warga persyarikatan dan masyarakat umum. Kehadiran Ustadz Dr. H. Suwoko, SE., MM, sebagai khatib memberikan bobot literasi keagamaan yang mendalam bagi jamaah di wilayah Kalimantan Timur ini.
Idul Fitri bukan sekadar perayaan pergantian bulan, melainkan momentum pembuktian kemenangan iman. Hal ini disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Suwoko dalam khutbahnya. Ia menjelaskan bahwa kemenangan sejati memiliki tiga pilar utama: kemenangan iman, kemenangan penyucian diri, dan kemenangan jiwa yang tenang.
”Iman yang benar akan berbuah amal: shalat khusyuk, amanah, menunaikan zakat, dan menjauhi kesia-siaan,” ungkapnya dalam dalam khutbah tersebut. Beliau mengingatkan jamaah agar tidak terjebak pada euforia lahiriah semata. Kemenangan iman harus dibuktikan dengan perubahan perilaku yang lebih mulia dan terjaganya kehormatan diri dari perbuatan maksiat.
Meski Idul Fitri adalah hari kemenangan, tidak semua orang benar-benar meraih keberuntungan. Dalam khutbahnya, Ustadz Dr. H. Suwoko juga menyoroti perilaku yang membuat seseorang merugi. Pertama adalah orang yang tetap melakukan maksiat, dan kedua adalah mereka yang malas beribadah meski telah ditempa di bulan Ramadan.
”Orang yang tidak bisa menjaga lisannya dan orang yang tidak mendapat ampunan ketika Ramadan dan Idul Fitri berlalu begitu saja adalah juga Di tengah kegembiraan Idul Fitri, Ustadz Dr. H. Suwoko memberikan peringatan keras mengenai empat golongan orang yang justru merugi di bulan Ramadan dan Syawal.golongan yang merugi,” jelasnya secara tegas. Peringatan ini ditujukan agar jamaah tidak terlena dengan perayaan Idul Fitri sehingga melupakan esensi pertobatan.
Khutbah tersebut juga mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah). Kemenangan sejati adalah bagi mereka yang keluar dari Ramadan dengan catatan dosa yang terhapuskan. Jika lisan masih tajam menyakiti sesama dan ibadah kembali ditinggalkan setelah Syawal tiba, maka esensi Idul Fitri sebagai hari kesucian hanya akan menjadi seremoni tahunan tanpa makna spiritual yang mendalam bagi pelakunya.
Selain itu, ia mengutip ayat suci Al-Qur’an yang menyatakan bahwa sungguh beruntung orang-orang yang menyucikan diri. Proses penyucian ini telah dilakukan selama satu bulan penuh di madrasah Ramadan. Harapannya, setelah Idul Fitri berlalu, kualitas ibadah dan integritas moral jamaah tetap terjaga, sehingga predikat muttaqin benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.(ay.1)
- Penulis: Redaksi Kabarmuh
Saat ini belum ada komentar