Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Kukuhkan 4 Doktor Baru Ilmu Hukum UMS, Soroti Dominasi Hukum Adat Perkawinan Muslim Tengger

Kukuhkan 4 Doktor Baru Ilmu Hukum UMS, Soroti Dominasi Hukum Adat Perkawinan Muslim Tengger

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 107
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KABARMUH.ID; SURAKARTA – Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mengukuhkan empat doktor baru. Dengan demikian, Program Doktor Ilmu Hukum UMS telah melahirkan 107 doktor.

Dalam sidang terbuka promosi doktornya, Senin (25/5), Fauziyah Putri Meilinda memaparkan disertasi yang berjudul “Hukum dan Mistisisme: Studi Tentang Perlindungan Hukum Bagi Perkawinan Muslim Tengger Berbasis Profetik”. Penelitian tersebut berangkat dari fenomena pluralisme hukum di Indonesia, khususnya pada masyarakat Muslim Tengger yang berada di persimpangan antara hukum negara, hukum Islam, dan hukum adat.

Fauziyah menyampaikan bahwa masyarakat Muslim Tengger memiliki dinamika sebagai kelompok minoritas yang terkonsentrasi di wilayah bawah seperti Sukapura. Mereka memiliki identitas ganda, yakni tetap taat pada tauhid Islam namun juga terikat erat dengan harmoni komunal hukum adat Tengger.

“Akan tetapi, yang menjadi masalah utama yang saya temukan dalam penelitian ini adalah dominasi hukum adat yang sangat kuat, sehingga hukum Islam dan negara sering kali dikesampingkan,” ujarnya.

Secara sosio-kultural, Muslim di masyarakat Tengger menjadi minoritas di tengah mayoritas penganut agama Hindu dan Buddha. Kondisi tersebut dinilai krusial karena tradisi dan ritual di wilayah itu sangat memengaruhi sinkretisme di masyarakat.

Dalam praktik perkawinan masyarakat Muslim Tengger, Fauziyah menemukan adanya kekosongan hukum akibat dominasi hukum adat Walagara.

“Masyarakat muslim Tengger menghadapi kekosongan hukum (legal vacuum) di mana hukum negara dan hukum Islam terpinggirkan oleh dominasi kuat hukum adat Walagara. Akibatnya terjadi diskriminasi, penyelundupan hukum dengan manipulasi identitas agama, dan ketidakadilan struktural,” paparnya.

Dalam praktik perkawinan adat masyarakat Tengger yaitu Walagara, terdapat struktur spiritual adat dengan tiga indikator mistisisme, yakni ritual, alat dan bahan, serta mistisisme itu sendiri. Ketiganya memiliki makna yang berkaitan dengan pandangan kosmosentris antara manusia, Tuhan, dan alam.

Fauziyah juga menyoroti lemahnya perlindungan hukum bagi masyarakat Muslim Tengger. Menurutnya, hukum adat Walagara menjadi satu-satunya legitimasi sosial, sementara hak keagamaan Muslim Tengger belum terlindungi secara spesifik.

Dalam sesi tanya jawab, Prof. Ro’fah Setyowati, S.H., M.H., Ph.D., mempertanyakan mengapa dominasi hukum adat di Tengger masih sangat kuat meskipun wilayah tersebut berada di Pulau Jawa dan memiliki interaksi yang kompleks dengan dunia luar.

Menanggapi hal tersebut, Fauziyah menjelaskan bahwa dominasi hukum adat dipengaruhi keberadaan Lembaga Paruman, yakni perkumpulan dukun adat dari 33 desa di wilayah Tengger sehingga agama dan negara dikesampingkan.

“Jadi di sana, menganggap agama, negara, itu tidak terlalu penting. Jadi di sana itu lebih mendominasi hukum adat karena ada kepercayaan leluhur Sang Hyang Widi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa proses perkawinan secara hukum di wilayah tersebut sangat rumit. Masyarakat yang ingin melangsungkan perkawinan secara Islam harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi atau siri karena kuatnya dominasi adat dan kepercayaan leluhur Sang Hyang Widi.

Dalam disertasinya, Fauziyah menawarkan konsep guided protection berbasis profetik. Konsep tersebut bertujuan mengharmonisasikan struktur, substansi, dan budaya hukum agar hukum tidak menjadi sekadar teks, melainkan perlindungan preventif berbasis bimbingan sosial dan orientasi transendental.

Konsep tersebut memiliki tiga pilar utama, yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi. Melalui humanisasi, negara diharapkan hadir aktif melindungi hak keagamaan dan perkawinan minoritas Muslim Tengger. Sementara liberasi diarahkan untuk membebaskan masyarakat dari ketidakadilan struktural akibat dominasi adat, dan transendensi menekankan pentingnya kejujuran identitas serta tanggung jawab kepada Tuhan.

Fauziyah juga menawarkan rekonstruksi hukum nasional, di antaranya melalui perubahan formulasi Pasal 2 Ayat 1 UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 bahwa agar perkawinan dijalankan secara sadar, jujur, dan beritikad baik. Selain itu, ia mengusulkan perubahan pada UU Administrasi Kependudukan agar perubahan data agama pada dokumen resmi didasarkan pada kebebasan hati nurani dan kejujuran identitas.

Dalam sesi sidang, Ketua Sidang Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., sempat menanyakan langkah yang akan dilakukan Fauziyah apabila menjadi Presiden atau Menteri Hukum dan HAM ataupun Menteri Agama untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Menjawab pertanyaan itu, Fauziyah menekankan pentingnya pendekatan dialog kultural dengan masyarakat Muslim, masyarakat Hindu, Lembaga Paruman, dan para kepala desa di wilayah Tengger.

Menurutnya, melalui dialog kultural tersebut dapat dibentuk SOP serta Peraturan Desa yang mengatur hukum adat secara lebih jelas dan tidak bertentangan dengan hak-hak masyarakat.

Pada kesempatan itu promotor sidang terbuka, Prof. Dr. Absori, S.H., M.Hum., turut menyampaikan apresiasi atas capaian Fauziyah dan para doktor lain yang dikukuhkan. Beberapa doktor lain yang dikukuhkan adalah Syaiful Munandar, Lola Yustrisia, dan Riki Zulfiko yang telah dinyatakan lulus melalui publikasi jurnal internasional bereputasi.

Ia mengapresiasi kepada para mahasiswanya yang berhasil menyelesaikan studi doktor tepat waktu disertai berbagai prestasi akademik.

“Juga disertai dengan prestasi-prestasi yang membanggakan, yaitu memperoleh hibah penulisan doktor dan juga publikasi ke jurnal internasional bereputasi. Ini satu langkah yang luar biasa karena barangkali salah satu keunggulan dari program doktor Universitas Muhammadiyah Surakarta ini adalah kemampuan mahasiswa untuk digembleng dalam rangka publikasi jurnal internasional bereputasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil proses panjang melalui pembelajaran academic writing, klinik penulisan artikel, hingga pendampingan disertasi sehingga mahasiswa mampu menyelesaikan studi tepat waktu.

Kontributor: Maysali/Humas

Editor: Nurul Fahri

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sambut ASKUI PTMA 2025, UMS Tampilkan Semangat Internasionalisasi melalui Mahasiswa Asing

    Sambut ASKUI PTMA 2025, UMS Tampilkan Semangat Internasionalisasi melalui Mahasiswa Asing

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 86
    • 0Komentar

    KABARMUH.D, SURAKARTA – Suasana hangat dan penuh semangat budaya mewarnai pembukaan Annual Meeting Asosiasi Kantor Urusan Internasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (ASKUI PTMA) 2025 yang digelar di Hotel Alana, Senin–Rabu (20–22/10). Acara yang mempertemukan perwakilan PTMA se-Indonesia ini dibuka dengan penampilan memukau Tari Kipas oleh mahasiswa asing Program Magister Teknik Kimia dan Magister Bahasa […]

  • Simposium Keilmuan BEM FAI dan Geografi UMS, Bahas Tuntas Perubahan Iklim

    Simposium Keilmuan BEM FAI dan Geografi UMS, Bahas Tuntas Perubahan Iklim

    • calendar_month Senin, 18 Mar 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 249
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Pengaruh iklim telah menjadi isu global yang mendesak, membutuhkan tindakan kolektif untuk mengatasinya. Untuk menggali lebih dalam pemahaman akan implikasi yang dihadapi, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bekerjasama dengan BEM Fakultas Agama Islam (FAI) UMS mengadakan acara pemaparan yang berjudul “Bahas Tuntas Isu Pengaruh Iklim dan Membangun […]

  • Mahasiswa PG PAUD UMS Hadirkan Ruang Tumbuh Anak di Educare Muktamar ke-15 Nasyiatul ‘Aisyiyah

    Mahasiswa PG PAUD UMS Hadirkan Ruang Tumbuh Anak di Educare Muktamar ke-15 Nasyiatul ‘Aisyiyah

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 112
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Prodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id turut andil dalam menyukseskan agenda nasional Muktamar ke-15 Nasyiatul ‘Aisyiyah. Prodi PG-PAUD UMS melihat, di balik kesibukan ribuan kader Nasyiatul ‘Aisyiyah yang berkumpul di Solo, 6–8 Agustus 2026, ada kebutuhan yang tak kalah […]

  • Menelaah Isi Buku “Pendidikan Kaum Tertindas”  dan Mengambil Hikmahnya

    Menelaah Isi Buku “Pendidikan Kaum Tertindas” dan Mengambil Hikmahnya

    • calendar_month Kamis, 7 Apr 2022
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 1.343
    • 0Komentar

     Oleh : Nur Kemal Pasya Mustafa (202110230311032) Buku Pendidikan Kaum Tertindas sangat direkomendasikan untuk dibaca. Buku ini ditulis oleh seorang yang bernama Paulo Freire. Membicarakan tentang pendidikan kaum tertindas, dimulai pada bagian pendahuluan aspek kesadaran terhadap ketidakadilan yang dibahas dalam diskusi, apakah kesadaran manusia terhadap ketidakadilan akan berdampak baik atau justru malah mengarah kepada “fanatisme […]

  • Sedesa Farm Antarkan Anggota MPM PDM Lamongan Raih Svarna Bhumi Award 2025

    Sedesa Farm Antarkan Anggota MPM PDM Lamongan Raih Svarna Bhumi Award 2025

    • calendar_month Sabtu, 6 Sep 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 128
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Lamongan — Kurniawan Adi Prastyo, pemuda asal Lamongan, berhasil meraih penghargaan bergengsi Svarna Bhumi Award 2025 sebagai Pahlawan Pangan berkat dedikasinya dalam pelestarian benih lokal melalui konsep pertanian terpadu di Sedesa Farm, Lamongan. Selain aktif mengembangkan pertanian berkelanjutan, Kurniawan juga dikenal sebagai anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan dan Ketua […]

  • BIKERSMU CHAPTER KABUPATEN BANDUNG Touring Sosial ke Tasikmalaya Ponpes Amanah

    BIKERSMU CHAPTER KABUPATEN BANDUNG Touring Sosial ke Tasikmalaya Ponpes Amanah

    • calendar_month Selasa, 30 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 48
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, BANDUNG – Touring dari Ciparay, Kab. Bandung ke Pesantren Amanah, Kota Tasikmalaya Ahad 28 September 2025 : Persiapan Touring 1. Pengecekan Kendaraan: Sebelum berangkat, pastikan kendaraan dalam kondisi baik, termasuk oli, ban, dan rem. 2. Rute dan Waktu: Tentukan rute yang akan diambil dan perkirakan waktu tempuh. Dari Ciparay ke Tasikmalaya, perjalanan memakan waktu sekitar 2-3 […]

expand_less