BeritaJatim

Meneladani Nyai Walidah, Ribuan Kader ‘Aisyiyah Lamongan Diajak Menyebar Kasih Sayang Lewat Aksi Nyata

KABARMUH.ID, LAMONGAN – Suasana Dome Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) mendadak teduh sekaligus membakar semangat pada Ahad (26/7/2026). Ribuan perempuan berkebaya dan berkerudung rapi—mulai dari tingkatan Daerah hingga Ranting se-Kabupaten Lamongan—berkumpul dalam satu ikatan silaturahmi. Mereka hadir untuk memperingati Milad ‘Aisyiyah ke-109, sebuah perjalanan panjang organisasi perempuan yang tak pernah lelah merawat peradaban.

Acara yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh jajaran tokoh penting, di antaranya Ketua PDM Lamongan Dr. H. Shodikin, M.Pd, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Anggota DPR RI Ahmad Labib, S.HI, MH, serta Bupati Lamongan Dr. H. Yuhronur Efendi, M.B.A, M.Ek.

Namun, momen yang paling menyentuh dada terjadi saat Majelis Tabligh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Prof. Dr. Mufdhillah, S.ST, M.Sc, melangkah menuju podium. Sebagai figur penceramah yang juga putri asli daerah Lamongan, Mufdhillah membawa pesan yang begitu dekat dengan keseharian ibu-ibu ‘Aisyiyah.

Pendidikan Anak: Pondasi Utama Melahirkan Generasi Bermartabat

Mengawali tausiyahnya, Prof. Mufdhillah mengajak seluruh kader ‘Aisyiyah untuk kembali memeluk erat peran vital mereka di rumah: pendidikan anak-anak.

“Pendidikan adalah pilar paling utama untuk mewujudkan peradaban yang bermartabat. Jangan pernah lelah menyekolahkan anak-anak kita, menuntun mereka menjadi generasi penerus yang jauh lebih baik dari kita hari ini,” ajaknya penuh kehangatan.

Bagi ‘Aisyiyah, mendidik anak bukan sekadar kewajiban akademis, melainkan bentuk investasi akhirat dan wujud pengabdian mendalam bagi masa depan bangsa.

Menghadapi Tantangan Sosial dengan Keteladanan Nyai Walidah

Di tengah syiar kemeriahan milad, Prof. Mufdhillah juga menuturkan kegelisahan sosial yang masih membelenggu masyarakat. Mulai dari maraknya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), ancaman kekerasan pada anak, jeratan kemiskinan, hingga ketimpangan sosial yang membuat luka di tengah-tengah warga.

Guna menanggulangi persoalan tersebut, ia mengingatkan kembali jejak perjuangan sang pelopor, Nyai Walidah.

“Siti Walidah telah membuktikan bahwa berdakwah Islam tidak cukup hanya lewat mimbar atau tutur kata. Dakwah beliau merambah langsung ke ranah kehidupan—melalui sekolah, rumah sakit, santunan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi,” tegasnya.

Maka, sudah selayaknya kader ‘Aisyiyah di setiap tingkatan terus memupuk semangat juang. Eksistensi organisasi ini harus bisa dirasakan manfaatnya secara nyata dari ranting hingga pusat, menjadi suri teladan di mana pun berada.

Menerapkan Dakwah Bil Hikmah, Menjadi Rahmatan lil ‘Alamin

Tantangan zaman yang makin kompleks menuntut kader ‘Aisyiyah Lamongan untuk makin matang dalam merespons keadaan. Di sinilah pentingnya menyalakan spirit dakwah bil hikmah—yakni pendekatan dakwah yang bijaksana, santun, rasional, dan responsif terhadap kebutuhan riil warga.

Dakwah tak lagi sekadar seruan lisan, melainkan aksi nyata yang merangkul dan memanusiakan. Melalui keteladanan (uswah hasanah) dan kepedulian yang mendalam, ibu-ibu ‘Aisyiyah diajak menyentuh akar rumput untuk memberikan solusi konkret atas persoalan keluarga dan lingkungan sosial.

Dengan konsistensi dakwah bil hikmah tersebut, ‘Aisyiyah di Kabupaten Lamongan memosisikan diri sebagai pilar peradaban yang memancarkan Islam rahmatan lil ‘alamin—agama yang membawa kedamaian, keberkahan, dan kasih sayang universal bagi siapa saja tanpa membeda-bedakan.

Melalui keluarga yang penuh kehangatan, perlindungan bagi yang lemah, dan uluran tangan bagi yang membutuhkan, kader ‘Aisyiyah terus hadir sebagai penyejuk dan penggerak kemajuan bangsa.

Penulis: Ma’in

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button