Seminar Nasional IQT Fair XII 2026 Ajak Generasi Muda Belajar dari Sejarah dan Al-Qur’an
- account_circle Choiril Amirah Farida
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURAKARTA – Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber pelajaran untuk membentuk generasi yang berpikir kritis, menjunjung keadilan, dan memahami akar perpecahan. Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional dan Kajian Akbar yang menjadi puncak IQT Fair XII 2026 di Gedung Graha 58 Serbaguna Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (26/9/2026).
Mengangkat tema “Membaca Sejarah, Membentuk Generasi Berakal: Kuasa, Keadilan, dan Akar Perpecahan”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami sejarah sekaligus mengambil pelajaran dari perjalanan umat terdahulu. IQT Fair XII 2026 merupakan ajang kompetisi Al-Qur’an dan keislaman tingkat nasional yang diikuti pelajar SMA/SMK/MA, santri pondok pesantren, mahasiswa, serta masyarakat umum berusia 15-24 tahun.
Kompetisi tersebut menghadirkan empat cabang perlombaan, yakni Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), Musabaqah Tilawah Qur’an (MTQ), Pidato Bahasa Indonesia, dan Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (MKTIQ). Perlombaan dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Ahad (20/9/2026), dilanjutkan babak final pada Sabtu (26/9/2026). Rangkaian kemudian berlanjut dengan seminar nasional, kajian akbar, serta pengumuman dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang.
Ketua Panitia IQT Fair XII 2026, Muhammad Hidayat Yunus, berharap kegiatan tersebut mampu mendorong mahasiswa dan masyarakat untuk membaca sejarah secara objektif. Menurutnya, pemahaman sejarah perlu diarahkan menjadi bekal dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
“Sejarah tidak hanya menjadi pengetahuan tentang masa lalu, tetapi juga harus menjadi bekal dalam membentuk generasi berakal yang mampu menegakkan keadilan serta mengatasi berbagai bentuk perpecahan di tengah masyarakat,” ujarnya, Selasa (29/9/2026).
Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) UMS, Dr. Kharis Nugroho, Lc., M.Ud., dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya membentuk generasi berakal atau ulul albab sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Ia mengawali sambutannya dengan membacakan Surah Ali Imran ayat 190-191 yang menjelaskan karakter orang-orang berakal, yakni senantiasa mengingat Allah dan merenungkan penciptaan langit dan bumi. Menurutnya, generasi berakal tidak hanya menggunakan akal untuk berpikir, tetapi juga menghubungkan pemikiran dengan kesadaran spiritual.
Lebih lanjut, Kharis mengutip pesan gurunya, K.H. Hasan Abdullah Sahal. “Kita jangan hanya membaca sejarah, tetapi juga harus bisa menciptakan sejarah,” kutipnya.
Pesan tersebut dikaitkan dengan kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang mengandung pelajaran bagi kehidupan manusia, termasuk perjalanan umat terdahulu dan peradaban Islam hingga mencapai kejayaannya.
Seminar nasional dan kajian akbar menghadirkan dua narasumber, yakni Ustadz Doni Riw, seorang seniman dan budayawan, serta Ustadz Tholhah, pengajar Qiraat Asyrah. Dalam pemaparannya, Doni Riw mengibaratkan sejarah seperti sebuah foto yang merekam peristiwa untuk dilihat kembali pada waktu berbeda.
Ia menambahkan, sejarah akan memiliki makna lebih mendalam ketika seseorang menyadari keterlibatan dirinya dalam rangkaian peristiwa masa lalu. “Sejarah itu sama halnya dengan foto, keduanya sama-sama merekam suatu peristiwa yang dapat dilihat kembali pada waktu yang berbeda. Jika foto mengabadikan peristiwa dalam bentuk gambar, sejarah merekam kejadian masa lalu yang dapat dipelajari oleh generasi berikutnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Ustadz Tholhah menyoroti pentingnya menuntut ilmu sebagai ibadah sepanjang hayat. Ia menjelaskan bahwa proses belajar dimulai sejak seseorang memasuki fase tamyiz, yakni ketika mulai mampu membedakan hal yang baik dan buruk, hingga akhir hayat.
“Menuntut ilmu itu merupakan salah satu ibadah terpanjang dalam kehidupan manusia, yang dimulai sejak seseorang memasuki fase tamyiz, yakni ketika mulai mampu membedakan hal yang baik dan buruk, hingga akhir hayat,” ujarnya.
Proses belajar, menurutnya, tidak terbatas pada pendidikan formal, tetapi dapat berlangsung dalam berbagai aspek kehidupan dan perlu dijaga secara istiqamah.
Rangkaian IQT Fair XII 2026 ditutup dengan pengumuman dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan pencapaian peserta. Melalui kompetisi dan kajian tersebut, IQT Fair XII 2026 diharapkan menjadi wadah pengembangan potensi generasi muda sekaligus mendorong lahirnya generasi berkarakter Qur’ani, berwawasan luas, serta mampu mengambil pelajaran dari sejarah dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan. (Unais/Didin)
- Penulis: Choiril Amirah Farida
Saat ini belum ada komentar