Arifin Suparman: Muballigh Muhammadiyah Harus Berkarakter, Beretika, dan Beridentitas
“Mubaligh Muhammadiyah bukan sekadar penceramah. Ia adalah teladan hidup yang membawa nilai Islam berkemajuan di setiap langkah,” ujar Ustadz Arifin Suparman dalam acara Temu Muballigh dan Penggiat Pengajian Muhammadiyah di Babulu, Ahad (26/10).

Babulu, PPU – Suasana aula SMK Muhammadiyah Babulu, Ahad (26/10/2025), terasa hidup ketika Ketua Majelis Tabligh PWM Kalimantan Timur, Ustadz Arifin Suparman, yang akrab disapa Babe Arifin, memaparkan materi bertajuk “Profil dan Bekal Mubaligh Muhammadiyah.” Dalam paparannya, ia menekankan bahwa muballigh Muhammadiyah bukan sekadar penyampai dakwah, tetapi representasi dari wajah Islam berkemajuan.
“Mubaligh itu bukan hanya bisa berbicara, tapi juga harus menjadi contoh hidup bagi jamaahnya,” tegas Arifin. Ia menambahkan bahwa setiap muballigh harus berpegang teguh pada manhaj Muhammadiyah, yakni berdakwah secara rasional, moderat (wasathiyah), dan berlandaskan Al-Qur’an serta As-Sunnah. “Kalau bukan dengan cara Muhammadiyah, maka itu bukan dakwah Muhammadiyah,” ujarnya disambut tawa ringan para peserta.
Dalam paparannya, Arifin menggambarkan profil ideal muballigh Muhammadiyah yang meliputi 11 ciri utama, mulai dari memahami gerakan Muhammadiyah, ikut mempromosikan amal usaha (AUM), aktif di pengajian dan kegiatan organisasi, hingga memiliki identitas dan rasa bangga terhadap Muhammadiyah. “Minimal hafal lagu Sang Surya dan punya batik Muhammadiyah,” ujarnya dengan gaya khasnya yang komunikatif, memancing gelak tawa peserta.
Namun, di balik suasana santai itu tersimpan pesan serius: muballigh harus beridentitas dan berloyalitas. “Kalau kita mengaku muballigh Muhammadiyah, maka kita harus memperkuat hubungan emosional dan organisatoris dengan persyarikatan,” katanya. Ia juga mengingatkan agar para muballigh tidak mudah mengkritik tokoh-tokoh Muhammadiyah di ruang publik. “Kalau tokoh kita ada kekurangan, doakan, bukan dihujat. Jangan justru membuat gaduh,” pesannya menohok.
Dalam sesi Bekal Mubaligh Muhammadiyah saat Mengisi Pengajian, Arifin menyoroti pentingnya keseimbangan antara isi, sikap, dan penampilan. Ia mengingatkan bahwa muballigh harus mempersiapkan materi dengan baik, berbicara dengan sopan dan sederhana, serta menghindari hal-hal yang menyinggung jamaah. “Kalau kita ngisi pengajian, jangan pakai gaya ceramah yang berlebihan. Sederhana itu elegan,” ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya keikhlasan dan tujuan dakwah yang benar. “Ilmu itu harus lil amal, bukan lil ilmu. Jangan sekadar tahu, tapi harus diamalkan,” katanya. Arifin mencontohkan, dalam menyampaikan ceramah, boleh diselingi humor, tapi tidak boleh berdusta. “Kata Rasulullah, celaka orang yang berdusta hanya untuk membuat orang tertawa,” ungkapnya mengutip hadits.
Selain itu, ia mengingatkan agar muballigh menjaga stabilitas emosi dan fokus. “Minimal tahan 30 menit pertama, jangan emosi kalau jamaah kurang responsif,” ujarnya dengan nada gurau. Ia juga mengingatkan pentingnya kemampuan membaca Al-Qur’an dan tajwid yang benar. “Mubaligh Muhammadiyah harus bisa baca ayat dengan tartil, karena itu kredibilitas dakwah kita.”
Arifin mengibaratkan muballigh sebagai “manajer spiritual” yang bertugas mengelola hati umat. Karena itu, kemampuan berbicara di depan umum (public speaking), penguasaan audiens, dan pengelolaan waktu sangat penting. “Kalau kita diberi waktu 30 menit, ya gunakan 25 menit untuk isi dan 5 menit untuk penutup, jangan sampai jamaah menunggu waktu shalat karena kita belum selesai,” ujarnya.
Ia juga mendorong penggunaan alat bantu visual atau peraga dalam dakwah, agar jamaah lebih mudah memahami pesan. “Kita hidup di era visual, muballigh juga harus melek teknologi,” katanya.
Materi yang disampaikan Babe Arifin menegaskan kembali pentingnya pembinaan muballigh dan penggiat pengajian dalam tubuh Muhammadiyah. Moderator kegiatan, Ust. Agus Suarto Edy, menyebut bahwa sesi tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan dari acara. “Babe Arifin mengingatkan kita bahwa tabligh bukan sekadar ceramah, tapi membentuk karakter umat dan jamaah,” ujarnya.
Dengan gaya khasnya yang lugas dan humoris, Ust. Arifin berhasil menghidupkan semangat peserta. Ia menutup materinya dengan pesan sederhana namun bermakna:
“Jadilah muballigh yang mencerahkan, bukan yang membingungkan. Jadilah muballigh yang membawa manfaat, bukan sekadar popularitas.”(ay.1)



