Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Penerapan Sistem Pendidikan Paulo Freire

Penerapan Sistem Pendidikan Paulo Freire

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Selasa, 5 Apr 2022
  • visibility 1.004
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Bunga Chantia Paradisa (202110230311024)

Paulo Freire merupakan salah satu tokoh pendidikan yang berasal dari Brazil. Paulo Freire terkenal dengan seseorang yang mampu mengubah atau mengembalikan manusia sebagai makhluk yang bebas. Pemikiran pendidikan yang Paulo Freire tawarkan yaitu sebuah model pendidikan yang dinilai dapat mempersiapkan siswa yang kreatif seperti yang termuat dalam tujuan. Paulo berpendapat bahwa sistem pendidikan itu merupakan sebuah dominan  sebagai senjata untuk mempertahankan kekuasaan yang mereka punya. Murid pun pun diperlakukan sebagai celengan yang akan diisi dengan tabungan Paulo Freire adalah tokoh pendidikan yang  berasal dari Brazil. Ia juga merupakan teoretikus yang sangat berpengaruh di dunia.

Pendidikan menurut Paulo Freire harus bersama-sama bertujuan untuk membebaskan manusia dari rasa takut dan tertekan akibat dari penindasan. Konsep yang ditawarkan Paulo ini mampu menjadi solusi dalam pendidikan yang terjadi pada saat itu dan masa yang akan mendatang. Pendidikan kaum tertindas diciptakan bersama dengan dan bukan untuk kaum tertindas. Pendidikan kaum tertindas harus melawan penindasan dimana dunia dan manusia berada dalam penindasan.

Untuk mengatasainya, Paulo menawarkan konsep pendidikan hadap-masalah sebagai solusi dari penindasan ini. Dalam komunikasi menjadi aspek yang paling penting dalam konsep pendidikan ini untuk dapat memastikan adanya pemahaman, tak sekadar pemindahan informasi.

Berdasarkan buku yang telah saya baca degan judul “Kaum yang Tertindas” karya Paulo Freire, saya dapat menangkap penyampaian dan penemuan dari Paulo. Di dunia pendidikan, Paulo melihat orang-orang kuat yang selalu merendahkan masyarakat lemah melalui cara-cara yang halus. Menurutnya, konsep pendidikan kaum tertindas merupakan sistem pendidikan yang dibangun kembali bersama dengan kaum tertindas. Dan sistem tersebut tidak diperuntukkan oleh kaum tertindas. Sistem pendidikan ini dibangun untuk tujuan pembebasan bukan untuk penguasaan. Pendidikan yang terjadi pada saat itu bisa dikatakan seperti pendidikan model bank, karena seorang guru yang dapat diibaratkan sebagai depositor, dan murid diibaratkan sebagai deposito.

Kenapa bisa dikatakan demikian? karena pada saat itu sistem pembelajaran hanya sekedar guru menberikan atau mentransfer pengetahuan yang mereka punya kepada murid-muridnya, dan murid tersebut seperti sudah ditugaskan hanya untuk menerima penyampaian yang diberikan oleh guru tersebut. Sehingga murid kesulitan atau bahkan tidak dapat mengutarakan pendapat yang mereka punya.

Contoh sistem pembelajaran:

  1. Guru mengajar, murid belajar.
  2. Guru bicara, murid mendengarkan.
  3. Guru mengatur, murid diatur.
  4. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa.
  5. Guru berpikir, murid dipikirkan.

Serangkaian karakteristik tersebut menunjukkan bahwa guru dapat diposisikan sebagai subjek, sedangkan murid merupakan objek.  Dimana depositor adalah para guru, sementara deposito berupa ilmu yang diajarkan kepada murid. Murid pun lantas diperlakukan sebagai celengan kosong yang akan diisi dengan tabungan atau penanaman. Yang mana pada kelak nanti akan dipetik hasilnya. Akibatnya murid hanya mencatat. Itu akan merusak daya didik seorang murid itu sendiri. Malas berfikir dan tidak tumbuhnya imajinasi dan pengetahuannya. Sistem pendidikan yang diberikan pada murid harus berhubungan dengan kehidupan murid tersebut. Selain itu, sistem tersebut juga harus dapat mengoptimalkan potensi dan kreativitas murid. Dikarenakan setiap murid memiliki kompetensi atau kemampuan yang berbeda-beda.

Para murid seharusnya diberikan materi yang sesuai dengan apa yang dimiliki oleh murid itu sendiri. Sistem tersebut tidak disarankan untuk mengukur dan menetapkan keberhasilan murid dalam satu bidang saja. Paulo Freire juga menawarkan sistem pendidikan yang dikenal dengan Pendidikan Dialogis Humanis. Yang mana ada interaksi antara pendidik dan peserta didik. Pada sistem ini Paulo berharap tidak ada lagi keadaan dimana hanya satu orang yang aktif mentransfer pengetahuan, sedangkan yang lain hanya diam, mendengarkan, dan menerima.

Penerapan teori humanis tentu saja memiliki beberapa kelebihan. Contohnya teori ini bagus dalam pembelajaran pembentuk karekter murid. Kemudian memberi dampak positif perkembangan kepribadian murid. Teori ini mementingkan aspek memanusiakan manusia, dan memberikan kesempatan murid untuk bergerak bebas. Dapat disimpulkan bahwa teori humanis harus diimbangi pengembangan intelektual seorang murid. Sehingga akan tercipta keseimbangan antara tersebut. Maka, emosi diri siswa akan terkontrol dengan baik.

Kemudian Paulo menerapkan konsep Pendidikan Hadap Masalah. Sistem ini akar dari masalah dalam realitas kehidupan yang dialami oleh murid. Masalah tersebut dikaji dalam pembelajaran  yang di telaah kritis melalui interaksi dialogis antara guru dan murid. Yang mana pada pembelajaran ini akan didapatkan sebuah solusi dari setiap masalah yang dihadapi. Pendidikan hadap masalah ini digunakan sebagai ilmu yang mendasari konsep pendidikan gaya bank yang berorentasi pada pembebasan manusia. Sistem pendidikan ini juga terjadi di pendidikan Indonesia. Murid hanya disuguhi beberapa materi tanpa menjelaskannya.

Dalam “Pendidikan Hadap Masalah” guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru. Guru menjadi rekan murid yang melibatkan diri dan menciptakan daya pemikiran kritis para murid. Dengan demikian antara guru dan murid dapat mengembangkan kemampuan untuk mengerti secara kritis ditempat mereka berada. Mereka seharusnya melihat bahwa dunia merupakan suatu proses dalam dan dengan kenyataan yang belum selesai. Pada sistem “Pendidikan hadap masalah” senantiasa menantang manusia dan kemudian menuntut jawaban terhadap tantangan itu.

Menurut saya sistem yang ditawarkan Paulo sangat efektif. Selain dapat menciptakan kerja sama dan daya belajar yang sangat baik dalam berdiskusi, sistem tersebut dapat menciptakan manusia yang penuh imajinasi dan pola pikir yang teratur. Dengan tidak ditemukannya system tersebut, entah bagaimana jalan kerja pendidikan yang terdapat di dunia ini. Di masa depan tidak ada manusia cerdas yang tumbuh dengan baik atas pendidikan yang mereka dapat sejak awal. Seperti pada nyatanya murid di jaman kita ini diajar secara halus tidak mudah mengerti, dengan cara tegas tidak pula dimengerti.

Pada akhirnya, Paulo Freire mencoba membandingkan antara model pendidikan antidialogis yang selalu ditandai dengan usaha yang selalu  menguasai manusia, sedangkan model pendidikan dialogis bersifat sangat  kooperatif. Dalam “Pendidikan Kaum Tertindas” disebutkan bahwa, teori-teori antidialogis dikenal istilah yang  seperti meguasai, manipulasi. Sedangkan tindakan dialogis dikenal istilah seperti kerja sama dan persatuan.

Dalam buku ”Pendidikan Kaum Tertindas” dapat disimpulkan bahwa pemikiran Paulo mengenai pendidikan yang terjadi menurutnya  pendidikan yang menindas, dimana seorang guru dalam hal ini selalu bertindak yang sangat dengan layaknya sebagai seorang penindas. Para murid secara sadar telah menjadikan dirinya sebagai orang yang sangat tertindas. Semua itu tidak lepas dari lingkaran yang pada awalnya didasari dengan situasi yang sulit. Hingga membangun untuk menjadi lebih baik pun terasa sulit. . Situasi ini dapat dihilangkan dengan pemberian pemahaman baru kepada kedua pihak baik penindas maupun tertindas.

Sumber :

Freire Paulo. (2006). Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: LP3ES.

Paulo Freire “PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS” KEBEBASAN DALAM BERPIKIR Oleh: Muhammad Husni

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PK IMM FAI UM Metro Gelar Pelatihan Jurnalistik: Transformasi Pemikiran Melalui Jurnalistik Digital

    PK IMM FAI UM Metro Gelar Pelatihan Jurnalistik: Transformasi Pemikiran Melalui Jurnalistik Digital

    • calendar_month Sabtu, 13 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 6
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, LAMPUNG – Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Metro kembali mengadakan kegiatan pengembangan intelektual melalui Pelatihan Jurnalistik bertema “Transformasi Pemikiran Melalui Jurnalistik Digital”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) pada Jum’at, 12 Desember 2025 di Masjid Baitul Hikmah, Kampus 3 UM Metro, […]

  • IMM FISIP Unismuh Makassar Bagikan Masker Dan Penyanitasi Tangan Gratis Bagi Pengendara

    IMM FISIP Unismuh Makassar Bagikan Masker Dan Penyanitasi Tangan Gratis Bagi Pengendara

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2020
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 786
    • 0Komentar

    Pimpinan Komisariat (Pikom) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh)  Makassar turun ke jalan melakukan aksi IMM Social Care, Selasa(21/04/2020). Aksi sosial dengan membagikan masker dan penyanitasi tangan (hand sanitizer) gratis itu berpusat di perbatasan Makassar – Gowa. Hal tersebut dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, sesuai anjuran […]

  • Pencerdasan di Bulan Ramadhan, IMM Shabran UMS Gelar Kantin Bu Hajjah

    Pencerdasan di Bulan Ramadhan, IMM Shabran UMS Gelar Kantin Bu Hajjah

    • calendar_month Selasa, 12 Mar 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 121
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Sukoharjo – Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan, Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS menyelenggarakan kegiatan Kajian Rutin dua bulanan Pondok Hajjah Nuriyah Shabran (Kantin Bu Hajjah). Kegiatan tersebut diadakan pada hari Selasa sore, 12 Maret 2024, bertepatan di Masjid Ma’had Abu Bakar UMS. Acara yang dilaksanakan dalam […]

  • Iman dan Taqwa Jadi Tema Pengajian Anak Asuh LKSA Baitul Hijrah Surabaya

    Iman dan Taqwa Jadi Tema Pengajian Anak Asuh LKSA Baitul Hijrah Surabaya

    • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 8
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surabaya – Mawarno, SS., ST., S.Sos., M.Pd.I, anggota Divisi Dakwah Marginal Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menjadi pembicara utama dalam kegiatan pengajian, deklarasi anti kekerasan, dan santunan anak yatim yang digelar Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Baitul Hijrah Surabaya, Ahad (31/8). Dalam kajiannya yang bertema “Iman dan Taqwa Suatu Keharusan Bagi Hamba Allah”, […]

  • Kajian Tafsir UMS Bahas Surat Al-Baqarah Ayat 82-86, Refleksi Umat Muslim Melalui Sejarah Bani Israil

    Kajian Tafsir UMS Bahas Surat Al-Baqarah Ayat 82-86, Refleksi Umat Muslim Melalui Sejarah Bani Israil

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 7
    • 0Komentar

    KABARMUH. ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menghadirkan Kajian Tafsir Online yang disampaikan oleh Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., dengan pembahasan surat Al-Baqarah ayat 82-86. Mengawali pemaparan materi, Rhain-begitu sapaan akrabnya, menjelaskan definisi iman dan amal shalih melalui surat Al-baqarah ayat 82. Ia menerangkan bahwa iman adalah mempercayai Allah, Malaikat, Kitab-kitabnya, Rasul-rasul, hari […]

  • Irwan Akib: Gelar Guru Besar Bukan Sekadar Hadiah, Melainkan Mandat Akademik Tertinggi

    Irwan Akib: Gelar Guru Besar Bukan Sekadar Hadiah, Melainkan Mandat Akademik Tertinggi

    • calendar_month Senin, 19 Feb 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 274
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menambah jumlah guru besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), pada Sabtu (17/2). Ketiga guru besar tersebut antara lain Prof. M. Farid Wajdi, S.E., M. Ph.D, Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen, Prof. Dr. Zulfikar, S.E., M.Si., Guru Besar Bidang Akuntansi, dan Prof. Dr. Ihwan Susila, S.E., M.Si., […]

expand_less