BeritaInspirasiJateng

Prof. Najib Burhani: Akademi Riset IMM Jateng Bangun Kader Pelopor Gerakan Ilmiah

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Dewan Perwakilan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jawa Tenga sukses menyelenggarakan Pembukaan Akademi Riset yang di gelar di Auditorium Djazman Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Sabtu (31/01).

Acara pembukaan ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai Pimpinan Komisariat (PK) IMM di seluruh Jawa Tengah, dengan menghadirkan Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (kemendikti saintek RI), Prof. Najib Burhani, M.A., sebagai keynote speech dan Prof. Dr. M. Fattah Santoso.,M.Ag sebagai perwakilan amanat dari PWM Jawa Tengah.

Dalam pemaparan materinya, Prof. Najib Burhani, M.A., mengawali dengan melontarkan sebuah pertanyaan reflektif kepada peserta.

“Ilmuwan Muslim mana yang pernah mendapatkan Hadiah Nobel dalam bidang fisika dan kimia?” Pertanyaan ini tidak hanya mencairkan suasana, tetapi juga membangun interaksi aktif sekaligus mengantarkan audiens pada topik utama yang akan dibahas.

Dalam paparannya yang berjudul “Kader IMM sebagai Pelopor Gerakan Berbasis Riset”, Prof. Najib Burhani mengawali temanya dengan sebuah ayat dalam al-qur’an yang menyuruh kita melakukan riset diantaranya yaitu merujuk pada surat Ali-Imran 190.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir apapun yang ada di sekeliling kita,” jelasnya.

Beliau juga menyampaikan permasalahan yang dialami oleh orang-orang islam zaman sekarang yaitu keterbuaian dengan masa lalu, pseudoscience (ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan metode ilmiah), dan terjebak pada  budaya yang instan.

“Inilah yang menjadi permasalahan yang sering kali terjadi seakan-akan kita itu adalah ilmiah tetapi sebetulnya tidak bisa dibuktikan dan tidak masuk standar ilmiah sehingga membuat kita tidak bisa berkembang,” sambungnya.

Selain itu, Prof. Najib Burhani, M.A., menyoroti perjalanan hidup sejumlah ilmuwan Muslim peraih Nobel yang lahir dari latar belakang sederhana dan penuh keterbatasan. Abdus Salam, peraih Nobel Fisika 1979, tumbuh dari keluarga miskin di Pakistan dan menempuh pendidikan dengan segala keterbatasan ekonomi. Ahmed Zewail, penerima Nobel Kimia 1999, berasal dari keluarga sederhana di Mesir dan harus berjuang keras menembus dunia akademik internasional.

Hal serupa dialami Aziz Sancar, peraih Nobel Kimia 2015, yang lahir di daerah terpencil Turki dari keluarga petani dengan akses pendidikan yang terbatas. Prof. Najib Burhani, M.A., juga menyinggung kisah Omar M. Yaghi, ilmuwan kimia 2025, yang masa kecilnya dihabiskan dalam kondisi sulit sebagai anak pengungsi, namun mampu bangkit melalui pendidikan dan ketekunan serta konsistensinya dalam belajar. Kisah-kisah tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang sosial bukan penghalang untuk berprestasi di bidang sains dan teknologi.

Sebagai penutup, Prof. Najib Burhani, M.A., menyampaikan bahwa pembelajaran juga bisa diambil dari negara-negara yang selama ini dianggap kurang berkembang. Ia mencontohkan India, di mana masyarakat mampu membangun kemajuan teknologi meski kondisi lingkungan dan fasilitasnya sederhana. Menurutnya, budaya riset di India sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, menunjukkan bahwa kemajuan ilmu tidak selalu ditentukan oleh fasilitas mewah, tetapi oleh mentalitas riset, ketekunan dan konsistensi.

Pemaparan selanjutnya disampaikan oleh narasumber kedua yaitu Prof. Dr. M Fattah Santoso.,M.Ag beliau merupakan perwakilan yang menyampaikan amanat dari majelis tarjih Jawa Tengah, dalam kesempatan tersebut beliau menjelaskan akan pentingnya seni, ilmu pengetahuan, dan agama dalam kehidupan

“Hidup dengan seni akan menjadi indah, hidup dengan ilmu pengetahuan akan menjadi mudah dan dengan ilmu agama hidup menjadi terarah” ungkapnya.

Tak hanya itu, Prof. Dr. M. Fattah Santoso.,M.Ag  juga menjelaskan apabila kita sudah memutuskan aktif di akademi riset berarti menyiapkan diri sebagai kader ulul albab yang berciri utama bernalar dan selalu berdzikir kepada Allah.

“Dan dari sini kita belajar kalau akademi riset jangan sampai meninggalkan ajaran spiritualitas kalau itu sudah kita amalkan akan ada semboyan kita wacana keilmuan dan keislaman ketika itu sudah kita amalkan insyaallah IMM akan menjadi pengembangan wacana keilmuan,” ujar Prof. Dr. M. Fattah Santoso.,M.Ag menutup materinya.

Kontributor: Muhammad Farhan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button