Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Bergerak tanpa Jiwa: Terjebak di antara Mesin dan Binatang

Bergerak tanpa Jiwa: Terjebak di antara Mesin dan Binatang

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Rabu, 6 Nov 2024
  • visibility 182
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Faliha Dhiya Ulhaq

Dewasa ini banyak orang menjalani hidup mereka seperti automaton, bergerak mengikuti input yang dilahirkan dari rutinitas mereka sebelumnya. Kadang juga tak jauh berbeda dengan hewan, hidup hanya sekadar hidup saja tanpa merencanakan masa depan. Walaupun manusia secara biologis memiliki kesamaan dengan hewan – bernapas, bergerak, dan berkembang biak-, manusia dianugerahi dengan akal dan hati nurani. Namun, berapa lama waktu yang kita luangkan untuk memaksimalkan kinerja akal dan hati dalam keseharian kita? 1 jam? Satu menit? Atau tidak sama sekali? Jangan sampai diri kita tenggelam dalam rutinitas dan mengabaikan hakikat dari kehidupan yang kita jalani. Sebuah penghinaan bagi manusia untuk berdiri di atas anak tangga yang sama dengan robot dan binatang. Ada makna yang harus diberikan untuk setiap langkah yang kita ambil.Ada tanggung jawab yang hadir bersama dengan akal sehat dan hati nurani yang kita miliki.

Ada jurang dalam yang memisahkan manusia dengan robotic programming dan insting hewani. Perbedaan signifikan yang membatasi antara manusia dengan robot dan binatang terletak pada level kesadaran manusia yang kompleks dan mendalam. Teknologi mungkin bisa menciptakan robot yang secara penampilan sangat mirip dengan manusia, beberapa diantara mereka memiliki sistem internal dengan kecerdasan buatan tingkat tinggi yang biasa dikenal masyarakat dengan sebutan artificial intelligence (AI). Kecerdasan buatan yang ada pada sistem internal dan digital pada robot memang memungkinkan automaton untuk belajar secara mandiri demi meningkatkan kinerjanya. Sekilas memang robot-robot tersebut sangat mirip dengan manusia, baik dari segi visual maupun kesadaran, namun tentu ada satu konsep yang tak mungkin terjangkau bahkan oleh AI sekalipun, yaitu “free will”. Robot dan AI hanya beroperasi berdasarkan program dan algoritma. Walaupun robot dan AI mampu meniru perilaku sadar sebagaimana manusia pada umumnya, mereka tidak benar-benar mengalami kesadaran, sedangkan manusia memiliki kesadaran utuh dan kehendak bebas.

Dalam hal kesadaran, hewan jauh lebih unggul daripada robot dan AI. Hewan memiliki kesadaran mereka sendiri, bahkan pada beberapa hewan ditemukan kesadaran tingkat tinggi seperti primata dan lumba-lumba. Tentu hewan memiliki kesadaran akan lingkungan dan insting untuk bertahan hidup. Sama seperti manusia yang terus bekerja demi memenuhi kebutuhan mereka, hewan pun akan pergi berburu ketika rasa lapar datang. Seekor singa berlari menyusuri hutan dengan keempat kakinya yang tangguh untuk mencari mangsa sebelum mengoyak santapannya dengan taringnya yang tajam. Bukankah ia mampu memiliki kesadarannya sendiri dan mengeksekusinya? Bagian mana yang berbeda dengan manusia? Apakah manusia hanya hidup untuk memenuhi perut mereka?

Setelah membahas mengenai perbedaan yang mendasar antara kesadaran manusia dengan robot dan hewan, ada baiknya kita melihat sejenak bagaimana paradoks ini bisa muncul dalam masyarakat modern. Sebagai contoh, mari melihat saudara kita yang sering kali dilabeli sebagai masyarakat yang hidup di “masa depan”, negeri matahari terbit. Negeri maju dengan standar kehidupan yang tinggi. Japan is living in the future. Ungkapan yang sama sekali tidak asing di telinga kita. Jika dikatakan bahwa Jepang adalah standar ideal untuk negara maju, saya tidak akan menentang, namun persoalannya akan lain jika masyarakat jepang secara umum dinobatkan sebagai manusia yang benar-benar “hidup.” Ada hal lain yang perlu kita perhatikan, tidak lain adalah angka bunuh diri masyarakatnya yang termasuk tinggi. Berdasarkan data dari statista, pada tahun 2023, angka bunuh diri di Jepang adalah 17.6 per 100,000 penduduk. Fenomena karoshi (kematian akibat kerja berlebihan) dan hikikomori (isolasi sosial) juga menjadi pertanda bahwa kemajuan material tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan mental. Lingkungan hidup yang baik -walaupun menjadi salah satu faktor penting-, tidak menjamin kehidupan yang baik.

Viktor Frankl dalam teori existential vacuum miliknya mendeskripsikan bahwa ketidakadaannya tujuan hidup dapat menciptakan kekosongan luar biasa bagi manusia. Ketidakmampuan manusia untuk memberi makna dalam kehidupan hanya akan membawa manusia pada kehancuran. Manusia yang gagal memberi makna pada kehidupan yang ia jalani akan kehilangan arah. Nihilnya tujuan hidup menafikan ambisi dan menumpulkan optimisme. Prajurit perang yang hidup di medan tempur justru memiliki semangat hidup yang tinggi. Lima jilid Tafsir Al-Azhar milik HAMKA lahir di penjara. Opresi tidak cukup untuk membunuh keinginan manusia untuk terus hidup, hilangnya esensi hidup lah yang menjadi belati tajam.

Pembaca akan menutup buku setelah selesai membacanya. Kompor akan dimatikan setelah koki selesai memasak. Orang buta akan meninggalkan tongkatnya setelah ia bisa melihat. Namun, berbeda dengan robot yang akan berhenti ketika tidak lagi menerima perintah ataupun hewan yang hidup hanya untuk sekadar bertahan, manusia mampu untuk terus mencari dan memberi makna pada kehidupan yang dijalaninya.

Perjalanan hidup manusia adalah sebuah eksplorasi yang panjang. Manusia harus terus memiliki tujuan dalam menjalani hidup. Jika satu tujuan tercapai, maka harus ada tujuan lainnya. Sangat mungkin bagi manusia untuk merasa puas, tak jarang pula merasa cukup setelah mencapai tujuannya untuk kemudian terombang-ambing sebab kehilangan arah. Semua hal akan “mati” setelah memenuhi tugasnya. Begitu pun manusia, mereka akan “selesai” setelah tujuan mereka tercapai. Jika manusia ingin hidup selamanya, seharusnya mereka tak boleh mencapai garis finish. Jauhkan. Dekati tapi jangan langkahi. Begitukah? Apa bedanya dengan kematian?

Tentu ada beberapa hal yang ada di luar kendali manusia, salah satunya adalah faktor luck, atau keberuntungan. Ada hal yang tidak bisa dicapai oleh akal manusia, tapi bukan berarti kita tidak bisa berusaha untuk mencapai apa yang menjadi tujuan kita. Bukankah suatu ketidakpastian seperti keberuntungan itu indah? Hal-hal kecil seperti turunnya hujan setelah kita pulang ke rumah atau bertemu belahan jiwa tanpa penantian panjang tentu merupakan hal yang menyenangkan. Kita tidak bisa hidup seperti robot yang sudah memiliki jalan “hidup” yang jelas atau menjalani hari dengan terbatas tanpa adanya pikiran akan masa yang akan datang seperti binatang.

Robot tidak mengenal kebebasan individu meski menggunakan kombinasi dahsyat robotika dan AI. Hewan tidak bisa membangun peradaban layaknya manusia walau dengan kesadaran dan insting mereka. Manusia berada pada tingkat yang berbeda dari robot dan hewan dengan akal sehat dan hati nurani. Kecerdasan intelektual manusia memang sangat luar biasa, namun IQ saja tidak cukup untuk menjalani hidup.

Akal yang penuh dengan rasionalisme tidak akan mampu membuat manusia bisa bertahan hidup di bawah penderitaan. Ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan keputusasaan, akal tidak bisa melalui itu semua sendirian. Manusia akan bisa terus hidup hanya dengan rasa pengharapan, ketakutan, dan cinta. Hatilah yang menjadikan manusia sebagai “manusia.” Visi sementara tak membuat manusia “hidup”, tapi pemahaman akan hakikat kehidupan sebenarnya akan menjadikan manusia hidup selamanya.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dakwah Bisa Dijalankan Melalui Sepeda Motor

    Dakwah Bisa Dijalankan Melalui Sepeda Motor

    • calendar_month Senin, 20 Okt 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 67
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta — Ketua Lembaga Pengembangan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Gatot Sugiharto, menegaskan bahwa Bikers Muhammadiyah (BikersMu) lahir dari kesadaran kolektif untuk menyalurkan semangat dakwah melalui sarana sepeda motor. Dalam acara pengukuhan PP BikersMu 2025–2027 di Aula Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, Gatot menilai, gerakan ini merupakan inovasi dakwah yang relevan dengan perkembangan masyarakat modern. “BikersMu […]

  • Dosen UMS dan Yonsei University Berkolaborasi Kembangkan Model Pendeteksi Ujaran Kebencian

    Dosen UMS dan Yonsei University Berkolaborasi Kembangkan Model Pendeteksi Ujaran Kebencian

    • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 87
    • 12Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Dosen Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Endang Wahyu Pamungkas, S.Kom., M.Kom., Ph.D. baru-baru ini melakukan penelitian untuk mengembangkan model pendeteksi kebencian di media sosial. Pria yang akrab disapa Dadang itu berkolaborasi dengan Profesor Min Song dari Yonsei University, Korea Selatan, dan mahasiswa postdoctoral Yonsei University, Arida Ferti Syafiandini. Penelitian tersebut bertajuk […]

  • Alumni FKIP UMS Berkiprah di Korps Brimob Mabes Polri, Bekali Calon Wisudawan Hadapi Dunia Kerja

    Alumni FKIP UMS Berkiprah di Korps Brimob Mabes Polri, Bekali Calon Wisudawan Hadapi Dunia Kerja

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle Choiril Amirah Farida
    • visibility 72
    • 1Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tidak hanya dipersiapkan untuk berkarier di bidang pendidikan, tetapi juga memiliki peluang untuk berkiprah di berbagai sektor profesional. Pesan tersebut mengemuka dalam Yudisium dan Pembekalan Calon Wisudawan Periode I Tahun Akademik 2026/2027 di Auditorium Moh. Djazman UMS, Kamis (24/9/2026). Mengusung tema […]

  • Menyemai Nilai Luhur Pancasila, PSBPS UMS Adakan Roadshow Pancasila sebagai Laku di Sumatera

    Menyemai Nilai Luhur Pancasila, PSBPS UMS Adakan Roadshow Pancasila sebagai Laku di Sumatera

    • calendar_month Kamis, 23 Mei 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 182
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Jambi – Dalam upaya menyemaikan nilai-nilai luhur Pancasila, Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan roadshow Pelatihan Nasional “Pancasila sebagai Laku” di Sumatera. Pelatihan diselenggarakan di Universitas Jambi (UNJA) pada 20-22 Mei 2024. Kegiatan di UNJA ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang sudah diselenggarakan di dua kampus lain […]

  • 15 Proposal PKM UMS Raih Pendanaan, Masuk 20 Besar Nasional

    15 Proposal PKM UMS Raih Pendanaan, Masuk 20 Besar Nasional

    • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 116
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Sebanyak 15 proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendapatkan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Bahkan raihan ini menjadikan UMS berada di 20 besar perguruan tinggi dengan proposal terbanyak yang mendapatkan pendanaan. Kabiro Kemahasiswaan UMS Ir. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., mengatakan bahwa pada tahun 2025 […]

  • Bangkitkan Semangat Literasi, Alumni UMS Raih Juara II Pemuda Pelopor Kota Surakarta

    Bangkitkan Semangat Literasi, Alumni UMS Raih Juara II Pemuda Pelopor Kota Surakarta

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 96
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Alumni Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Mohammad Taufiq Hassan, berhasil meraih Juara II Pemuda Pelopor Kota Surakarta Tahun 2025 pada bidang Pendidikan. Ajang ini diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Surakarta sebagai bentuk apresiasi terhadap generasi muda yang berkontribusi dalam pembangunan masyarakat. Penghargaan tersebut […]

expand_less