Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Bergerak tanpa Jiwa: Terjebak di antara Mesin dan Binatang

Bergerak tanpa Jiwa: Terjebak di antara Mesin dan Binatang

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Rabu, 6 Nov 2024
  • visibility 119
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Faliha Dhiya Ulhaq

Dewasa ini banyak orang menjalani hidup mereka seperti automaton, bergerak mengikuti input yang dilahirkan dari rutinitas mereka sebelumnya. Kadang juga tak jauh berbeda dengan hewan, hidup hanya sekadar hidup saja tanpa merencanakan masa depan. Walaupun manusia secara biologis memiliki kesamaan dengan hewan – bernapas, bergerak, dan berkembang biak-, manusia dianugerahi dengan akal dan hati nurani. Namun, berapa lama waktu yang kita luangkan untuk memaksimalkan kinerja akal dan hati dalam keseharian kita? 1 jam? Satu menit? Atau tidak sama sekali? Jangan sampai diri kita tenggelam dalam rutinitas dan mengabaikan hakikat dari kehidupan yang kita jalani. Sebuah penghinaan bagi manusia untuk berdiri di atas anak tangga yang sama dengan robot dan binatang. Ada makna yang harus diberikan untuk setiap langkah yang kita ambil.Ada tanggung jawab yang hadir bersama dengan akal sehat dan hati nurani yang kita miliki.

Ada jurang dalam yang memisahkan manusia dengan robotic programming dan insting hewani. Perbedaan signifikan yang membatasi antara manusia dengan robot dan binatang terletak pada level kesadaran manusia yang kompleks dan mendalam. Teknologi mungkin bisa menciptakan robot yang secara penampilan sangat mirip dengan manusia, beberapa diantara mereka memiliki sistem internal dengan kecerdasan buatan tingkat tinggi yang biasa dikenal masyarakat dengan sebutan artificial intelligence (AI). Kecerdasan buatan yang ada pada sistem internal dan digital pada robot memang memungkinkan automaton untuk belajar secara mandiri demi meningkatkan kinerjanya. Sekilas memang robot-robot tersebut sangat mirip dengan manusia, baik dari segi visual maupun kesadaran, namun tentu ada satu konsep yang tak mungkin terjangkau bahkan oleh AI sekalipun, yaitu “free will”. Robot dan AI hanya beroperasi berdasarkan program dan algoritma. Walaupun robot dan AI mampu meniru perilaku sadar sebagaimana manusia pada umumnya, mereka tidak benar-benar mengalami kesadaran, sedangkan manusia memiliki kesadaran utuh dan kehendak bebas.

Dalam hal kesadaran, hewan jauh lebih unggul daripada robot dan AI. Hewan memiliki kesadaran mereka sendiri, bahkan pada beberapa hewan ditemukan kesadaran tingkat tinggi seperti primata dan lumba-lumba. Tentu hewan memiliki kesadaran akan lingkungan dan insting untuk bertahan hidup. Sama seperti manusia yang terus bekerja demi memenuhi kebutuhan mereka, hewan pun akan pergi berburu ketika rasa lapar datang. Seekor singa berlari menyusuri hutan dengan keempat kakinya yang tangguh untuk mencari mangsa sebelum mengoyak santapannya dengan taringnya yang tajam. Bukankah ia mampu memiliki kesadarannya sendiri dan mengeksekusinya? Bagian mana yang berbeda dengan manusia? Apakah manusia hanya hidup untuk memenuhi perut mereka?

Setelah membahas mengenai perbedaan yang mendasar antara kesadaran manusia dengan robot dan hewan, ada baiknya kita melihat sejenak bagaimana paradoks ini bisa muncul dalam masyarakat modern. Sebagai contoh, mari melihat saudara kita yang sering kali dilabeli sebagai masyarakat yang hidup di “masa depan”, negeri matahari terbit. Negeri maju dengan standar kehidupan yang tinggi. Japan is living in the future. Ungkapan yang sama sekali tidak asing di telinga kita. Jika dikatakan bahwa Jepang adalah standar ideal untuk negara maju, saya tidak akan menentang, namun persoalannya akan lain jika masyarakat jepang secara umum dinobatkan sebagai manusia yang benar-benar “hidup.” Ada hal lain yang perlu kita perhatikan, tidak lain adalah angka bunuh diri masyarakatnya yang termasuk tinggi. Berdasarkan data dari statista, pada tahun 2023, angka bunuh diri di Jepang adalah 17.6 per 100,000 penduduk. Fenomena karoshi (kematian akibat kerja berlebihan) dan hikikomori (isolasi sosial) juga menjadi pertanda bahwa kemajuan material tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan mental. Lingkungan hidup yang baik -walaupun menjadi salah satu faktor penting-, tidak menjamin kehidupan yang baik.

Viktor Frankl dalam teori existential vacuum miliknya mendeskripsikan bahwa ketidakadaannya tujuan hidup dapat menciptakan kekosongan luar biasa bagi manusia. Ketidakmampuan manusia untuk memberi makna dalam kehidupan hanya akan membawa manusia pada kehancuran. Manusia yang gagal memberi makna pada kehidupan yang ia jalani akan kehilangan arah. Nihilnya tujuan hidup menafikan ambisi dan menumpulkan optimisme. Prajurit perang yang hidup di medan tempur justru memiliki semangat hidup yang tinggi. Lima jilid Tafsir Al-Azhar milik HAMKA lahir di penjara. Opresi tidak cukup untuk membunuh keinginan manusia untuk terus hidup, hilangnya esensi hidup lah yang menjadi belati tajam.

Pembaca akan menutup buku setelah selesai membacanya. Kompor akan dimatikan setelah koki selesai memasak. Orang buta akan meninggalkan tongkatnya setelah ia bisa melihat. Namun, berbeda dengan robot yang akan berhenti ketika tidak lagi menerima perintah ataupun hewan yang hidup hanya untuk sekadar bertahan, manusia mampu untuk terus mencari dan memberi makna pada kehidupan yang dijalaninya.

Perjalanan hidup manusia adalah sebuah eksplorasi yang panjang. Manusia harus terus memiliki tujuan dalam menjalani hidup. Jika satu tujuan tercapai, maka harus ada tujuan lainnya. Sangat mungkin bagi manusia untuk merasa puas, tak jarang pula merasa cukup setelah mencapai tujuannya untuk kemudian terombang-ambing sebab kehilangan arah. Semua hal akan “mati” setelah memenuhi tugasnya. Begitu pun manusia, mereka akan “selesai” setelah tujuan mereka tercapai. Jika manusia ingin hidup selamanya, seharusnya mereka tak boleh mencapai garis finish. Jauhkan. Dekati tapi jangan langkahi. Begitukah? Apa bedanya dengan kematian?

Tentu ada beberapa hal yang ada di luar kendali manusia, salah satunya adalah faktor luck, atau keberuntungan. Ada hal yang tidak bisa dicapai oleh akal manusia, tapi bukan berarti kita tidak bisa berusaha untuk mencapai apa yang menjadi tujuan kita. Bukankah suatu ketidakpastian seperti keberuntungan itu indah? Hal-hal kecil seperti turunnya hujan setelah kita pulang ke rumah atau bertemu belahan jiwa tanpa penantian panjang tentu merupakan hal yang menyenangkan. Kita tidak bisa hidup seperti robot yang sudah memiliki jalan “hidup” yang jelas atau menjalani hari dengan terbatas tanpa adanya pikiran akan masa yang akan datang seperti binatang.

Robot tidak mengenal kebebasan individu meski menggunakan kombinasi dahsyat robotika dan AI. Hewan tidak bisa membangun peradaban layaknya manusia walau dengan kesadaran dan insting mereka. Manusia berada pada tingkat yang berbeda dari robot dan hewan dengan akal sehat dan hati nurani. Kecerdasan intelektual manusia memang sangat luar biasa, namun IQ saja tidak cukup untuk menjalani hidup.

Akal yang penuh dengan rasionalisme tidak akan mampu membuat manusia bisa bertahan hidup di bawah penderitaan. Ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan keputusasaan, akal tidak bisa melalui itu semua sendirian. Manusia akan bisa terus hidup hanya dengan rasa pengharapan, ketakutan, dan cinta. Hatilah yang menjadikan manusia sebagai “manusia.” Visi sementara tak membuat manusia “hidup”, tapi pemahaman akan hakikat kehidupan sebenarnya akan menjadikan manusia hidup selamanya.

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • CHILDFREE : INDONESIA DAN JEPANG PART DUA?

    CHILDFREE : INDONESIA DAN JEPANG PART DUA?

    • calendar_month Sabtu, 11 Feb 2023
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 448
    • 0Komentar

    Belakangan ini diketahui seorang influencer muda memberikan pernyataan yang cukup kontroversial di tengah masyarakat Indonesia. Dirinya menyebutkan bahwa tidak memiliki anak adalah anti-aging terbaik atau resep awet muda versinya, “Not having kids is indeed natural anti-aging. You can sleep for 8 hours every day, no stress hearing kids screaming. And when you finally got wrinkles, you […]

  • Playjonny Casino – Uznana Platforma w Polsce

    Playjonny Casino – Uznana Platforma w Polsce

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 9
    • 0Komentar

    Gdybym musiał wytypować jedno kasyno online, które od lat jest cenione w Polsce, bez namysłu poleciłbym Playjonny https://play-jonny.eu/pl-pl/. Ta platforma odznacza się nie tylko atrakcyjną ofertą gier. Jej prawdziwą siłą są podstawy: bezpieczeństwo, uczciwość i pełne dopasowanie do polskich graczy. Po przetestowaniu dziesiątek stron hazardowych dobrze wiem, dlaczego właśnie Playjonny uzyskał tak dużą popularność. Dlaczego […]

  • Peningkatan Kesejahteraan Psikologis Karyawan RS Islam Aminah Blitar Melalui PMM Tematik Masyarakat Industri

    Peningkatan Kesejahteraan Psikologis Karyawan RS Islam Aminah Blitar Melalui PMM Tematik Masyarakat Industri

    • calendar_month Rabu, 3 Jul 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 174
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID,  Malang – Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) merupakan suatu kegiatan yang wajib dilakukan oleh mahasiswa/mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu program kuliah dalam bentuk pengabdian pada masyarakat. Kegiatan ini sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari saat berkuliah secara nyata pada masyarakat dan mampu memberi kebermanfataan luas. Dalam pelaksanaannya, […]

  • Silaturahmi P2T UMS Tekankan Kebersamaan dan Kesehatan, Siapkan Agenda Aplikatif Berbasis Praktik

    Silaturahmi P2T UMS Tekankan Kebersamaan dan Kesehatan, Siapkan Agenda Aplikatif Berbasis Praktik

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 18
    • 0Komentar

    KABARMUH,ID. SURAKARTA – Paguyuban Purna Tugas (P2T) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar silaturahmi rutin pada Sabtu (18/4) di Ruang Seminar Pascasarjana UMS. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat program pembinaan bagi para anggota purna tugas. Ketua P2T UMS, Drs. Joko Santoso, menyampaikan bahwa kegiatan kali ini tidak hanya berisi materi, tetapi juga […]

  • Kajian Ahad Pagi PRM Pendoworejo: Mengingat dan Mempersiapkan Kematian

    Kajian Ahad Pagi PRM Pendoworejo: Mengingat dan Mempersiapkan Kematian

    • calendar_month Jumat, 24 Jan 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 89
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Kulon Progo – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pendoworejo menggelar Kajian Ahad Pagi pada Minggu (19/1/2025) bertempat di Rumah Makan Iwak Kalen Salam Rindu. Kajian yang terbuka untuk umum ini menghadirkan Ustaz Fakhrudin AM, S.IP. sebagai pemateri dan dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat serta warga sekitar. Dalam kajian yang berlangsung dari pukul 06.00 hingga 07.00 […]

  • Milad ke-24 Lazismu: Usung Tema “Integrasi Menguatkan Dampak” Guna Wujudkan Ekosistem ZISKA yang Berkelanjutan

    Milad ke-24 Lazismu: Usung Tema “Integrasi Menguatkan Dampak” Guna Wujudkan Ekosistem ZISKA yang Berkelanjutan

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 17
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, JAKARTA – Tepat pada hari ini, 4 Juli 2026, Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sadaqah Muhammadiyah (Lazismu) memperingati hari jadinya yang ke-24. Sejak didirikan pada 4 Juli 2002, Lazismu terus berupaya mengokohkan komitmennya dalam pemberdayaan umat. Pada milad tahun ini, Lazismu mengusung tema “Integrasi Menguatkan Dampak”, sebuah langkah strategis untuk menyatukan gerak langkah kelembagaan […]

expand_less