
KABARMUH.ID, Sukoharjo – Di tengah tantangan era digital yang kian memengaruhi kehidupan remaja, MTs Muhammadiyah Tawangsari menghadirkan pendekatan pembinaan karakter yang berbeda melalui kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) di kawasan Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tawangsari, Bukit Kemasan, Lorog.
Kegiatan yang berlangsung dalam dua gelombang tersebut diikuti ratusan santri dengan penuh antusias. Mabit santri putri dilaksanakan pada 2–3 Mei 2026, sementara santri putra mengikuti agenda serupa pada 9–10 Mei 2026. Total sebanyak 302 santri terlibat dalam kegiatan yang memadukan penguatan spiritual, pengembangan diri, hingga pembentukan karakter kepemimpinan.
Kepala MTs Muhammadiyah Tawangsari, Nardi, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk membentuk ketahanan mental dan spiritual para santri agar mampu menghadapi dinamika zaman modern tanpa kehilangan jati diri.
Menurutnya, pembinaan karakter tidak cukup hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi perlu dibangun melalui pengalaman langsung yang menyentuh aspek emosional, spiritual, dan sosial peserta didik.
Spiritualitas, Jati Diri, dan Kepemimpinan Santri
Dalam kegiatan itu, pihak sekolah menghadirkan Awaluddin Mufti Effendi, M.Si., Guru SMA Muhammadiyah Imam Syuhodo sekaligus Pengasuh PPTQ Muhammadiyah Shiratun Najah. Ia membawakan materi bertema “Real Life > Reels Life” dan “Teenager yang lebih Seger” yang menyoroti pentingnya membangun identitas diri di tengah budaya media sosial.
“Jadilah diri sendiri (jati diri) dan tidak perlu meniru template tren atau viral orang lain. Sibuklah menjadi baik, bukan sekadar sibuk kelihatan baik,” pesannya di hadapan para santri.
Pesan tersebut mendapat respons positif dari peserta yang aktif berdiskusi selama sesi berlangsung. Materi yang disampaikan juga dianggap dekat dengan realitas kehidupan remaja masa kini yang banyak dipengaruhi budaya digital dan tren media sosial.
Selain sesi motivasi, kegiatan Mabit juga menonjolkan pembiasaan ibadah mandiri. Seluruh rangkaian ibadah, mulai dari azan, zikir, hingga pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilakukan langsung oleh para santri tanpa pendampingan penuh dari guru. Pola ini menjadi bagian dari pembentukan karakter kepemimpinan dan rasa tanggung jawab sejak dini.
Suasana semakin hangat saat sesi pelepasan energi negatif melalui permainan balon dan penulisan doa serta cita-cita pada sticky notes yang ditempel di media berbentuk payung. Simbol tersebut menggambarkan harapan dan perlindungan bagi masa depan para santri.
Pihak sekolah juga memberikan hadiah dan doorprize bagi peserta aktif untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mempererat hubungan antarsantri dan guru pendamping.
Melalui kegiatan di Bukit Kemasan tersebut, MTs Muhammadiyah Tawangsari berharap para santri mampu membawa pulang semangat “Sakinah dalam Belajar”, yakni kondisi hati yang tenang dan pikiran yang jernih dalam menuntut ilmu agama maupun pengetahuan umum. (Janan)



