Dosen UMS Nur Subekti, Pelatih PON yang Berdedikasi di Kampus

KABARMUH.ID, SURAKARTA – Konsistensi, disiplin, dan keberanian dalam mengambil keputusan besar menjadi benang merah perjalanan hidup Dr. Nur Subekti, S.Pd., M.Or. Sosok kader Muhammadiyah ini menapaki jalan panjang dari arena pencak silat hingga ruang akademik sebagai dosen sekaligus perintis Program Studi Pendidikan Jasmani di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Nur Subekti dikenal sebagai mantan atlet pencak silat nasional yang kini berkiprah sebagai akademisi dan pelatih. Karier atletiknya dimulai sejak duduk di bangku SMP sekitar tahun 1999–2000. Sejak itu, berbagai prestasi berhasil diraih, mulai dari juara tingkat provinsi hingga nasional, serta mewakili Jawa Tengah dalam berbagai ajang bergengsi. Selain itu, Subekti juga aktif di Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
“Di level pelajar saya pernah juara provinsi, lalu di mahasiswa juara nasional, bahkan di level umum juga pernah. Puncaknya saya sempat dipanggil seleksi nasional dan pelatnas,” ungkap Nur Subekti saat ditemui, Rabu, (14/1).
Meski disibukkan dengan jadwal latihan ketat dan kehidupan asrama sebagai atlet, Bekti sapaannya, tidak pernah meninggalkan pendidikan. Ia menempuh studi Strata 1 di jurusan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan hingga lulus pada 2011, meski harus menyelesaikannya dalam waktu lima tahun.
“Saya selalu menanamkan pada diri saya, mau jadi atlet sejauh apapun, pendidikan harus selesai,” tuturnya.
Keputusan besar diambil pada 2012 ketika Nur Subekti memilih pensiun sebagai atlet aktif. Langkah tersebut diambil demi melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata 2 sekaligus mengembangkan karier di dunia akademik. Sejak saat itu, arah hidupnya berubah signifikan. Selain menyelesaikan studi S2 tepat waktu, Bekti juga memulai karier sebagai pelatih.
Pengalaman praktik sebagai atlet yang dipadukan dengan teori dari bangku kuliah membuat metode kepelatihannya berkembang pesat. Bahkan, kariernya sebagai pelatih justru semakin bersinar. “Sejak 2012 saya sudah memegang tim Jawa Tengah, dan sekarang dipercaya menjadi pelatih tim PON,” jelasnya.

Puncak peran akademiknya dimulai ketika Nur Subekti dipercaya merintis Program Studi Pendidikan Jasmani di UMS. Berbekal pengalaman sebagai atlet, pelatih, dan lulusan S2, Bekti dinilai memiliki kapasitas utuh sebagai praktisi sekaligus akademisi.
“Karena saya punya pengalaman di lapangan dan juga akademik, banyak pihak yang merekomendasikan saya untuk merintis prodi ini,” katanya.
Tantangan terbesar muncul ketika ia langsung diangkat sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi), meski belum memiliki pengalaman panjang sebagai dosen. Ia harus mengelola pembelajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga merancang strategi agar program studi berkembang dan diminati mahasiswa.
Sebagai sosok yang lebih banyak berkecimpung di lapangan, Bekti mengakui harus beradaptasi, terutama dalam urusan administrasi. Ia menyiasatinya dengan membangun tim yang solid.
“Saya orang lapangan, maka saya rekrut dosen-dosen yang kuat secara teori dan administrasi. Akhirnya kami saling melengkapi,” ujarnya.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Program Studi Pendidikan Jasmani UMS kini meraih akreditasi Unggul dan menjadi salah satu prodi favorit. Di tengah kesibukannya sebagai dosen dan pimpinan fakultas, Nur Subekti tetap konsisten menjalani peran sebagai pelatih, bahkan saat dipercaya menjadi wakil dekan. “Saya tidak mau berhenti melatih. Itu bagian dari identitas saya,” tegasnya.

Menutup perbincangan, Nur Subekti berpesan kepada generasi muda agar tidak menjauh dari olahraga meskipun hidup di era teknologi. Menurutnya, olahraga merupakan kebutuhan penting, bukan hanya bagi kesehatan fisik, tetapi juga mental.
“Olahraga itu kebutuhan. Bergeraklah, jangan hanya melihat media sosial,” pesannya.
Ia pun menegaskan filosofi hidup yang terus dipegangnya, ‘Mens Sana in Corpore Sano’ di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Prinsip tersebut telah mengantarkannya dari arena pertandingan hingga ruang akademik. (Ariya/Fajar/Humas)
Editor: Hammam Alghazy



