Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Manipulasi Kebaikan: Permainan Moral di Balik Jebakan Rasa “Nggak Enakan”

Manipulasi Kebaikan: Permainan Moral di Balik Jebakan Rasa “Nggak Enakan”

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
  • visibility 93
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Penulis: M. Nur Isholattudin

Pernahkah anda ketika sesorang meminta bantuan kepada kita, kita hamper tidak bisa menolaknya padahal ingin menolak? Ya, itu perasaan sungkan atau sering kita sebut tidak enakan (people pleser) yang mungkin tanpa sadar kita sudah termasuk golongan people pleasure. Sering terjadi di kehidupan kita, mungkin sesorang akan menganggap kita orang yang jahat atau tidak bisa diandalkan Ketika kita menolak ajakannya, padahal tidak semua itu harus diterima, terkadang hal itu dilakukan agar memuaskan orang lain tanpa memperdulikan kenyamanan, waktu, bahkan energi prbadi dan sebenarnya kita merasa terbebani juga. Hal tersebut sangat rawan dan dapat menjadi sasaran empuk bagi manipulator yang mengatasnamakan kebaikan tanpa memperdulikan si korban. Dalam ranah interaksi sosial, kebaikan sering kali dipandang sebagai nilai moral tertinggi yang tak berbantah. Namun, ada batas tipis antara ketulusan yang murni dan sifat “tidak enakan” yang berlebihan. Ketika empati berkembang tanpa diimbangi oleh batasan diri (boundaries) yang tegas, kebaikan justru berisiko menjadi pintu masuk bagi manipulasi. Seseorang yang selalu merasa bersalah jika tak menolong orang lain sangat rentan dijebak dalam relasi yang mengeksploitasi, di mana ketulusan mereka ditunggangi oleh motif yang tidak sehat. Dinamika ini jarang terjadi secara mendadak, melainkan berproses secara halus dan bertahap. Dalam psikologi sosial, pola ini sejajar dengan fenomena Foot-in-the-Door Technique yang dipopulerkan oleh Jonathan L. Freedman dan Scott C. Fraser (1966). Eksploitasi dimulai dari permintaan bantuan yang terkesan kecil, wajar, dan tulus. Karena merasa iba dan enggan menolak, individu yang “tidak enakan” akan dengan senang hati membantu. Namun, perlahan tapi pasti, skala dan frekuensi permintaan tersebut mulai meningkat. Pihak yang memanipulasi memanfaatkan rasa sungkan tersebut untuk menciptakan ketergantungan parasitik. Mereka sengaja melimpahkan tanggung jawab pribadinya kepada korban, hingga bantuan yang tadinya bersifat sukarela berubah menjadi kewajiban yang mengikat secara sepihak. Jebakan utama dari kondisi seperti ini adalah kontrol emosional yang dimainkan oleh pelaku. Psikolog klinis Harriet B. Braiker dalam bukunya, The Disease to Please: Curing the People-Pleasing Syndrome, menjelaskan bahwa orang dengan kecenderungan people-pleasing memiliki ketakutan mendalam akan penolakan, konflik, dan label “orang jahat”. Ketakutan inilah yang dimanfaatkan oleh manipulasi psikologis (guilt-tripping). Begitu korban mencoba menunjukkan keengganan, pelaku akan memasang narasi seolah-olah korbanlah yang jahat, tidak peduli, atau tega membiarkan orang lain menderita. Akibatnya, korban terperangkap dalam rasa bersalah buatan dan memilih untuk terus menuruti kemauan pelaku demi mempertahankan citra diri sebagai orang baik. Untuk memutus rantai eksploitasi ini, kunci utamanya terletak pada dekonstruksi dan rekonstruksi pemaknaan atas kata “tidak”. Henry Cloud dan John Townsend dalam buku Boundaries: When to Say Yes, How to Say No to Take Control of Your Life menekankan bahwa menetapkan batasan bukanlah bentuk tindakan egois atau kejam. Batasan diri ibarat pagar yang menentukan apa yang menjadi tanggung jawab kita dan apa yang bukan. Menolak permintaan yang tidak wajar bukan berarti kita kehilangan empati, melainkan cara kita menghargai kapasitas dan integritas diri sendiri. Kebaikan tidak bisa lagi dijalankan secara buta, melainkan harus bertransformasi menjadi tindakan yang selektif dan solutif. Secara akademis, sikap selektif ini sejalan dengan prinsip Effective Altruism yang digagas oleh filsuf Peter Singer, serta konsep penetapan batasan emosional dari Henry Cloud dan John Townsend dalam buku Boundaries. Selektif berarti kita bersikap rasional dalam memilah mana permintaan yang benar-benar membutuhkan uluran tangan mendesak, dan mana yang sekadar dorongan malas atau manipulasi eksploitatif. Menolak permintaan yang tidak wajar bukanlah tanda kejahatan, melainkan langkah sadar untuk menjaga kapasitas dan integritas diri sendiri. Sementara itu, sikap solutif diwujudkan melalui apa yang dipaparkan oleh psikolog sosial Arie Nadler (2002) sebagai Empowerment-Oriented Help (bantuan yang berorientasi pada pemberdayaan), bukan Dependency-Oriented Help (bantuan yang menciptakan ketergantungan). Menjadi solutif artinya kita memberikan bantuan yang mendidik dan melatih kemandirian orang lain, bukan dengan cara mengambil alih seluruh beban mereka hingga membuat kita diperbudak. Menolong dengan cara memberdayakan justru membantu orang tersebut untuk belajar bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Pada akhirnya, kebaikan sejati tidak boleh berdiri di atas kepasifan yang mengorbankan diri. Tanpa ketegasan untuk memilih dan membatasi, moral baik akan selalu rentan disetir dan dimanfaatkan oleh moral buruk. Melindungi diri dari manipulasi dengan berani berkata “tidak” secara selektif dan memberikan solusi yang mendidik bukanlah bentuk egoisme, melainkan wujud rasa tanggung jawab tertinggi terhadap kesehatan mental kita sekaligus penghormatan atas hakikat kebaikan itu sendiri. Kita tak perlu sungkan untuk mengatakan kata “tidak”, toh nantinya orang juga bakal mengerti akan kesanggupan dan alasan pribadi mengapa kita bisa menolak hal tersebut

Tags
  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Safari Qurban AMM Pekalongan: Berbagi Kebahagiaan Pasca Kebencanaan

    Safari Qurban AMM Pekalongan: Berbagi Kebahagiaan Pasca Kebencanaan

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 41
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Pekalongan – Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kabupaten Pekalongan sukses menggelar Safari Qurban bertema “Menebar Kebahagiaan untuk Semesta” di Dukuh Dranan, Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriono, Kabupaten Pekalongan, pada Sabtu dan Ahad, 7-8 Juni 2025. Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen AMM, termasuk Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM), Pimpinan Daerah Nasiyatul Aisyiyah (PDNA), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), […]

  • Riset Corner #2 DPD IMM Jawa Tengah: Perkuat Metodologi Riset Lingkungan dalam Merespons Perubahan Iklim

    Riset Corner #2 DPD IMM Jawa Tengah: Perkuat Metodologi Riset Lingkungan dalam Merespons Perubahan Iklim

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 55
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Bentuk komitmen Dewan Perwakilan Daerah Ikatan mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jawa Tengah dalam mendorong budaya riset yang kritis dan solutif atas semakin meningkatkan tantangan lingkungan akibat perubahan iklim yang berdampak luas disektor  kehidupan, dengan menyelenggarakan Riset Corner #2 dengan tema “Metodologi Riset Lingkungan untuk Analisis Dampak dan Adaptasi Perubahan Iklim”. Kegiatan ini […]

  • UMS dan Unismuh Makassar Perkuat Sinergi untuk Tingkatkan Kepercayaan Publik terhadap PTMA

    UMS dan Unismuh Makassar Perkuat Sinergi untuk Tingkatkan Kepercayaan Publik terhadap PTMA

    • calendar_month Jumat, 17 Okt 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 40
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID., SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat peran sebagai kampus rujukan nasional bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Hal ini diwujudkan melalui kunjungan silaturahmi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar ke UMS pada Kamis (16/10), yang bertujuan memperkuat sinergi kelembagaan dan berbagi strategi pengelolaan di bidang penerimaan mahasiswa baru serta administrasi akademik. Pertemuan ini […]

  • Haedar Nashir di UMS: Jadikan Karakter Ibadurrahman Napas Baru dalam Berorganisasi

    Haedar Nashir di UMS: Jadikan Karakter Ibadurrahman Napas Baru dalam Berorganisasi

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 64
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Pengajian Ramadan yang dirangkai dengan buka puasa bersama pada Kamis (12/3) di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah UMS. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan UMS, civitas academica, serta Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. Rektor UMS Prof. Dr. Harun […]

  • Kurangi Risiko Kegawatdaruratan, KKN FIK UMS Edukasi Penanganan Tersedak dan Gigitan Ular

    Kurangi Risiko Kegawatdaruratan, KKN FIK UMS Edukasi Penanganan Tersedak dan Gigitan Ular

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 60
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Kelompok 28 menggelar sosialisasi dan demonstrasi penanganan kegawatdaruratan pada kasus tersedak dan gigitan ular bagi kader kesehatan Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (24/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Purbayan tersebut diikuti 36 peserta, terdiri atas […]

  • Qurban Berjalan, Dakwah Menggelora: BikersMu Blitar Tunjukkan Aksi Nyata di Jalan dan Dapur

    Qurban Berjalan, Dakwah Menggelora: BikersMu Blitar Tunjukkan Aksi Nyata di Jalan dan Dapur

    • calendar_month Jumat, 13 Jun 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 39
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, BLITAR – Tak sekadar menggeber gas motor di jalanan, BikersMu Chapter Kota Blitar membuktikan bahwa komunitas motor juga bisa menjadi jembatan dakwah yang hangat dan membumi. Untuk pertama kalinya sejak berdiri lima bulan lalu, BikersMu Chapter Kota Blitar menggandeng SMK Muhammadiyah 1 Kota Blitar menggelar kegiatan bertajuk Ride and Qurban, Ahad (8/6/2025), dengan konsep […]

expand_less