Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Featured » Kenapa Anak Pimpinan Muhammadiyah, Banyak yang Tidak Menjadi Kader?

Kenapa Anak Pimpinan Muhammadiyah, Banyak yang Tidak Menjadi Kader?

  • account_circle Kabar Muhammadiyah
  • calendar_month Minggu, 8 Okt 2023
  • visibility 1.017
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Faishal Hazza

Potensi dan Bakat

Dalam suatu forum tentang mapping diri, aku dapat insight menarik soal potensi dan bakat bagi seorang manusia. Dua hal ini adalah faktor pembentuk seorang manusia dalam menemukan kapasitas dirinya. Potensi adalah peluang seorang manusia untuk mencapai suatu kepandaian. Sebagai contoh, Lionel Messi adalah pemain sepak bola kelas dunia, maka anak dari Messi berpotensi untuk menjadi pemain sepak bola kelas dunia pula. Meskipun potensi menujukkan adanya peluang, hal ini tak menjamin seorang manusia dapat mencapainya.

Sebut saja contohnya founding fathers Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, apakah anaknya ada yang meneruskan beliau jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah? Sependek pengetahuan saya tidak ada. Justru yang melanjutkan posisi Muhammadiyah 01 itu adalah saudara dan murid dari KH Ahmad Dahlan sendiri. Padahal jika dipikir, anak-anak KH Ahmad Dahlan memiliki potensi besar untuk melanjutkan kepemimpinannya di Muhammadiyah. Perlu kita pahami bahwa potensi yang dimiliki seorang manusia itu bukanlah suatu jaminan, terlebih jika seorang manusia itu tak memiliki bakat yang sesuai dengan potensinya.

Berbanding terbalik dengan potensi, bakat adalah kepandaian seorang manusia yang sudah melekat sejak lahir. Menurut Prof. Dr. Sukarni Catur, bakat adalah kepandaian bawaan dari seorang manusia yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi keahlian. Jika potensi adalah peluang, maka bakat adalah penyempurna dari peluang itu sendiri. Bila kita kembali pada konteks tidak adanya sosok Ketua Umum PP Muhammadiyah dari anak-anak KH Ahmad Dahlan, maka hal ini mungkin akan menjawab kritik dari sebagian kader ortom Muhammadiyah.

“Kenapa Anak Pimpinan Muhammadiyah, Banyak yang Tidak Menjadi kader?”

Kritik ini mungkin tak salah, karena memang realitanya seperti itu hari ini. Banyak pimpinan Muhammadiyah yang anaknya justru tidak menjadi kader penerus, padahal sebagian besar dari mereka adalah jebolan dari sekolah Muhammadiyah yang unggul. Hari ini kader ortom Muhammadiyah memang didominasi oleh mereka yang secara biologis tidak lahir dari orang tua pimpinan Muhammadiyah. Apakah hal ini adalah masalah? Tentu saja tidak. Kembali ke topik, bagi mereka yang mengeluhkan soal minimnya kader dari anak pimpinan Muhammadiyah, kenapa kritik ini bisa ada?

Mereka beranggapan bahwa anak dari pimpinan Muhammadiyah memiliki banyak privellege dalam ber-Muhammadiyah, yang apabila dimaksimalkan akan sangat membantu kinerja organisasi dalam banyak lini. Sehingga kritik ini bisa dikatakan ada sebagai bentuk “kegregetan” atas mubazirnya potensi anak seorang pimpinan Muhammadiyah. Namun, apakah bagi mereka kader yang bukan anak pimpinan Muhammadiyah tidak bisa berkesempatan demikian? Tentu saja sama-sama bisa. Namun secara potensi yang berbeda.

Hal ini secara tidak langsung menjelaskan bahwa menjadi kader Muhammadiyah itu tidak bisa asal-asalan, tapi juga menghendaki adanya kapasitas pada diri seseorang. Memang pada faktanya, potensi dan bakat dalam diri seseorang lah yang akan menentukan kapasitas dirinya. Faktanya, banyak anak pimpinan Muhammadiyah yang secara potensi diunggulkan dan dielu-elukan untuk jadi kader penerus, namun ternyata tak memiliki bakat atas potensi itu. Karena tak berbakat, sebagian dari mereka biasanya memilih untuk jadi simpatisan saja. Namun di sisi lain, mereka yang terlahir bukan dari anak seorang pimpinan Muhammadiyah, faktanya justru lebih banyak yang berbakat menjadi kader penerus.

Dua fakta memiliki satu kesamaan jika dilihat dari perspektif psikologi, yaitu sama-sama tentang seorang yang memilih jalan hidupnya. Hal ini sejalan dengan konsep Self-Determination Theory atau teori penentuan nasib sendiri yang dikemukakan oleh Edward Deci dan Richard Ryan. Teori ini menjelaskan bahwa siapapun berhak memilih jalan hidupnya tanpa tendesi dari orang lain.

Dalam konteks ini, anak seorang pimpinan Muhammadiyah pun berhak dan sah-sah saja menentukan diri dalam ber-Muhammadiyah, mau itu jadi kader, jama’ah pengajian, donatur, atau bahkan simpatisan. Kita tak boleh terus-terusan memberikan tendensi bagi anak seorang pimpinan Muhammadiyah untuk bisa sama dengan orang tuanya.

Sebaliknya, kita juga tak boleh meremehkan kader Muhammadiyah yang tidak ditakdirkan lahir dari seorang pimpinan. Mereka juga berhak untuk menjadi kader penerus dari seorang pimpinan Muhammadiyah. Pada akhirnya, setiap manusia berhak memilih atas jalan hidupnya. Begitupun dengan Muhammadiyah, ia berhak diteruskan oleh siapapun yang berjiwa ikhlas membesarkan!

  • Penulis: Kabar Muhammadiyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bendum DPP IMM Singgung FOMO-preneur saat Jadi Pembicara di Kopdarnas SUMU

    Bendum DPP IMM Singgung FOMO-preneur saat Jadi Pembicara di Kopdarnas SUMU

    • calendar_month Sabtu, 21 Sep 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 152
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Yogyakarta – Bendahara Umum (Bendum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), M. M. Firdaus Su’udi menyinggung terkait fenomena FOMO-preneur yaitu istilah bagi para pengusaha yang ikut-ikutan. “Kadang beratnya kita di IMM itu FOMO, FOMO-preneur gitu. Jadi misal ada teman-teman bikin kaos, semua cabang itu bikin kaos, nanti kalau sudah tidak ada Mastama, […]

  • Uzlah Ilmiah PBSI UMS Tingkatkan Luaran Artikel Ilmiah

    Uzlah Ilmiah PBSI UMS Tingkatkan Luaran Artikel Ilmiah

    • calendar_month Kamis, 22 Mei 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 87
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Surakarta – Dalam rangka pengembangan akademik, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan Uzlah Ilmiah di Anaya Azana Boutique Hotel Tawangmangu, pada 20-22 Mei 2025. Kegiatan uzlah Ilmiah ini bertajuk Workshop Scopus Writing Bootcamp: Pemanfaatan AI dalam Penulisan Artikel Ilmiah. Seluruh dosen PBSI […]

  • Semua Wali Murid Bisa Menjadi Guru

    Semua Wali Murid Bisa Menjadi Guru

    • calendar_month Selasa, 6 Mei 2025
    • account_circle Andi Rezti Maharani
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Oleh: Muhamad Hafidh As shafa Kader IMM FAI Universitas Ahmad Dahlan  Pagi belum genap membuka tirai mentari saat Sri Wahyuni (38) memanggil anak-anak di lorong kecil Kampung Karanglo, Yogyakarta. Di tangan kirinya, ia membawa buku-buku cerita dan satu papan tulis kecil yang sudah lama bersahabat dengan debu. Di depan rumah kontrakan mungil itu, ia memulai […]

  • PENANAMAN NILAI-NILAI ANTI KORUPSI SEBAGAI UPAYA PREVENTIF PENCEGAHAN KORUPSI

    PENANAMAN NILAI-NILAI ANTI KORUPSI SEBAGAI UPAYA PREVENTIF PENCEGAHAN KORUPSI

    • calendar_month Sabtu, 30 Jul 2022
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 1.285
    • 0Komentar

    Oleh : Naufal Febrian* Pada hakikatnya, korupsi adalah “benalu social” yang merusak struktur pemerintah, dan menjadi penghambat utama terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan pada umumnya. Dalam praktiknya, korupsi sangat sukar bahkan hampir tidak mungkin diberantas, oleh karena sangat sulit memberikan pembuktian-pembuktian yang eksak. Di samping itu sangat sulit mendeteksinya dengan dasar-dasar hukum yang pasti. Namun […]

  • Penjurusan di SMA Penting dan Strategis

    Penjurusan di SMA Penting dan Strategis

    • calendar_month Kamis, 17 Apr 2025
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 99
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memastikan bahwa sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di tingkat SMA akan dihidupkan kembali mulai tahun ajaran 2025/2026 (11/4). Penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa yang kembali akan diberlakukan di SMA adalah untuk menunjang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai pengganti Ujian Nasional (UN). TKA yang akan […]

  • Dari Wanasari ke Panggung Provinsi, Santri MBS Wanasari Brebes Ukir Prestasi MAPSI dengan Doa dan Kerja Keras

    Dari Wanasari ke Panggung Provinsi, Santri MBS Wanasari Brebes Ukir Prestasi MAPSI dengan Doa dan Kerja Keras

    • calendar_month Rabu, 17 Sep 2025
    • account_circle Dwi Kurniadi
    • visibility 66
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, ~ Bumiayu-Brebes || Suasana haru dan bangga menyelimuti keluarga besar Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (PPM MBS) KH. Mas Mansur Wanasari, Brebes. Dua santrinya, Yasir Rizqi Robani dan Zahira Ainun Mudila, berhasil menyabet Juara I pada cabang Tahfidz Putra dan Putri dalam ajang Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami (MAPSI) tingkat […]

expand_less