Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Esai » Ketika Cara Belajar Berubah dan Al-Qur’an Tetap Menjadi Arah

Ketika Cara Belajar Berubah dan Al-Qur’an Tetap Menjadi Arah

  • account_circle Adi Kurnia
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 84
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Muhammad Fikri Azka

Dunia belajar sedang berubah dengan sangat cepat. Saat ini orang dapat belajar apa saja kapan saja melalui layar ponsel, video singkat, atau aplikasi digital. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tetap terlibat dalam proses belajar, baik disadari maupun tidak. Aktivitas belajar tidak lagi terikat ruang kelas dan waktu tertentu.

Di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting tentang arah pembelajaran. Informasi semakin melimpah, tetapi makna justru sering terasa menipis. Banyak orang mengetahui banyak hal, namun kebingungan menentukan tujuan pengetahuan itu sendiri. Pada titik inilah Al-Qur’an kembali menemukan relevansinya sebagai penunjuk arah dalam perubahan cara manusia belajar.

Al-Qur’an sebagai Kompas di Tengah Perubahan Cara Belajar

Perubahan cara belajar pada dasarnya merupakan keniscayaan. Setiap zaman memiliki mediumnya sendiri, dan manusia selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. Namun, persoalan yang sering luput diperhatikan bukan terletak pada kecanggihan media belajar, melainkan pada arah yang dituju oleh proses belajar itu sendiri. Di tengah derasnya arus informasi dan percepatan teknologi, Al-Qur’an hadir sebagai kompas yang menjaga agar belajar tidak kehilangan orientasi.

Dalam perspektif pendidikan Islam, Al-Qur’an tidak hanya dipahami sebagai sumber ajaran keagamaan, tetapi juga sebagai landasan nilai dalam proses pendidikan. Ia memandang belajar sebagai aktivitas yang menyentuh seluruh dimensi manusia, mulai dari akal, hati, hingga perilaku. Karena itu, belajar tidak berhenti pada penguasaan informasi, melainkan diarahkan pada pembentukan kesadaran dan tanggung jawab moral.

Al-Qur’an juga memberikan gambaran yang jelas tentang cara manusia memperoleh ilmu. Manusia dibekali pendengaran, penglihatan, dan hati agar mampu memahami kehidupan secara utuh. Ketiga potensi ini menunjukkan bahwa belajar bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga proses reflektif yang melibatkan pengalaman dan perenungan. Dalam konteks pembelajaran modern, pesan ini menjadi penting ketika teknologi sering mendorong proses belajar yang serba cepat dan minimal kedalaman.

Salah satu tantangan utama pembelajaran di era digital adalah kecenderungan memisahkan ilmu dari nilai. Pengetahuan disampaikan secara efisien, tetapi sering kehilangan makna. Di sinilah peran Al-Qur’an sebagai kompas menjadi sangat relevan. Ia tidak menolak kemajuan, tetapi memberi kerangka nilai agar ilmu tetap diarahkan pada kemaslahatan manusia. Tanpa arah nilai, ilmu berpotensi menjadi netral secara moral dan kehilangan tujuan kemanusiaannya.

Selain itu, Al-Qur’an memandang belajar sebagai proses sepanjang hayat. Belajar tidak berhenti pada usia tertentu atau ruang tertentu, melainkan berlangsung selama manusia hidup. Pandangan ini sejalan dengan realitas hari ini, ketika manusia terus belajar melalui berbagai media sepanjang kehidupannya. Namun, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa semakin luas pengetahuan seseorang, seharusnya semakin besar kesadaran dan kerendahan hatinya.

Menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas bukan berarti menutup diri terhadap perubahan. Justru sebaliknya, Al-Qur’an memberi arah agar perubahan tetap berpijak pada nilai kemanusiaan. Ia membantu manusia menimbang apa yang layak dipelajari, bagaimana cara mempelajarinya, dan untuk tujuan apa pengetahuan itu digunakan. Di tengah perubahan cara belajar yang terus berlangsung, fungsi inilah yang membuat Al-Qur’an tetap relevan dan dibutuhkan.

Media Boleh Modern, Nilai Tidak Boleh Hilang

Perkembangan media pembelajaran berbasis teknologi sering dipandang sebagai solusi atas berbagai persoalan pendidikan. Media visual, aplikasi interaktif, dan platform digital dianggap mampu membuat proses belajar lebih menarik, efektif, dan relevan dengan kehidupan masa kini. Dalam banyak hal, pandangan ini memang benar. Media yang tepat dapat membuka akses belajar lebih luas dan membantu pemahaman, termasuk dalam pembelajaran Al-Qur’an.

Namun, saya berpendapat bahwa persoalan utama bukan terletak pada seberapa modern media yang digunakan, melainkan pada nilai apa yang dibawa oleh media tersebut. Media yang canggih tidak otomatis menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Tanpa kerangka nilai yang jelas, teknologi justru berpotensi mengubah Al-Qur’an menjadi sekadar objek visual atau konten digital yang dikonsumsi cepat, lalu ditinggalkan.

Beberapa ahli pendidikan telah lama mengingatkan bahwa media hanyalah alat bantu, bukan inti pembelajaran. Marshall McLuhan, misalnya, menegaskan bahwa media bukan sekadar saluran pesan, tetapi turut membentuk cara manusia berpikir. Artinya, ketika Al-Qur’an disajikan melalui media yang serba cepat dan instan, ada risiko pesan Qur’ani ikut dipahami secara dangkal. Bukan karena Al-Qur’annya, tetapi karena cara penyajiannya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh para pemikir pendidikan Islam. Al-Attas menekankan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer ilmu, tetapi harus berorientasi pada pembentukan adab. Dalam konteks ini, media pembelajaran Al-Qur’an seharusnya tidak hanya memudahkan orang membaca atau menghafal, tetapi juga membantu menumbuhkan sikap hormat, kesadaran, dan tanggung jawab terhadap nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an.

Masalah yang sering muncul dalam pembelajaran digital adalah kecenderungan menjadikan kecepatan dan ketertarikan visual sebagai ukuran utama keberhasilan. Padahal, memahami Al-Qur’an membutuhkan waktu, pengulangan, dan perenungan. Ketika media terlalu menekankan aspek hiburan, nilai kedalaman berisiko tergeser. Inilah sebabnya mengapa media modern perlu dirancang dengan kesadaran pedagogis dan etis, bukan hanya teknologis.

Saya melihat bahwa media pembelajaran Al-Qur’an yang ideal adalah media yang mampu menyeimbangkan daya tarik visual dengan ruang refleksi. Media tersebut tidak hanya membuat orang betah belajar, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir, bertanya, dan merenung. Teknologi seharusnya membantu manusia mendekat pada makna, bukan menjauh darinya.

Pada akhirnya, modernitas media tidak boleh mengorbankan ruh pembelajaran. Media boleh berubah mengikuti zaman, tetapi nilai Qur’ani harus tetap menjadi fondasi. Tanpa nilai, media hanya menjadi alat yang kosong. Dengan nilai, teknologi justru bisa menjadi jembatan yang menghubungkan manusia modern dengan pesan Al-Qur’an secara lebih hidup dan bermakna.

Belajar Bukan Sekadar Tahu, tapi Menjadi

Dalam pandangan Al-Qur’an, belajar tidak pernah dimaksudkan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk membentuk manusia secara utuh. Ilmu seharusnya mempengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan nyata. Pembelajaran Qur’ani yang ideal justru menuntut keseimbangan antara pemahaman intelektual, kepekaan batin, dan kesadaran spiritual, sehingga ilmu tidak berhenti sebagai konsep, tetapi hadir sebagai nilai yang hidup.

Di tengah budaya belajar yang sering menekankan kecepatan dan hasil, Al-Qur’an mengingatkan pentingnya proses. Belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi untuk menjadi manusia yang lebih sadar, bijak, dan berakhlak. Inilah alasan mengapa Al-Qur’an tetap relevan meskipun cara belajar terus berubah.

Ketika media dan teknologi berkembang semakin maju, Al-Qur’an tetap menjadi arah. Ia tidak menolak perubahan, tetapi memberi batas agar perubahan tersebut tetap bermakna. Di tengah dunia yang bergerak cepat, Al-Qur’an hadir sebagai penuntun agar belajar tidak kehilangan tujuan kemanusiaannya.

Editor: Muhammad Farhan

 

  • Penulis: Adi Kurnia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ribuan Jamaah Blimbingrejo Semarakkan Takbir Keliling, Perkuat Syiar KHGT

    Ribuan Jamaah Blimbingrejo Semarakkan Takbir Keliling, Perkuat Syiar KHGT

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 88
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Blimbingrejo – Malam takbiran di Blimbingrejo berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh makna. Gema takbir terdengar bersahut-sahutan, mengiringi langkah lebih dari 1.000 jamaah yang mengikuti takbir keliling, Kamis (19 Maret 2026 M / 1 Syawal 1447 H). Anak-anak, remaja, hingga orang tua berjalan bersama dalam barisan yang tertib. Pakaian bernuansa putih mendominasi peserta, menciptakan […]

  • Langkah Preventif, DPD IMM Kaltim Melakukan Sosialisasi Demi Meminimalisir Kecelakaan di Area Bekas Tambang

    Langkah Preventif, DPD IMM Kaltim Melakukan Sosialisasi Demi Meminimalisir Kecelakaan di Area Bekas Tambang

    • calendar_month Rabu, 17 Jul 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 260
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Samarinda – Dalam upaya meningkatkan kesadaran akan bahaya di area lubang bekas tambang, Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Kalimantan Timur melaksanakan kegiatan sosialisasi di salah satu lokasi tambang yang rawan kecelakaan pada Rabu (17/07/2024) di Kecamatan Palaran Kota Samarinda. Langkah ini diawali dengan pemasangan spanduk larangan berkegiatan dan police line di […]

  • Civitas Akademika UM Metro Lampung Gelar Aksi Peduli Demokrasi

    Civitas Akademika UM Metro Lampung Gelar Aksi Peduli Demokrasi

    • calendar_month Kamis, 8 Feb 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 298
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Metro – Civitas Akademika Universitas Muhammadiyah (UM) Metro menggelar aksi peduli demokrasi pada hari Selasa, 6 Februari 2024. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi demokrasi di Indonesia yang dianggap semakin memprihatinkan. Aksi ini dimulai dengan pembacaan petisi yang berisi 7 tuntutan kepada pemerintah. Tuntutan tersebut antara lain: ~ Kembalikan Netralitas dan Etika […]

  • Perjalanan Pendidikan Yang Tertindas

    Perjalanan Pendidikan Yang Tertindas

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2022
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 587
    • 0Komentar

    Oleh : Salma Riskiyah Azizah (202110230311007) Pengalaman pribadi saya yang berkaitan dengan pemikiran Paulo Freire yang ada pada buku pendidikan kaum tertindas. Sejak saya duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, pendidikan yang saya terima yaitu hanya pendidikan sistem bank. Pendidikan dimana hanya guru sebagai sumber informasi yang didapatkan oleh siswa. Sistem pendidikan […]

  • Kembangkan Ekosistem Gizi Halal Berbasis AI, Universitas Muhammadiyah Malang Gandeng RS Muhammadiyah Lamongan

    Kembangkan Ekosistem Gizi Halal Berbasis AI, Universitas Muhammadiyah Malang Gandeng RS Muhammadiyah Lamongan

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Adi Kurnia
    • visibility 93
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, MALANG –  Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML) menerima kunjungan strategis dari Tim Riset Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam rangka inisiasi kerja sama riset pengembangan ekosistem rantai pasok makanan halal dan thoyyib berbasis Artificial Intelligence (AI). Kunjungan ini dilaksanakan pada Selasa (23/12/2025). Rombongan tim riset tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis […]

  • PEDULI BANJIR MAHAKAM ULU, KOKAM PPU GALANG DONASI

    PEDULI BANJIR MAHAKAM ULU, KOKAM PPU GALANG DONASI

    • calendar_month Kamis, 23 Mei 2024
    • account_circle Kabar Muhammadiyah
    • visibility 1.132
    • 0Komentar

    KABARMUH.ID, Penajam – Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menggelar penggalangan dana. Hal itu sebagai respon bantuan bagi korban banjir yang ada di Kabupaten Kutai Barat dan Mahulu. Donasi ini merupakan kepedulian bagi warga persyarikatan yang juga termasuk penyintas bencana. Komandan Kokam PPU, Muhammad Junaidi mengatakan penggalangan dana hanya terfokus […]

expand_less