Berita

Koordinator SDGs Center UMS Dorong Kader IMM Jadi Pemimpin Transformasi Ekologis

KABARMUH.ID; SURAKARTA – Krisis ekologis bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi berakar pada cara pandang manusia terhadap alam. Karena itu, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) didorong untuk mengambil peran sebagai pemimpin transformasi ekologis yang mampu menghadirkan perubahan mulai dari tingkat individu hingga kebijakan publik.

Pesan tersebut disampaikan Koordinator SDGs Center Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rama Rizana, S.T., M.Sc., saat menjadi narasumber dalam Studium Generale Darul Arqam Madya (DAM) Nasional PC IMM Kota Salatiga bertajuk “Manifesto Ekologis IMM: Reartikulasi Peran Kader Madya sebagai Pemimpin Transformasi Ekologis”, di Ruang Mini Teater Bung Karno DPRD Kota Salatiga.

Rama mengajak peserta untuk merefleksikan bahwa berbagai bencana ekologis, seperti banjir, deforestasi, hingga penumpukan sampah, tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia. Menurutnya, setiap individu memiliki kontribusi terhadap kondisi lingkungan, baik melalui penggunaan plastik sekali pakai, konsumsi energi, maupun kebiasaan sehari-hari.

“Krisis lingkungan sesungguhnya bukan hanya persoalan alam, tetapi juga persoalan cara berpikir manusia. Ketika pola pikirnya berubah, maka perilaku dan kebijakan yang dihasilkan juga akan berubah,” ungkapnya, Senin, (6/7/2026).

Ia menjelaskan, dalam perspektif Islam, manusia bukan pemilik bumi, melainkan khalifah yang diberi amanah untuk menjaga dan memelihara ciptaan Allah. Rama mengutip kandungan QS. Al-Baqarah ayat 30 dan QS. Ar-Rum ayat 41 sebagai landasan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat ulah manusia sehingga diperlukan kesadaran kolektif untuk memperbaikinya.

Menurutnya, paradigma tersebut harus menjadi fondasi gerakan kader IMM dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.

“Kita bukan sedang mewarisi bumi dari generasi sebelumnya, tetapi meminjamnya dari generasi yang akan datang. Karena itu, tugas kita bukan mengeksploitasi, melainkan menjaga titipan Allah,” tegasnya.

Rama juga memperkenalkan peran SDGs Center UMS sebagai pusat integrasi berbagai program keberlanjutan di lingkungan universitas. Ia menjelaskan bahwa seluruh aktivitas pendidikan, penelitian, pengabdian, hingga pemberitaan di UMS diarahkan agar selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, perguruan tinggi kini tidak lagi hanya dinilai dari jumlah lulusan atau publikasi ilmiah, tetapi juga dari dampaknya terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Dalam konteks IMM, Rama menekankan bahwa kader madya memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui perubahan gaya hidup ramah lingkungan, penyelenggaraan program edukasi ekologis, advokasi kebijakan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Ia mencontohkan berbagai praktik baik yang telah dilakukan IMM Kota Salatiga melalui Sekolah Ekologis, konservasi mata air, penanaman pohon, serta kolaborasi dengan berbagai komunitas. Menurutnya, perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Rama juga mengangkat kisah penerima Nobel Perdamaian asal Kenya, Wangari Maathai, yang memulai gerakan penanaman pohon dari satu langkah sederhana hingga berhasil menginspirasi penanaman puluhan juta pohon.

“Perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Justru tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten mampu melahirkan gerakan yang memberikan dampak luas bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

Melalui studium generale yang dilaksanakan pada Rabu (1/7/2026), Rama berharap kader IMM mampu mengartikulasikan kembali perannya sebagai pemimpin transformasi ekologis yang tidak hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan di tengah masyarakat.

“Manifesto ekologis bukan sekadar dokumen atau slogan, melainkan komitmen untuk menghadirkan kepemimpinan yang berpihak pada keberlanjutan, keadilan ekologis, dan masa depan bumi,” pungkasnya.

Kontributor: Fika/Humas

Editor: Nurul Fahri

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button