Muchamad Arifin: Jangan Biarkan Jari-Jari Kita Menjadi Musibah bagi Orang Lain
- account_circle Kabar Muhammadiyah
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KABARMUH.ID, SURABAYA — Satu sentuhan jari di layar telepon genggam dapat menyebarkan inspirasi, menebarkan kebaikan, dan mempererat persaudaraan. Namun, jari yang sama juga dapat melukai orang lain ketika digunakan untuk menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, provokasi, hingga konten yang mengarah pada kekerasan. Karena itu, generasi muda perlu menjadikan ruang digital sebagai tempat menumbuhkan perdamaian, bukan menyemai permusuhan.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchamad Arifin, saat menjadi pemateri pertama dalam kegiatan Digital Peace Creator yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Kamis (22/10/2026), di Convention Hall, Jalan Arief Rahman Hakim, Surabaya. Kegiatan ini diikuti 250 pelajar perwakilan dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Mengangkat materi “Kreatif di Dunia Digital, Damai di Dunia Nyata,” Arifin mengajak para pelajar untuk tidak sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi juga mengambil peran sebagai pencipta konten yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, kreativitas generasi muda di ruang digital perlu diarahkan untuk menyebarkan pesan positif, memperkuat toleransi, menghargai perbedaan, dan membangun budaya saling menghormati. Dunia digital semestinya menjadi ruang perjumpaan yang memperluas persahabatan, bukan tempat menyebarkan kebencian dan mempertajam perpecahan.
“Jangan biarkan jari-jari kita menjadi musibah bagi orang lain. Sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu, pikirkan dampaknya. Jangan sampai konten yang kita sebarkan melukai orang lain, memicu permusuhan, atau merusak persatuan,” demikian pesan utama yang ditekankan dalam materi tersebut.
Pelajar Jangan Hanya Mengejar Viral, tetapi Harus Menebar Manfaat
Arifin menilai, tantangan literasi digital saat ini tidak cukup dijawab dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi. Pelajar juga perlu memiliki kecakapan untuk memilah informasi, mengenali konten berbahaya, menjaga etika berkomunikasi, serta memahami konsekuensi dari aktivitas mereka di internet.
Menurutnya, konten yang viral belum tentu bermanfaat. Sebaliknya, konten sederhana yang mengandung edukasi, kepedulian sosial, semangat kebangsaan, dan pesan perdamaian dapat memberikan dampak positif apabila dibuat secara kreatif dan disebarkan secara konsisten.
Ia mendorong para pelajar memanfaatkan media sosial untuk berbagi pengetahuan, mengangkat praktik kebaikan di lingkungan sekitar, mengampanyekan antiperundungan, serta membangun pergaulan yang sehat di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
“Jadilah generasi yang tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam menentukan apa yang layak dibagikan. Jangan hanya bertanya apakah konten kita akan viral, tetapi tanyakan pula apakah konten itu membawa manfaat bagi orang lain,” menjadi pesan penting dalam ajakan tersebut.
Waspada Ruang Digital yang Dimanfaatkan untuk Menyebarkan Kebencian
Dalam konteks pencegahan radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan, Arifin mengingatkan bahwa ruang digital dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan ideologi kebencian, memengaruhi cara pandang, dan mendorong seseorang membenarkan kekerasan.
Karena itu, pelajar perlu lebih kritis ketika menemukan konten yang mempertentangkan kelompok masyarakat, mengajak membenci pihak lain, membenarkan kekerasan, atau mengarahkan mereka pada interaksi daring yang mencurigakan. Sikap kritis tersebut perlu disertai kebiasaan memeriksa kebenaran informasi dan berdiskusi dengan orang tua, guru, atau pihak tepercaya ketika menemukan sesuatu yang meresahkan.
Arifin juga mengingatkan agar penggunaan gim daring dilakukan secara bijak dan seimbang. Gim dapat menjadi sarana hiburan, tetapi penggunaannya tidak boleh mengganggu pendidikan, kesehatan, hubungan sosial, dan tanggung jawab sehari-hari. Pelajar juga perlu memahami bahwa interaksi di ruang permainan digital tetap membutuhkan kewaspadaan, terutama ketika berhadapan dengan orang yang belum dikenal.
Dari Kreativitas Menuju Gerakan Perdamaian
Melalui Digital Peace Creator, para pelajar diharapkan tidak berhenti sebagai penerima pesan, tetapi berkembang menjadi penggerak perdamaian di lingkungan masing-masing. Mereka dapat memulai dari langkah sederhana: membuat video edukatif, menyebarkan pesan persahabatan, mengampanyekan penghormatan terhadap perbedaan, serta menolak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Pesan tersebut sejalan dengan pentingnya membangun keterlibatan generasi muda dalam upaya pencegahan radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan. Pendekatan ini tidak hanya menekankan kewaspadaan terhadap konten negatif, tetapi juga mendorong hadirnya alternatif konten positif yang dekat dengan kehidupan pelajar.
Arifin mengajak peserta memandang jempol dan perangkat digital yang mereka miliki sebagai sarana untuk menghadirkan perubahan. Setiap unggahan, komentar, dan pesan yang dibagikan merupakan pilihan yang memiliki konsekuensi bagi diri sendiri maupun orang lain.
Sebab, satu jari dapat menyebarkan kebencian, tetapi satu jari juga dapat memulai kebaikan. Generasi muda memiliki kesempatan untuk menentukan arah ruang digital: menjadikannya tempat yang penuh permusuhan atau ruang yang mencerahkan, menggembirakan, dan mendamaikan.
Melalui kreativitas yang bertanggung jawab, para pelajar diharapkan mampu menjadi pelopor perdamaian digital sekaligus menjaga kehidupan nyata tetap harmonis di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
Tentang kegiatan: Digital Peace Creator merupakan kegiatan BNPT RI bersama FKPT Jawa Timur yang melibatkan pelajar untuk memperkuat literasi digital dan mendorong kreativitas dalam mendukung pencegahan radikalisme serta ekstremisme berbasis kekerasan.
- Penulis: Kabar Muhammadiyah