BeritaJateng

PCM Grogol Gelar Tarhib Ramadhan, Teguhkan Persaudaraan dan Pemahaman Kalender Hijriyah

KABARMUH.ID, SUKOHARJO – Tarhib Ramadhan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Grogol digelar pada Ahad, 8 Februari 2026, bertempat di Masjid Baitul Makmur Solo Baru, Sukoharjo. Masjid yang sejuk dan nyaman tersebut menjadi lokasi utama kegiatan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Kegiatan Tarhib Ramadhan ini diikuti oleh seluruh pimpinan Cabang Muhammadiyah, ’Aisyiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), serta Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Cabang Grogol.

Dalam sambutannya, Sekretaris PCM Grogol, Drs. Muhammad Safrudin, menyampaikan bahwa pada hari tersebut terdapat beberapa kegiatan Tarhib Ramadhan yang berlangsung secara bersamaan di wilayah Cabang Grogol.

Kegiatan utama Tarhib Ramadhan dilaksanakan di Masjid Baitul Makmur Solo Baru dengan menghadirkan Ust. Dodok Sartono, S.E., M.M. Selain itu, Tarhib Ramadhan juga dirangkaikan dengan Milad ke-2 Ranting Muhammadiyah dan ’Aisyiyah Manang melalui kegiatan pembagian 300 paket sayuran bersama Ust. Dr. Edy Muslimin.

Sementara itu, di Ranting Banaran juga digelar Tarhib Ramadhan yang diisi dengan bakti sosial berupa pasar murah serta penyediaan 500 porsi sarapan pagi bagi masyarakat.

Safrudin juga menyampaikan bahwa saat ini PCM Grogol mengemban sejumlah amanah besar, di antaranya pendirian BA ’Aisyiyah sebagai program khusus, pembangunan gedung tiga lantai untuk Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Grogol, serta pembelian tanah untuk pembangunan gedung dakwah di Ranting Manang.

Dalam tausiyahnya, Ust. Dodok Sartono, S.E., M.M. yang juga Sekretaris PWM Jawa Tengah, menyampaikan penjelasan mengenai Kalender Hijriyah Global Tunggal.

“Sistem penanggalan ini disusun berdasarkan perhitungan astronomi global sehingga memungkinkan penetapan awal bulan Hijriah dilakukan secara seragam di seluruh dunia,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa perbedaan penetapan awal dan akhir bulan Ramadhan antara Muhammadiyah, NU, dan pemerintah selama ini disebabkan oleh perbedaan metode yang digunakan.

“Muhammadiyah menetapkan awal bulan dengan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni ketika hilal telah berada di atas ufuk setelah matahari terbenam,” katanya.

Sementara NU dan pemerintah menggunakan metode rukyatul hilal yang didukung oleh perhitungan hisab, dengan penetapan awal bulan melalui sidang isbat berdasarkan laporan pengamatan hilal di berbagai titik.

Melalui sosialisasi ini, peserta diharapkan dapat memahami dasar perbedaan tersebut serta menyikapinya dengan bijak dan saling menghormati. Kegiatan berlangsung dengan tertib dan diakhiri dengan doa.

“Semoga Ramadhan yang akan datang dapat kita lalui dengan penuh kekhusyukan dan persaudaraan,” pungkasnya.

Kontributor: Hasna Aqila

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button